
"Ya, kamu boleh mengikutinya. Ada sekitar lima pengajar termasuk kamu, yang dikirim dari sekolah milikku untuk mengambil pelatihan pengajar profesional." Ucap Tuan Haris.
"Sungguh?" Arumi masih tak percaya. Tuan Haris mengangguk angguk kepalanya.
"Terima kasih." Sambungnya sambil memeluk Tuan Haris.
"Kamu tak perlu memikirkan pekerjaanmu di sini. Biar Thomas dan Will yang menangani sebagian pekerjaanmu."
"Ya. Aku telah mencari beberapa orang untuk mengisi pekerjaan sebagai penari di klub saat pembukaan. Aku juga telah menemukan dokter untuk memeriksa para gadis itu dan memberi mereka sertifikat." Terang Arumi.
"Kamu memang cepat belajar." Puji Tuhan Haris.
Arumi tersenyum senang.
***
Arumi segera mempersiapkan kelengkapan untuk berpergian. Ia sibuk mengurus semuanya. Kebetulan kuliahnya sedang masa libur, jadi ia menghabiskan masa libur dengan mengikuti kelas pengajar profesional. Berbekal surat rekomendasi dari Viona, akhirnya Arumi dan pengajar lain dapat belajar di sekolah menari itu.
Tuan Haris meminta Arumi yang mengurus semuanya. Mulai dari urusan belajar mereka, biaya hidup, hingga tempat tinggal.
Kini, ia hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan yang tinggal satu Minggu lagi. Arumi sengaja tidak memberitahu Leon, untuk memberi kejutan pada pemuda itu.
Semua kelas menarinya dialihkan pada pengajar lain atau asistennya. Arumi juga baru mengatakan rencana kepergiannya ini pada Gisel dan Nina satu Minggu sebelum keberangkatannya. Hanya pada Thomas ia menceritakan semuanya, karena untuk urusan pekerjaan.
"Kamu benar benar tidak tahu diri! Lalu dalam tiga bulan ini, aku belajar bersama siapa? Teamku sudah sangat nyaman denganmu, Rumi. Kamu benar benar jahat!" Gerutu Nina saat Arumi menceritakan bahwa ia akan mengikuti kelas profesional di Amerika.
"Nina, team penarimu itu dulu berasal dari sekolah yang sama. Dari sekolah itu juga. Mereka juga bisa dan tahu cara membuat koreografi. Kamu sudah bayar mereka, manfaatkanlah! Aku hanya orang luar dari team." Arumi memberi saran.
"Tapi kamu memberitahu kami mendadak seperti ini! Ini membuat kami syok! Aku pasti sangat merindukanmu!" Imbuh Gisel sambil memeluk Arumi.
"Aku akan membuat vlog, semoga berhasil. Di sana masih musim dingin ya. Pasti ada salju di sana. Aku akan memanfaatkan semua hal yang dapat aku lakukan di sana." Gumam Arumi.
"Sebelum kamu pergi, apakah kita bisa berkumpul semalam untuk perpisahan sejenak denganmu?" Tanya Nina.
"Tentu." Jawab Arumi tersenyum lebar.
Thomas senang melihat kedekatan Nina, Gisel, dan Arumi. Ia tak harus bingung mendekatkan lagi saudara saudaranya itu pada Nina.
Hubungan yang mereka jalani saat ini menyenangkan. Thomas yang awalnya masih syok dengan ritme dan pekerja Nina, lama kelamaan dengan dukungan dari Arumi, akhirnya memberi kepercayaan penuh pada Nina. Semakin Thomas percaya padanya, Nina semakin merasa Thomas adalah pria satu satunya dalam hidupnya. Bahkan kini, ia memutuskan untuk tinggal di kediaman Tuan Haris, karena merasa lebih aman di sana.
***
Malam itu, Nina mengajak jalan Arumi dan Gisel ke sebuah pusat perbelanjaan, mereka berjalan dari toko satu ke toko yang lain. Bahkan ia dengan mudah menunjuk barang ini itu, ia membelikan Arumi pakaian musim dingin selama ia tinggal di luar negeri. Nina membantu mempersiapkan semuanya bersama Gisel.
Beberapa pengunjung yang mengenal Nina sempat menghentikan mereka dan meminta foto dengan Nina. Nina dengan ramah meladeni mereka. Gisel dan Arumi yang kebagian sibuk menjadi juru foto mendadak saat itu.
Setelah itu mereka kembali lagi memilih beberapa pernak pernik lucu. Nina membelikan beberapa dasi untuk Thomas. Ia juga membelikan suspender untuk gaya pakaian Thomas, supaya tidak membosankan. Gisel terkikik geli saat membayangkan Thomas memakai beberapa pakaian yang dipilihkan oleh Nina.
Namun, ia kagum juga pada Nina, ia pandai memilah milih pakaian dan memadu padankan. Tak jarang ia meminta tolong pada Nina untuk membantunya mix and match pakaiannya. Begitu juga dengan Arumi. Kediaman Tuan Haris akan terasa sangat ramai jika ketiga gadis itu sudah saling berkumpul. Para lelaki biasanya hanya dapat memandang dari kejauhan saja melihat kehebohan mereka saat saling melempar candaan.
***
Bejo memasukkan koper dan tas Arumi ke dalam mobil. Arumi bersiap berpamitan pada semua anggota keluarga yang ada di rumah Tuan Haris. Kepergian selama tiga bulan, tapi membuat mereka kehilangan. Terutama Nina, yang selalu curhat dan dekat dengan Arumi.
Saat itu Viona juga ada di sana, ia sedang datang mengunjungi Nina. Tapi Nina lebih memperhatikan Thomas, Gisel, dan Arumi. Ia malas berinteraksi dengan Mamanya.
Hingga Arumi memberi saran padanya, untuk berubah. Bagaimana pun, Viona adalah Mamanya, ia harus tetap menghormatinya. Jangan sampai menyesal dan kehilangan mamanya. Akan terasa sangat sakit, jika kehilangan kasih sayang seorang ibu. Arumi memberi nasihat supaya mencoba untuk dekat. Sekedar menemani minum kopi atau membicarakan tentang tarian atau koreografi. Lagian dengan mamanya, akan tidak ada biaya, alias gratis.
Saat mendengar alasan Arumi tersebut, Nina hanya tertawa terkikik. Dalam hati ia membenarkan semua ucapan Arumi kali ini.
Thomas, Nina, dan Gisel mengantarkan Arumi ke Bandara. Sebelum masuk ke dalam, Arumi memeluk mereka satu per satu. Teman teman Arumi yang lain telah menunggu di dekat pintu. Lalu Arumi berjalan meninggalkan Thomas, Nina, dan Gisel sambil melambaikan tangannya.
Kini ia mendorong troli koper dan tasnya bersama teman temannya masuk menuju gerbang keberangkatan.
***
Ia sedikit trauma dengan bepergian ke luar negeri, sejak kembali dan mendapati orang tuanya telah dikuburkan, dan rumahnya telah menjadi puing puing.
Arumi menggenggam jarinya kuat kuat saat pesawat sedang lepas landas. Ia menggenggam pegangan kursi hingga buku buku jarinya terlihat putih karena gugup.
Rekannya menepuk punggung tangan Arumi menenangkannya. Arumi menjadi agak sedikit lebih tenang saat ini.
Mereka melakukan perjalanan lebih dari dua puluh empat jam. Beberapa kali transit, namun Arumi terlihat lebih menikmati kali ini, ia menggunakan kameranya untuk mengambil beberapa video dan mengunggah di laman sosial media miliknya.
Setelah sekitar dua puluh empat jam lebih, akhirnya pesawat mendarat di bandara internasional Amerika.
Arumi bersama keempat temannya menunggu koper mereka dari bagasi, lalu menaruh di troli. Mereka berjalan keluar dari bandara menuju pintu keluar.
Seorang teman Viona telah menunggu kedatangan mereka di sana, ia berdiri sambil membawa papan nama bertuliskan Arumi.
Mereka semua berjalan mendekati lelaki itu.
"Jeff?" Tanya Arumi.
"Ya, kamu Arumi?" Tanyanya.
"Ya."
"Mari ikut saya. Saya akan mengantar kalian langsung ke apartemen tempat tinggal kalian." Ajaknya.
Mulanya Arumi tak yakin, tapi mereka tak ada pilihan lain. Teman teman yang lain juga meyakinkan Arumi untuk percaya pada Jeff.
Ya percaya, bahwa lelaki itu adalah benar suruhan Viona, bukan orang yang hendak mencelakakan mereka.
Akhirnya Arumi menuruti lelaki itu, ia membantu lelaki itu memasukkan barang barang ke dalam mobil. Arumi tetap dengan sikap siaga dan tatapan tajam. Karena ia adalah penanggung jawab rombongan selama tinggal di benua Amerika ini.
Jeff tersenyum melirik ke arah Arumi yang masih memasang tampang juteknya.
Jeff adalah salah satu siswa Viona dan juga asistennya, saat masih menjadi mahasiswa. Dia seorang penari juga dulunya, tapi dia lebih memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan IT di Amerika.
Jeff tak menyangka, bahwa Arumi masih sangat muda. Jeff yang saat ini berusia 25 tahun, berambut gelap, berwajah lumayan tampan. Membuat rekan Arumi hanya bisa bisik bisik membicarakan Jeff yang tampan itu. Tapi, sepanjang perjalanan, Arumi masih waspada. Hingga Jeff membawa mereka ke sebuah apartemen tak jauh dari universitas seni tempat mereka melakukan program pelatihan.
"Aku akan membantu membawakan barang barang ini masuk ke dalam. Kalian tinggal di lantai 5." Ucap Jeff.
"Bagaimana kamu tahu kami tinggal di sini?" Arumi mengerutkan keningnya heran.
Jeff tersenyum.
"Viona yang memintaku membantu kalian selama tinggal di sini. Tuan Haris yang memintaku mencarikan sebuah tempat yang layak untuk kalian tinggali selama di sini. Aku juga bekerja di salah satu perusahaan milik Tuan Haris di sini." Terang Jeff.
"Namaku Jeff." Ia mengulurkan tangannya pada Arumi.
Arumi menatap Jeff sekali lagi, lalu menerima uluran tangan Jeff.
"Rumi." Ucap Arumi.
"Sudah... Sesi perkenalan bisa kah dilanjutkan nanti, kita sudah lelah. Ayo masuk ke dalam!" Teriak salah satu teman yang lain.
"Ayo!" Jeff mendorong troli masuk ke apartemen diikuti para gadis itu.
Mereka naik lift langsung ke lantai 5. Jeff membuka sebuah kamar dan membuka pintunya.
Mereka berlima masuk mengikuti Jeff.