
Malam hiburan itu, Andra menatap Rea yang tengah meneguk minuman dalam gelasnya. Tepat di samping seorang penari dari kota lain. Tubuh mereka menempel satu sama lain, membuat Andra sangat panas dan marah. Namun, ia tak ingin namanya tercoreng, karena image keluarganya adalah 'keluarga yang baik'. Papanya seorang pengusaha yang suka berderma, sedangkan mamanya bersama kelompok arisannya sering mengadakan acara amal.
Andra sebenarnya muak dengan keadaan keluarganya yang harus berpura pura seperti itu. Terkadang ia melampiaskan semuanya dengan berbuat kasar atau bahkan melakukan kegiatan fisik bersama dengan Andin. Terkadang melakukannya dengan Andin seolah menjadi candu baginya.
Jika tak mengingat, Andin merupakan gadis panggilan, ia tak akan malu mengakuinya. Malam itu matanya menatap sekeliling tempat pesta pembukaan turnamen menari Nasional, mencari sosok Andin. Tapi, tak ditemukan, matanya menangkap sosok Gisel yang tengah menatapnya juga dengan pandangan menggoda.
Andra meneguk hingga habis minuman dalam gelasnya dan mendekati Gisel.
"Sendiri saja?"
"Ya. Ga gabung dengan Rea?"
"Dia sedang bersenang-senang sendiri, dan telah melupakan aku." Andra tersenyum kecut.
Gisel tersenyum dan meneguk minumannya.
"Kamu mau menemaniku minum?"
Gisel menganguk. Dalam hatinya ia bersorak, kini Andra mulai masuk perangkapnya.
Gisel meminta pelayan menambah minuman pada gelas Andra dan dirinya. Andra kini telah meneguk beberapa gelas, dan terlihat mulai mabuk.
"Kamu tahu, aku telah muak dengan semua kelakuan keluargaku! Semuanya meminta berlaku baik, tapi semua ternyata busuk!" Ucapnya merancau karena pengaruh minuman.
Gisel hanya mendengarkan. Dia tertegun, rupanya Andra tertekan selama ini.
Semua ia berniat ingin mempermalukan Andra, namun mendadak ia kasihan padanya. Akhirnya ia hanya menemani dan mendengarkan Andra mencurahkan semua isi hatinya tentang keluarganya.
Will mendekati Gisel dan Andra.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Sepertinya dia terlalu mabuk." Bisik Gisel.
"Sebaiknya kita antar pulang dia." Saran Will.
"Baiklah, bantu aku." Pinta Gisel.
Will dan Gisel memapah Andra masuk ke dalam mobil, dan mengantarnya pulang ke rumahnya.
Pembantunya meminta Gisel dan Will mengantar langsung ke kamar.
Will dan Gisel mengantarkan diikuti oleh pelayan itu. Will menaruh tubuh Andra, lalu meninggalkannya.
Will dan Gisel langsung berpamitan.
"Aku tak menyangka, ternyata selama ini dia seperti itu karena berontak dengan keluarganya. Papanya menghamili pelayan. Lalu Mamanya sering mengundang pria asing masuk ke dalam kamarnya. Lalu Kakak perempuannya keluar dari rumah, dan tak mau tinggal di sana lagi. Seolah ia hanya sendiri. Dia menanyakan Andin." Gisel menceritakan kembali rancauan Andra yang didengarnya tadi pada Will.
Will mendengarkan semua cerita Gisel.
"Sepertinya akan hujan malam ini." Ucap Will, saat melihat titik titik air pada kaca mobil.
"Ya. Oya, aku tak menyangka Andra akan menanyakan Andin. Karena aku pikir dia..." Gisel tak meneruskan ucapannya.
"Andin seperti itu karena dia harus menopang keluarganya. Beberapa kali aku bertemu dengannya di hotel, saat menemani Tuan Haris bertemu klien saat di hotel." Ungkap Will.
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Gisel.
"Ibunya meninggal karena over dosis, ayahnya meninggal tertembak polisi karena melawan saat penggrebekan narkoba. Dia memiliki dua adik. Itulah yang membuat dia melakukan ini semua. Temanku ada yang bekerja di kepolisian. Aku tahu kerena Andin satu sekolah dengan Leon. Beberapa kali dia menjadi gadis penghibur untuk pesta yang diadakan secara privat oleh pengusaha, teman Tuan Haris. Aku pernah melihatnya."
Gisel terdiam. Betapa jahatnya dia menganggap Andin adalah perempuan murahan yang hanya menjajakan tubuh untuk kesenangan saja. Ia sama sekali tidak pernah mencari tahu tentang Andin, setelah melihatnya keluar dari mobil Andra.
****
Arumi membuka matanya, tubuhnya terasa lelah sekali. Akhir pekan diisi dengan kompetisi team Leon dan beberapa acara. Kali ini ia ingin memejamkan mata saja rasanya.
Ia meminta Will untuk memanggilnya untuk memijat tubuh Arumi hari itu. Hari ini ia sengaja meliburkan semua jadwal menari siswanya karena banyak yang ikut kompetisi kemarin.
Terdengar pintu diketuk, dan Arumi meminta untuk segera masuk.
Sang terapis mulai memijat tubuh Arumi, hingga Arumi tertidur pulas. Ia meninggalkan Arumi yang tertidur usai dipijat.
Saat terapis itu turun dari tangga, Tuan Haris keluar dari ruangannya.
"Nyonya tertidur, Tuan. Saya permisi dulu." Pamitnya.
"Terima kasih." Sahut Tuan Haris.
"Will, bawa berkas ini ke kantor, untuk bagian keuangan dan marketing. Dan siapkan bahan meeting untuk nanti sore. Nanti aku susul ke kantor. Instruksi Tuan Haris. Will mengangguk mengerti. Lalu ia pun melakukan perintah Tuan Haris.
Tuan Haris menuju lantai atas dan membuka kamar Arumi.
Ia menatap istrinya yang tertidur lelap. Ia membenarkan selimutnya.
Arumi terbangun saat merasakan ada sentuhan pada tubuhnya.
"Oh, Tuan Haris.." Ia menutup tubuhnya dengan selimut.
"Ya. Aku mau memberikan ini padamu." Tuan Haris meletakkan sebuah map dan brosur di atas tempat tidur Arumi.
"Brosur universitas?" Mata Arumi membulat terkejut.
"Aku ingin kamu melanjutkan kuliah. Supaya dapat membantuku mengurus bisnis. Kamu tahu, saat ini Leon masih bersikeras untuk melanjutkan ke sekolah menari itu. Hanya kamu yang dapat aku andalkan. Setelah Thomas selesai, kamu bisa memintanya untuk membantumu. Aku lebih percaya kamu dari pada anak anak Dipo. Aku ingin kamu terus mengawasi mereka, karena sampai sekarang Dipo sama sekali tak ada kabarnya. Bahkan polisi pun masih terus mencarinya." Tuan Haris bercerita, lalu melayangkan pandangannya ke jendela.
"Baik. Nanti akan aku lihat dulu. Terima kasih telah percaya padaku. Jadi sebenarnya Om Dipo masih hidup?" Tanya Arumi.
"Aku tidak tahu. Tapi menurut firasatku, dia masih hidup. Tetap berhati-hati. Terutama pada anak anaknya." Pesan Tuan Haris.
Arumi menghela napas panjang dan mengangguk mengerti.
"Ya sudah. Beristirahatlah. Kamu terlihat sangat lelah."
Tuan Haris meninggalkan kamar Arumi dan menutup kembali pintu kamar Arumi.
****
Di sekolah terjadi kehebohan. Beredar foto foto Andra sedang tanpa busana di ranjang dengan tulisan 'Loser' di dahinya. Andra sangat marah dengan foto yang beredar itu. Terakhir kali ia ingat minum bersama Gisel. Segera ia mencari gadis itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Andra dengan suara keras dan marah.
Gisel mengerutkan keningnya bingung.
"Halah, jangan sok suci, kamu. Kamu kan yang nyebarin foto itu! Kamu sengaja balas dendam kan!" Tuduh Andra pada Gisel.
"Heh, denger ya, Aku dan Will yang membawamu pulang ke rumahmu dalam keadaan mabuk! Jika tidak percaya tanya sendiri pada pelayan di rumahmu. Dia yang membukakan pintu dan menyuruh mengantar langsung ke kamarmu. Ngapain aku berbuat seperti itu. Rugi! Tidak berkelas buatku!" Bantah Gisel menatap tajam ke arah Andra.
Bela dan Andin menenangkan Gisel yang emosi.
"Ndra, bukannya aku membela Gisel. Coba kamu tanyakan lagi pada pelayan rumahmu." Andin membela Gisel.
Semalam setelah mengantar Andra, Will dan Gisel mampir ke rumah Andin, untuk mampir dan membelikan makanan untuk adik adik Andin. Malam itu, Andin menceritakan semua kisahnya pada Gisel. Dan ia meminta maaf, jika selama ini hanya memanfaatkan Gisel dan Bela.
"Dengar ya, aku akan terus menyelidiki ini semua, dan jika benar ini ulahmu, lihat saja nanti!" Ancam Andra.
"Jika bukan perbuatanku, apa yang akan kamu lakukan?" Gisel menantang Andra.
Andra terdiam, masih dengan menatap tajam ke arah Gisel. Lalu ia mendengus kesal dan meninggalkan Gisel dan teman temannya.
Leon terus memakan gado gado dengan cuek, namun, sebenarnya dia memperhatikan semua kejadian itu.