Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Penyiksaan dan penyembuhan


Tuan Haris benar benar kesal pada Arumi yang terus menanyakan tentang Viona, dan mengatakan ia berselingkuh dari Emma. Ketika ia merasa kesal dan marah, ia harus melampiaskan dengan melakukan hubungan badan.


Dahulu ia selalu melakukan hal tersebut pada Emma, mendiang istrinya. Saat ia gagal dalam urusan bisnis, Emma sudah siap untuk melayani suaminya. Ia akan menghentikan semua kegiatannya, hanya untuk menemani suaminya di atas ranjang.


Biasanya Tuan Haris akan menumpahkan kekesalan, menceritakan semua pada istrinya, lalu dengan lemah lembut Emma akan menanggapi dengan cerita soal liburan, atau memberi saran untuk bisnis yang gagal itu, bahkan tak jarang ia akan memberikan ide baru, untuk bisnis yang lain.


Itulah mengapa Tuan Haris sangat kehilangan Emma. Awalnya ia hanya ingin membalas dendam pada Viona yang telah meninggalkannya, namun Emma yang begitu mencintainya membuat Tuan Haris luluh dan akhirnya mencintai istrinya juga.


Namun, ternyata Emma telah mendahuluinya berpulang pada Sang Pencipta, ia harus mencari pelampiasan untuk dirinya. Sebelum dengan Arumi, ia selalu menghubungi Madam Fey, untuk meminta salah satu gadis terbaiknya. Namun, setelah ia terpilih menjadi anggota dewan kota, ia harus memiliki istri, supaya tidak terlibat skandal.


Tapi, Viona muncul kembali, membangkitkan gairah masa lalunya, mereka yang saling cinta terjebak status masing-masing.


Ya, Arumi hanyalah korban dari hubungan yang rumit antara Tuan Haris dengan Viona.


Tuan Haris benar benar memuaskan hasratnya kali ini pada Arumi. Tubuh gadis itu dibolak-balik, digenjot, dijilat, bahkan terkadang Tuan Haris berlaku kasar dengan memecut bokong Arumi.


Setelah puas, Tuan Haris meninggalkan tubuh istri kecilnya itu tergeletak di ranjang, lalu masuk ke kamar mandi.


Dengan sisa kekuatannya, Arumi memungut pakaiannya, lalu mengenakan dengan cepat. Lalu keluar dari kamar Tuan Haris. Air mata mengalir dari matanya. Belum pernah ia diperlakukan kasar seperti ini oleh Tuan Haris, terlebih saat ini suaminya dalam keadaan sadar, bukan mabuk seperti yang sudah sudah.


Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya dengan pakaian yang tidak terlalu rapi dan rambut masih acak acakan. Leon yang sedang menikmati jeruk di meja makan, melihatnya berlari keluar dari kamar Papanya sambil menangis. Leon mengikutinya.


Leon membuka pintu kamar Arumi yang ternyata tak terkunci. Ia mendengar suara isak tangis Arumi dari kamar mandi. Leon mendekatinya.


"Rumi? Apa kamu baik baik saja?" Tanya Leon lirih dari balik tirai sekat di kamar mandi.


Arumi hanya terisak, tidak menjawab. Terdengar suara air mengalir dari shower dari sana.


"Apakah aku bisa melihatmu?" Tanya Leon.


Arumi tak menjawab, hanya terisak. Leon menyibak perlahan tirai penyekat ruang kamar mandi. Terlihat Arumi duduk meringkuk di tengah ruangan menekuk lututnya. Dibiarkan air mengalir membasahi tubuhnya. Terlihat baret bekas lecutan dari ikat pinggang pada paha dan punggungnya. Pergelangan tangannya terlihat membiru akibat cengkraman tenaga yang besar.


Leon pernah melihat hal seperti ini pada Mamanya, saat ia berusia sekitar enam tahun kala itu. Perlahan Leon mendekati Arumi, ia mematikan kran shower, mengambil handuk, lalu mengeringkan tubuh Arumi.


Arumi menyandarkan tubuhnya pada bahu Leon, dan Leon memeluknya erat. Arumi memuaskan tangisnya dalam dekapan Leon untuk beberapa saat.


"Keringkan lah tubuhmu, supaya tidak sakit." Saran Leon, sambil membantu Arumi berdiri.


Leon keluar dari ruang mandi itu, membiarkan Arumi mengeringkan tubuhnya.


Ia duduk menunggu di sofa kamar Arumi. Tak lama Arumi keluar hanya berbalut handuk putih. Ia berjalan mendekati Leon.


Ia duduk di pangkuan Leon, mereka berhadapan. "Terima kasih." Bisik nya tepat di telinga Leon.


Arumi mengalungkan tangannya pada tengkuk Leon, menatap mata Leon yang tak berkedip menatapnya juga.


"Aku tak ingin kamu pergi, Leon. Aku takut Papamu melakukan ini lagi." Ucap Arumi.


Leon hanya diam menatap mata Arumi. Dalam hatinya berkecamuk. Ia ingin meraih impiannya, namun harus meninggalkan sementara Arumi dengan Papanya yang mulai mengeluarkan kebiasaannya.


"Maafkan Papaku." Sahut Leon.


"Aku ingin kamu menghapus luka yang ditorehkan olehnya."


Leon menuruti kemauan Arumi, ia menyusuri setiap jengkal tubuh gadis itu. Setiap baret atau lebam ia beri kecupan, hingga membuat Arumi memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Leon.


Arumi menggigit bibir bawahnya menikmati sensasinya. Arumi membuka handuk yang masih membalut tubuhnya, ia duduk membelakangi Leon. Punggungnya terlihat baret bekas lecutan. Leon menyusuri lengan Arumi, lalu ke bahu, lalu ke punggungnya, setiap luka ia kecup, hingga Arumi menggeliat dibuatnya. Ia berdiri sambil meliukkan tubuhnya, membuat Leon tergoda. Ia ikut berdiri dan memeluk pinggang Arumi dan terus menciumi punggung gadis itu. Mereka saling menggesek tubuh satu sama lain. Terdengar suara napas memburu keduanya, saling menginginkan hal yang lebih dan lebih.


Leon berjongkok menciumi paha dan kaki Arumi. Leon membimbing Arumi untuk duduk di sofa. Ia mencium ujung kakinya, lalu menyusuri kaki itu hingga ke pangkal pahanya dengan jarinya. Arumi yang masih memejamkan matanya , membusungkan dadanya menahan rasa nikmat yang dirasakannya.


Leon membuka paha Arumi lalu menciumi daerah itu, sensasi yang terjadi adalah Arumi tak bisa menahan untuk berteriak.


"Oh.. Leon..!" Ucapnya sambil memejamkan matanya. Leon menjilati bagian itu dan mengaduk adiknya, hingga sangat basah, hingga Arumi berteriak sambil menggelengkan kepalanya, lalu menjambak rambut Leon. Tubuh Arumi bergerak seirama dengan setiap sentuhan yang Leon buat. Hingga tubuh Arumi terasa bergetar dan cairan mengalir dari daerah bawa itu, Leon menjilatinya, membuat Arumi seakan bergerak menggila.


Ia menarik tubuh Leon dan membuka kaos pemuda itu, menciumi lengan dan dada Leon, hingga ke perut kotak kotaknya.


"Ahh.. Rumi..!" Bisik nya.


Mereka saling bergelut, dengan berbagai gaya, mulai dari sofa, lalu ke dinding, hingga ke atas ranjang. Hingga tubuh mereka bergetar hebat saat bergelut di atas ranjang, lalu terdengar suara erangan dari keduanya. Napas dan peluh meresap menyatu saat itu. Tak ada batasan antara anak dan ibu tiri. Hanya ada napsu dan cinta di antara kedua anak manusia itu.


Mereka seakan tak peduli waktu lagi saat itu, hanya ingin bersama dan saling menikmati satu sama lain.


Arumi ingin melupakan yang telah dilakukan Tuan Haris padanya dan tak ingin kehilangan Leon.


Arumi membaringkan kepalanya di dada Leon yang bidang.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Leon sambil membelai rambut Arumi.


"Lebih baik, rasa sakit itu kini mulai menghilang." Jawabnya.


"Leon, aku takut."


"Rumi, aku hanya sebentar di sana, aku berjanji akan sering pulang saat libur."


"Aku mencintaimu Leon." Arumi mendongak menatap pemuda itu.


"Maafkan Papa, ya."


"Mengapa kamu yang meminta maaf, bukan dia?" Arumi mengubah posisi menjadi duduk bersandar sandaran dipannya.


Leon mengikutinya dan menggenggam jemari Arumi.


"Dulu, aku pernah melihat Mama seperti kamu saat aku masih kecil. Mama juga terlihat takut dan sedih." Ucapnya, yang seketika mengubah raut wajah Arumi menjadi tegang.


"Papaku memiliki kebiasaan seperti itu jika suasana hatinya terganggu. Setelah Mama meninggal, aku sering melihat gadis silih berganti keluar masuk kamarnya, dan keluar dalam keadaan luka lebam dan tergores hingga berdarah. Madam Fey pemasok gadis gadis itu. Dan aku pernah melihat Andin salah satunya. Namun saat ia ikut pemilihan, ia tak pernah melakukannya, dan selalu mengajak Will untuk menemani saat diadakan pesta oleh Madam Fey dan Pak Broto." Tutur Leon.


Ia menceritakan semua kebiasaan Papanya. Arumi berkali kali menggelengkan kepalanya dan terbelalak tak percaya.


Hari mulai gelap saat itu. Leon memakai kembali pakaiannya, begitu juga dengan Arumi.


Ia mengecup kening gadis itu dan keluar dari kamarnya.


Di luar ia berpapasan dengan Gisel tepat ia keluar dari kamar Arumi. Gisel menatapnya tajam seolah menyelidiki. Leon berlalu dengan cuek meninggalkan Gisel, dan masuk ke kamarnya.