Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Berdua


Leon merangkul pundak Arumi menyusuri sepanjang jalan menuju apartemen mereka yang hanya berseberangan saja.


"Aku senang kita bisa bertemu dan menjalani hidup seperti ini." Ucap Leon sambil terus menatap jalanan yang tertutup salju.


"Kita bisa berjalan berdua dengan bebas tanpa ada yang memperhatikan diriku. Tak ada gosip ataupun berita tentang skandal pejabat atau pasangannya." Sahut Arumi terkikik.


"Ya. Di sana terlalu banyak aturan yang ribet." Sahut Leon.


"Iya. Aku pun mulai bisa berdamai dengan statusku saat ini. Aku melakukan ini semua untuk meneruskan apa yang dimiliki oleh keluargaku. Dan tentu saja, aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuaku. Lalu keluarga Tante Anne juga." Ucap Arumi sambil merapatkan jaketnya, lalu menyelipkan tangannya ke pinggang Leon.


Leon menarik kepala Arumi dan mencium rambut wanita yang menjadi istri ayahnya itu.


"Ya, aku tahu, Papa sebenarnya berselingkuh dengan Tante Viona."


Sekelita Arumi menarik diri, melepaskan dari rangkulan Leon dan menatap pemuda itu dengan tajam.


"Bagaimana bisa?"


Leon menghela napas dalam-dalam, lalu menatap ke arah Arumi.


"Aku tahu, Papa memiliki, hhmmm kebiasaan melakukan kekerasan saat melakukan hubungan bersama seorang wanita. Dia memiliki sebuah ruang rahasia di rumah pribadi kami di kebun anggur. Dan satu lagi di dalam kamarnya. Dulu, aku sering melihat mama, memiliki luka lebam dan goresan pada punggung dan pinggulnya, terkadang di dadanya." Leon berhenti sejenak mengambil jeda.


"Mama menceritakan semua itu saat di rumah sakit, sebelum dia meninggalkan. Kami banyak menghabiskan waktu bersama dan menemani mama di rumah sakit. Dia mengatakan, bahwa papa memiliki kepribadian seperti itu, jadi memintaku tak menyalahkan dia. Itu adalah bentuk pengabdiannya sebagai seorang istri. Mama juga mengatakan telah terbiasa dan mulai menikmati semuanya. Papa meminta Mama untuk fokus pada keluarga dan berhenti sebagai penari panggung pertunjukan. Sebagai imbalannya, Mama mendapatkan sekolah tari itu. Namun, dia tetap membangun dari nol semuanya. Mulai mencari siswa, lalu tenaga pengajar, hingga membuat sistem manajemen sendiri untuk sekolah itu. Sedari kecil aku selalu mengikuti Mama, dan tertarik menari seperti dia. Papa selalu melarangku menari, dan Mama juga tak pernah menawarkanku untuk belajar di sekolah itu, karena Papaku.


Kamu, tahu. Aku belajar diam diam, hanya dari melihat anak anak yang berlatih. Lalu hingga Dito dan Bin masuk ke sekolah itu, Mama membiarkanku menari, tapi dia tak pernah melatihku secara pribadi." Leon menerawang sejenak, lalu menatap ke arah Arumi, yang masih memperhatikan Leon bercerita tentang dirinya.


"Tante Viona adalah kekasih Papa, sejak dahulu. Namun, dia hamil dengan seseorang, dan meninggalkan Papa. Mama pun terkejut, saat Papaku dulu melamarnya. Mama sempat menolak, namun beliau meyakinkan Mama, bahkan dapat mengambil hati keluarga besar Mamaku. Kamu tahu, bisnis kebun anggur keluarga Mama, akhirnya bergabung ke perusahaan Papa, dan Paman Bill sangat dekat dengan Papa."


Arumi menganguk angguk mengerti.


"Lalu, bagaimana mamamu dan Viona?"


"Mama tahu, Papa masih memendam rasa pada Viona. Dan saat mengetahui dia memiliki penyakit itu, Mama berpesan padaku, untuk jangan membenci Viona dan keluarganya. Mama adalah orang yang baik hati. Dia tak pernah mengajarkan kebencian atau dendam. Dia selalu mengatakan, kita harus banyak bersyukur dan memaafkan. Aku tak tahu lagi, hatinya terbuat dari apa. Bahkan saat melihat dengan matanya sendiri perselingkuhan Papa dan Viona, dia hanya diam saja, seolah tak mengetahui. Kamu tahu, aku selalu merasa, Mama selalu menjagaku." Cerita Leon panjang lebar.


Ternyata Leon belum mengetahui bahwa Dito adalah anak dari papanya dengan Viona, lalu Arumi menepuk pundak Leon, dan tersenyum.


"Aku merasa malu padanya. Sungguh, aku merasa tidak pantas menjadi penggantinya." Tukas Arumi.


Leon memegang bahu Arumi dan menghadapkan ke arahnya.


"Aku tahu, Papa hanya menjadikanmu sebagai jalan untuk bisnisnya. Dan aku tahu, kalian akan berpisah kelak. Aku pernah mendengar dia berdiskusi bersama seseorang, namun aku juga tak mengenalnya. Ia mengatakan, jika kamu adalah salah satu kandidat calon istri untuk Papaku, jika akan lolos terpilih menjadi ketua dewan kota, karena reputasi keluargamu, dan kisahmu." Tatap Leon.


"Namun, mengapa harus aku, buka perempuan yang lebih matang lainnya?" Arumi mendengus kesal, karena mengingat Tuan Haris yang merenggut kesucian yang ia jaga hanya untuk orang yang ia cintai.


Leon terkekeh mendengar pertanyaan Arumi.


"Kamu tahu, setelah Mama meninggal, Papa selalu datang ke pesta undangan Pak Broto dan Madam Fey. Papa selalu melampiaskan hasratnya dengan memilih salah satu gadis gadis muda di sana. Termasuk, Andin pernah menjadi gadisnya. Aku pernah memergoki dia keluar dari ruang khusus Papa."


Sontak ucapan Leon membuat Arumi melotot dan menatap Leon tak percaya.


"Mengapa harus bohong. Ada beberapa gadis lain juga ya aku pernah lihat. Mungkin, dia memilihmu karena kamu masih perawan." Celetuk Leon dengan cueknya.


Arumi menutup wajahnya dengan tangan, ia merasa sangat malu sekali, sekaligus merasa terhina, jika pernikahannya hanya untuk hal seperti itu.


"Kenapa denganmu?" Tanya Leon heran dengan kelakuan Arumi.


"Papamu telah merenggut kesucianku dengan seenaknya." Gerutu Arumi dengan kesal.


"Sungguhkah?"


"Ya. Kamu tak percaya? Lalu kamu? Aku yakin kamu sebelumnya telah banyak dengan gadis lain."


Leon menghela napas panjang.


"Denganmu!" Jawabnya singkat. Namun, lagi lagi membuat Arumi terkejut hingga kalo ini langsung menatap tajam tak percaya ke arah Leon.


"Ya, denganmu, dengan rayuan mautmu tempo hari." Sahut Leon meyakinkan Arumi.


"Tapi kamu benar-benar seperti singa muda saat di ranjang!" Sela Arumi sambil meninju lengan Leon.


Leon tertawa terbahak, disusul oleh Arumi.


Mereka melanjutkan jalan mereka ke apartemen.


Arumi menarik lengan Leon masuk ke sebuah toko untuk membeli beberapa bahan makanan untuk di rumah. Leon menemani sambil memilih beberapa bahan juga untuk persiapan besok.


Setelah membayar mereka keluar sambil menenteng belanjaan masing masing.


"Leon, maafkan aku." Ucap Arumi tiba tiba.


"Untuk apa?"


"Karena aku telah merebut posisi mamamu."


Leon tersenyum mendengar pengakuan Arumi.


"Aku akan menunggumu. Aku tahu, papaku akan melepasmu. Aku mencintaimu, Rumi." Leon mendekati Arumi, lalu mengecup kening Arumi.


Hati Arumi sangat berbunga bunga. Ia tak menyangka, Leon bisa berpikir dewasa seperti itu di usianya yang masih muda.


Mereka terus berjalan menuju apartemen Arumi. Lalu setelah Arumi masuk ke dalam lift, Leon meneruskan perjalanan pulang kembali ke apartemennya.


Di belakangnya, Jeff memperhatikan Leon dan Arumi dengan rasa cemburu. Mulai dari mereka berjalan berdua, hingga saling bercanda, hingga Leon kecupan mesra untuk Arumi tadi. Dia menyukai Arumi. Sungguh menyukainya. Ia ingin mendapatkan gadis itu untuknya, meski harus bersaing dengan putra dari atasannya.


Jeff masuk ke basemen gedung apartemen menuju parkiran mobil, lalu masuk ke rumah dengan perasaan kesal pada Leon.