
"Dia terkenal ya?" Gumam Thomas saat melihat baliho dengan wajah Nina di sana.
"Sangat terkenal!" Sahut Gisel.
"Kalian satu penerbangan?" Tanya Gisel
"Ya, katanya ada kerjaan di sana. Aku pun baru menyadari saat tiba di sini. Sebelumnya aku tak pernah tahu bahwa dia itu orang terkenal."
"Dia penyanyi kak! Mungkin dia selesai rekaman di Amerika sana." Tebak Gisel.
"Dan ternyata dia putri dari penyanyi favoritku. Aku koleksi semua album band papanya." Ucap Thomas sambil menerawang.
"Astaga, lagu yang membuat kepala rasanya mau pecah gara gara harus mendengarkan suara cemprengmu setiap pagi, hah..!?" Teriak Gisel sambil memukul lengan kakaknya yang duduk di depan bersama Will.
"Apa kabarmu Will?" Tanya Thomas menoleh ke arah Will.
"Baik, seperti biasa."
"Apakah adikku merepotkanmu selama ini?" Sambung Thomas.
"Tidak. Bahkan dia adalah teman yang baik saat aku membutuhkan saran."
Gisel tertawa dari bangku belakang.
"Aku tidak sejahat itu kak. Aku ini gadis baik baik. Bahkan aku pun lulus masuk sepuluh besar." Sahut Gisel pada kakaknya itu.
"Bagaimana Arumi? Kelihatannya dia semakin sibuk saja."
"Tuan Haris memintanya untuk kuliah mengambil ilmu bisnis dan keuangan untuk membantu mengurus perusahaan, karena Leon akan meneruskan sekolah ke Julliard. Untung saja kamu tepat waktu pulang kemari. Bisa membantu Arumi." Terang Will.
"Tapi aku sama sekali masih baru. Aku masih perlu banyak belajar." Balas Thomas.
"Aku percaya kamu pasti bisa kak." Gisel menyemangati kakaknya.
Mobil telah memasuki pekarangan kediaman Tuan Haris, terlihat Arumi baru masuk turun dari mobilnya.
"Selamat datang kembali Thomas!" Sambut Arumi memeluk sepupunya itu.
"Kamu terlihat lebih cantik." Puji Thomas.
"Bilang saja, dandananku terlihat lebih tua !" Arumi menaikkan alisnya.
"Sungguh kamu terlihat cantik."
"Ayo masuk! Aku sudah minta siapkan makanan yang enak makan ini untuk kita semua." Ajak Arumi sambil masuk ke dalam rumah.
Bejo membantu mengangkat barang-barang bawaan Thomas menuju kamarnya yang terletak di halaman belakang. Terlihat Leon dan Dito sedang berenang di kolam renang.
"Hai..!" Sapa Thomas melambaikan tangan pada Leon dan Dito.
Lalu mereka membalas lambaian tangan Thomas.
Menjelang makan malam mereka telah berkumpul di meja makan. Will dan Dito ikut menikmati makan malam itu. Tuan Haris terlihat sangat senang kediamannya terlihat ramai.
Saat mereka bersenda gurau sambil menikmati makanan, ada tamu yang datang.
"Hai, Mark. Ada apa?" Will menemui Mark si polisi temannya itu dan mengajaknya ke luar rumah.
"Will, aku ingin menanyakan beberapa hal mengenai kejadian tadi siang. Kamu besok bisa datang ke kantorku bersama dengan Gisel." Ucap Mark.
"Tentu. Aku pasti datang." Jawab Will.
Mark tersenyum, namun ia masih berdiri seolah ada yang ingin dikatakan lagi.
"Gisel?" Tanya Will menggoda Mark.
"Jangan bilang jika kamu tertarik padanya!"
"Entahlah, baiklah aku tunggu besok. Selamat malam!" Pamit Mark.
***
"Hah, jadi kita akan pergi ke kantor polisi?" Ucap Gisel panik saat mendengar Will mengajak ke kantor polisi.
"Sebagai bagian dari prosedur."
"Ini gara gara kita hendak menolong Andra, malah jadi seperti ini." Gerutu Gisel.
"Andra? Kenapa dia?" Tanya Dito.
"Dia kecelakaan di dekat tebing." Will menceritakan kejadian siang tadi sebelum mereka menjemput Thomas di bandara. Leon dan Dito saling bertatapan saat mendengar cerita Will.
"Serius Will?" Tanya Leon mengerutkan keningnya.
"Jika tidak serius, mana mungkin kami dipanggil polisi untuk dimintai keterangan!" Sela Gisel dengan kesal.
"Kalian mengetahui sesuatu?" Selidik Will.
"Saat aku dan Dito pulang dari tempat tari, kami bertemu Andra di kedai kopi. Dia bersama Rea. Lalu apakah Andra bersama Rea kemarin siang?"
"Kami hanya menemukan Andra, dia tertembak!" Ucap Gisel dengan bola mata membesar, membuat semua terkejut kecuali Will.
"Pukul berapa kalian bertemu Andra dan Rea?" Tanya Will.
"Setelah jam makan siang. Pukul satu lewat." Terang Dito.
Will mengangguk angguk.
***
Sementara itu Andin masih menemani Andra di rumah sakit. Kondisi Andra telah stabil, peluru yang bersarang di perutnya telah berhasil dikeluarkan. Hanya menunggu siuman saja. Orang tua Andra sudah dihubungi, mereka sedang keluar kota, dan kini dalam perjalanan kembali untuk melihat putra kesayangan.
Andra masih memiliki masa depan yang cerah, apalagi dia keluarga yang berada, tidak pantas bersamanya.
Perlahan Andra membuka matanya dan melihat Andin di sampingnya. Andin tersenyum.
"Kamu sudah siuman? Bentar aku panggil dokter."
"Andin.." Panggil Andra. Andin menoleh pada Andra
"Aku senang melihatmu di sini." Ucapnya. Andin hanya tersenyum.
Tak lama dokter dan perawat datang memeriksa keadaan Andra. Beberapa alat bantu dilepaskan. Tinggal infus saja yang masih tersambung di tangannya.
Malam itu Andin menemani Andra di rumah sakit.
"Aku senang kamu menemaniku."
"Ini hanya sebagai simpati, Ndra. Jangan kamu anggap lebih."
"Jika aku berpikir sebaliknya?"
"Terserah." Jawab Andin cuek.
"Makan ya, aku siapin." Bujuk Andin, Andra menganguk.
Setiap perlakuan Andin membuat Andra yakin tentang perasaannya pada perempuan itu. Lalu sikap Rea yang semakin acuh padanya, terutama tadi siang, setelah mereka bertengkar di jalan, lalu Rea panggung ia turunkan di jalan. Setelah itu tiba tiba di jalan mobilnya ditabrak dengan sengaja, lalu ia dipaksa turun dan dipukuli, terakhir ia ditembak, beruntung tembakan meleset mengenai perutnya saat itu, Andra sedikit menghindar, namun ia harus jatuh ke sisi jalan yang curam.
"Ndra, kamu tahu siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Andin. Andra terdiam sejenak. Andin membereskan perlengkapan makan Andra dan meletakkan di sudut meja.
"Aku tak mau menuduh sembarangan. Tapi kemarin aku bertengkar dengan Rea." Ucap Andra.
"Rea?"
"Ya. Aku kecewa padanya yang ternyata jelas mengaku bahwa dia hamil."
"Hah... Hamil? Anakmu?" Cecar Andin.
Andra menggeleng kepalanya. "Bukan. Anak Steve."
Andin menutup mulutnya dan matanya membesar karena terkejut.
"Steve, anak basket itu?"
"Ya."
"Bukankah dia penerima beasiswa di sebuah universitas. Jika skandal ini diketahui, maka karirnya akan hancur." Tebak Andin.
"Ya. Rea ingin aku membantunya untuk mengaku itu anakku. Jelas aku tidak mau. Karena aku sama sekali tidak pernah tidur dengannya!" Cetus Andra dengan emosi.
Andin menepuk pundak Andra menenangkan pemuda itu.
"Aku tak pernah sedikit pun berpikir, Rea akan berbuat sejauh itu dengan Steve. Karena dia selalu menolak untuk melakukan hal yang lebih jauh. Apalagi reputasi Papa dan Mamanya yang baik di mata publik." Sambung Andra.
Andin hanya tersenyum menatap Andra.
"Tapi aku senang kamu di sini, menemaniku." Ucap Andra sambil menatap Andin. Lalu tangannya menyusuri tangan Andin, menariknya untuk naik ke ranjang bersamanya.
Andin menurut, naik ke ranjang, dan malam itu mereka saling berbagi kehangatan di ranjang rumah sakit.
***
Gisel menarik ujung kemeja Will saat mereka berjalan di koridor kantor polisi menuju ke ruangan Mark.
Will tersenyum geli lalu menarik tangan Gisel supaya mempercepat langkahnya.
Tok.. Tok...
Will mengetuk pintu ruangan.
"Masuklah Will." Sapa Mark dengan ramah.
Will menceritakan semua kejadian kemarin siang. Lalu menambahkan keterangan yang diceritakan oleh Dito dan Leon.
Gisel tak banyak bicara. Sebenarnya ia ingin menceritakan whatsapp dari Andin yang diterima tadi pagi. Cerita Andra padanya semalam tentang Rea dan Steve. Namun, diurungkannya untuk keselamatan Andin juga. Ia tak ingin temannya terlibat lebih jauh dengan orang orang ambisius yang tak kenal ampun.
"Gisel..? Ada apa?" Mark membuyarkan lamunannya tentang Andin.
"Ya... Ya.. Aku baik baik saja." Sahut Gisel tergagap.
Will dan Mark terkekeh dibuatnya.
"Baik, terima kasih atas bantuan kalian. Jika ada yang lain, tolong hubungi aku." Ucap Mark.
"Ini nomorku." Mark memberikan kartu namanya pada Gisel.
***
"Sepertinya Mark tertarik padamu." Will memulai pembicaraan saat dalam perjalanan pulang.
"Hanya iseng mungkin."
"Mark tak pernah iseng. Setelah kehilangan istriku, dia seolah menjadi polisi yang ganas. Selalu menjadi ujung depan di setiap penggrebekan. Seolah mencari mati saja. Tapi kemarin saat bertemu denganmu, dia berbeda. Dia tersenyum padamu,dan tatapannya padamu itu."
"Hmmm apa aku perlu mengecek kebenaran ucapanmu, Will?" Tanya Gisel dengan nada manja.
"Awas jika kamu berani main main dengannya, aku tak akan membantumu!" Sargah Will.
Ia tahu, jika Gisel kumat isengnya, maka ia akan menggoda Mark. Dan ia tahu, jika Mark sudah serius dengan seseorang maka ia tak akan pernah melepasnya.