
Suatu sore Gisel sedang berjalan kaki pulang ke rumah Tuan Haris ia sengaja mengikuti Leon yang berjalan cepat menuju sekolah menari.
Tiba tiba ekor matanya menatap sebuah mobil melaju di jalan. Mobil yang dimasuki oleh Andin di belakang sekolah. Tatapan Gisel mengikuti arah perginya laju kendaraan itu.
Gisel berlari kecil mengikuti mobil yang terus melambat dan akhirnya berhenti di sebuah cafe, yang dahulu yang pernah menawarinya pekerjaan. Ia menyipitkan matanya menunggu siapa pemilik mobil itu.
Andra keluar dari mobil bersama Rea, siswi populer di sekolah. Kapten cherleader sekolah, dan anak seorang artis papan atas. Gisel tersenyum sinis, saat mengetahui pemilik mobil itu.
"Ternyata dia mesum juga selama ini." Seringai Gisel sambil menuju pintu cafe.
Gisel mencari cari sosok Adam dari arah pintu masuk. Terlihat seseorang melambaikan tangannya padanya. Gisel menuju ke arah Adam yang melambaikan tangan padanya.
"Lama tak berjumpa. Dulu aku menunggumu, namun kamu tak kunjung datang." Ucapnya sambil menghela napas.
"Maaf, ada hal buruk menimpa keluargaku, dan Mamaku meninggal. Jadi, aku tak bisa datang kemari kemarin. Jika masih ada lowongan, aku ingin melamarnya." Ucap Gisel berterus terang.
"Hhmmm... Sebenarnya untuk pelayan susah terisi, namun aku berencana menambah bagian kue dan snack. Jika kamu berminat, lusa datanglah kemari untuk membantu menyiapkan tempatnya." Adam menawarkan pekerjaan untuk Gisel.
"Apakah sepulang jam sekolah, aku dapat bekerja di sini?" Tanya Gisel memastikan.
"Tentu, aku berusaha tidak menggangu sekolahmu." Jawab Adam sambil tersenyum.
"Terima kasih." Ucap Gisel.
"Aku akan mentraktir kamu minuman, pilihlah!" Adam menawarkan daftar menu minuman pada Gisel. Dan Gisel dengan senang hati memilih es cappucino.
Ia memperhatikan Adam yang meracik sendiri minuman pesanan Gisel, dan menunggu hingga selesai.
"Silahkan, Nona. Ini ada kue cokelat bonus untukmu." Adam menyerahkan segelas es cappucino dan kue cokelat pada piring kecil.
"Wow.. terima kasih, Kak." Ucap Gisel sambil tersenyum senang.
"Aku turut berduka atas kehilangan Mamamu, dan kejadian yang menimpamu." Ucap Adam penuh simpati.
Gisel tersenyum menanggapi ucapan prihatin Adam.
"Terima kasih. Sekarang aku telah dapat melewati masa-masa burukku. Dan kini dapat melanjutkan hidup kembali."
"Syukurlah!" Jawab Adam.
Ia menikmati pemberian Adam sambil melirik ke arah Andra dan Real yang tengah menikmati hidangan di cafe itu juga.
Andra dan Rea adalah sepasang kekasih yang populer di sekolah. Andra sang ketua OSIS, putra dari donatur sekolah. Sedang Rea merupakan siswi populer, kapten cheerleader sekolah. Rea juga merupakan ketua geng cewe cewe populer di sekolah, yang anggotanya merupakan anggota cheerleader dan cantik, dan anak orang kaya. Untuk pintar itu urutan kesekian.
Andin dulu sempat mengikuti audisi cheerleader sekolah, namun gagal karena dia tak memiliki kemampuan menari dan anak keluarga biasa saja.
Bela sempat ingin mengikuti, namun ia mundur saat salah satu teman geng Rea membulinya.
Rea juga mengikuti kelas menari di sekolah menari tempat Arumi mengajar. Sepertinya Andra tadi menjemput Rea, baru menuju ke cafe.
Setelah puas menikmati hidangan di cafe itu, Gisel berpamitan dan mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Adam. Adam mengingatkan kembali, lusa untuk datang ke cafe.
Gisel meninggalkan cafe itu menuju kediaman Tuan Haris. Adam menatap kepergian Gisel hingga ia berbelok, dan tak terlihat lagi.
Sesampainya di rumah ia segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.
***
Arumi menatap Leon yang masih memegang tangannya.
"Sebaiknya kita segera pulang, kasihan Bejo menunggu lama kita." Ajak Arumi.
"Apakah besok kamu kosong?" Tanya Leon.
"Ya, di sekolah aku libur. Namun, Nina masih privat di rumah." Jawab Arumi.
"Baiklah, besok kami akan berlatih juga di rumah, aku minta tolong bantu lihat kami, dan saranmu." Pinta Leon.
"Baik."
Tiba tiba Leon mengecup bibir Arumi lembut.
"Hhmm.. Leon!" Lenguh Arumi.
Leon menurunkan kecupannya pada leher, dan Arumi menikmati semua sentuhan yang diberikan oleh Leon.
"Sebaiknya kita pulang! Kita sudah terlalu lama dari jadwal." Bisik Arumi.
Leon melepaskan genggamannya, dan mengendurkan pelukannya pada Arumi.
Arumi meninggalka ruangan itu diikuti oleh Leon.
Bejo segera menuju mobil, saat melihat Arumi dan Leon turun dari tangga sekolah menari itu.
****
Gisel mendekati Leon yang tengah membaca buku di sofa.
Ia menghempaskan tubuhnya di sebelah Leon,membuat Leon menoleh ke arahnya.
"Mau apa?" Tanya Leon.
"Aku hanya ingin duduk di sini bersamamu." Jawab Gisel.
"Maaf, aku lebih suka sendiri." Tolak Leon dengan ketus.
"Terserah, aku hanya mau di sini saja." Paksa Gisel.
Leon berdiri dan berlalu menuju tangga, masuk ke kamarnya.
Gisel mendengus kesal menatap kepergian Leon.
***
Arumi menggerakkan kakinya, lalu pinggulnya, dan berjinjit seperti flamingo.
Leon mengikuti gerakan itu, dan memberi kombinasi, namun masih selaras.
"Gerakanmu terlalu kaku!" Ejek Arumi.
"Lalu baiknya bagaimana?" Tanya Leon tak suka.
Arumi memberi contoh sambil mengulang gerakan yang baru saja Leon lakukan, dan mengubah sedikit gerakan hentakan kakinya.
Leon memperhatikan dengan seksama, lalu menganguk mengerti.
Ia mencoba gerakan yang Arumi ajarkan, dan Arumi memberi tepuk tangan setelah Leon berhasil memperagakan dengan sempurna.
Lalu Leon mendekati Arumi perlahan, tubuh keduanya saling mendekat, napas menderu karena selesai menari sana juga terbawa suasana.
Bibir mereka saling beradu dengan mesranya, mereka saling merengkuh nikmat bersama, tanpa sadar sepasang mata mengawasi mereka.
***
Suatu hari, Gisel penasaran ingin melihat ruang di bagian atas kediaman rumah Tuan Haris itu. Ia tau kamar Arumi di atas, ia juga heran mengapa Arumi tidak satu kamar dengan Tuan Haris, padahal telah menikah.
Beberapa kali ia memergoki Arumi ditarik oleh Tuan Haris masuk kamarnya, namun, keesokkan hari dia keluar dari kamarnya di lantai atas.
Gisel meniti anak tangga perlahan menuju ruangan atas. Ia mendengar suara musik dari salah satu ruangan di atas sana.
Pintunya tidak tertutup sempurna, sehingga dengan sedikit mendorongnya, akan terbuka.
Ia melihat Arumi dan Leon sedang bergerak ke sana kemari dengan indah melakukan tarian. Jujur ia sebenarnya sangat senang melihat orang menari. Namun, iri hati membuatnya tak suka pada Arumi.
Ia menatap tajam ke arah pasangan yang sedang menari itu, saat melakukan flitring.
Gisel menatap Arumi dengan tatapan tak percaya.
Ia melihat Arumi dan Leon sedang menautkan bibir mereka dengan penuh nafsu.
Gisel merasa sangat cemburu pada Arumi.
Gisel menuju kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dengan kesal.
Ia masih tak percaya, Arumi gadis manis itu melakukan perbuatan itu. Apalagi Tuan Haris terlihat sangat baik padanya selama ini.
"Dasar jal*Ng!" Pekik Gisel dengan kesal.
Ia mengambil jaketnya, dan berjalan ke luar.
"Mau ke mana Nona?" Sapa penjaga kediaman Tuan Haris.
"Saya mau mencari makanan, Pak, sambil jalan jalan sekitar sini." Jawab Gisel.
Gisel segera berlalu keluar dari kediaman Tuan Haris, mencari udara segar.