
Tuan Haris yang kekar, memindahkan tubuh mungil nan sintal milik Arumi duduk ke sofa. Ia mencium bibir Arumi dengan beringas bagai singa hendak menerkam mangsanya.
Ia mendorong tubuh gadis itu, dengan sekali gerakan ia dapat melepaskan pakaian dalam milik Arumi, lalu melepaskan pakaiannya, ia memainkan dua gunung kembar milik gadis itu perlahan namun pasti, memberi sentuhan sentuhan lembut dan menghisap dengan pelan bagai bayi yang kelaparan. Membuat mulut Arumi hanya bisa merancau tak karuan menikmati sensasi itu.
"Aku ingin kamu, Rumi!!" Bisik Tuan Haris.
"Maksudmu?"
Tuan Haris tak menjawab, ia hanya menyeringai dan meraba serta mencium perut hingga bagian bawah milik Arumi. Ia mencium ujung kaki, lalu membelai lembut kaki jenjang milik Arumi.
Gadis itu ingin melawan hasratnya, namun yang keluar adalah erangan nikmat yang tiada tara. Percuma melawan Tuan Haris di saat seperti itu.
Pertama, jika melawan, ia akan mengeluarkan benda benda anehnya, hingga tega memecut tubuh Arumi hingga membekas seperti yang sudah pernah terjadi. Kedua, dia adalah suami sah Arumi. Jika menolak melayani, maka dia akan disebut istri durhaka. Ketiga, Arumi merasa menikmatinya tak masalah, karena mereka terikat dengan sebuah perjanjian dalam jangka waktu tertentu. Keempat, Tuan Haris hanya menganggap, Arumi hanyalah pemuas nafsu saja. Ia masih mencintai Viona.
Kini Tuan Haris berlutut, membuka paha Arumi lebar dan kepalanya masuk ke sela paha itu, membuat Arumi semakin bergerak tak karuan, hingga membusungkan dadanya, menahan gejolak itu. Tuan Haris mengobok-obok dan menjilati bagian itu hingga sangat basah, membuat istri kecilnya berteriak keenakan.
Lalu dengan gerakan cepat ia me lu mat bibir Arumi yang terbuka itu, memainkan lidahnya di mulut gadis itu, dengan tangan me remas dadanya, dan menancapkan pusaka miliknya ke dalam goa milik Arumi.
Tubuh mereka saling bergerak seirama, Tuan Haris memompa tubuhnya. Goa milik Arumi yang telah basah membuat pusaka Tuan Haris meluncur dengan mudah. Ia membalik tubuh Arumi, dan kini ia memompanya dengan gaya doggy.
Peluh keluar dari tubuh Arumi dan Tuan Haris, padahal saat ini ruangan telah memakai pendingin dan di luar mulai hujan.
Tuan Haris menekan gadis itu ke dinding rumah, dan terus memasukkan miliknya pada Arumi dan terus menciumi punggungnya.
Lalu ia mengangkat tubuh Arumi ke atas ranjang untuk menyelesaikan permainannya. Tuan Haris mendorong Arumi, lalu menindihnya, dan terus memompakan miliknya untuk masuk ke goa milik Arumi. Terus terus dan terus.. Arumi yang merasakan sensasinya, menggeliat dan menggelengkan kepalanya antara sakit dan nikmat, Tuan Haris yang telah berpengalaman, membuatnya tidak merasa tersakiti, tapi lebih menikmati.
Sambil menikmati dada ranum milik Arumi, ia terus memasukkan pusakanya itu, hingga di satu titik ia siap mengeluarkan jutaan sel miliknya untuk membuahi sel telur Arumi dalam rahim.
Tuan Haris berniat menghamili istrinya itu, namun ia sengaja tak memberitahu Arumi akan hal itu. Ia berpikiran, dengan menambah keturunan, dia akan bisa mewariskannya milik dan dapat melanjutkan perusahaan yang telah ia rintis dan bangun hingga saat ini.
Sejak Leon memutuskan untuk bersekolah menari, Tuan Haris telah memutuskan untuk menambah keturunan lagi, untuk mempersiapkan masa depan perusahaannya itu. Ia tak ingin orang yang memegang perusahaan miliknya adalah orang lain, bukan darah dagingnya.
Tubuh keduanya kini saling menegang, Arumi merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam miliknya, tubuhnya tersentak sesaat merasakan sensasi itu. Aneh, geli, bercampur rasa nikmat yang ia rasakan. Usai mengeluarkan semuanya, Tuan Haris merenggangkan tubuhnya dan melepaskan pelukannya perlahan. Sambil tersenyum ia mengecup kening Arumi dan tidur di sampingnya.
Baru kali ini, ia merasa ada sesuatu yang masuk dalam tubuhnya, ia tak tahu apa itu. Ia membersihkan daerah wanitanya. Dan mulai menangis di bawah kucuran air. Arumi teringat akan Leon. Ia merasa sangat bersalah pada pemuda itu, setelah melakukan ini.
***
Esok paginya mereka kembali ke kota, usai sarapan di perkebunan. Arumi memulai dengan privat menarinya pagi ini untuk beberapa siswa karena ada perlombaan.
Beberapa hari, Arumi disibukkan dengan urusan pekerjaan di kantor .aupun di sekolah. Ia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti seminar besar yang diselenggarakan oleh Asosiasi perkumpulan guru tari Nasional, yang diadakan di kota itu.
Gedung balai kota menjadi tempat pelaksanaan acara itu, bekerja sama dengan departemen seni dan budaya nasional.
Ini adalah kali pertama Arumi mengikuti acara sebesar itu. Pembicara acara itu adalah seorang pakar seni dan tari terkemuka, salah satu idola Arumi juga.
Dalam seminar itu, dihadiri oleh seluruh pengajar seni dari pelosok daerah. Arumi sangat semangat sekali dapat bertemu dengan seorang rivalnya saat bertanding menari dulu, yang kini masih berteman baik dengannya meski pun berbeda kota.
Ia melihat nama Viona ada dalam daftar nama peserta, namun ia sama sekali belum melihat sosok Viona. Sekali lagi Arumi melayangkan pandangan menatap seluruh ruangan, mencari Viona, namun tetap tak ada.
Acara itu berlangsung selama tiga hari. Selama itu Arumi mengosongkan jadwalnya atau jika ada yang sangat butuh, dia limpahkan pada asisten penarinya.
Pada hari pertama banyak ilmu yang disampaikan oleh pembicara, dalam bisnis menari dan untuk pendidikan. Tari daerah menjadi isu yang utama. Arumi yang hanya sekedar tau, sangat tertarik dengan topik itu. Saat jam istirahat, ia menemui sang pembicara secara langsung dan membahas soal tari daerah tersebut.
Sang pembicara memberi saran, pada Arumi untuk menambah ilmu lagi dengan bersekolah atau mengambil spesialis tari, supaya lisensinya dapat dipakai pada instansi dan mendapatkan pengakuan.
Hari kedua, akhirnya sosok Viona terlihat di acara itu. Dia bergabung dengan penari senior, bahkan sang pembicara dan panitia terlihat akrab dengannya.
Hari itu tiba tiba Arumi merasa tak enak badan saat mengikuti acara, dia beristirahat di sebuah ruangan pantry. Panitia meminta pelayan untuk memberi obat dan minuman hangat untuk Arumi.
Ternyata saat itu, Arumi sedang mendapat tamu bulanan, ia segera pergi ke toilet untuk mengganti pakaiannya yang terkena noda darah. Ia tersenyum saat mengetahui hal itu. Yang kemarin ia lakukan dengan Tuan Haris tak membuahkan hasil, tanpa ia perlu ke dokter seperti sebelumnya.
Hari ketiga, adalah hari terakhir acara itu. Acara diadakan dengan lebih banyak bersenang senang setengahnya, dan acara ramah tamah antar peserta.
Viona sengaja mendekati Arumi, ia duduk di samping gadis itu. Arumi terlihat tenang duduk berdampingan bersama Viona. Ia tahu akan ada banyak hal yang akan mereka bicarakan setelah ini.