
Sepulang sekolah, Gisel sengaja ingin pulang sendiri kali ini karena akan mengerjakan tugas bersama Bela dan Andin. Dia duduk di bangku sudut sekolah sambil meminum teh kotaknya. Bela sedang meminjam buku di perpustakaan untuk belajar bersama nanti. Sedangkan Andin entah kemana.
Gisel tidak begitu mempedulikan Andin, karena memang menurutnya, Andin adalah teman yang fake. Terbukti beberapa kali ia dan Bela diganggu oleh Andra dan gengnya, Andin hanya diam, atau malah kabur meninggalkan mereka. Bahkan selama ia di rumah sakit, hanya Bela lah yang masih setia menunggu dan menghiburnya.
Saat ia sedang menikmati minumannya saat cuaca sedang terik, ekor matanya melihat Andin berlari kecil menuju arah belakang sekolah. Sebenarnya ia tak ingin tau, namun, karena bete menunggu Bela yang lama mencari buku di perpustakaan, akhirnya ia ingin menuntaskan rasa penasarannya dengan mengikuti arah Andin pergi tadi.
Di kejauhan sebuah mobil terparkir di bawah pohon. Di belakang sekolah memang sepi, pemukiman agak jauh tempatnya, yang ada hanya kebon dan jalan pintas , yang kecil cukup dilewati satu mobil saja.
Gisel berlari kecil mendekati mobil tadi, kacanya gelap hampir tak terlihat dalamnya, namun sayup sayup terdengar suara de sah dan rintihan dari dalam mobil itu. Lalu mobil bergoyang seirama dengan suara tadi. Jika makin kencang makan mobil akan bergoyang makin kencang pula.
Ia berusaha untuk mengintip dengan apakah itu Andin atau bukan? Dan jika itu Andin, dengan siapa dia di dalam situ? Namun, tak ada celah untuk melihat ke dalam mobil itu, karena kaca yang gelap. Ia juga tak begitu memperhatikan kendaraan setiap orang di sekolah itu.
"Ayo.. ayo... Ahhh...!!"
"Ahhhh...."
Terdengar suara bersahutan dari dalam dan mobil makin kencang goyangannya, dan akhirnya terdengar sepasang manusia yang sedang melepas hasrat duniawi itu telah menuju puncaknya.
"Aku nanti sibuk mengerjakan tugas dengan Gisel dan Bela. Jadi besok saja ya kita ketemuannya lagi." Rayu Andin.
"Kamu masih berteman dengan pe**cur kecil itu?" Tanya teman bercinta Andin.
"Ya gimana lagi. Dia kan anak orang kaya, dan bisa aku tebengi. Dulu saat aku butuh duit, atau pingin apa, Gisel yang selalu membantu. Kalo Bela, terkadang masih harus bilang ke Mamanya. Lalu kini, dia sepertinya sudah ga punya apa apa lagi." Keluh Andin.
"Tapi sekarang dia tinggal di kediaman Tuan Haris, orang terkaya di kota ini?"
"Bukan orang tuanya, tidak mungkin Tuan Haris akan memberikan dia banyak uang. Apalagi ada Leon di sana. Bisa gawat jadinya." Cicit Andin.
"Brengs*k..! Temenan hanya karena aku kaya? Lalu kini, aku sedang susah..!!? Lihat saja ntar!" Ancam Gisel dalam hati, sambil mengendap endap meninggalkan mobil goyang itu, kembali ke tempatnya tadi.
Gisel berlari lari kecil menuju pojokan tempatnya tadi, karena Bela terlihat bingung mencari carinya.
"Bela... Bela..!" Panggil Gisel sambil berlari kecil.
Bela menoleh ke arah sumber suara, dan setelah melihat itu Gisel, ia berhenti dan menunggu temannya.
Gisel berdiri memegang pinggangnya, sambil terengah-engah, menata napasnya.
"Dari mana saja kamu? Katanya tadi mau nunggu di sini? Aku ke sini kamunya ga ada?" Rentetan pertanyaan dilontarkan oleh Bela pada Gisel.
"Udah ah, ayo ke rumahmu! Panas bener cuacanya, ga betah aku!" Keluh Gisel sambil menyeka keringatnya.
Mereka akhirnya menuju mobil Bela, karena sopirnya telah menunggu. Lalu mereka menuju rumah Bela yang letaknya berada di pusat kota.
"Sel, tadi abis darimana kamu?" Tanya Bela penasaran.
"Tadi, aku kebelet pipis." Jawab Gisel berbohong.
"Kenapa ga ke toilet depan saja sih? Kan toilet belakang itu angker?"
"Udah ga keburu, kebelet banget!"
"Kamu ga takut, katanya di toilet itu banyak penampakan. Hii!" Ucap Bela sambil memasang wajah takut.
"Ga ada apa apa kok." Balas Gisel.
Toilet belakang sekolah emang banyak setannya. Tapi dalam wujud manusia, karena di toilet belakang itu sering dipakai anak anak sekolah buat melakukan hal mesum, termasuk Gisel pernah melakukan perbuatan itu dengan Alan.
"Bel, Andin ga kita jemput apa?" Tanya Gisel pura pura ga tau, saat hendak turun dari mobil.
"Katanya mau menyusul kemari. Dia ada urusan katanya." Jawab Bela.
"Urusan fisik dengan bermain mobil goyang! Dasar jal*ng!" Umpat Gisel dalam hatinya.
"Siang Tante, permisi, mau belajar sama Bela." Sapa Gisel, saat melihat Mamanya Bela sedang sibuk menatap layar laptopnya, di ruang tengah.
"Siang Gisel. Sudah makan belum?" Tanyanya.
"Belum, Ma. Kami kelaparan!" Jawab Bela sambil mencium mamanya.
"Sudah sana, cuci tangan dulu, lalu makan siang. Baru belajar." Saran Mama Bela.
"Oke, Ma." Jawab Bela.
" Baik Tante." Jawab Gisel sambil tersenyum pada Mamanya Bela.
Bela dan Gisel langsung menuju ruang makan, dan menyantap makanan siang yang dihidangkan oleh Mamanya Bela.
Saat mereka sedang menikmati makan siang, bel rumah berbunyi. Seorang pembantu membukakan pintu, dan ternyata Andin yang datang.
Terdengar Andin sedang berbasa basi sejenak dengan Mama Bela di ruang tengah, sebelum kemudian dia menuju ruang makan untuk bergabung dengan Bela dan Gisel.
"Maaf, terlambat, tadi susah sekali dapat gojeknya." Ucap Andin beralasan.
Gisel hanya tersenyum simpul menatap Andin.
"Iya, ga apa apa, belum mulai juga ngerjain tugasnya. Kita lagi makan juga. Kamu mau makan juga?" Bela menawari makan siang pada Andin.
"Boleh deh!" Jawab Andin, langsung mengambil piring kosong yang bersih di atas meja makan, lalu menyendok nasi, beserta lauk pauk dan sayur yang di sajikan.
Mereka menikmati makan siang bersama sama sambil sesekali mengobrol soal pelajaran hingga teman di sekolah mereka.
"Sudah, yuk! Kita mengerjakan tugas dulu. Keburu ngantuk kalo abis makan gini!" Saran Gisel sambil mengumpulkan piring piring kotor bekas mereka makan dan menaruhnya di wastafel cuci piring.
Bela dan Andin mengangguk setuju. Lalu mereka bertiga berjalan ke arah tangga menuju kamar Bela yang terletak di lantai dua.
Gisel menghempaskan pantatnya di bantal sofa yang terdapat di sudut kamar Bela, lalu membuka halaman buku, membaca kembali tugas yang harus mereka kerjakan.
Bela dan Andin pun sama, mereka sama sama membaca buku, lalu mencatat poin penting dari bahan pelajaran sebelumnya.
Gisel melirik ke arah Andin yang sibuk mengetik di laptop milik Bela. Ia menatap Andin dari ujung kepala hingga kakinya, menilai temannya itu.
"Ternyata selama ini kamu hanya memanfaatkan aku dan Bela saja." Ucapnya dalam hati.
"Sel, soal nomor 4 kalimatmya gimana nih bagusnya?" Tanya Bela menyadarkan lamunan Gisel.
"Eh, ya, bentar aku baca dulu pelan pelan." Jawab Gisel, mencoba untuk fokus kembali.
Mereka pun mengerjakan tugas hingga selesai hingga sore hari. Kemudian Gisel dan Andin berpamitan pada Mamanya Bela untuk pulang.
Akhirnya Gisel dan Andin berpisah setelah mobil jemputan Andin tiba. Gisel menatap pria yang menjemput temannya itu, ia tak mengenalnya, bahkan selama berteman dengan Andin dia belum pernah melihat pria itu.
Belum hilang rasa penasarannya, Bejo, supir Arumi telah datang untuk menjemputnya, dan mengantarnya pulang ke kediaman Tuan Haris.