
Tuan Haris langsung menuju ke kamarnya setelah masuk ke dalam rumah. Arumi menyandarkan tubuhnya ke dinding supaya gak terlihat oleh Tuan Haris.
Setelah menunggu beberapa saat, keadaan menjadi hening, Arumi mulai melangkahkan kakinya.
Namun, langkah terhenti, saat mendengar Tuan Haris membuka pintu kamarnya, dan berbicara di telpon.
"Tolong segera siapkan semua berkas. Aku ingin Arumi segera mempelajari semuanya. Aku tak ingin kehilangan Leon. Sementara Leon bersekolah, buat Arumi yang menjalankannya." Ucap Tuan Haris, lalu ia terdiam sejenak mendengarkan.
"Ya, aku percaya dia bisa melakukannya, dan membujuk Leon. Sejak ada dia, Leon telah kembali ke rumah dan hubunganku dengannya semakin membaik."
"Baiklah. Tolong urus semuanya. Besok Will akan menemuimu menyerahkan berkas dariku."
Tuan Haris masuk ke dalam ruang kerjanya. Lalu Arumi bergegas berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
BRUKKK
"Aduh...!" Arumi memegang keningnya yang sakit karena menabrak.
"Aduh.. Kamu kenapa sih?" Pekik Leon terkejut, dia juga memegang jidatnya.
"Aku mau ke kamar." Sahut Arumi.
"Kamu baru mau masuk kamar?"
Arumi hanya mengangguk. Leon langsung melotot.
"Besok adalah pembukaan kompetisi, aku ga mau kamu sakit. Ayo istirahat dulu!" Ucapnya sambil menarik tangan Arumi masuk dalam kamar.
"Aduh, lepasin ah!" Arumi menepis tangan Leon dari lengannya.
"Denger ya, kamu itu pelatih menari kami. Aku ga mau kamu sakit, sudah kamu tidur!" Bujuk Leon dengan suara sedikit melunak.
"Aku mau mandi dulu." Sahut Arumi.
"Pokoknya aku ga mau kamu sakit ya! Setengah jam lagi aku akan ke sini memeriksamu!" Jawab Leon sambil pergi dan menutup pintu kamar Arumi.
Arumi segera membersihkan tubuhnya, namun pikirannya tertuju dengan ucapan Tuan Haris dengan orang di telpon tadi.
"Aku yang akan mengurus perusahaan selama Leon sekolah? Lalu Tuan Haris kemana?" Gumam Arumi.
Setengah jam berlalu. Arumi telah berada di atas kasur empuknya. Leon mengetuk pintu, lalu membukanya.
Arumi berpura-pura memejamkan mata, supaya Leon tidak marah.
Leon mendekati Arumi dan menatap wajahnya.
"Aku tau kamu belum tidur." Ucapnya, sambil merebahkan tubuhnya di samping Arumi.
"Kamu tau aku belum tidur?"
"Mana ada, orang tidur senyum senyum!" Ucap Leon terkekeh.
"Aku ga sabar melihat kompetisi besok." Ucap Arumi berbohong.
"Apalagi aku dan teman temanku. Eh, kamu tau Tante Viona, Mamanya Dito jadi jurinya. Dan dia telah memasukkan pendaftaran ke sekolah itu. Namun dia harus lolos setidaknya masuk ke semi final supaya melewati audisi masuk." Cerita Leon.
"Kalian bisa menang dong!"
"Juri tak hanya dia."
"Kamu harus berusaha terus, jika ingin masuk ke sana."
"Iya, lalu kamu? Apa kamu masih mempunyai impian masuk ke sana?" Tanya Leon.
"Apa masih ada kemungkinan, untukku bisa menari di atas panggung?" Arumi tanya balik.
"Dengan kemampuanmu, kamu akan dapat terus menari. Aku percaya itu Rumi."
"Kamu hanya membesarkan hatiku saja."
Tak ada sahutan dari Leon. Ketika Arumi menoleh, Leon telah terlelap di sisinya.
Arumi membenarkan selimut Leon, dan ia tidur pun memejamkan matanya.
***
Arumi sedang bersiap-siap untuk pertemuan di perusahaan milik Papanya dulu. Tuan Haris mulai menyerahkan perusahaan itu pada Arumi untuk dikelolanya.
Sedang Leon bersiap untuk kompetisi hari ini.
Saat sedang sarapan, Arumi berusaha untuk bersikap tenang, namun sebenarnya dia sangat gugup. Meski dia dalam sebulan ini telah belajar dan bekerja di perusahaan Tuan Haris, tapi kali ini berbeda. Tuan Haris benar benar memberinya tanggung jawab yang lebih besar.
"Rumi, nanti jangan lupa datang ya! Kami menunggumu!" Pesan Leon sebelum meninggalkan rumah itu.
Kini tinggal Arumi dan Tuan Haris yang ada di ruang makan itu.
"Kamu ikut kompetisi?" Tanya Tuan Haris.
"Tidak, aku hanya melatih Leon dan teman temannya. Beberapa dari mereka sedang mendaftar masuk ke sekolah menari itu. Mereka harus lolos setidaknya semi final untuk bisa masuk tanpa audisi lagi." Terang Arumi.
"Hari ini akan jadi hari yang panjang untukmu, karena ada banyak laporan yang harus kamu periksa dan pelajari. Dipo benar benar gila! Dia menjual beberapa aset perusahaan Papamu. Nanti kamu bisa memeriksa dan bertanya pada Firman." Pesan Tuan Haris.
"Om Firman?"
"Ya, dia kepercayaan Papamu. Aku telah menyelidikinya. Dia bagus kinerjanya, dan memang pantas menjadi orang kepercayaan."
"Ya, nanti akan aku coba. Tapi, aku sama sekali takut. Karena aku hanya tamat SMA, lalu tiba tiba menjadi atasan orang orang yang lebih kompeten. Apa mereka tidak akan menertawakannya?" Arumi khawatir dengan posisinya sendiri.
"Beberapa bulan lagi, Thomas akan kembali. Ajak dia untuk membantumu. Dan satu lagi. Aku masih berharap kamu mau membujuk Leon untuk meneruskan perusahaanku. Aku percaya kamu pasti bisa."
"Lalu mengapa mengijinkannya untuk masuk ke sana?"
"Aku ingin mengambil hatinya saja."
"Hah? Apa? Hanya ingin mengambil hati Leon dengan mengijinkan sekolah menari, yang ujung ujungnya tetap dipaksa untuk mengurus perusahaan? Mengapa tidak menyuruhnya untuk sekolah bisnis saja?" Sahut Arumi dengan emosi.
"Aku telah mengurus semuanya. Lakukan tugasmu saja!"
"Baik. Lalu bagaimana dengan perjanjian kita? Setelah masa jabatanmu berakhir, apakah kita akan berakhir juga?" Tanya Arumi sambil menatap tajam ke arah Tuan Haris
"Ya, kita juga telah selesai. Namun, jika Leon tidak sekolah bisnis atau tetap tak mau meneruskan usahaku. Perjanjian kita batal." Jawab Tuan Haris tanpa ekspresi.
Mereka menyelesaikan makan, lalu pergi ke kantor milik Papa Arumi dulu.
Arumi menatap lobi dan ruang kantor itu. Masih terlihat sama. Ia berjalan memasuki lift menuju ruang pertemuan. Di sana sudah ada Will menunggunya.
Ia dan Will masuk ke ruangan pertemuan itu. Setelah mendengarkan penjelasan dari Firman, Arumi membaca berkas laporan keuangan perusahaan Papanya itu.
Beruntung, saat sekolah dulu, Arumi belajar tentang laporan keuangan dan ekonomi, Arumi juga merupakan siswa yang pandai. Ia dengan mudah menerima setiap penjelasan dari Firman.
Will dan Tuan Haris menatap Arumi yang sedang berdiskusi mengenai kejadian perusahaan itu.
Beberapa penemuan penyimpangan yang telah dilakukan oleh Dipo, membuat Arumi emosi. .
Arumi dengan cepat memberi catatan pada laporan yang telah ia kerjakan saat itu. Ia ingin segera menyelesaikan semua dan pergi ke toat kompetisi menari itu.
Saat jam makan siang, Arumi berusaha menyelesaikan laporan itu dan mencatat semua yang dirasa cukup janggal.
Setelah hampir tiga jam berdiskusi dan memeriksa laporan keuangan. Akhirnya selesai juga pekerja pertama di kantor itu.
Arumi buru buru membereskan pekerjaannya di mejanya.
"Arumi, aku tak sangka kamu secepat ini belajar! Selamat datang kembali!" Dapat Firman sambil menjabat tangan Arumi.
Arumi membalas jabatan tangan Firman sambil tersenyum.
"Om, bolehkan aku permisi pulang sebelum orang kantor yang lain?" Tanya Arumi dengan polos.
"Tentu boleh! Silahkan." Firman terbahak-bahak mendengar pertanyaan Arumi.
Arumi dengan cepat berlalu, Firman hanya geleng-geleng kepala. Ia tak menyangka Arumi akan secepat itu mempelajari laporan perusahaan dengan baik.
***
Arumi berlari kecil menuju gedung olahraga kota, tempat kompetisi berlangsung.
Dari luar telah terdengar hiruk pikuk suara penonton bersorak, dan bertepuk tangan.
Arumi segera masuk ke dalam gedung itu dan menuju belakang panggung mencari Leon dan temannya.
Setelah mencari-cari akhirnya ia melihat rombongan Leon. Bin melambaikan tangan saat melihat Arumi.
"Maaf aku terlambat!" Ucap Arumi.
"Tak apa, belum giliran kami." Balas Dito.
Arumi memberi semangat pada mereka. Lalu ia mengintip ke panggung dan para juri.
Betapa terkejutnya ia saat melihat wanita cantik yang duduk di kursi juri. Ia pernah melihatnya. Bersama Tuan Haris di mobil waktu itu.
"Bin, kamu tau jurinya?"
Bin menganguk, lalu menjelaskan nama nama juri kompetisi itu dengan bersemangat.
Arumi sangat terkejut saat mengetahui, jika juri itu adalah Mamanya Dito dan Nina.