Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Ulang Tahun Leon


Arumi membuka matanya, mengerjapkan berkali kali, ia melihat jam weker yang ada di nakas.


"Pukul 10." Gumam Arumi sambil menggeliat kembali. Ia masih tergeletak di atas ranjang dan menatap langit langit kamarnya mengingat semua kejadian yang ia lihat menjelang pagi tadi.


Leon mencium Gisel! Ia sungguh tak menyangka itu terjadi.


"Apakah aku cemburu?" Tanyanya dalam hati.


Ia sadar pernikahan dengan Tuan Haris membuatnya tak bebas lagi. Meski hanya ikatan kontrak, namun ia harus mematuhi semua peraturan yang ada. Ia juga tak dapat menceritakan semuanya ini pada Leon, meskipun dia sangat ingin. Tapi Leon masih terlalu muda untuk memahami semua itu.


Ia juga tak menyangka Gisel akan berbuat seperti itu. Sejak awal, ia juga telah melihat ada yang janggal dengan Gisel, namun ia tak tau apa itu, hanya perasaan saja.


Kini, ia memergoki Gisel dan Leon berciuman. Arumi memejamkan matanya, dan menutup wajahnya dengan selimut.


Selesai mandi, ia keluar dari kamarnya, ia menuju ruang makan. Hari itu rumah terlihat sepi. Ia ingin berjalan-jalan sejenak seorang diri hari itu.


"Saya ingin berjalan kaki saja, tidak usah di antar." Pinta Arumi pada Bejo yang telah bersiap akan menuju mobil.


"Tapi Nyonya, jika Bapak tau bagaimana?" Ucap Bejo dengan takut takut.


"Biar aku yang ngomong ke Bapak." Jawab Arumi tersenyum.


"Oya, jika aku lelah, akan dihubungi untuk menjemput ya, Jo!" Imbuh Arumi.


"Baik Nyonya. Saya selalu siap." Jawab Bejo.


Arumi meninggalkan kediaman Tuan Haris menuju makam orang tuanya dan Tante Anne. Arumi bersimpuh di depan pusara Papa dan Mamanya. Ia menumpahkan segala kesedihannya. Ia sangat merindukan mereka. Arumi menangis meluapkan semuanya di sana.


Kemudian ia beranjak ke makam Tante Anne, yang selalu menyayangi dirinya sejak kecil, ia juga menceritakan tentang Thomas dan kelakuan Gisel yang membuatnya kesal. Arumi menghabiskan waktu di area pemakaman sambil mencurahkan isi hatinya pada orang-orang terkasihnya. Setelah puas, ia menyeka wajah bekas air mata, Arumi pergi dari pemakaman umum itu.


Ia mencintai Leon, namun, ia juga terikat kontrak dengan Tuan Haris. Ia tak dapat memaksakan Leon untuk menunggu atau mengerti tentang masalah hidupnya. Ia akan terus mencintai Leon dengan caranya sendiri.


Tuan Haris beberapa kali menceritakan tentang keinginannya terhadap Leon. Alasan mengapa ia menentang kesenangan menari Leon, dan memaksa untuk menyekolahkan ke luar, itu untuk semata mata untuk masa depannya juga.


Tuan Haris berencana menyerahkan perusahaannya pada Leon, ia berharap putranya dapat mengelola bisnis dengan lebih baik dikemudian hari.


Namun, Leon menangkap hal yang berbeda keinginan Tuan Haris itu. Maka, Tuan Haris meminta Arumi untuk membujuk putranya itu untuk meneruskan sekolah di luar negeri, belajar untuk mengurus bisnis yang dikelola oleh Papanya. Leon hanya membutuhkan seseorang untuk memberi pengertian akan maksud Papanya itu.


Arumi masuk ke cafe, tempatnya bekerja dulu. Ia memesan secangkir kopi dan duduk di sudut ruangan itu.


"Maaf, di sini sudah tidak menerima karyawan lagi, Nona." Sapa Adam sambil meletakkan cangkir kopi pesanan Arumi di meja.


Arumi tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.


"Jadi, apa yang membawamu datang ke cafe kecil di sudut kota ini?" Tanya Adam sambil duduk di hadapan Arumi.


"Maafkan aku yang berhenti tanpa kabar." Ucap Arumi sambil menyesap kopinya.


"Lihatlah, kamu telah berubah dalam beberapa bulan saja. Terlihat lebih dewasa, dan menjadi seorang Nyonya." Ucap Adam masih menatap Arumi.


"Tak usah mengejekku!"


"Aku tak mengejekmu, sungguh! Kamu terlihat lebih memukau." Puji Adam


Arumi, tersenyum mendengar pujian Adam.


"Sepertinya ada yang baru di cafe ini? Aku kebetulan mencari cake ulang tahun." Ucap Arumi sambil menatap ke bagian aneka roti dan cake.


"Sepupumu, Gisel bekerja di sini. Dia yang mengurus bagian ini." Terang Adam.


"Oya? Pantas saja, dia selalu pulang sore, hingga malam hari." Jawab Arumi, sambil beranjak dari kursinya, menuju bagian itu.


"Aku pesan semuanya, dan tolong diantar. Dan bilang pada Gisel untuk mengundang teman teman sekolah Leon, nanti malam akan ada pesta untuk Leon." Ucap Arumi.


Adam tersenyum lebar, lalu ia segera membuat nota pembelian untuk Arumi. Lalu menyuruh dua orang pegawainya untuk membungkus pesanan Arumi.


"Terima kasih banyak. Semoga kalian puas, dan menjadi pelanggan kami." Ucap Adam saat Arumi membayar di meja kasir.


"Sama sama. Tolong diantar siang menjelang sore nanti. Dan sampaikan pesanku pada Gisel." Arumi mengingatkan Adam.


"Baik."


Arumi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju sebuah tempat.


Ia menuju rumah orang tuanya yang telah terbakar. Ia menatap rumahnya itu. Arumi membuka pagar yang tak terkunci, ia berjalan di antara puing puing reruntuhan.


Dulu itu bagian dapur. Ia teringat saat membantu mamanya memasak, atau dia sedang ingin mencoba memasak. Mama selalu mengingatkan, untuk membersihkan daerah dapur setelah digunakan.


Pernah suatu hari, ketika mama sedang pergi ke salon, Arumi dan Papanya membuat sesuatu di dapur, mereka bersenang senang, hingga jadilah cake cokelat kesukaan Arumi.


Namun, karena terlalu gembira, sehingga membuat dapur mama kotor. Saat tiba di rumah dan melihat dapur yang berantakan, mama berteriak kencang, akibatnya Arumi dan Papanya membereskan kembali dapur supaya bersih dengan komando Mamanya. Ia tersenyum mengenang kejadian itu.


Di kejauhan seseorang memperhatikan Arumi, lalu ia beranjak pergi, tanpa Arumi menyadari seseorang sedang melihatnya. Will yang sedang melewati daerah itu melihat Arumi sedang berada di rumahnya.


****


Arumi menghubungi Dito dan Bin untuk membantunya mempersiapkan pesta ulang tahun untuk Leon. Mereka dengan senang hati berjanji akan membantu Arumi.


Mereka juga mengajak beberapa teman sekolah untuk datang ke rumah Leon.


Adam menyampaikan pesan Arumi pada Gisel, lalu ia dengan segera menghubungi beberapa teman untuk datang ke kediaman Tuan Haris untuk acara pesta ulang tahun Leon.


****


Malam itu acara pesta ulang tahun Leon dirayakan bersama teman teman dan keluarganya berkat Arumi.


Tuan Haris merasa Arumi dapat menjadi perantara dirinya dan putranya untuk lebih dekat lagi.


Sore itu Dito sengaja mengajak Leon berjalan jalan mencari sepatu untuk menari. Dito sengaja menyuruh Leon untuk mencoba sepatu yang dia suka. Leon memilih salah satu sepatu kesukaannya. Lalu ia menaruhnya kembali. Dito memilih sepatu untuknya.


Saat membayar, diam diam ia mengambil sepatu pilihan Leon tadi. Saat itu Leon sedang melihat lihat sepatu yang lain juha. Dito membayar semuanya, lalu mengantar Leon pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, halaman terlihat banyak mobil, Leon tampak heran. Namun, ia berpikir itu tamu tamu Papanya.


Lalu mereka masuk ke rumah dan menuju halaman belakang.


"Selamat ulang tahun Leon!" Ucap teman temannya lalu diiringi tepuk tangan meriah.


Leon terkejut, ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia menatap sekelilingnya sambil melepaskan senyuman. Pandangannya terhenti pada Arumi yang menatapnya dari kejauhan.


Arumi membawa kue ulang tahun dengan lilin menyala di atasnya. Lalu Leon meniup setelah melakukan permohonan. Setelah itu Tuan Haris memberikan ucapan selamat ulang tahun, lalu memeluk putranya itu dengan erat. Arumi mengabadikan hal itu.


Lalu Will mengucapkan selamat ulang tahun pada Leon, lalu ia berlalu mengikuti Tuan Haris yang telah masuk dalam rumah menuju ruang kerjanya.


Mereka berpesta di halaman belakang di dekat kolam renang.


Leon menunjukkan bakat menarinya bersama teman temannya. Berkali-kali Arumi bertepuk tangan saat melihat penampilan Leon.


Gisel mendekatinya.


"Aku tau yang terjadi antara kamu dan Leon." Bisiknya.


Arumi menoleh menatap Gisel dan mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Arumi.


"Kamu dan Leon memiliki hubungan bukan?"


Arumi tak menjawabnya, ia hanya diam sambil menatap Leon yang sedang bersenang-senang bersama teman temannya.


****


Seusai pesta, pegawai rumah itu membersihkan sampah dan membereskan halaman belakang itu.


Mereka mengumpulkan sampah sampah dan memasukkan pada kantung plastik besar. Gisel telah masuk ke kamarnya usai membantu membereskan.


Tuan Haris juga telah tidur di kamarnya.


Arumi masih duduk kursi sudut taman belakang sambil menikmati sepotong kue cokelat kesukaannya.


Leon datang menghampirinya.


"Terima kasih untuk pestanya!" Ucapnya pada Arumi sambil duduk di sisinya.


"Selamat ulang tahun, maaf semalam aku tak bisa mengucapkan tepat tengah malam sesuai janji."


Leon menggenggam jemari Arumi dan menatap wajah ibu tirinya itu lekat lekat. Ia hanya ingin menikmati malam itu berdua saja, dirinya dan Arumi.