Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Untuk Leon


Malam itu selesai mandi Arumi dikejutkan oleh Leon yang telah berada di kamarnya.


"Astaga, Leon! Ngapain kamu di sini?" Pekik Arumi terkejut.


"Papa menyuruhku memanggilmu untuk makan bersama." Jawab Leon sambil berjalan ke arah Arumi.


Arumi masih berdiri dan terdiam. Ia hanya berbalut handuk di tubuhnya.


Leon mendekatinya.


"HHmm harumnya! Pantas Papaku menyukaimu!" Ucap Leon dengan sinis.


"Apa maksudmu? Sudah aku bilang, Tuan Haris yang memilihku, bukan aku!" Ucap Arumi menatap tajam ke arah Leon.


Sejenak mereka saling pandang. Dada Arumi yang menyembul, membuat Leon menelan ludahnya sendiri. Ia merasakan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya saat berdekatan dengan Arumi.


Rasanya Arumi ingin sekali mencumbu pemuda di depannya itu, namun ia masih dapat berpikir waras kali itu.


"Sudah sana keluar, aku ganti pakaian dulu." Usir Arumi.


Leon menganguk, dan membalikkan tubuhnya hendak keluar kamar, dan Arumi mengikuti di belakang, tepat hendak membuka pintu, Leon membalikkan tubuhnya kembali, tepat berhadapan dengan Arumi yang masih berbalut handuk.


Tubuh mereka tak berjarak, Arumi dapat merasakan hembusan napas Leon di rambutnya, detak jantungnya berdegup kencang. Ingin rasanya Arumi memeluk pemuda itu dan merengkuh nikmat dunia bersamanya.


Leon menautkan bibirnya ke bibir Arumi. Arumi terdiam, lalu kesadarannya kembali lagi.


"Leon, aku hendak berganti pakaian. Nanti aku susul ke ruang makan." Arumi mendorong tubuh Leon untuk menjauh.


Sesaat Leon terkejut, namun ia sadar, Papanya akan curiga jika terlalu lama di kamar bersama istrinya itu.


Arumi menutup dan mengunci pintu kamarnya, setelah Leon keluar. Ia masih termenung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ia menyentuh bibirnya, tepat Leon memberikan sentuhan bibirnya di sana.


Kemudian, Arumi mengenakan pakaiannya, lalu keluar dari kamarnya. Supaya Tuan Haris dan Leon tak menunggu terlalu lama.


Arumi tertegun saat melihat Will, juga duduk di meja makan bersama Tuan Haris dan Leon.


"Duduklah, kita makan bersama!" Perintah Tuan Haris dengan lembut.


"Tumben, Will masih di sini?" Tanya Arumi.


"Nanti ada rekan bisnis yang akan datang. Jadi Will akan membantuku dulu." Jawab Tuan Haris.


Arumi menggeser kursi di samping Will, berhadapan dengan suaminya.


Arumi membalikkan piringnya, dan menyendok nasi dan makanan pelengkap lainnya.


Ketiga laki laki itu telah mendahuluinya makan, Leon terlihat lahap menyantap ikan goreng saos tiram. Tuan Haris menikmati cah sayur dan tahu. Arumi melirik ke arah Will, yang juga tengah menikmati ayam goreng. Arumi memutuskan mengambil ikan saos tiram yang tampak menggugah selera.


"Apakah aku besok boleh kembali mengajar di sekolah?" Tanya Arumi sambil menatap Tuan Haris.


"Kakimu sudah pulih?"


"Sudah. Aku juga telah mulai berlatih, karena, Mike bilang anak anak muridku hanya mau berlatih denganku, tidak mau dengan guru yang lain." Jawab Arumi.


"Baiklah. Kamu bisa menyuruh Bejo mengantarmu ke sana."


"Baik. Terima kasih, Tuan." Ucap Arumi sambil tersenyum senang.


Lalu ia meneruskan makannya. Tuan Haris telah menyelesaikan makannya, lalu meninggalkan meja makan usai minum segelas air. Ia kembali ke ruangannya lagi. Tak lama Will menyusulnya menuju ruang kerja Tuan Haris.


Sekitar sepuluh menit kemudian, tampak Surti membukakan pintu untuk tamu Tuan Haris, lalu Will menemuinya, dan mengantar ke ruang kerja Tuan Haris.


Arumi memperhatikan setiap gerak gerik tamu yang datang barusan.


"Hei, sedang lihat apa kamu?" Tanya Leon.


"Sedang melihat yang barusan datang." Jawab Arumi.


"Dia pemilik kebun anggur dari kota tetangga. Dia pemilik salah satu pemilik brand anggur terbaik yang pernah aku coba." Jawab Leon.


"Pernah. Saat pesta, kesempatan untuk mencicipi anggur sangat besar." Bisik Leon. Arumi hanya tertawa mendengarnya.


"Kenapa tidak mau menuruti papamu untuk kuliah?" Tanya Arumi.


"Untuk meneruskan ambisi Papaku menguasai semua bidang usaha? Tidak!" Jawab Leon.


"Kenapa?" Tanya Arumi.


"Aku lebih memilih menari." Jawab Leon sambil menatap Arumi.


Arumi hanya menatap Leon dengan penuh simpati.


Mbok Darmi datang ke ruang makan, dan membereskan piring bekas mereka makan. Arumi membantu menyusun piring makan, lalu menaruh ke dapur.


Saat Arumi keluar dari dapur, tamu Tuan Haris terlihat sedang berpamitan. Will mengantarnya hingga pintu, lalu kembali lagi ke ruang Tuan Haris.


Will menoleh ke arah Arumi, sebelum ia keluar, hendak kembali ke tempat tinggalnya, karena tugasnya telah selesai.


"Kamu masih di sini?" Tanya Will.


"Ya, ada apa?" Tanya Arumi.


"Tidak apa. Aku permisi." Ucap Will, sambil berlalu menuju pintu, dan meninggalkan kediaman Tuan Haris.


Arumi bergegas menuju kamarnya, ia berlari kecil menaiki anak tangga, lalu membuka pintu kamarnya. Tepat saat ia hendak menutup pintu, seseorang mendorong pintu kamarnya, Arumi terkejut.


Kepala Leon menyembul dan tubuhnya masuk ke kamar Arumi, lalu ia mengunci pintu kamar Arumi. Hening...


Untuk sesaat mereka berdua terdiam.


Lalu seolah dikomando, tubuh keduanya saling mendekat, dan Leon me lum mat bibir Arumi yang ranum dengan penuh ga irah. De sa han meluncur dari mulut Arumi. Ia mengalungkan tangannya ke leher Leon.


Leon mendaratkan kecupan pada leher Arumi, tubuh Arumi mulai menggeliat dan teriak nikmat mulai meluncur dari mulutnya.


Leon menaikkan kaos yang dikenakan Arumi, dan bermain di dada Arumi. Ia menikmati salah satu puncak gunung kembar Arumi dengan lahap, bagai seorang bayi yang kelaparan, dan salah satu tangannya tetap memainkan gunung yang satunya.


Arumi semakin kacau dibuatnya, napasnya mulai tersengal-sengal.


Lalu Leon mencium perut Arumi dengan lembut, dan Arumi menikmati setiap sentuhan yang Leon buat. Entah dari mana ia mengetahui permainan ini, atau dari film panas yang ditontonnya.


Arumi semakin tak tahan, ia melepas kaosnya, dan mencopot kaos yang dikenakan Leon.


Tampak tubuh atletis Leon terlihat, Arumi benar benar jatuh hati pada Leon. Setiap kali ia melakukan hubungan dengan Tuan Haris, Leon lah yang selalu menjadi gambaran di kepalanya.


Arumi melepas penutup bawah milik Leon. Leon tak terima, ia mendorong pelan tubuh Arumi ke ranjang, dan melepas pakaian bawah Arumi perlahan, setiap sentuhan Leon pada area bawahnya, membuat tubuh Arumi bergetar.


Leon mencium mi bagian milik Arumi. Itu kali pertama Leon melakukan hal ini. Ia memang telah sering menonton film panas, namun sejak bertemu Arumi, ia sangat tertarik dengannya, bukan hanya secara fisik, namun saat pertama bertemu di ruang gudang itu, ia melihat Arumi bagai sosok malaikat penolongnya.


Leon memasukkan jarinya dalam lubang nikmat itu, membuat tubuh Arumi menggeliat tak karuan. Lalu ia mulai memainkan lidahnya di sana, semakin membuat Arumi merancau dan menjambak rambutnya.


Hingga area itu basah dan semakin basah, hingga mengalir cairan putih dari sana. Arumi memeluk tubuh Leon. Leon langsung memasukkan miliknya ke dalam lubang itu. Membuat gerakan maju mundur bersama Arumi. Mereka saling mengerang mencapai nikmat duniawi. Jiwa muda mereka semakin menggila dan panas.


Tubuh mereka bergerak saling gesek dan tindih. Mereka mencoba hampir semua gaya, Leon mempraktekkan apa yang pernah ia tonton, dan Arumi mengulang apa yang pernah ia lakukan dengan Tuan Haris.


Karena mereka sama sama berjiwa muda, Leon mengangkat tubuh Arumi, kaki Arumi menggantung di pinggang Leon, tubuhnya menggeliat dan milik Leon telah tertancap di sana, ia bergerak sesuai irama, hingga akhirnya Leon menaruh Arumi ke ranjang, dan melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan.


Tubuh mereka bergetar, Arumi membusungkan dadanya, Leon menikmati puncak gunung Arumi dengan nikmatnya. Lalu mereka berdua saling berteriak menuju puncak nikmat.


Napas mereka saling memburu. Leon mencium bibir Arumi dengan penuh rasa cinta, ah entahlah cinta atau napsu itu batasnya tipis.


Itu pertama kalinya Leon melepas perjakanya, bersama Arumi, ibu tirinya.


Mereka beristirahat sejenak di ranjang Arumi.


"Aku mencintaimu Rumi!" Bisik Leon.


"Aku juga." Balas Arumi sambil menyandarkan kepala di dada Leon.