Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Fakta Baru


Leon kembali lagi ke tempatnya, terlihat Dito telah melenggang di lantai dansa menari dengan seorang gadis, menari dengan iringan hentakan musik yang dimainkan oleh DJ.


Bin dan Bela yang duduk berdekatan saling merapatkan tubuh mereka di sudut sofa. Lalu ekor mata Leon melihat Andra melenggang masuk ke sebuah kamar mengikuti Andin. Yang pasti mereka ingin saling meluapkan hasrat masa muda mereka.


"Ah, sudahlah jika seperti ini. Lebih baik aku keluar aja!" Gumam Leon.


Leon menuju ke sudut ruangan, yang berupa bar. Lalu dia duduk dan memesan satu gelas minuman tanpa alkohol. Leon tak ingin mabuk malam itu.


"Siapa penari yang memakai topeng tadi?" Tanya Leon saat bartender meletakkan pesanan Leon.


"Audi. Gadis baru Madam Fey." Sahut bartender itu.


"Dari mana asalnya?"


"Aku kurang tahu, dia datang bersama dengan banyak gadis lain, sebagian dari Amerika, Singapura, dan Prancis. Aku juga kurang begitu jelas yang mana Audi itu, karena Madam Fey banyak mendatangkan gadis gadis baru untuk klub barunya ini. Dia ingin membuat pertunjukan yang berbeda dari yang lain."


Leon menganguk angguk, namun dia masih terlihat berpikir.


"Hei, Le, bukannya Papamu juga memiliki klub malam yang di pusat kota?" Tanya Si bartender sambil menepuk bahu Leon.


"Aku telah bosan di sana, ingin mencari hal yang baru. Biasa anak muda." Sahut Leon sambil bergurau. Bartender tadi yang ternyata teman Leon tertawa menanggapinya. Lalu dia telah sibuk dengan pekerjaannya kembali melayani tamu yang lain.


Leon terus menyapu pandangan matanya ke sekeliling klub itu. Terlihat Madam Fey berbincang dengan seorang gadis, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan.


Tiba tiba ponselnya bergetar, Leon mengambil ponselnya dan mengerutkan keningnya saat mengetahui siapa yang menghubunginya.


Dia menyelipkan uang di bawah gelas minumannya, lalu pergi keluar dari klub itu untuk menerima panggilan telponnya.


Leon masuk ke dalam mobil, usai menerima panggilan itu. Lalu menyalakan mobil dan meninggalkan klub itu.


Leon menuju ke taman kota, di sana sebuah sedan hitam telah menunggu. Leon keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil sedan itu, lalu masuk di pintu belakang.


"Selamat malam Pak. Ada apa?" Sapa Leon.


"Bagaimana pesta di sana?"


"Banyak orang asing yang masuk dan bekerja di klub itu."


"Dengar Le. Aku ingin kamu mengamati yang papamu lakukan. Aku tahu Arumi masih hidup. Aku percaya padamu. Aku yakin, dia akan membantu kita. Karena Broto dan Fey juga ada di pihakku. Aku ingin kamu merahasiakan ini semua. Aku percaya padamu." Ucapnya sambil menatap Leon.


"Aku tahu, kamu pasti bertanya mengapa harus kamu? Mengapa bukan orang lain? Aku tahu kamu bisa. Dan ini salinan obat di rumah sakit selama perawatan mamamu. Ada satu obat yang sengaja tidak pernah diminumkan pada mamamu secara sengaja oleh seseorang. Dan tidak mungkin papamu tidak tahu. Kecuali, dialah yang sengaja melakukannya. Salinan obat ini tertulis semua selalu diberikan setiap kontrol, namun sejak dirawat di rumah, pihak rumah sakit tak dapat mengecek semuanya secara detail." Cerita pria yang berada di dalam mobil itu, yang tak lain adalah walikota.


"Maksudmu?"


"Aku tidak mau spekulan. Silahkan kamu baca laporan itu dan hasil penyelidikan kematian mamamu. Bob sengaja meminta hasil laporan dari rumah sakit setelah itu."


"Tapi, Paman Bob, masih sering datang setelah itu."


"Masalah pekerjaan. Lagian keluarga mamamu akhirnya juga menjadi pemasok sayuran dan buah segar hampir seluruh kota. Setelah Haris menikah lagi dengan Viona, dia benar benar sudah keterlaluan!" Ucap walikota geram.


"Apa benar papaku terlibat dalam kebakaran besar di pusat kota?" Leon akhirnya menanyakan hal yang belum pasti itu.


Walikota terdiam, lalu menatap Leon lekat lekat.


"Aku tak punya bukti, dan semua telah terjadi begitu saja. Dengan kekuatan dan jabatan yang dimilikinya saat ini, sungguh dia benar benar memanfaatkan semua yang ada pada dirinya."


"Apa benar dia yang melakukan?"


"Leon, aku tidak tahu pasti. Namun, terus bantu kami melacak semuanya


"Baiklah. Akan saya bantu."


"Terima kasih Leon!" Ucap Pak walikota sambil menjabat tangan Leon.


"Sama sama."


Leon keluar dari mobil itu dan menutup pintunya. Lalu..


"Leon, aku tadi bertemu dengan Arumi. Dan aku percaya dia berada di pihak kita juga."


"Arumi? Di mana?" Cecar Leon.


"Di kediamannya."


Leon menatap tajam Pak walikota, sambil mengerutkan keningnya. Leon masih terpaku memandangi mereka mobil sedan mewah hitam tadi yang berlalu dan menjauh dari tempatnya.


*


*


Si sebuah kamar, Gisel mengerakkan pinggulnya naik turun bagai menunggang kuda.


"Faster darling. Faster.. oh... Yeah... Yes... Oh...!" Teriak pria itu sambil merem melek.


Tiba tiba Gisel melihat sebuah tato pada pergelangan tangan pria itu. Seketika dia mulai memelankan ritem permainan yang luas. Lalu mendorong pria itu untuk menjauh dari tubuhnya.


Gisel dengan sengaja melakukannya. Ia lalu menuangkan minuman pada gelas yang ada dalam ruangan itu.


Gisel memberikan gelas itu pada pria yang membayarnya itu.


"Minumlah sebentar!" Bujuk Gisel.


Pria itu meneguk minuman hingga habis.


"Kamu tahu? Kesalahan Mark adalah bertemu dan jatuh cinta denganmu!" Rancau pria itu sambil terus mencium Gisel.


"Mark harusnya eksekutor bagi kamu dan keluargamu! Tapi karena kesalahan bodohnya itu, kami jadi seperti ini!"


"Mark?" Tanya Gisel mengerutkan keningnya.


"Aku anak buah Mark, saat menyerang rumahmu dulu, cantik. Hmmm... Tubuhmu ternyata masih senikmat waktu itu. Dulu aku juga sempat mencicipi mamamu yang memiliki dada yang montok, enak dan nikmat sekali." Pria itu merancau, menceritakan kejadian di malam penyerangan itu.


Gisel meraih ponselnya dan menekan tombol rekam dengan segera. Sambil menahan amarahnya, Gisel berpura pura melayani pria itu.


"Lalu, bagaimana denganku?" Pancing Gisel.


"Kamu, dibalik wajahmu yang lugu itu, ternyata tenaganya luar biasa. Mark yang memiliki ide untuk menggarap kamu dan ibumu."


"Lalu siapa yang menarik pelatuk pada mamaku?" Tanya Gisel dengan ekspresi menggoda.


"Mulanya Mark, namun dia tak tega, akhirnya Tuan Marco yang menghabisi ibumu. Lalu, kami semua diperintahkan untuk menggarap tubuhmu kembali secara bergilir, hingga kamu jatuh terkulai. Aku pikir kamu telah tewas saat itu, karena itu pas giliran ku." Ucapnya sambil menyeringai.


Darah Gisel seakan mendidih mendengar nama Tuan Marco yang ternyata dalang semuanya.


Gisel tersenyum, lalu menuangkan lagi minuman ke dalam gelas, ia menaruh bubuk obat tidur, lalu memberikan pada pria itu.


Gisel membantu memegangi gelas saat pria itu meminumnya, lalu dalam hitungan detik, pria itu terkulai dan ambruk.


Gisel mendorong pria itu, mengambil gambarnya, dan semua sebagai bukti kelak. Lalu Gisel mengenakan pakaiannya kembali. Dan keluar dari kamar itu.


Ia mencari Thomas, kakak ya di restoran saat itu juga. Thomas yang sedang menyelesaikan laporan, segera mengirim email dan memasukkan uang pada brankas. Setelah mengunci, Thomas segera menuju ruang pantri untuk melepas penat sambil menghisap rokok.


Will ada di sana sedang menyesap kopi dan menghisap rokoknya juga.


"Kakak!" Panggil Gisel.


Thomas dan Will menoleh ke arah Gisel.


"Ada apa?" Thomas mendekati adiknya.


Gisel melirik ke arah Will, ada semburan kengerian di matanya saat melihat Will. Ia tahu, Will dendam pada Dipo, yang tak lain adalah papanya Gisel dan Thomas. Lalu Will adalah kepercayaan Tuan Haris. Kini, ia mendengar kenyataan baru, bahwa, dalang penyerangan itu adalah Tuan Marco, dan pihak keamanan juga terlibat. Gisel seolah tak memiliki orang lain yang dapat ia percaya lagi selain kakaknya sendiri.


Gisel menarik lengan Kakaknya, dan mengajaknya segera pergi dari tempat itu.


Thomas yang bingung hanya menurut kehendak adiknya. Will menatap keduanya dengan rasa penasaran.


Dalam perjalanan, Gisel memperdengarkan rekamannya tadi, dia mengirim salinan rekaman pada ponsel kakaknya itu.


"Jadi, kita harus bagaimana sekarang?" Tanya Thomas.


"Aku tidak tahu, Kak. Sebaiknya kita harus bersembunyi sementara waktu. Lupakan Nina! Masih banyak gadis lain yang lebih pantas untukmu! Huh!" Gerutu Gisel dengan kesal, karena selama ini Thomas masih belum bisa melupakan Nina.


Tok... Tok... Tok..


Tiba tiba jendela mobil diketuk dari luar. Thomas dan Gisel terkejut saat melihat siapa yang mengetuk mobil mereka.


"ARUMI..??!!"


BERSAMBUNG