
Andin keluar dari bilik kamar mandi yang berada di belakang sekolah, lalu diikuti oleh Andra.
Andra dan Andin sibuk merapikan pakaian seragam mereka masing-masing, lalu keluar satu per satu dari kamar mandi itu tanpa saling bertegur sapa.
Gisel dan Bela sedang menikmati semangkuk bakso yang di bagi dua, dan es teh.
"Andin itu ya, tiap istirahat pasti seringnya menghilang. Oya, tadi kamu lihat gak? Jam tangannya baru loh. Katanya dibelikan sama pamannya." Cerita Bela.
"Oya? Masa sih. Aku belum lihat." Jawab Gisel sambil terus memakan baksonya.
Rombongan Rea dan gengnya datang menuju kantin. Anak anak yang sedang duduk di meja tengah segera bubar dan membiarkan Rea dan geng nya duduk menempatinya.
Gisel hanya menatap mereka dengan sinis. Sementara Bela hanya berani melirik mereka saja sambil pura pura menikmati baksonya.
"BAKSO..!" Teriak seorang gadis dalam rombongan Rea.
Ibu kantin dengan tergopoh-gopoh membawa mangkuk yang berisi bakso memakai baki. Ia menaruh mangkuk itu di meja yang dikelilingi oleh Rea dan gengnya.
"Minumnya!" Perintahnya.
Ibu kantin kembali lagi ke dapur mengambil botol botol berisi teh botol dan membawa ke meja yang ditempati oleh geng gadis populer itu.
Andra mendekati Rea dan mengecup kening gadis itu.
"Huuu.. kalian ini pasangan yang bikin sirik, di mana saja, selalu mesra." Ucap salah satu dari gadis itu.
"Iya, kalian ini memang the best couple of the year." Ucap yang lain.
Rea tersenyum senang mendengar pujian dari teman temannya, sedangkan Andra menanggapi dengan senyuman saja sambil mengelus rambut panjang Rea.
Melihat pemandangan itu, Gisel serasa mau muntah saja. Ia teringat suara erangan Andra dan Andin saat melakukan mobil goyang tempo hari di belakang sekolah yang sepi. Meskipun ia tidak melihat itu Andra atau bukan, yang jelas itu mobil yang ia lihat siang itu.
Andin mendekati mereka dan duduk di samping Bela sambil mencomot gorengan di depan mereka.
"Heh... Itu piring gorengan bawa sini!" Perintah salah satu gadis di rombongan.
Gisel pura pura tak mendengar dan dengan cuek ia mengambil bakwan yang ada di situ. Andin hanya terdiam menyaksikan semuanya. Bela menarik seragam bagian lengan Gisel, supaya tidak terjadi keributan.
"Heh... Punya kuping gak? Bawa sini!" Bentak salah satu geng Rea.
Gisel menatap tajam ke arahnya. Sontak kedua teman Gisel yang berada di sebelahnya terkejut dan menepuk bahu Gisel supaya tidak melawan. Namun, Gisel seakan tak menggubris peringatan teman temannya itu. Ia sudah cukup bersabar melihat ulah Rea dan gengnya yang berbuat semena-mena.
Berbuat Gisel berhasil membuat Rea menoleh ke arahnya dan menatap dengan tatapan tenang. Lalu ia mendatangi Gisel.
"Kamu tidak mendengar ucapan temanku tadi?" Tanya Rea tenang pada Gisel.
"Ya, lalu apa masalahnya?" Gisel balik tanya.
"Masalahnya kamu tidak mau menuruti?" Ucapnya sambil menekankan setiap kata.
"Jika dia memintanya dengan baik, seperti kamu sekarang, aku pasti akan memberikan." Jawab Gisel sambil menyerahkan kotak makanan yang berisi gorengan itu.
Rea tersenyum dengan aneh, lalu menerima kotak makan itu, dan menumpahkan semuanya di atas kepala Gisel. Dan Rea tersenyum sinis penuh kemenangan padanya, lalu berlalu meninggalkan kantin.
Gisel masih berdiri terpaku dengan dada penuh amarah menatap punggung Rea dan teman temannya yang tertawa dengan senang setelah mempermalukan Gisel di depan semua teman temannya.
Tiba tiba Leon mendekatinya. Ia mengumpulkan kembali semua gorengan yang berceceran di lantai ke wadahnya kembali. Lalu memberikan pada Bu kantin sambil menyodorkan selembar uang untuk mengganti kerugian yang di timbulkan oleh ulah Rea.
Gisel masih berdiri terpaku sambil menatap Leon. Bela dan Andin mendekati Gisel dan menenangkan sahabatnya itu.
Gisel menatap punggung Leon yang telah beranjak pergi dari tempat itu. Lalu bel tanda masuk berbunyi kembali.
****
"Dia tadi diganggu oleh Rea." Leon menceritakan kejadian saat di sekolah tadi pada Arumi saat mereka sedang menikmati makan siang.
"Gisel kemana? Bukannya sudah jam pulang sekolah ini?" Tanya Tuan Haris yang baru pulang, lalu ikut bergabung untuk menikmati makan siangnya.
"Gisel bekerja di cafe sudut kota, dekat sekolah menari. Aku mengenal pemiliknya, dulu aku bekerja di sana." Jawab Arumi.
Tuan Haris hanya mengangguk sambil meneruskan makannya.
"Baik. Nanti aku akan atur ulang kembali jadwal mengajarku." Jawab Arumi sambil tersenyum.
Arumi melirik pada Leon yang seolah olah tak mendengar percakapan mereka.
Tuan Haris telah selesai makan siangnya, lalu ia beranjak dari kursinya, menuju ke ruang kerjanya.
Tangan Leon meraih jemari Arumi dan menggenggam. Arumi menatap Leon sambil tersenyum.
"Kamu tidak lupa?" Tanya Leon.
Arumi menganguk seolah mengerti apa yang dimaksud oleh Leon.
Besok adalah hari ulang tahun Leon yang ke-17. Ia ingin merayakan hanya bersama Arumi malam ini. Biasanya, setelah menghadiri acara jamuan seperti itu, Papanya selalu mengunci Arumi dalam kamarnya hingga pagi hari.
"Aku akan keluar tengah malam." Janji Arumi. Leon tersenyum menatapnya.
Tak lama Will datang dan menuju ruang kerja Tuan Haris.
Setelah makan siang, Arumi menuju ke sekolah menari untuk mengajar, dan Leon mengikuti Arumi ke sekolah, untuk berlatih bersama teman temannya.
Menjelang sore, Arumi telah mengatur ulang jadwalnya setelah Tuan Haris memberitahunya tadi siang. Ia dengan cepat mengirimkan pesan pada asistennya di sekolah itu untuk mengatur ulang jadwalnya, karena dia harus menemani Tuan Haris di acara perjamuan bersama pengusaha.
Seperti biasa pukul setengah tujuh, Arumi dan Tuan Haris menuju ke tempat acara untuk menghadiri undangan pengusaha itu. Selain makan malam, biasanya Tuan Haris juga membahas urusan bisnis mereka. Lama kelamaan, Arumi mulai terbiasa dengan kebiasaan itu, dan mulai mengerti bisnis yang mereka jalankan selama ini.
****
Sesampainya di rumah, ternyata waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Will berpamitan sebelum pulang ke apartemennya.
Tuan Haris menarik lengan Arumi untuk menemaninya tidur di kamar.
"Kamu mau menemaniku tidur di sini?" Tanya Tuan Haris sambil menatap wajah Arumi.
"Ya. Sekarang aku telah di sini." Jawab Arumi.
"Maksudnya, aku ingin kamu menemaniku tidur di sini bukan hanya malam ini saja, tapi untuk seterusnya." Tegas Tuan Haris.
Arumi terkejut, dan menatap wajah Tuan Haris.
"Aku belum siap. Dan aku harap setelah masa jabatanmu, kita dapat mengakhiri semuanya." Jawab Arumi.
Tuan Haris terdiam. Ia menghela napas dalam-dalam, dan sadar tak dapat memaksakan semua pada Arumi. Karena sebenarnya mereka telah terikat kontrak untuk hubungan ini.
"Baiklah, aku tak akan memaksamu. Aku ingin kita dapat menjalani semua sesuai rencana. Aku menghormatimu." Tatap Tuan Haris, yang membuat Arumi hanya terdiam.
Perlahan Tuan Haris mendekati Arumi, ia memperlakukan Arumi dengan lembut tiap cumbu dan sentuhannya.
Tak jarang membuat Arumi harus menahan hasratnya dengan menggigit bibirnya, yang membuat Tuan Haris makin gemas dengan istri kecilnya itu.
Mereka menikmati setiap permainan ranjang yang mereka lakukan dengan berbagai gaya. Makin lama permainan Arumi makin pandai, sehingga membuat Tuan Haris senang dengan pelayanan istri kecilnya itu.
Beberapa kali Arumi harus berteriak, melakukan kepuasan bohongnya, sambil melirik ke arah jam dinding.
Ternyata telah lewat dari pukul 12 malam. Rasanya, Arumi ingin segera keluar dari kamar itu, namun Tuan Haris terus melakukan serangan serangan nikmat untuknya.
Akhirnya Tuan Haris mulai mencapai puncaknya, dan merebahkan tubuh pada ranjangnya.
Arumi memunguti pakaiannya, dan mengenakannya kembali, lalu keluar dari kamar itu dengan tergesa-gesa.
Ia mencari Leon di kamarnya, namun ternyata kamar itu kosong.
Arumi mencari Leon di ruang menari seperti biasanya, dan ternyata kosong juga.
Arumi menghela napas dengan pasrah, berharap dapat menemukan Leon.
Ia menuju ke arah balkon, ia ingin menghirup udara segar di sana, menenangkan dirinya.
Namun, ia melihat pemandangan yang sangat membuat hatinya sakit. Leon mencium mesra Gisel di dekat kolam renang dengan mesra.
Ia membalikkan tubuhnya, dan meninggalkan balkon menuju kamarnya dengan berurai air mata.