
Will berjalan masuk ke kediaman Tuan Haris. Di sambut hangat oleh Arumi.
"Aku senang melihatmu sehat kembali, Will!" Ucap Arumi dengan tulus.
Will tersenyum lebar sambil mengangguk.
"Kamu merindukanku?" Tanyanya.
"Dasar!" Arumi menghadiahkan pukulan ringan pada lengan Will.
"Hai, Will, kamu sungguh sudah sehat?" Tanya Tuan Haris mendekati asistennya itu.
"Ya, saya sudah sangat sehat. Saya lebih tersiksa saat berada di rumah sakit." Jawabnya jujur.
"Baik, sekarang kamu bisa ikut aku, mulai bekerja kembali, jika kamu merasa kurang sehat, beritahu aku!"
Will mengikuti Tuan Haris menuju masuk ke ruang kerjanya kembali. Dia mulai membaca semua jadwal dan kegiatan Tuan Haris sepanjang hari. Kemudian menuliskan pada tab yang dia pegang.
Ia juga memeriksa beberapa dokumen selama dia tidak masuk. Sekretaris Tuan Haris juga datang ke rumah atas panggilan Will untuk membantu memeriksa pekerjaan Tuan Haris selama seminggu ke belakang.
Arumi tengah sibuk dengan kompetisi menari yang diadakan. Karena banyak siswanya yang mengikuti kompetisi tersebut. Leon dan temannya juga rajin berlatih untuk mempersiapkan diri untuk kompetisi.
Sesi kelas Arumi bertambah, beberapa hari lagi kompetisi akan berlangsung.
Teriakan dan semangat untuk siswa siswanya. Beberapa gerakan koreografi diajarkan olehnya. Belum lagi Nina masih merengek untuk mempersiapkan film musikalnya. Sebenarnya Arumi mulai merasa lelah. Namun, demi pekerjaan dan menari dia tetap semangat dan bertahan.
"Terima kasih, Miss Rumi!" Beberapa siswanya telah menyelesaikan sesi latihannya.
"Terus berlatih ya, dan jangan lupa untuk pemanasan sebelum menari!" Arumi mengingatkan siswanya.
Mereka mengangguk mengerti akan nasihat Arumi.
****
Arumi beristirahat sambil meminum air mineral dari botol yang ia bawa. Ia melihat Leon bersama teman temannya tengah masuk ke ruangan latihan. Arumi memperhatikan mereka dari arah pintu.
Arumi terus mengamati setiap gerakan mereka, kekompakan dan tehnik menari mereka terus diperhatikan, seperti ia mengawasi siswanya berlatih.
Terlihat raut wajah Leon kurang puas dengan latihannya, dia terlihat stress saat selesai berlatih. Arumi mendekati Leon dan teman temannya.
"Coba perhatikan saya!" Teriak Arumi. Mereka semua menatap ke arah Arumi.
"Aku akan mengulang kembali beberapa gerakan kalian, dan mungkin kalian bisa mencobanya."
Arumi menyetel kembali musiknya, dan memulai gerakan yang telah dilihatnya tadi. Ia memodifikasi beberapa gerakan, menjadi lebih sederhana, namun terlihat lebih indah saat dilakukan.
Arumi juga meminta Dito dan seorang temannya untuk berdiri, mereka melakukan gerakan pasangan, menjadi battle, untuk bagian bebasnya.
Mereka mengangguk mengerti, lalu berdiri untuk mencoba mengulang latihan dengan pengawasan Arumi.
Mereka memulai menari. Menggerakkan tubuhnya, dan kakinya, memutar, melompat, dan beberapa gerakan memutar. Beberapa kali Arumi menghentikan latihan untuk membenarkan gerakan.
Arumi berteriak dengan keras saat ada gerakan yang salah atau kurang kompak. Arumi mengutamakan disiplin sama seperti ia mengajar siswanya.
Setelah gerakan berakhir, Arumi memberikan tepuk tangan dengan senyum mengembang di wajahnya.
Leon melakukan tos bersama antara mereka dan pada Arumi.
"Bagaimana, jika Arumi menjadi pelatih kita? Waktu kita tak banyak lagi." Bin memberi saran pada teman temannya.
"Ya, aku setuju." Sahut Dito dan beberapa teman yang lain. Leon hanya diam tak menjawab, ia hanya menatap lurus ke arah Arumi.
"Aku tak bisa janji. Tapi aku akan membantu kalian untuk mempersiapkan menjelang kompetisi." Jawab Arumi.
Mereka bertepuk tangan dan berteriak gembira mendengar jawaban dari Arumi.
"Besok, usai jadwal kelasku, kita berlatih lagi. Jadwalku tertempel di lobi bawah. Kalian bisa lihat sendiri!" Ucap Arumi.
"Baik. Terima kasih sebelumnya. Kami permisi dulu. Sampai bertemu besok Miss Arumi." Bin mengambil tasnya dan berlalu dari ruangan itu. Diikuti teman teman yang lain.
Tinggal Leon yang masih berada di sana.
"Aku ingin melihatmu lebih lama!" Jawabnya.
"Jangan merayuku! Aku tak mudah tergoda." Elak Arumi.
"Benarkah?" Leon mendekati Arumi perlahan, lalu ia mendekatkan wajahnya dekat sekali dengan wajah Arumi. Hingga napas keduanya dapat saling terdengar.
"Aku tau, dalam hatimu masih ada aku, tapi karena Papaku, kamu menjauh dariku." Ucap Leon lirih, seolah berbisik.
"Aku tak ingin karir Papamu hancur karena ku. Dan aku tak ingin jauh darimu." Arumi menatap Leon dengan senyum yang menggoda.
Mereka menikmati saat-saat berdua sejenak, saling bertatapan, menyatukan perasaan mereka masing-masing.
"Sebaiknya kita segera pulang. Untung hari ini Will telah masuk kerja, aku dapat lebih fokus mengajar di kelas menarik." Cerita Arumi saat mereka berjalan menuju lobi.
Bejo yang melihat majikannya dari jauh, segera keluar menuju mobilnya, dan menghampiri Arumi dan Leon yang telah menunggu di pintu masuk.
***
Gisel duduk di tepi kolam renang sambil memainkan game pada ponselnya.
Will menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Apa kabarmu?" Tanya Will.
Gisel menghentikan permainannya, menoleh ke arah Will.
"Harusnya aku yang bertanya. Bagaimana kabarmu? Maaf aku tak sempat lama lama saat menjengukmu kemarin." Ucap Gisel.
"Tak apa. Terima kasih, terutama untuk orange cake yang kamu bawakan kemarin. Sangat enak sekali." Puji Will.
"Sama sama, aku senang jika kamu menyukainya. Itu adalah menu baru di kafe tempatku bekerja." Ucap Gisel.
Lalu mereka terdiam menatap air yang tenang di kolam renang.
"Andra harus diberi pelajaran kali ini. Dia sudah benar-benar keterlaluan. Kemarin dia menganiaya Bela, lalu aku, dan sekarang dia menusukmu. Aku akan memberi pelajaran padanya." Geram Gisel dengan mimik wajah sebal, mengingat semua perbuatan Andra yang sudah kelewat batas.
"Memang mau kamu apakan anak itu?" Tanya Will tersenyum simpul.
"Dia itu sering memakai Andin. Karena Rea kekasihnya, sama sekali tak dapat ia sentuh." Gisel tersenyum sinis.
"Tak tersentuh? Rea? Putri pengusaha kaya yang Mamanya artis itu?" Tanya Will.
"Ya." Gisel menganguk.
"Aku pernah melihat dia mabuk di klub malam, dan paginya berakhir di ranjang temanku yang seorang polisi itu." Ucap Will.
"Apa? Serius Will?" Mata Gisel membulat dan bibirnya terbuka, seolah tak percaya dengan fakta terbaru yang ia dengar dari Will.
"Jadi mereka berdua itu hanya saling kamuflase saja, menjadi pasangan yang baik baik saja, namun di belakang saling selingkuh." Senyum mengembang di bibir Gisel. Ia telah merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan Andra.
Will mengobrol dengan Gisel berdua sambil bersenda gurau, hinga menarik perhatian Leon dan Arumi yang baru tiba.
"Hai, kalian sedang apa?" Tanya Arumi.
"Kami sedang merencanakan membalas Andra." Jawab Gisel.
"Tolong ya, jika tawuran lagi, aku tak mau. Aku tak ingin mendengar kabar ada yang terluka." Tegas Arumi.
"Tidak, Rumi, kali ini aku akan membeberkan semua sisi lain dari Andra. Biar aku yang akan membalasnya." Janji Gisel.
"Gisel, tolong hati hati, aku tak ingin dirimu terluka atau terjadi apa apa padamu. Bagaiman aku bisa menjelaskan semua kepada Thomas nantinya." Arumi terdengar panik.
Gisel tertawa menanggapi sepupunya itu.
"Tenang saja, aku yakin kali ini akan berhasil." Gisel menenangkan Arumi.
Di kepala Gisel telah ada ide untuk mengerjai Andra, dan membuat anak bandel itu akan bertekuk lutut padanya. Ia akan menggoda Andra dengan pesonanya.