Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Will


Setelah dua orang polisi wanita yang memeriksa Gisel keluar dari kamar rawat Gisel, Arumi bergegas masuk ke ruang perawatan diikuti oleh Will.


Arumi tertegun saat tiba di ambang pintu, ia perlahan-lahan masuk, mendekati Gisel yang terbaring lemah. Tangannya tersambung selang infus, wajahnya biru lebam, bibirnya robek, terlihat memerah, dan bagian paha hingga kaki terlihat lecet.


Arumi menutup mulutnya, menahan tangisnya. Ia memeluk tubuh sepupunya yang lemah itu.


Gisel hanya diam dan tersenyum sinis padanya.


"Kau puas sekarang?" Ejeknya sinis.


"Apa maksudmu, Gisel? Orang tuaku telah tiada, kini, Tante Anne menyusul mereka, Papamu entah di mana. Hanya Kamu dan Thomas keluarga yang aku miliki. Bagaimana aku tega melakukan ini padamu?" Jawab Arumi.


"Kamu pasti senang melihat keadaanku sekarang. Lihatlah! Para bajing*n itu telah mengambil kesucianku secara paksa. Bukan satu, tapi beramai ramai. Aku sungguh tak berguna lagi. Untuk apa aku hidup!" Tangis Gisel tak tertahan lagi setelah mengatakan itu. Arumi segera memeluk sepupunya itu.


Dulu, memang Gisel selalu bersikap tak baik pada Arumi. Ia melakukan itu karena iri pada Arumi.


Arumi yang pandai dan cantik, memiliki orang tua yang baik dan harmonis. Selain itu, Arumi pandai menari, orang orang banyak yang suka padanya. Sejak kecil Gisel selalu iri padanya. Terlebih, Mamanya terlihat tampak lebih menyayangi Arumi daripada dirinya.


Meskipun Arumi bukan siswi populer saat sekolah, namun karena bakat menarinya, ia mempunyai banyak teman. Banyak yang menyukainya karena pembawaannya yang ramah dan baik.


Gisel yang saat itu adik kelasnya, paling tak suka jika ada yang membandingkan dirinya dengan Arumi.


Kini, Gisel harus menerima kenyataan, bahwa ia telah di rusak oleh segerombol orang. Bukan hanya tubuh, namun jiwa dan perasaannya, serta masa depannya.


Arumi memberi kabar pada Thomas, tentang apa yang telah menimpa Papa dan Mamanya, serta Arumi.


Betapa terkejutnya Thomas mendengar semua cerita Arumi. Ia akan segera kembali, dan meminta pemakaman Mama menunggu kedatangannya. Arumi menyetujui permintaan Thomas.


Selama ini, bahkan sejak kecil, Thomas yang selalu baik padanya. Thomas melindunginya, sama seperti Gisel. Menganggap Arumi seperti adiknya juga. Bahkan saat Arumi kehilangan Papa Mamanya, Thomas datang untuk menghibur. Namun, karena ia masih melanjutkan kuliahnya, ia harus kembali lagi untuk melanjutkan kuliahnya.


***


Arumi menatap Gisel yang masih terdiam merenungi nasibnya. Di satu sisi, Arumi merasa kasihan pada sepupunya itu, tapi, di satu sisi ada yang janggal dengan sepupunya ini. Tak mungkin Om Dipo meninggalkan Gisel, putri kesayangannya seperti ini.


Selama ini dia selalu melindungi dan memanjakan Gisel. Bahkan ia menukar Arumi dengan Gisel pada Tuan Haris. Dan ternyata memang sebenarnya Tuan Haris mengharapkan Arumi, supaya tidak berbuntut kebelakangnya, jika bersama Gisel. Maka, saat Arumi yang disodorkan, ia menerima dengan senang hati.


Tapi mengapa kali ini dia meninggalkan putri kesayangannya? Apa yang sebenarnya terjadi atau yang sedang direncanakan? Pertanyaan pertanyaan itu terus menari nari di kepala Arumi, namun, saat menatap tubuh lemah Gisel yang terbaring dengan tangan terhubung selang infus, Arumi segera menghilangkan semua pikiran buruk tentang Gisel.


Will, masih melihat keduanya dari balik jendela kaca penyekat ruangan itu. Ia teringat saat keluargnya dibantai oleh mafia kejam musuh Papanya, saat ia berusia sekitar 7 tahun. Papanya adalah seorang polisi yang menyelidiki kasus narkoba. Saat itu penemuan besar Papanya, membuat seorang mafia marah besar, karena gudang produksinya digrebek oleh Papanya Will dan teamnya. Dipo adalah salah satu orang kepercayaan gembong mafia itu.


Mamanya dirudapaksa bergilir di hadapannya, lalu ditembak hingga tak bernyawa. Saat itu ia bersembunyi di kolong tempat tidurnya, Mamanya memberi isyarat untuk tetap diam dan tak berteriak saat itu. Lalu tersenyum sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Itu adalah pesan dari Mamanya, untuk tetap bertahan hidup. Will selalu teringat hal itu.


Will bersembunyi di kolong tempat tidur hingga suara deru mobil menjauh. Tak lama suara sirine polisi datang dan suara tembakan bersahutan sahutan di luar rumahnya. Dia sudah tak peduli lagi, Will kecil mendekati Mamanya yang telah bersimbah darah. Polisi menemukannya tak lama kemudian.


Tuan Haris adalah sahabat Papanya, ialah orang pertama yang mendatanginya, dan berjanji akan melindungi Will. Saat pemakaman dibuat tiga makam, salah satunya menggunakan nama aslinya, Rey. Setelah pemakaman orang tuanya dan peti kosong dengan namanya pada nisan. Ia mendapatkan identitas baru, sebagai anak angkat Tuan Haris, dan mendapat nama baru Will. Saat itu Leon masih kecil.


Tuan Haris dan istrinya memperlakukan Will seperti anaknya sendiri, membesarkan dan memasukkan ke sekolah yang bagus juga. Lalu Will masuk sekolah polisi, dan termasuk siswa yang berbakat. Namun, ia ingin berbakti pada Tuan Haris dengan melindunginya sekeluarga. Jadi, ia putuskan untuk keluar dari polisi.


Tuan Haris sangat tidak setuju dengan Will saat itu. Itu pertama kalinya, Will melihat Tuan Haris berkata keras padanya. Namun, setelah mendengar alasan Will, Tuan Haris menjadikannya asisten pribadinya, dan membantu mengurus beberapa pekerjaan yang sedikit berbahaya.


Saat Tuan Haris berbisnis dengan Dipo, ia sudah berkali-kali mengingatkan Tuan Haris, tapi Tuan Haris telah mengaturnya. Dia selalu punya berbagai antisipasi dari setiap tindakan yang dilakukannya.


Akhirnya bisnis Dipo hancur dan merugi, bahkan harus berhutang besar pada Tuan Haris. Lalu ia menyerahkan perusahaannya dan putrinya, namun ternyata Arumi yang disodorkan.


Bara, Papa Arumi adalah salah satu teman Tuan Haris juga, untuk itulah dia setuju. Dari penyerahan perusahan Dipo itu, ternyata terbongkar bisnis gelapnya, yang akhirnya Tuan Haris laporkan pada polisi, tentang bisnis senjata ilegal dan narkoba. Yang mengarah ke gembong mafia besar yang dahulu diselidiki oleh Papanya Will.


Beberapa bulan lalu Dipo berbisnis dengan salah satu mafia untuk penjualan senjata ilegal, namun setelah mendapat uang dari penjualan, ternyata senjata itu adalah senjata dengan kualitas buruk yang tak layak jual dan pakai. Alhasil, setelah itu Dipo jadi target perburuan mafia itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Setelah penemuan yang diserahkan oleh Tuan Haris pada polisi, Dipo juga masuk dalam penyelidikan dan pengawasan intel. Hingga kejadian semalam, penyerangan oleh mafia itu ke rumah Dipo.


Salah satu sahabat Will saat pendidikan polisi dulu, menjadi salah satu team Intel, yang mengawasi kasus itu. Dialah yang memberitahu informasi penyerangan pada Will.


***


Arumi melihat Will masih di tempatnya sambil menatapnya dan Gisel. Ia lalu berjalan menuju ke luar ke tempat Will berdiri.


"Will, terima kasih. Kamu boleh pergi jika ada yang perlu dikerjakan. Biar aku yang menjaga Gisel di sini." Ucap Arumi.


Will terdiam dan masih melihat ke arah Gisel.


"Baiklah, aku akan tinggalkan kalian. Jika ada apa apa, kamu bisa hubungi aku." Pesan Will.


"Ya."


Will hendak berlalu meninggalkan tempatnya. "Will.." Panggil Arumi.


Will menoleh kembali ke arah Arumi. Lalu, ia mendekati Will.


"Will, ada sesuatu yang menggangguku tentang kejadian ini, dan Gisel." Bisik Arumi tepat di telinga Will.


Will menatap tajam ke arah Arumi. Ia pun merasa ada yang janggal, namun belum tau apa itu.


Will menganguk mengerti, lalu ia segera berlalu meninggalkan Arumi di ruang perawatan rumah sakit itu untuk menemani Gisel, sepupunya.