
Arumi dan Leon berjalan setengah berlari dari kejaran orang asing itu. Di belakang mereka terlihat sebuah Van mengikuti mereka.
"Leon, kamu harus terus berusaha. Kita harus menuju tempat di depan itu, yang ramai orang." Ucap Arumi sambil berjalan memapah Leon.
"Ya, aku bisa!" Ucap Leon. Ia menguatkan dirinya, melupakan rasa sakit pada kakinya dan terus berjalan dengan lebih cepat setengah berlari bersama Arumi.
Namun, langkah dua orang yang mengejar mereka lebih cepat. Salah seorang pria besar itu berhasil meraih tubuh Arumi dan memegangnya.
"Aaahhhh... Lepaskan!" Arumi meronta dan menendang pria itu.
"Lari Leon! Lariiii....!!" Pekik Arumi saat melihat penjahat yang satu lagi mengacungkan senjata hendak menembak Leon.
Arumi yang panik, dengan refleks menggigit tangan penjahat yang memegangnya. Dan ia langsung menepis tangan penjahat yang memegang senjata itu, dan...
DOOOORRRRR.....
Terdengar suara pistol yang telah ditarik pelatuknya.
Leon berhenti dan menoleh ke arah Arumi dan dua penjahat itu sambil memegang perutnya. Darah segar mengalir dari perut yang dipegang oleh tangan Leon.
"LEEEOONNNN.....!" Jerit Arumi membahana, yang sukses membuat orang orang di halaman arena tempat konser Nina yang tak jauh dari taman kota itu menengok ke arah mereka.
Jeff menoleh ke arah suara tembakan dan jeritan Arumi, sontak langsung berlari menghampiri Leon yang telah tersungkur jatuh ke tanah, tak sadarkan diri dengan darah mengucur dari perutnya.
Sedang tubuh Arumi telah diseret paksa oleh dua orang tadi masuk dalam Van dan pergi dari tempat itu.
Dito, dan yang lain berlari menyusul ke arah tempat kejadian. Jeff segera berlari mengejar van yang membawa Arumi, namun kendaraan itu telah lenyap di kegelapan malam.
"Sial...!" Dengus Jeff dengan kesal saat tahu van itu telah menghilang.
Dito yang dengan sigap menghubungi 911, tak ada lima menit, bantuan segera datang dan menolong Leon, membawanya ke rumah sakit.
Viona yang melihat semua kejadian itu hanya bisa terpaku sambil menutup mulutnya dengan tangan. Lalu ia menghubungi Haris untuk mengabarkan kejadian buruk yang menimpa Leon.
Pagi harinya, Leon telah berada dalam kamar perawatan. Kondisinya saat ini telah stabil dan timah panas yang menembus perutnya telah dikeluarkan. Hanya tinggal menunggu siuman.
Tuan Haris telah tiba dengan menggunakan pesawat jet pribadi bersamaan Will. Mereka langsung menuju rumah sakit tempat Leon di rawat.
Tuan Haris berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Leon,aku ia membuka pintu kamar tersebut dan menatap putranya. Viona di sana bersama Nina, Dito, dan Thomas menjaga Leon.
Will hanya menghela napasnya saat melihat Nina duduk bersama Thomas. Lalu ia mencoba untuk terus fokus pada pekerjaannya.
"Bagaimana Leon?" Tanya Tuan Haris sambil menatap putranya yang masih tak sadarkan diri.
"Di mana Arumi?" Ia baru sadar, istrinya tak ada di sana. Semua hanya diam.
***
Arumi membuka matanya perlahan, cahaya matahari menyentuh wajahnya samar samar, karena kenyataannya tidak sepanas itu. Tubuhnya terasa sakit semua. Saat ia membuka matanya, ia menyadari, bahwa dirinya dalam kondisi terikat dan berada di suatu tempat.
"Leon!" Ia teringat pemuda itu. Salah satu penjahat itu menembak Leon. Ia sempat melihat darah menetes, tapi ia tetap berharap Leon akan tetap baik baik saja.
Tiba tiba pintu ruangan terbuka. Seorang pria bertubuh besar berjambang masuk dan menyeringai saat mengetahui Arumi telah sadar.
"Kamu telah sadar!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Apa salahku? Mengapa aku di sini? Lepaskan aku!" Ucap Arumi dengan suara keras.
Lalu seorang lagi masuk dan mengetahui Arumi telah sadar.
"Sebaiknya kau kabari Bos. Gadis ini akan kita apakan." Instruksi salah satu dari mereka.
"Hai... Bisa tolong lepaskan aku. Aku perlu ke kamar kecil." Pinta Arumi dengan wajah memelas.
"Masuk!" Perintah penjahat itu.
Arumi berdiri menatap penjahat itu, dan menunjukkan tangannya yang terikat.
"Bagaimana aku bisa melakukannya, jika tanganku terikat seperti ini?" Ucap Arumi ketus.
Pria itu tersenyum sinis. "Apa perlu aku bantu buka pakaianmu?" Tanyanya sambil menyeringai dengan jahat.
Arumi bergidik dengan ngeri mendengarnya. "Tolonglah! Lagian aku orang asing, dan tidak tahu daerah ini, tempat ini. Jika kabur, aku tak tahu mau kabur kemana. Percayalah, aku tak akan lari. Aku hanya perlu ke kamar mandi." Ucap Arumi meyakinkan pria itu.
Pria itu menatap tajam ke arah Arumi, ia melirik lengannya bekas gigitan dan cakaran perlawanan Arumi semalam. Yang akhirnya membuatnya bertindak kasar dengan membius gadis itu supaya diam. Tapi, ucapan Arumi juga ada benarnya. Gadis itu adalah orang asing. Dia akan bisa lari kemana. Lagian tempat itu jauh dari tetangga lain, pikirnya.
Ia perlahan mendekati Arumi, namun, tetap siaga. Lalu melepas ikatan gadis itu dan membiarkan Arumi masuk ke kamar mandi.
Arumi segera mengunci pintu kamar mandi itu dan menatap sekelilingnya. Ia mencari jalan keluar sambil duduk di toilet. Ia tengah berpikir mencari jalan untuk menyelematkan dirinya. Ia mengintip ke celah ventilasi kamar mandi. Kacanya terlalu kecil, sempit untuk tubuhnya. Ia melihat ke arah luar.
Di luar terlihat rumah rumah, namun jaraknya lumayan jauh jauh. Tampaknya kawasan perumahan yang memiliki halaman yang luas.
"Ini di Amerika, bukan di Indonesia! Bagaimana cara agar aku bisa meminta pertolongan pada orang lain?"
TOK... TOK... TOK...
"Sudah selesai? Keluarlah!" Teriak pria yang menyekap Arumi, sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi
"I-iya... Tunggu sebentar." Sahut Arumi sambil menekan tombol flush. Terdengar suara air mengalir. Arumi memanjat ke atas rak, menuju celah kaca yang terbuka agak di atas.
"Aduh, masih tidak muat!" Keluhnya. Yang mengurungkan niatnya untuk kabur, karena celahnya tidak cukup besar.
"Woi... Cepatlah! Aku sudah berbaik hati padamu!" Kini teriakannya bertambah keras dan terdengar kejam.
Arumi membuka pintu kamar mandi dan menatap tajam ke arah pria itu.
"Apa kamu tidak pernah mengalami rasa sakit perut, hah?!" Protes Arumi dengan ketus.
Ia mendorong tubuh Arumi kembali masuk ke ruangan awalnya tadi.
Lalu terdengar suara deru mobil mendekat ke aah rumah itu dan berhenti di depannya. Arumi yang telah dikurung kembali ke dalam kamar itu hanya sayup sayup mendengar suara orang bercakap-cakap.
Arumi yang kini tidak terikat, mencoba mendengar dari balik pintu dengan menempelkan telinganya pada pintu.
Terdengar langkah kaki mendekati pintu kamar tempat ia disekap.
Arumi kembali ke tepat duduk tempat awalnya dia bangun tadi dan menunggu siapa yang akan menemuinya. Kini ia pasrah. Sejujurnya, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ia diculik, padahal orang tua pun dia sudah tidak ada. Lalu...
"Astaga, Tuan Haris?! Apakah karena aku istri Tuan Haris? Apakah karena itu ia melarangku mengatakan identitasku sebagai istri Tuan Haris."
Jantung Arumi makin berdegup dengan kencang saat suara langkah kaki semakin dekat dan terdengar anak kunci diputar pada pintu.
Pintu terbuka lebar dan dua pria yang menyekapnya masuk, lalu diikuti seorang pria yang memakai topi dan menghisap cerutu.
Arumi mendongakkan kepalanya menatap ke arah sosok pria yang menjadi bos pria pria itu.
Betapa terkejutnya Arumi saat mengetahui sosok pria itu. Dan sosok pria itu pun terbelalak kaget menatap Arumi.
"Arumi..?"
****
BERSAMBUNG...