Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Satu Tahun Kemudian


Satu tahun kemudian....


"Tuan... Ampun Tuan... Sudah..." Pinta Gisel yang telah babak belur dihajar oleh dua orang pelanggan klub.


Mereka hanya tertawa sambil menyeringai. Salah seorang memegang dagu Gisel dan memasukkan pisang ambon miliknya pada mulut Gisel meminta diservis.


Gisel yang masih berlutut melayani permintaan pria itu. Salah seorang lagi memainkan tangannya pada gunung kembar Gisel dengan kasar, lalu melebarkan paha Gisel, lalu menyodoknya dari belakang.


"Ahhh!" Pekik Gisel terkejut menahan sakit karena paksaan. Pria yang meminta servis karaoke tadi menjambak rambut Gisel.


"Teruskan wanita ja lang aahhh!" Teriaknya sambil bergerak maju mundur saat pisang besar miliknya dalam mulut Gisel.


PLAK...


Sebuah tamparan mendarat di pipi Gisel saat ia berhenti untuk mengambil napas sejenak.


"Jangan berhenti hai ja lang! Aaahhh... Sebentar lagi aku akan aaahhhh!" Teriaknya sambil menumpahkan lava dalam mulut Gisel dan memaksanya untuk menelan.


"Ahhh.....!" Bersamaan dengan itu pria yang di balakangnya juga menumpahkan cairan lava juga.


Kedua pria itu menyeringai dengan puas menatap tubuh Gisel yang telah lemas.


Kini keduanya bergantian memasukkan milik mereka dalam lubang milik Gisel sambil meraba seluruh tubuh Gisel. Salah seorang meminta Gisel melakukan gaya koboi saat bermain. Dan setiap Gisel berhenti ia akan memukul dan menampar Gisel dengan keras.


Kini Gisel tergolek di ranjang dengan banyak lebam pada tubuhnya. Tenaganya telah terkuras habis kali ini. Ia telah melayani lima orang hari ini dari pagi hingga tengah malam.


Dan pelanggan terakhirnya ternyata dua orang, pria bertubuh besar dan suka bermain kasar. Yang kini hanya meninggalkan dirinya tergolek lemah di ranjang tanpa busana.


Gisel berusaha untuk bangun, namun tubuhnya terlalu lemah. Dan ia sudah tak ingat lagi apa apa. Yang ia rasakan hanya seseorang memanggil namanya, lalu menutupi tubuhnya dengan kain, lalu membopongnya menuju suatu tempat.


Dan saat ia membuka matanya, ia telah berada di sebuah tempat yang sangat ia kenal.


Gisel memaksa tubuhnya untuk bangun dan menuju ke kamar mandi. Entah sudah berapa lama tubuhnya tergolek pingsan. Dinginnya air shower mengingatkannya kembali pada hal agak buruk dalam satu tahun belakangan ini.


Setelah kehilangan yang bertubi-tubi, pertama Mamanya, lalu Papanya, dan Arumi, yang selalu dapat melindunginya.


Setelah kematian Arumi, dan Tuan Haris dengan segera melangsungkan pernikahan ketiganya dengan Viona. Padahal belum tujuh hari peringatan kematian Arumi. Pemakaman Arumi pun hanya dilaksanakan tertutup, dan ia sengaja membuat tempat khusus di depan sekolah menari. Gisel memasang foto Arumi dan meletakkan bunga serta lilin di dekat foto itu untuk mengenangnya. Lalu beberapa karyawan dan guru menari di sana juga mengikuti. Kemudian para siswa di sekolah menari juga meletakkan bunga, lilin, boneka, dan tulisan untuk mengenang Arumi. Namun, hanya selama tiga hari, setelah Viona resmi menjadi Nyonya Haris, dia menguasai hampir semuanya.


Sekolah menari adalah ambisinya, namun pengacara mendiang Nyonya Emma, mamanya Leon segera datang mengatakan, bahwa sekolah menari ini adalah hak Leon setelah ia meninggal. Sehingga Viona hanya dapat menjadi pengelola saja seperti pekerja yang lain.


Lalu bisnis restoran dan klub malam milik Tuan Haris diisi oleh para pekerja dari klub Madam Fey, dengan iming-iming gaji lebih besar. Viona bertanggung jawab di klub malam milik Tuan Haris ini, selain Thomas juga yang bekerja sebagai manager restoran dan klub malam itu.


Setelah Arumi tak ada Thomas dan Gisel akhirnya pindah ke apartemen Will, Leon pun terkadang datang ke sana jika sedang suntuk.


Gisel mematikan kran shower dan mengeringkan tubuhnya, bekas cengkraman dan pukulan biru membekas di pergelangan tangan, kaki, dan punggung.


Gisel keluar dari kamar mandi, tepat saat itu Will masuk membawa makanan.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Will sambil meletakkan bungkusan makanan ke atas meja.


"Aku pingsan berapa lama?"


"Ini hari keduamu, tapi sepertinya kamu tetap harus libur supaya tidak pingsan lagi."


"Will, kamu tahu, aku bukan gadis murahan? Rasanya aku ingin pergi saja. Seperti Andin yang akhirnya memilih lepas dari jeratan Madam Fey." Keluh Gisel.


"Aku tahu, maafkan aku, kemarin aku tak dapat melindungimu."


"Aku tahu. Kamu bekerja untuk Tuan Haris, bukan untukku." Gisel tersenyum sambil menatap Will.


"Ini dari Thomas. Dia sangat mengkhawatirkanmu, tapi ternyata di restoran sedang ramai, sehingga dia harus lembur, dan tak bisa menemanimu. Dan Tuan Haris sedang bepergian dengan Viona, maka aku dapat sedikit waktu untuk menemanimu." Tukas Will. Ia menaruh bungkusan makanan berisi nasi campur di depan Gisel.


Ia segera menyantap makanan yang Will berikan padanya. Gisel menyuap sendok demi sendok, ia sangat lapar.


Will tersenyum melihat gadis di depannya makan dengan lahap.


Sejak mendengar kabar meninggalnya Arumi, Gisel seolah kehilangan semangatnya. Apalagi setelah ia ditarik untuk bekerja di klub malam itu. Awalnya sebagai pelayan saja, namun ada pelanggan yang memintanya untuk menemani bermain di atas ranjang. Mulanya Thomas dan Will menolak, karena mereka berjanji akan melindungi Gisel, namun Viona murka dan mengadu pada Tuan Haris. Setelah itu Gisel menjadi pemuas pria hidung belang itu dengan bayaran mahal.


Thomas sangat kacau melihat kenyataan malam ini. Gisel keluar dari kamar sambil berderai air mata mengadu pada Thomas. Dan sejak malam itu Thomas dan Gisel tinggal bersama Will di apartemen.


Bulan hanya wajah Gisel yang cantik, tubuhnya yang bagai gitar spanyol itu menarik banyak pelanggan. Thomas menyortir pelanggan untuk Gisel, namun satu bulan belakangan ini, restoran dan klub memiliki banyak acara dan pelanggan. Jadi konsentrasi Thomas dan Will menjadi terpecah. Puncaknya dua hari yang lalu, Gisel mendapat limpahan pelanggan dari acara di klub malam itu. Mulai dari DJ, hingga dua orang bertubuh besar yang membuat tubuh Gisel memar itu.


Mark yang dulu menyukainya, sesekali datang untuk menikmati tubuh Gisel. Ia pernah beberapa kali mengatakan ingin serius dengan Gisel. Namun, Gisel sudah terlanjur terperosok dalam dunia malam, membuatnya tak yakin menjalin hubungan serius.


"Kamu tidak makan?" Tanya Gisel sambil menatap Will.


"Aku sudah kenyang melihatmu makan seperti itu. Seperti abis macul di sawah, Non!" Ledek Will.


Gisel menjebik dan memukul lengan Will.


"Mau aku suapin? Nih!" Gisel mendekatkan tubuhnya pada Will dan mulai mendekatkan sendok ke mulut Will.


Will membuka mulutnya dan menatap Gisel.


Selama ini perasaan Will pada Gisel sedikit aneh. Kadang dia merasa Gisel seperti adik baginya, namun ia seolah tak ingin kehilangan gadis itu. Apalagi saat mengetahui Gisel sedang melayani tamu, Will seakan ingin mendobrak kamar dan menarik keluar gadis itu. Tapi Will terlalu takut pada Tuan Haris, sehingga dia hanya dapat menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh.


Gisel menyuapi Will, lalu memasukkan sendok ke mulutnya sendiri.


"Tuh kan, kamu juga lapar! Nggak ngaku!" Oceh Gisel sambil manyun.


Will terbahak sambil mengacak rambut Gisel.


"Sudah ah, aku mau ganti pakaian dulu." Gisel berdiri dan berlalu dari hadapan Will.


Seketika jantung Will berdetak kencang melihat tubuh indah Gisel yang hanya berbalut handuk berdiri di depannya, aroma lavender dari shampo tercium membuat Will terpesona.


"Kuatkan hatimu Will, dia hanya temanmu!" Ucap sisi sebelah kanan Will.


"Will, kamu tahu, Gisel itu adalah gadis bayaran. Dan kamu juga tahu, pertama kalian bertemu pun dia adalah korban rudapaksa. Artinya dia sudah tidak perawan. Ayolah! Kapan lagi kalian bisa berdua seperti ini!" Bisik sisi sebelah kiri Will.


Will berdiri lalu menghampiri pintu kamar tempat Gisel masuk berganti pakaian. Ia mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia melihat Gisel telah mengenakan kaos oversize dipadu dengan celana pendek. Rambutnya yang masih basah dia angin anginkan di dekat kipas angin.


Pemandangan Gisel dengan rambut berkibar terkena angin membuat Jantung Will berdegup kencang kembali.


Sisi kiri pikirannya semakin merasuki. Ia mendekati Gisel dan berdiri di belakang Gisel yang masih mengibas kibaskan rambutnya di depan kipas angin.


BRUKK


Gisel menabrak tubuh Will saat hendak berdiri dan memutar tubuhnya.


"Astaga Will!" Pekik Gisel tertahan.


Tatapan mata Will membuat jantung Gisel berdetak dua kali lebih cepat.


Tubuh mereka berdekatan tak berjarak, mata bertemu dengan mata, bahkan mereka pun dapat saling mendengar deru napas yang saling memburu seakan saling membutuhkan dan menginginkan satu sama lain.


BERSAMBUNG....


Yuk ikuti terus kisah ini... Strategi apa yang akan dilakukan oleh Arumi untuk membalas dendam, lalu bagaimana dengan Thomas dan Gisel selanjutnya?


Terima kasih sudah membaca karya penulis remahan ini... Jangan lupa Like dan komentarnya, dan masukkan karya sebagai favorit ya...😘😘