Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Menikmati Malam


Malam belum terlalu larut, Leon sengaja mengajak Arumi untuk berjalan jalan menikmati malam di sana sambil meminum kopi. Dito telah telah pulang ke apartemen.


Arumi memakai jaket tebalnya, kupluk wol, dan syal melilit di lehernya. Mereka berjalan berdampingan sambil melihat lihat sekeliling. Salju turun tipis tipis menutupi setiap jejak kaki mereka.


Leon melirik ke arah Arumi yang masih terpesona menatap rinai salju yang turun menutupi pepohonan dan atap bangunan menjadi putih. Terlihat mobil pembersih jalanan berlalu menyeka salju yang menutup jalan. Arumi memperhatikan dengan seksama. Lalu ia berhenti di depan sebuah pohon natal yang sangat besar dan tinggi yang sengaja di pajang di taman kota, terlihat beberapa orang berdiri di depannya dan mengabadikan diri di depan pohon natal itu.


Arumi terlihat kagum menatap pohon natal yang berhias lampu lampu dan ornamen natal yang selalu ia lihat di film-film saja.


"Kamu suka? Mau berfoto di sana?" Tanya Leon sambil menunjuk pohon natal yang besar itu.


Arumi tersenyum dan mengangguk, ia berlari menuju ke arah pohon itu dengan riang, Leon mengikuti dari belakang.


"Tolong ambilkan gambarku!" Pinta Arumi sambil menyerahkan ponselnya.


Leon menerima ponsel tersebut, lalu mengambil foto Arumi dengan berbagai gaya.


Saat sedang mengambil gambar Arumi, ada panggilan dari Tuan Haris. Leon menghentikan kegiatannya itu, lalu berjalan menuju Arumi dan menyerahkan ponselnya.


Arumi menatap layar ponselnya yang masih berkedip kedip karena panggilan masuk, lalu ia sedikit menjauh untuk menjawab panggilan dari suaminya.


"Ya, ada apa?"


"Kami telah bertemu dengan Jeff?" Tanya Tuan Haris.


"Sudah. Dia yang menjemput kami dan menunjukkan tempat tinggal kami. Terima kasih untuk semuanya Tuan Haris." Sahut Arumi.


"Kamu sudah bertemu dengan Leon dan Dito." Kali ini nada suara Tuan Haris sedikit berubah, terlihat lebih tegang kedengarannya.


"Su-sudah. Kami sudah bertemu dan tinggal berdekatan. Ada apa?"


"Viona telah mengatakan padamu?" Tanya Tuan Haris.


"Tentang apa?" Arumi mengerutkan keningnya.


Tuan Haris menghela napas panjang, dia terdiam. Arumi menebak, Viona telah mengatakan kebenaran tentang Dito padanya suaminya itu.


"Aku memiliki seorang anak dari viona." Ucap Tuan Haris.


"Aku telah mengetahuinya." Jawab Arumi.


"Aku ingin kita tetap saling bekerja sama setelah ini, hingga masa jabatanku selesai. Aku berharap kamu bisa menjaga kepercayaanku padamu." Tuan Haris mengatakan dengan sungguh-sungguh.


"Aku mengerti."


Di kejauhan, Leon terus menatap dan memperhatikan Arumi yang masih berbicara dengan suaminya, yang adalah Papanya Leon sendiri. Ada raut kecemburuan di wajah Leon, saat melihat Arumi tersenyum atau berbicara agak lama. Ia menunggu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku samping jaket tebalnya.


Setelah beberapa saat, Arumi memasukkan ponselnya ke dalam sakunya, dan berlari ke arah Leon, laku menarik pemuda itu mendekati pohon natal besar itu, lalu melakukan swafoto berdua.


Arumi lalu menarik lengan Leon mendekati seorang pengamen jalanan yang sedang bernyanyi lagu dengan iringan musik yang ceria.


Arumi menonton dengan wajah berbinar seolah biasa saja, Leon juga menikmati setiap kebersamaan dengan Arumi.


Ia memeluk Arumi dari belakang saat menyaksikan penampilan pengamen jalanan itu menjajakan suara merdunya. Lagu lagu ceria ditampilkan, dan setelah selesai para penonton bertepuk tangan sambil memberikan koin atau lembaran uang ke sebuah kotak yang ada di depannya.


"Aku menggunakan tarian mu untuk penampilan pengambilan nilai." Cerita Leon.


Arumi terkejut dan membelalakkan matanya.


"Sungguh? Yang mana?"


"Tarian bayangan, yang aku rekam beberapa hari sebelum keberangkatanku. Yang sering kamu bawakan saat sendiri."


"Terima kasih, aku sangat tersanjung. Tarianku kamu gunakan, dan ternyata hasilnya bagus dan memuaskan. Pasti teman menarimu sangat hebat." Puji Arumi.


"Dia berbakat, tapi keras kepala. Aku dua kali ke rumahnya. Pertama saat dia sakit, dan besoknya adalah kami harus tampil. Lalu, aku menemui dosen, untuk meminta dispensasi waktu hingga pasangan menariku sembuh. Kamu tahu, gara gara berlatih tariannya itu, dia sempat terkilir hingga kakinya bengkak." Tutur Leon.


"Lalu bagaimana keadaannya kemudian?" Tanya Arumi penasaran.


"Aku memijat kakinya, sama seperti yang aku lakukan padamu dulu. Setelah tiga hari dia membaik. Lalu kami dapat melakukan pengambilan nilai. Dan hasilnya, cukup memuaskan." Leon tersenyum saat menceritakan.


"Lalu yang kedua, tadi, dia dan ibunya mengundangku makan siang, sebagai ucapan terima kasih telah membantu putrinya." Leon menunduk, terdiam. Lalu menatap lekat ke arah Arumi.


"Maafkan aku. Aku bersama gadis lain." Ucapnya tak enak.


Arumi terkekeh mendengar ucapan Leon.


"Astaga! Kamu tidak usah bersikap seperti itu. Aku tahu dan mengerti. Kamu telah dewasa, pasti mengetahui batasan semuanya. Dan aku percaya kamu!" Tukas Arumi sambil menyentuh pipi Leon dengan tangannya, lalu mengelus perlahan.


Leon mengambil tangan Arumi yang menempel pada wajahnya, menggenggam jemari Arumi, lalu menatapnya dalam dalam, seolah tak ingin berjauhan dengan gadis itu.


Mereka menikmati kopi dan sepotong cake lemon sambil menceritakan banyak hal. Arumi menceritakan kisah cinta Thomas dan Nina, lalu usaha Tuan Haris. Pekerjaannya, dan kepercayaan yang diberikan oleh papanya Leon untuk mengurus klub malamnya kelak.


"Aku berjanji akan membantu sebisaku."


Arumi menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Leon, jangan pernah mengatakan sebisaku. Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu lihat, dahulu aku hanya seorang gadis yatim piatu yang diserahkan pada papamu. Kini aku dapat menjadi kepercayaannya. Kamu punya potensi sangat besar. Jika tidak menjalankan perusahaan, kamu bisa mengembangkan sekolah itu." Arumi memberi saran pada Leon.


"Apa aku mampu?"


"Leon, aku percaya kamu pasti bisa. Percaya padaku!"


Leon menatap Arumi, dan menggenggam jemari gadis itu, lalu ia pindah duduk di sampingnya.


Leon benar benar ingin menikmati malam itu hanya berdua dengan Arumi.


Setelah puas mengobrol, mereka keluar meninggalkan kafe itu menuju tempat tinggal mereka yang berdekatan.


Dalam perjalanan, terdengar suara lagu dari sebuah papan iklan. Arumi menggerakkan kakinya dan mengajak Leon berdansa. Mereka bergerak dengan iringan lagu dari papan iklan tersebut. Mereka saling tersenyum setelah menyelesaikan tarian itu.


Beberapa orang yang menyaksikan mereka bertepuk tangan, Arumi dan Leon hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Dari jauh, sepasang mata menatap tajam dan memperhatikan Leon dan bersama gadis lain. Ia tak berkedip saat melihat Leon dan Arumi menari tadi. Ia kagum melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh gadis itu. Dan Leon terlihat bahagia saat menari bersamanya.


Monica memejamkan matanya, ia merasa cemburu saat melihat Leon dan seorang gadis lain, terlebih mereka berdua menari dari hati. Seolah pasangan yang sesungguhnya. Tapi, ia juga penasaran, siapa gadis yang bernama Leon itu. Ia hendak mengikuti Leon, namun, telah tengah malam, ia tak ingin mamanya cemas, jika terlambat pulang.