
Thomas hanya diam mendengarkan setiap ocehan Nina, kekesalan, kekecewaan, dan kemarahannya sebagai seorang anak yang hanya menjadi senjata dalam kericuhan rumah tangga Mama dan Papanya. Terlebih pada Papanya, dia sama sekali tidak respek. Nama papanya pun hanya sebagai embel embel saja, tanpa ada arti yang berguna.
Nina menyenderkan kepalanya di bahu Thomas. Thomas merangkul pundak sang artis sambil mengelus lembut rambut Nina.
"Aku punya sesuatu untukmu." Ucap Nina selesai meluapkan semua yang ada dalam dadanya.
Ia beringsut menjauh dari tubuh Thomas, dan berdiri menuju sudut kamarnya menghampiri pajangan gitar koleksinya.
Ia mengambil gitarnya, lalu duduk di sofa di samping tempat tidur. Thomas masih duduk di bibir tempat tidur Nina memperhatikan kekasihnya itu.
Nina mulai memetik gitarnya perlahan. Ia memainkan jari jari lentiknya pada gitar akustik kesayangannya. Lalu mengalun dengan lembut suara merdunya.
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku selain hatiku
Dan ombak berderu
Di pantai ini kau slalu sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat ku tiba
Suaraku memanggilmu akulah lautan
Ke mana kau s'lalu pulang
Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Kuingin kutahu engkau ada
Memandangimu saat senja
Berjalan di batas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku
Andai engkau tahu
Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan
Memeluk pantaimu erat
Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada
Thomas bertepuk tangan setelah Nina mengakhiri petikan gitarnya.
"Bagus sekali, aku yakin ini pasti akan menjadi lagu yang hits dan bakalan jadi lagu romantis." Puji Thomas.
"Kamu yang menulisnya? Lagu ini sepertinya belum pernah aku dengar." Lanjut Thomas.
"Lagu itu aku buat saat pertama kali bertemu denganmu. Usai mengetahui ponselku ada padamu. Lalu aku membuat liriknya. Lagu ini untukmu." Ucap Nina.
Thomas terperangah terkejut. Dalam hatinya senang, dapat menjadi inspirasi dalam membuat sebuah lagu. Namun, ia tak menyangka sedalam itu rasa cinta yang diberikan padanya.
Lalu Thomas mengambil jemari Nina. Ia meletakkan gitar di samping Nina. Lalu menarik Nina untuk mendekat padanya.
"Terima kasih." Ucapnya sambil menggenggam jemari sang artis.
Nina duduk di pangkuan Thomas, lalu dengan manja ia kalungkan kedua tangannya ke leher lelaki itu. Ia duduk berpangku sambil menatap Thomas.
"Aku mencintaimu Thomas, jangan pernah pergi dariku." Pinta Nina sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Thomas.
Lalu bibir keduanya telah bertaut, dan saling bertukar saliva. Suara disah keluar dari mulut Nina saat Thomas mencium leher jenjang Nina dengan lembut.
Nina seolah terbuai dengan setiap sentuhan dan ciuman yang dilakukan oleh Thomas. Ia seolah telah melupakan kemarahannya pada Mamanya kali itu.
Keduanya saling merapatkan tubuh satu sama lain, lalu mencari nikmat setiap rengkuh belaian kasih sayang yang mereka lakukan.
Sementara itu di teras belakang kediaman Oma dan Opa Nina, Viona mengaku dan menceritakan tentang Dito. Ia membuka kebenaran tentang Dito yang adalah buah cintanya dengan Haris. Ia juga meminta agak Papanya, yang merupakan anggota dewan senior, tidak membuka semua rahasia itu pada publik. Saat ini, Viona juga belum menceritakan semua itu pada anak-anak.
"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Haris, dan istrinya?" Tanya ibu Viona dengan penuh selidik.
"Haris sudah mengetahuinya. Arumi pun sudah mengetahui. Aku dan Haris masih saling berhubungan hingga saat ini. Lalu Arumi juga tidak masalah. Kami akan tetap menjalani hidup seperti biasa, demi karir Haris. Maka, aku minta Papa bantu kami merahasiakan semua ini, hingga masa jabatannya selesai." Viona memohon, ia menatap wajah papanya dengan sungguh sungguh.
Tuan Marco, papa Viona menghela napas dalam dalam lalu menatap wajah putri satu satunya itu.
"Dari dulu, papa selalu mengingatkan kamu untuk bersama Haris, tapi kamu tetap tidak percaya. Lalu dia telah menikah dengan Emma dan memiliki anak, saat itu kamu selingkuh dengan Haris, artinya. Papa sangat kecewa denganmu Vio. Mengapa kamu lakukan itu. Setelah apa yang telah kamu lakukan pada anak anakmu, lalu kini kamu ceritakan semua kebohonganmu tentang Dito, perpisahanmu dengan suamimu yang membuat kita semua harus mengorbankan privacy. Papa sampai malu saat kolega dan rekan papa membicarakan aibmu. Papa memang tak banyak bicara di depan mereka dan selalu membelamu. Tapi mengapa kamu masih saja melakukan hal itu?" Tuan Marco hanya geleng-geleng kepala dan melengos menolak membalas tatapan Viona karena kesal dan malu.
"Aku mencintai Haris, Pa, Ma. Sungguh. Jika boleh jujur, dia pun mencintaiku. Dia hanya menikahi Arumi untuk kepentingan politiknya saja.Dia akan menceraikan Arumi setelah masa jabatan selesai." Sahut Viona menjelaskan pada papanya.
Tepat saat itu, seorang pelayan keluarga Tuan Marco mendengar semua pembicaraan mereka. Pelayan itu bergegas menuju ke kamar dan mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nama.
"Aku memiliki informasi yang penting untukmu tentang Tuan Haris. Istri mudanya itu hanya boneka saja, yang sebenarnya adalah sang penari Viona dan anak anak mereka."
Setelah itu ia mematikan ponsel itu dan menaruh dalam laci miliknya. Lalu pelayan itu menyelinap masuk rumah bergabung dengan pelayan lain bekerja seperti biasa kembali.
Thomas keluar dari kamar Nina, ia menuju ke ruang belakang tempat keluarga besar Nina berkumpul. Terlihat Oma dan Opa nya sedang duduk bersama Viona dan Sasa.
"Nina hanya perlu sedikit waktu untuk menerima ini semua. Aku percaya dia akan baik baik saja." Ucap Thomas meyakinkan keluarga Nina dan mencoba mendekati keluargnya.
Ini kali pertama ia bertemu secara langsung dengan Tuan dan Nyonya Marco, yang pembawaan terlihat tegas. Thomas sangat keder menghadapinya.
"Kamu putra Dipo?" Tanya Tuan Marco sambil menatap tajam ke arah Thomas.
Deg...
Jantung Thomas serasa akan copot melihat tatapan Tuan Marco dan mendengar suara tegasnya.
"Ya." Jawab Thomas sambil menunduk memberi hormat pada Tuan Marco.
"Duduk, sini!" Perintah Tuan Marco pada Thomas.
Thomas perlahan dan dengan sedikit rasa takut menuruti perintah Tuan Marco, duduk di depannya.
Tuan Marco menatap Thomas yang terlihat tak nyaman dengan tatapan itu, perlahan Thomas menelan ludahnya sendiri karena merasa bagai terdakwa. Ia tahu dahulu papanya adalah salah satu gembong yang mengobrak-abrik gudang milik Tuan Marco dan merusak gudang itu, membuat kerugian pada bisnis Tuan Marco.
"Aku harap kamu tidak seperti ayahmu!" Ucapnya.
Thomas mencoba memberanikan diri menatap kakek Nina itu.
"Saya tidak akan berbuat seperti itu Tuan. Saya berjanji." Thomas memberanikan berkata lebih banyak.
"Aku percaya padamu. Nina mencintaimu, jangan sekali-kali pernah menyakitinya! Aku yang akan turun tangan langsung." Ucap Tuan Marco sambil menepuk bahu Thomas.
"Saya akan mencintai Nina sepenuh hati Tuan." Thomas menjawab sambil menatap wajah Tuan Marco untuk meyakinkan sang kakek.
Sontak pemandangan itu membuat Nyonya Marco tertawa terbahak. Sang Opa pun akhirnya merubah mimik wajahnya menjadi senyum lebar, yang sebelumnya raut wajah serius.
Mereka semua tergelak melihat reaksi takut Thomas pada Tuan Marco.
"Thomas, selamat datang di keluarga kami." Ucap Viona.
"Aku percaya kamu adalah anak baik Thomas. Jika tidak, mengapa Haris mau menyuruhmu ikut dalam proyek pembuatan klub miliknya." Sela Tuan Marco.
Thomas menghembuskan napas lega, lalu menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan. Saya benar-benar sangat khawatir dengan embel embel putra Dipo seorang penjahat dan mafia." Ucapnya kemudian sambil tersenyum kecut mengingat semua hal buruk dan jahat yang pernah papanya buat. Terlebih saat tahu, ibunya meninggal dan adiknya diperkosa dan papanya pergi melarikan diri bagai pengecut.
Ia berjanji tidak akan seperti itu, dan menganggap papanya telah tiada saat ini. Itulah yang membuatnya simpati pada Nina, sama sama memiliki ayah yang kabur dan tak bertanggung jawab.