Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Teman Baru


Konser Nina di Amerika tinggal menghitung hari. Banyak persiapan yang telah dilakukan oleh sang artis itu, termasuk melibatkan Arumi sebagai sang koreografer.


Kini di sebuah ruangan besar, Arumi mengikat rambutnya, lalu mengenakan sepatu ketsnya, dan bergabung dengan beberapa penari latar untuk konser Nina. Mereka berdiskusi tentang gerakan yang akan dibawakan, sambil terdengar lagu yang mengiringi mereka.


Sekitar tiga puluh menit, Arumi menjelaskan dan mencontohkan gerakan koreografi yang akan dibawakan untuk mengiringi lagu tersebut. Lalu mereka berlatih bersama.


Nina tiba sekitar satu jam kemudian, lalu ia langsung berganti pakaian dan bergabung bersama Arumi dan para penari latarnya. Nina sangat antusias dan memperhatikan setiap penjelasan dan gerakan yang diinstruksikan oleh Arumi.


Mereka berlatih sekitar dua jam. Lalu Arumi permisi karena ia harus ke kampus untuk melanjutkan pelajarannya.


Seusai kelas, Arumi mampir ke kedai kopi tempat Monica bekerja, ia memesan kopi dan roti untuk menemaninya. Arumi beristirahat di kedai itu sambil mengedit beberapa video yang akan ia unggah di Youtube miliknya, sebagai tutorial menari untuk anak anak didiknya yang ia tinggalkan selama ia belajar di Amerika.


"Hai, apakah aku mengganggumu?" Sapa Jeff yang tiba tiba berdiri di dekat Arumi.


"Oh, hai, Jeff. Tidak. Kamu sama sekali tidak menggangu." Jawab Arumi yang sedikit terkejut dengan kehadiran Jeff.


"Silahkan duduk." Imbuh Arumi sambil tersenyum. Lalu Jeff duduk di bangku di depan Arumi. Mereka duduk berhadapan. Jeff memesan kopi dan kudapan. Tak lama Monica datang membawakan pesanan Jeff.


"Kamu mau tambah kopinya?" Monica menawari kopi lagi pada Arumi usai meletakkan piring pesanan Jeff.


"Tidak, terima kasih. Oh, Monica, kenalkan ini Jeff temanku. Dan Jeff ini Monica, sepupuku." Arumi mengenalkan keduanya.


Monica dan Jeff saling berjabat tangan, lalu Monica permisi untuk bekerja kembali.


"Tumben ada di sini? Apa kamu tidak bekerja?" Tanya Arumi.


"Kebetulan aku sudah selesai. Tadi ada meeting dengan klien, lalu aku kebetulan melihatmu di sini, dan ya, aku di sini sekarang." Jawab Jeff.


"Oya, mengapa kamu tidak pernah datang ke klub? Padahal aku sudah sering mengundang teman temanmu ke sana. Itu juga klub milik Tuan Haris."


"Aku sudah terlalu lelah untuk masuk ke klub. Aku ingin beristirahat dan mengerjakan pekerjaanku yang ada di sana." Terang Arumi.


Jeff mengerutkan keningnya, dengan heran.


"Aku mengajar di sekolah tari. Lalu aku juga punya beberapa siswa yang masih memintaku untuk membuat koreografi untuk mereka gunakan. Seperti sekarang, aku baru selesai mengunggah video untuk mereka." Arumi seakan dapat mengerti keheranan Jeff. Ia menunjukkan video yang telah berhasil ia unggah.


Jeff tersenyum melihat video itu.


"Kapan kapan kamu harus ikut ke suatu tempat." Ucapnya.


Arumi menautkan alisnya sambil menatap Jeff.


"Hari ini ada waktu? Kebetulan aku akan ke sana." Jeff menawari Arumi.


Dan Arumi menjawab dengan anggukan kepala karena dia sangat penasaran.


"Oya, aku memiliki tiket untuk konser Nina, kebetulan aku memiliki dua tiket." Jeff menunjukkan tiket konser Nina. Arumi terkikik melihat tiket itu. Sebenarnya ia ingin mengatakan, jika ia adalah koreografer Nina, namun, diurungkannya supaya tidak terkesan sombong di mata Jeff.


"Maaf, aku telah memiliki tiket, atau kamu bisa memberikan pada sepupuku, kebetulan aku hendak mencari satu tiket lagi untuknya."


Arumi mengajak Monica menonton konser Nina dengan tiket yang diberikan oleh Jeff.


***


Jeff menghampiri seseorang dan bercakap-cakap. Arumi hanya memperhatikan mereka sambil mengamati sekelilingnya. Terdengar suara musik sayup sayup, entah dari mana asalnya.


Lalu Jeff mengajaknya berjalan menyusuri jalan di antara apartemen itu, dan akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan besar mirip seperti gudang.


"Ayo!" Ajak Jeff pada Arumi yang terlihat ragu dan takut.


Suasana tempat yang terbengkalai, di belakang kawasan pemukiman warga kulit hitam, membuat Arumi yang sama sekali orang asing, membuatnya gentar.


Sejenak, Arumi terdiam di tempatnya dan mengambil napas dalam-dalam. Lalu ia menatap Jeff dan menganguk. Ia mengikuti Jeff untuk mendekati bangunan itu dan masuk ke dalamnya.


Saat pintu dibuka, terdengar suara hentakan musik dan suara decitan sepatu dan hentakan kaki memenuhi ruangan itu.


Arumi terbelalak dan terpana dengan pemandangan yang ada di depannya. Sekelompok orang sedang menari dengan iringan musik. Mereka yang rata rata berkulit hitam melakukan gerakan dengan lincahnya. Mulai dari tarian klasik, kontemporer, dance, break dance,dan aneka tarian lain mereka kombinasikan dengan sangat cantik dan indah.


Selama kurang lebih lima belas menit, Arumi menikmati pertunjukan yang tak henti hentinya memukaunya. Ia belum pernah menyaksikan pertunjukan tarian jalanan yang keren seperti ini.


Selama ini ia ingin sekali menari seperti itu, tapi di sekolah, tidak sekeras penari jalanan seperti yang ia saksikan saat ini. Setiap penari menampilkan tarian yang indah dan memiliki power di setiap gerakan yang mereka buat.


Arumi dengan spontan memberikan tepuk tangan saat mereka menyelesaikan tarian. Orang orang yang meraih tadi, seketika menoleh dan menatap ke arah Arumi. Jeff menghampiri mereka dan memberi salam pelukan pada mereka satu persatu, lalu mengenal Arumi pada para penari itu. Jeff merupakan bagian dari mereka.


Arumi mengenal dirinya pada mereka, dengan mengatakan salah atau siswi dari sekolah menari.


Beberapa orang berbisik bisik, seolah tak percaya melihat penampilan Arumi. Tapi Arumi segera mengerti. Mereka ingin mengetahui kemampuan Arumi, karena biasanya yang masuk sekolah itu hanyalah para penari klasik saja.


Arumi menuju speaker, lalu memutar lagu dari ponselnya, lalu dihubungkan pada speaker. Ia meletakkan tasnya di dekat sana.


Musik mulai berdentum, lagu hip hop dengan musik ala DJ mulai terdengar, Arumi mulai menggerakkan kaki dan tangannya. Ia memulai dengan tarian klasik, lalu ia mulai mengkombinasikan gerakan dengan tarian modern yang sangat ia kuasai. Arumi menikmati setiap gerakan yang ia lakukan seirama dengan musik.


Jeff menatapnya dengan penuh kekaguman, dan setelah musik berhenti, suara tepuk tangan terdengar.


"Aku tak percaya kamu siswa biasa." Ucap seorang wanita.


Arumi hanya menaikkan bahunya sambil tersenyum. "Aku hanya mengembangkan yang telah aku pelajari."


Arumi dan sekolompok penari itu saling bercakap cakap dan bertukar berbagai informasi. Arumi menjadi banyak bahan untuk belajar.


"Kamu keren sekali! Aku pikir kamu akan menampilkan tarian klasik yang membosankan itu. Sama seperti Dito dan Leon. Tapi kemampuanmu terlihat jauh di atas mereka." Puji Jeff.


"Lalu bagaimana dengan temanku yang lain?" Tanya Arumi penasaran.


"Mereka juga terlihat bagus. Tapi entah mengapa, kamu seakan membuat tarian itu jadi lebih hidup. Kamu memang berbakat." Sahut Jeff, masih dengan memuji Arumi.


Hari sudah gelap, Arumi dan Jeff kembali ke apartemen mereka masing masing.


"Jeff, terima kasih, telah mengajakku bertemu dengan teman temanmu." Ucap Arumi sebelum masuk ke gedung apartemen tempat tinggalnya.


"Sama sama. Dan, aku senang bisa berjalan denganmu. Apakah kapan kapan aku boleh mentraktir minum kopi?" Tanya Jeff dengan hati hati.


"Hhmmm... Kita lihat nanti. Bye Jeff." Arumi sadar, jika seorang pria mengajaknya minum kopi atau makan bersama, biasanya itu menunjukkan ketertarikan. Maka, ia memilih jawaban yang aman untuk dirinya.


Arumi bergegas melangkah masuk lift dan menuju ke ruangan tempat tinggalnya.