Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Bertemu Kembali


"Temanmu, yang polisi itu, dia terlalu jauh menyelidikiku. Aku tak bisa biarkan hal itu terjadi. Aku berikan peringatan pertama padanya, namun dia tak peduli. Lebih parahnya, dia malah menggagalkan transaksi bisnisku saat itu. Itu sungguh tak dapat aku maafkan lagi. Aku menyuruh Dipo untuk menghabisi dia dan keluarganya, sebagai peringatan pada polisi lainnya, jika berurusan denganku!" Ucap Tuan Marco sambil menyeringai.


Will tersentak mendengar hal itu. Dia mengepalkan tangannya, hingga tubuhnya menegang.


Will tahu, yang sedang dibicarakan oleh Tuan Marco adalah keluarganya. Peristiwa malam saat Dipo telah merenggut seluruh keluarganya. Will menjadi sangat geram mendengar ucapan Tuan Marco yang mengakui semua perbuatannya tanpa merasa berdosa.


Will yang penuh dengan amarah, membalikkan tubuhnya, masuk ke dalam pondok. Dia menatap tajam ke arah Tuan Marco yang tengah menghisap cerutunya sambil duduk dan memainkan gelas berisi wiski.


Tuan Haris menatap ke arah Will yang berjalan perlahan mendekati Tuan Marco.


"Apa semua ucapanmu benar?" Tanya Will dengan suara lantang.


Sontak Tuan Marco terkejut, mengerutkan keningnya, dan menoleh ke arah Will yang telah berdiri di hadapannya dengan raut wajah tegang.


"Will, tenanglah!" Tuan Haris mendekati Will dan memegang lengan ajudannya itu.


"Apakah semua itu benar?" Will mengulang lagi pertanyaannya, kali ini sambil menatap ke arah Tuan Haris.


"Ada apa anak muda?" Tanya Tuan Marco sambil mengepulkan asap cerutunya.


"Cerita tentang pembantaian keluarga polisi itu? Yang telah dilakukan oleh orang orang Dipo!" Will bertanya dengan nada penuh penekanan.


"Ya. Itu benar. Ada apa?"


Will mengambil senjata yang ada di pinggangnya, lalu menodongkan pada Tuan Marco.


"Will, hentikan itu!" Perintah Tuan Haris.


"Mengapa Anda merahasiakan semuanya dariku? Mengapa Anda yang selalu menggiring opini bahwa Dipo yang salah? Apa karena Anda juga terlibat pada waktu itu?" Will menoleh pada Tuan Haris, namun masih menodongkan senjatanya pada Tuan Marco.


"Will, aku menyelematkanmu, karena kamu berhak untuk hidup. Aku tak ada kaitannya dengan peristiwa itu. Sungguh! Papamu dan aku murni bersahabat. Hanya kami berbeda visi dan misi saat itu. Papamu terlalu jauh terlibat pada kasus besar itu. Aku sudah memperingatkan, namun dia tetap tak mau mendengarkan." Ucap Tuan Haris sambil menatap ke arah Will.


Tuan Marco terkekeh melihat semua ketegangan yang terjadi antara Tuan Haris dan Will.


"Oh, oh, oh... Jadi pemuda ini, anak polisi bodoh itu?" Seringai Tuan Marco.


"Diam! Jangan pernah sekali-kali menyebut ayahku bodoh! Kamu akan merasakan akibatnya!" Teriak Will dan mulai menarik pelatuk senja yang di arahkan pada Tuan Marco.


Tuan Marco berdiri dan menatap ke arah Will.


"Aku rasa, kamu salah, karena telah menolong anak ini, Haris. Dia tak tahu terasa terima kasih." Ucap Tuan Marco dingin.


Seketika Will bersiap untuk menembakkan senjatanya, dengan refleks Tuan Haris mendorong tubuh Will.


DOR!


Suara senjata terdengar.


"Pergilah!" Tuan Haris mendorong dan menahan tubuh Will di lantai, dan mereka tengah bergulat saling merebut senjata yang dipegang oleh Will.


Duk!


Pukulan mendarat di pelipis Will oleh Tuan Haris, dengan sigap Will mengelak dan membalas dengan menarik lengan Tuan Haris dan memukul ketiaknya.


"Aduh!" Pekik Tuan Haris kesakitan.


Tuan Haris memukul tangan Will, berkali kali, supaya senjatanya terlepas.


Plak!


Brak!


Senjata terlepas dari tangan Will. Will menendang perut majikannya itu, dan memukul punggungnya.


Tuan Haris memukul wajah Will untuk melumpuhkan ajudannya yang melawan sekuat tenaga.


Darah menetes dari hidung dan bibir Will. Tuan Haris mendorong tubuh Will.


Bruk!


Tubuh Will terjatuh ke sudut ruangan, Tuan Haris menggelengkan kepalanya, lalu bergegas pergi dari pondok itu.


Terdengar suara mobil menderu. Tuan Haris pergi dengan mobilnya.


Will menyeka darah dari hidungnya, lalu dia mengambil senjata yang tergeletak tak jauh dari dirinya. Will berjalan menuju pintu pondok dan menatap tak ada seorang pun di tempat itu.


"Bangsat! Brengsek! Persetan!" Makian keluar dari mulut Will meluapkan kemarahannya pada kenyataan Tuan Haris telah membohonginya selama ini.


Dia sangat marah setelah mengetahui semua itu adalah ulah Tuan Marco.


Will berjalan meninggalkan pondok itu, menuju ke jalan keluar perkebunan anggur yang luas itu.


Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit di jalan perkebunan yang gelap. Will mulai kelelahan. Dia menghentikan langkahnya dan menunduk kepalanya. Lalu mengambil napas sejenak, sebelum melanjutkan perjalanannya lagi.


Di malam hari, perkebunan sangat sepi. Jarang sekali penjaga berpatroli. Penjagaan hanya ada di pos pos setiap pintu masuk saja, dan di perkebunan yang luas itu, hanya ada dua pintu.


Letak pondok lumayan jauh dari pos dan pabrik anggurnya.


Tiba tiba sebuah lampu sorot kendaraan menerangi jalan dan menyorot ke arah Will.


Suara deru mobil dan gesekan ban dan jelang tanah membuat debu berterbangan, membuat Will harus menutup matanya supaya debu tidak masuk ke mata.


Suara mobil berhenti tepat di samping Will.


"Ayo masuk!" Teriak seseorang, Will membuka matanya.


"Leon?"


"Naiklah!"


Will masuk ke mobil. Ternyata Leon mengikuti papanya, dan akhirnya menemukan Will diperjalanan mencari jejak Papanya.


"Kamu tahu di mana Papa?" Tanya Leon saat dalam perjalanan.


"Aku tidak tahu. Dia yang membuat aku seperti ini." Will menunjuk wajahnya.


"Bagaimana bisa?" Leon mengernyitkan.


"Dia bersama Tuan Marco. Mereka dalang banyak peristiwa besar. Tuan Marco memiliki bisnis kotor yang mungkin saat ini sedang diselidiki oleh negara." Ucap Will sambil menerawang.


"Dan, dia adalah dalang dalam peristiwa pembunuhan keluargaku!" Imbuh Will sambil menoleh ke arah Leon.


Leon menoleh ke arah Will.


"Tuan Marco?"


Will mengangguk. Lalu menatap ke arah jalanan yang hanya disinari lampu mobil Leon.


Leon menghela napas dalam-dalam, lalu dia hanya terdiam selama dalam perjalanan keluar dari perkebunan anggur itu.


"Kita akan ke mana?" Tanya Will.


Ponsel Leon berdering.


Ternyata dari Andra yang mengabarkan, bahwa mereka kini menuju ke kediaman Madam Fey. Untuk membicarakan rencana selanjutnya.


"Kita diminta ke kediaman Madam Fey." Ucap Leon sambil terus mengemudi.


Will hanya terdiam.


Leon memelankan laju kendaraannya saat memasuki kawasan kediaman Madam Fey, terlihat dua orang penjaga bersenjata mendekati mobil Leon.


Saat mengetahui yang datang adalah Leon dan Will, penjaga tadi membukakan gerbang dan mempersilakan masuk langsung ke rumah Pak Broto dan Madam Fey.


Will yang masih merenungi nasibnya, tak begitu memedulikan sekitarnya.


Tak lama Leon menghentikan mobilnya, dan telah disambut oleh Andra dan Andin.


Leon dan Will turun dari mobil, menyapa Andra dan Andin, lalu bersiap masuk ke dalam rumah.


Saat mereka tengah hendak memasuki halaman rumah, terlihat sebuah mobil melaju, dan berhenti tepat di samping mobil Leon.


Empat orang keluar dari mobil itu.


Will, Leon, Andra, dan Andin menoleh memperhatikan siapa yang datang selain mereka ke kediaman Madam Fey.


Empat orang melangkah ke arah mereka. Betapa terkejutnya mereka saat yang datang Arumi, Gisel, Thomas, dan Dom. Kecuali Andin, yang telah mengetahuinya.


Leon menatap Arumi tanpa kedip yang terus berjalan melenggang masuk ke kediaman Madam Fey bagai tuan rumah di tempat itu. Sedangkan Dom, mengikuti dari belakang.


Gisel yang baru memperhatikan Will sangat terkejut, saat melihat wajah Will yang lebam.


"Astaga Will? Apa yang terjadi denganmu?" Gisel dengan spontan, mendekati Will dan memeriksa luka di wajah Will.


Gisel menarik lengan Will menuju ke ruang tengah. Will duduk di sofa, saat Gisel meninggalkan sejenak, lalu kembali dengan kotak P3K.


Andra, Andin, Thomas, Arumi, Leon dan Dom juga mengikuti duduk di sofa itu.


Andin menarik lengan Andra menuju ruangan lain untuk mereka berdua saja. Thomas dan Dom, akhirnya pergi menuju mini bar di ruang samping, dan mereka mengobrol di sana sambil menikmati minuman.


Leon, masih menatap Arumi tanpa kedip.


"Arumi?"


Arumi membalas tatapan Leon sambil tersenyum.


"Leon. Kamu sungguh menungguku?" Tanya Arumi.


"Aku tak hanya menunggumu. Aku mencarimu, namun, tak pernah ketemu. Hingga aku memutuskan untuk keluar dari rumah papaku dan tak bergantung dengannya lagi."


Leon dan Arumi saling berpandangan, ada kerinduan pada sorot mata keduanya.


Keduanya saling berpelukan menumpahkan segala kerinduan mereka malam itu.