Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Di kolam renang


Arumi membuka matanya perlahan. Kakinya masih terasa sakit. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil gelas air minum yang ada di nakas, lalu meneguknya hingga habis.


Sambil berjalan agak pincang, ia membuka pintu kamar dan keluar. Ia menuruni anak tangga perlahan sambil berpegangan, berjalan pelan pelan dan hati hati.


Tuan Haris yang hendak berangkat ke kantor memperhatikan istri kecilnya itu dengan heran.


"Kenapa dengan kakimu?" Tanya Tuan Haris, membuat Arumi terkejut.


"Eh... Ka-kakiku sakit." Jawab Arumi gugup.


Ia takut Tuan Haris akan marah jika mengetahuinya karena jatuh saat menari. Tuan Haris masih menunggu Arumi untuk menjawab pertanyaan dengan jujur.


"Aku jatuh saat menari semalam." Jawab Arumi lirih, hampir tak terdengar.


"Astaga, ceroboh sekali." Ucap Tuan Haris seraya mendekati Arumi dan membantunya memapah, dan menuju sofa untuk duduk di sana.


"Will, panggil tukang pijat yang biasa Ibu panggil dulu!" Perintah Tuan Haris pada Will.


Segera Will mengutak-atik ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


Terdengar ia menyebutkan nama, namun Arumi kurang jelas. Arumi mendengar 'datang segera' saja.


Tuan Haris menaikkan kaki Arumi ke sofa, lalu memijatnya.


"Yang sebelah sini?" Tanyanya sambil menyentuh bagian yang sakit.


"Ya. Bagaimana Tuan tau?"


"Istriku dulu penari, aku sering melihat seperti ini. Semoga tidak parah, dan kamu bisa segera mengajar menari lagi." Hibur Tuan Haris.


Arumi menganguk. "Terima kasih Tuan." Jawab Arumi.


"Tuan, dia akan segera datang. Saat ini sedang dalam perjalanan kemari." Ucap Will setelah menghubungi tukang pijat itu.


Terdengar suara mobil menderu di luar, Will membuka pintu dan menyambut tamu.


Rekan Tuan Haris datang.


"Silahkan masuk, Tuan Haris ada di dalam." Ucap Will.


Lelaki seumuran Tuan Haris masuk.


"Hai, Bill, ada angin apa kamu mengubungi dan datang kemari?" Sapa Tuan Haris.


"Ini istrimu?" Tanya orang yang dipanggil Bill itu.


"Ya, kenalkan ini Arumi, istriku." Jawab Tuan Haris, Arumi dengan susah payah bangkit untuk menyambut uluran tangan Bill.


"Mengapa kakimu?" Tanyanya.


"Jatuh saat menari." Jawab Arumi.


"Kamu penari?"


"Ya, saya penari." Jawab Arumi sambil mengangguk. Bill menatap Arumi dari atas hingga bawah, lalu kembali menatap wajahnya


"Aku juga memiliki seorang adik penari, lalu dia menikah dengannya." Ucapnya sambil menunjuk Tuan Haris.


Arumi mengerutkan keningnya mencerna ucapan Bill.


"Istri Tuan Haris?" Tanya Arumi.


Bill menganguk, membenarkan jawaban Arumi.


Arumi hanya menelan ludah saja, ia kini berhadapan dengan Paman kandung Leon.


"Bill, ada apa?" Tuan Haris mengalihkan pembicaraan. Ia tau Arumi tidak nyaman dengan keadaannya saat ini.


"Aku dengar kau terpilih jadi Ketua dewan kota. Aku ingin minta bantuan untuk proyekku." Jawab Bill.


"Ayo kita masuk ke ruanganku saja." Ajak Tuan Haris pada Bill, lalu mereka menuju ruang kerja Tuan Haris, diikuti oleh Will.


Tak lama pintu diketuk dari luar, Surti tergopoh-gopoh membuka pintu itu, seorang pemijat yang dipanggil Will tadi sudah datang.


Arumi meminta dipijat di teras belakang saja, supaya tidak terganggu, jika ada tamu yang datang lagi. Ia sangat tidak nyaman dengan tamu tamu Tuan Haris.


"Aduh... aduh, sakit sekali..!" Teriak Arumi sambil menggeliat tubuhnya menahan sakit.


Surti membantu, memegang tubuh Arumi, tukang pijat tadi kini mulai memijat kembali pergelangan kaki Arumi yang terkilir.


"Tolong, ambilkan air hangat untuk merendam kaki, Nona." Pintanya pada Surti.


Surti segera berlalu ke dapur untuk mengambil air hangat.


"Apakah ada yang menolongmu, setelah jatuh?" Tanyanya.


Arumi menganguk pelan.


"Leon menolongku, dia memijat kakiku saat itu. Awalnya terasa sangat sakit sekali." Jawab Arumi.


Pemijat itu tersenyum. "Dia melakukan dengan baik, kakimu tidak terlalu parah, istirahat selama seminggu, kakimu akan pulih." Jawabnya.


Tak lama Surti tiba dengan membawa baskom besar dan handuk.


Meletakkan di dekat kaki Arumi.


Pemijat tadi merendam kaki Arumi, dan memijat kembali perlahan. Arumi merasa sangat nyaman sekali. Rasanya seperti sedang refleksi kaki. Ingin matanya terpejam saat itu.


Hari itu setelah pijat, Arumi merasa sangat baik lagi. Meskipun masih berjalan pincang, namun tidak separah sebelum dipijat.


Sore itu, Tuan Haris kembali dari kantor, ia melihat Arumi sedang berenang di kolam renang belakang. Ia menatap Arumi, dan menuju ke halaman belakang.


Will telah paham, dia pergi meninggalkan Tuan Haris untuk bersama istri kecilnya itu.


Tuan Haris menuju kolam renang.


"Kakimu bagaimana?"


"Terima kasih telah memanggil tukang pijat yang handal itu." Jawab Arumi.


Tuan Haris membuka jas dan kemejanya, lalu celana kerjanya. Ia lalu turun masuk ke kolam renang untuk bergabung dengan Arumi.


Tuan Haris melakukan gerakan pemanasan, lalu berenang dengan gaya bebas.


Arumi tersenyum, lalu mengikuti di sebelahnya, mereka berlomba untuk berenang.


Arumi teringat dulu ia sering lomba berenang dengan Papanya. Tak jarang ia yang menang, lalu setelah itu Mama telah menyambut mereka dengan kudapan yang lezat di teras belakang rumah mereka. Mama selalu berteriak untuk segera keluar dari kolam supaya tidak kedinginan. Lalu Papa meminta Mama untuk mengambilkan handuk, namun setelah berada di bibir kolam, Papa akan menarik tangan Mama ke dalam kolam. Membuat Arumi tertawa terbahak-bahak melihat Mamanya ikut bergabung masuk ke kolam renang. Kini, semua hanya tinggal kenangan indah bagi Arumi.


Tuan Haris kini berada tepat di depan Arumi, hampir tanpa jarak. Mereka saling tatap, tak banyak bicara, Tuan Haris mencumbu Arumi dalam kolam. Tubuh mereka saling bergesekan.


"Tuan, malu! Nanti dilihat pembantu di sini." Ucap Arumi.


"Mereka telah terbiasa melihatku begini dengan istriku, dulu." Jawab Tuan Haris dengan cuek.


"Sebaiknya sudah sajalah berenangnya."


Arumi naik dari kolam renang, dengan menggunakan pakaian renang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas, membuat Tuan Haris berdesir. Hasrat lelakinya muncul kembali, dan miliknya segera terbangun saat melihat kemolekan tubuh Arumi.


Tuan Haris keluar dari kolam renang juga, mangambil handuk, lalu membalut bagian bawah tubuhnya. Lalu ia mencengkram lengan Arumi, menarik masuk dalam pelukannya. Jantung Arumi berdetak seketika, ketika tubuhnya berdekatan dengan Tuan Haris.


Usianya memang seumuran Papanya, namun terlihat lebih atletis, dan entahlah, ada pesona lain, ataukah karena ia mirip dengan Leon, namun lebih tua.


Bodoh! Ya iya lah, ini Papa ya Leon, ya mereka pasti ada kemiripan. Rutuk Arumi.


Arumi hanya diam saja dalam perlakuan Tuan Haris. Lalu Tuan Haris menariknya masuk dalam rumah.


Sesampainya dalam kamar ia menarik Arumi masuk ke kamar mandinya, shower air hangat mengguyur tubuh mereka berdua yang berada di bawahnya.


Tuan Haris menciumi wajah Arumi lengan lembut, sambil melepaskan baju renang milik Arumi. Ia meraba dengan lembut, sambil menurunkan pakaian renang itu. Arumi terlihat menggeliat meliukkan tubuhnya saat kecupan dilayangkan pada tubuhnya.


Tuan Haris berjongkok, lalu ia menjilati bagian bawah tubuh Arumi. Kedua kaki Arumi agak dilebarkan, dan kini ia mulai tersengal sengal menikmati sensasi yang diberikan oleh Tuan Haris. Arumi menjambak rambut Tuan Haris setiap kali ia merasakan sensasi nikmat itu.


Tuan Haris banyak mengajarkannya hal hal mengenai berhubungan badan, yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.


Setiap kali ia merasakan sensasi, yang ada dalam bayangannya adalah Leon. Arumi benar benar menyukai pemuda itu. Namun, kini ia terjebak bersama Ayahnya.


Arumi berteriak saat ia merasa sensasi puncak nikmatnya, lendir mulai membanjiri **** *************, lalu Tuan Haris memasukkan miliknya dalam lubang Arumi dengan gaya doggy.


Suara raungan dan rintihan mereka, beradu dengan suara air dari shower yang masih mengguyur tubuh mereka.


Tuan Haris membalik tubuh Arumi, lalu menikmati dada Arumi dengan liarnya, Arumi hanya memejamkan matanya dan menggeliat merasakan sensasi alami tubuhnya, Tuan Haris mengangkat tubuh Arumi, dan menaruh di ranjangnya, lalu mereka bergelut kembali di sana, terdengar raungan Tuan Haris bagai seekor singa jantan. Arumi pasrah dengan perlakuan Tuan Haris, mulai menikmati semua permainan yang dibuat oleh suaminya itu.