Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Pertemuan dengan Monica


Usai kelasnya, Arumi tengah duduk di bangku yang ada di sudut pada koridor gedung sekolah seni itu. Ia menatap mahasiswa yang tengah melukis di salah satu sisi bagian ruangan. Mereka melukis apa pun yang terlihat di sekitar tempat itu. Arumi menatap sesosok tengah memperhatikan dirinya.


"Astaga! Apakah aku sedang sebagai objek lukisannya? Aduh, apa yang harus aku lakukan saat ini?" Arumi menengok kanan dan kiri. Saat itu adalah jam kelas, ia sengaja menunggu kelas berikutnya dengan mendengar beberapa lagu dan mencari ide untuk koreografi selanjutnya.


Seseorang melongok ke arahnya, dan tersenyum dari jauh. Seseorang yang sedari tadi memperhatikannya saat dia duduk di bangku itu. Arumi berdiri, lalu menghampirinya. Ia melongokkan kepalanya hendak mengintip lukisan yang lelaki itu buat.


Lelaki itu menggeser duduknya,memberi kesempatan bagi Arumi untuk melihatnya.


Arumi ternganga, dan membesarkan matanya. Ia melihat dirinya sedang memutar sambil mendengarkan headset di telinganya.


"Wow...!" Ujar Arumi terkagum melihat dirinya yang terlihat keren pada lukisan itu.


"Ini seperti nyata. Dan aku terlihat keren!" Entah itu pujian untuk lelaki yang melukis tadi atau dia sengaja memuji dirinya sendiri.


"Kamu memang terlihat mengagumkan sedari tadi. Maaf aku memakai dirimu sebagai objek lukisanku." Sahut lelaki itu sambil tersenyum.


Sosok lelaki mungkin seusia Arumi, berwajah lebih ke Eropa, dengan tubuh atletis dan berwajah lumayan tampan. Dandanannya terlihat cuek, dengan mengenakan kaos oblong dan celana jeans tiga per empat balel.


"Oya, aku Kevin." Lelaki itu memperkenalkan dirinya. Arumi menyambut uluran tangan lelaki itu sambil tersenyum. "Arumi." Sahut Arumi kemudian.


"Aku mahasiswa seni tingkat akhir. Ini sebagai penilaian tugas praktekku."


"Aku merasa terhormat bisa menjadi objekmu. Senang berjumpa denganmu." Arumi melirik jam tangannya, sepuluh menit lagi kelasnya dimulai.


"Eh, maaf, aku harus ke kelasku. Bye!" Ucap Arumi sambil melambaikan tangannya.


***


Nina terus berlatih untuk mempersiapkan penampilannya. Ia berlatih selama beberapa jam di ruang kelas milik Mamanya, kali ini dia ditemani oleh Dito dan Leon.


"Loh, Arumi nggak datang?" Tanya Nina.


"Dia ada kelas siang ini, jadwalnya hingga sore." Terang Leon.


"Ohh.. "


Nina merasa belum tenang jika belum bertemu dengan Arumi. Dia lebih nyaman jika berlatih bersama Arumi dari pada bersama mamanya sendiri.


Saat berlatih dengan sang Mama, dia seolah disalahkan, karena tak bisa menari seluwes dan sebagus Dito. Bahkan Mama, sempat keceplosan, kata-kata yang membuatnya mengerutkan kening, 'anak penyanyi'.


Nina menyeka keringat yang bercucuran dari tubuhnya. Ia mengambil sebotol air, dan meneguknya hingga habis setengah. Sasa menemaninya Dudu di sebelahnya.


"Sudahlah, ditunggu saja, Arumi. Sebentar lagi jamnya selesai." Ucap Sasa sambil menenangkan Nina.


***


Tuan Haris menghubungi, Madam Fey untuk mengirimkan seorang gadis untuk menemaninya malam itu. Karena selama Arumi pergi dan Viona telah kembali, ia membutuhkan seorang untuk menemaninya.


Supir pribadi Tuan Haris menjemput dan membawa Andin, ke rumah pribadi Tuan Haris di perkebunan anggur.


Madam Fey sengaja tidak memberi tahu kliennya saat ini. Ia pun tidak ingat sopir pribadi Tuan Haris. Ia hanya menatap jalanan melalui kaca jendela mobil yang membawa dirinya ke sebuah perkebunan anggur yang sangat luas.


Saat membaca papan nama perkebunan itu, Andin syok. Tuan Haris? Ia berharap bukan Tuan Haris kliennya kali ini. Namun, sepertinya harapannya tak terkabul.


Sopir mengantar ke sebuah rumah di dalam perkebunan yang sepi. Lalu meninggalkannya. Andin membuka pintu rumah tersebut dan melihat Tuan Haris telah menyambutnya dengan senyuman nakalnya.


"Halo anak manis.. silahkan masuk." Sapa Tuan Haris saat Andin masuk. Lalu ia menutup pintu dan menguncinya.


"Duduk lah! Temani aku mencicipi anggur terbaru dari tempat ini." Perintah Tuan Haris sambil menunjuk kursi di depannya.


Andin duduk dan menerima segelas anggur yang dituangkan untuknya sambil tersenyum.


"Astaga! Mengapa harus Tuan Haris klienku kali ini? Semoga tidak ada permintaan dan permainan aneh aneh lagi!" Harap Andin dalam hati.


"Sangat enak sekali Tuan. Dan harum!" Puji Andin.


Tuan Haris tersenyum lalu berdiri dan mengambil jemari tangan Andin untuk mengikutinya.


Tuan Haris membuka sebuah ruangan, di sana ada sebuah bathtub telah siap untuk digunakan.


"Temani aku mandi kali ini!" Bisik nya tepat di telinga Andin.


Mandi? Tentu tidak langsung mandi. Tuan Haris harus dipuaskan dahulu lalu setelah itu ia meminta untuk mandi bersama sambil memberi pelayanan kembali saat mandi.


Sebelumnya, Andin pernah sekali melayani Tuan Haris dengan menggunakan pakaian seksi koleksi Tuan Haris, dan kedua tangan diikat, dan di pukul dengan ikat pinggang dan pukulan berbulu. Tuan Haris menciumi dengan kasar setiap bekas luka yang telah ia buat, bahkan dengan buasnya ia menikmati tubuh Andin usai memecutnya.


Andin yang syok kala itu hanya bisa meringkuk sambil menangis di sudut ruangan. Tuan Haris bukannya kasihan dan berhenti, dia makin brutal, memakai memompa tubuhnya dan menunggangi Andin hingga gadis bayaran itu kelelahan.


Tenaga Tuan Haris benar benar luar biasa untuk di atas ranjang. Dia selalu memilih wanita yang mampu mengimbangi tenaganya. Dahulu istrinya, lalu Viona, dan kini Arumi.


Kini, Andin telah memakai kostum seksinya yang berwarna merah maroon. Ia menggoda dengan bermain pada tiang yang ada di tengah ruangan kamar itu. Madam Fey telah berpesan padanya untuk memberikan penampilan pada pelayanannya kali ini.


Andin meliukkan tubuhnya dengan seksi dan gemulai pada tiang, memutar dan bergerak dengan anggun dan elegan. Ia selalu memperhatikan setiap pelajaran yang diberikan oleh Arumi supaya tidak cidera saat bermain pada tiang itu.


Saat bergerak memutar menyelesaikan tarian, Tuan Haris mendekati Andin, lalu. Mereka saling bertatapan. Andin mengelus wajah Tuan Haris dengan lembut.


Tuan Haris melu mat bibir Andin, dan mereka saling bertukar saliva dengan penuh lenguhan.


"Astaga Andin, mengapa tubuhmu selalu bereaksi seperti itu saat berciuman!" Rutuk Andin dalam hatinya.


Postur tubuh Tuan Haris tidak seperti om om gendut mata keranjang kebanyakan. Tuan Haris adalah sosok pria dewasa parlente, dengan tubuh yang proporsional. Dengan perawakan tinggi, besar, dan tampan. Memiliki tangan yang kokoh.


Setiap wanita yang masuk dalam dekapan tangannya, pasti akan melenguh dengan manja dan ingin lagi dan lagi, kecuali Arumi.


Kini Tuan Haris telah mengarahkan serangan pada leher Andin, yang membuat gadis itu menggeliat dengan manjanya, lalu turun ke dadanya. Tuan Haris menikmati suguhan dada milik Andin yang menurutnya tak seranum milik Arumi dan Viona, tapi cukup membuatnya senang.


Cukup cerita tentang pelayanan Andin pada Tuan Haris ya... Mereka sedang bercocok tanam dengan berbagai gaya malam itu, dan dilanjutkan dengan berendam di bathtub bersama sama. Sambil melanjutkan kegiatan fisik malam mereka kembali.


****


Di belahan dunia lain. Usai mengikuti kelasnya, Arumi melangkahkan kaki hendak pulang ke apartemennya.


"Hai, tunggu!" Panggil seseorang.


Arumi menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat seseorang berlari kecil menghampiri, Arumi berhenti dan menunggu.


Monica mengatur napasnya sejenak saat berhenti berlari.


"Kamu, Arumi?" Tanyanya.


Arumi menjawab dengan anggukan sambil menatap Monica dengan heran.


"Aku Monica." Jawabnya sambil mengulurkan tangannya.


"Aku pernah mengikuti koreografimu yang ada di Youtube, dan saat ada tugas pasangan dengan Leon, dia memperlihatkan tariannya yang menggunakan topeng." Sambung Monica, menjawab keheranan akan gadis di depannya itu.


"Oya. Bagaimana kamu tahu itu tarianku?" Tanya Arumi kembali.


"Tarian topeng? Gerakannya sangat khas. Kamu pernah memperlihatkan juga dalam kelas beberapa hari yang lalu di kelas Mr Sam." Tukas Monica sambil tersenyum.


Kini, Arumi tak bisa mengelak lagi.


"Apa mau mu?"