
Monica menghela napas panjang setelah menyelesaikan membersihkan kedai kopi itu. Malam mulai larut dan udara dingin menusuk hingga ke tulang. Ia mencuci tangan dan melepas celemek lalu menaruh di loker pantri.
Ia mengambil jaket tebalnya dan mengenakannya, lalu berpamitan pada pemilik kedai yang juga tengah mengunci pintu kedai itu.
Monica merapatkan jaket dan mengenakan hoodie pada kepalanya, sambil membenarkan ranselnya, ia terus melangkah menuju apartemen tempat tinggalnya selama ini. Butir salju menempel di sepatu boot yang dikenakannya. Ia terus berjalan menyusuri trotoar, tempat tinggalnya dua blok lagi.
Monica masih kesal dengan Leon yang semaunya menentukan tarian bahkan jadwal latihan. Ia harus mengatur ulang jadwal kerjanya lagi, atau hal yang paling buruk adalah mengurangi jam kerjanya.
Gedung apartemen tempat tinggalnya telah di depan mata, beberapa orang masih berada di luar. Monica masuk dan naik ke lantai empat, menuju unit tempat tinggalnya.
Ia mengetuk pintu setelah sampai di depan pintu unit miliknya. Mama menyambut dengan senyuman.
"Mama membuatkanmu sup jagung, kesukaanmu. Ayo cepat masuk hangatkan dirimu!" Mama menarik Monica yang terlihat kuyu dan lelah.
"Bagaimana harimu?" Tanya Mama sambil mengambil mangkuk untuk menaruh sup di meja makan.
"Baik dan buruk!" Jawab Monica datar sambil mengelap wajahnya usai mencuci wajahnya.
Mama tersenyum mendengar jawaban putrinya itu. Monica selalu begitu, setiap hari selalu ada yang menyenangkan dan ada yang menyebalkan.
Monica kini telah duduk di meja makan bersama Mamanya, semangkuk sup telah ada di depannya, dengan roti sebagai pendampingnya.
"Pekerjaan atau kampus?" Tanya Mama.
"Kampus." Monica menyendok sup ke dalam mulutnya dengan lahap.
"Kabar baiknya, aku telah bertemu dengan pasangan menariku, dan telah menentukan tema tarian. Lalu kabar buruknya... Dia menyebalkan! Sangat menyebalkan dan egois!" Monica menyeruput sup sampai habis lalu meletakkan di meja.
"Apakah dia tampan?" Goda mama sambil menaikkan alisnya.
Monica hanya menghela napas dalam-dalam, dan menaikkan bahunya dengan malas.
"Tidak terlalu. Aku tidur dulu, Ma. Capek." Monica beranjak pergi menuju kamarnya yang sempit. Ia menutup pintunya, lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Ia mengambil ponselnya, lalu melihat kembali video yang dikirim oleh Leon. Ia memperhatikan kembali setiap gerakan yang dibawakan dalam video itu.
Tarian Arumi yang sengaja direkam oleh Arumi untuk Leon, sebagai pengobat rasa rindunya. Arumi mempelajari tarian ini sejak kecil dari mamanya. Itu adalah salah satu tarian yang mamanya ciptakan saat masih menjadi penari. Arumi sengaja membuat kostum dan lagu yang sama seperti yang mamanya lakukan.
Beberapa hari yang lalu, Leon menghubungi merindukan dirinya. Begitu juga Arumi yang merindukan Leon. Leon mengirimkan beberapa video tentang suasana musim dingin, dan ia merindukan kehangatan Arumi. Sebagai balasannya, Arumi mengirim video tarian itu untuknya. Arumi mengatakan, itu tarian dapat dilakukan lebih dari satu orang. Karena dulu, ia sering membawakan tarian itu bersama mamanya.
Leon melihat daftar tugasnya, ada salah satu tugas tarian berpasangan, ia telah mengetahui pasangannya, dan mempunyai ide membawakan tarian yang diberikan oleh Arumi itu. Ia sengaja melakukan itu, karena, biasanya Arumi memberi gerakan yang terlihat mudah, namun saat dilakukan ternyata tak semudah seperti yang dilihat.
Monica terus menatap video itu, makin lama rasa kantuknya menyerang dan matanya terpejam hingga pagi menjelang.
Monica terbangun, lalu bersiap-siap untuk menuju kampus untuk kuliah. Ia mengikuti kuliah kelas pagi hari itu, supaya dapat berlatih dengan Leon sorenya. Ia mengganti jadwal kerja hari itu siang hingga sore. Supaya dia tetap mendapat upah yang lumayan.
Sore hari ia berlari menyusuri koridor kampus, menuju sebuah ruangan, tempat yang disebutkan oleh Leon. Ia berlari dengan cepat karena telah sedikit terlambat. Sambil terengah-engah ia menaiki tangga kampus hingga ke sebuah ruangan kosong yang jarang dipakai.
"Kamu terlambat!" Teriak Leon saat Monica membuka pintu ruangan sambil terengah-engah.
Monica dengan wajah memerah, berusaha mengatur napasnya dan emosi.
Leon hanya menatap dingin ke arah Monica dan menyetel musiknya. Lalu mereka langsung berlatih, tanpa memberi jeda pada Monica untuk beristirahat.
Monica yang kelelahan, merasa sedikit pusing saat melakukan gerakan memutar dan melompat. Ia berusaha untuk terus mengikuti setiap gerakan dan mengabaikan kondisi tubuhnya.
Setelah sekitar satu jam mereka menyelesaikan latihan. Leon tak banyak komentar, ia langsung menyeka keringat dengan handuk, lalu bergegas meninggalkan Monica yang masih sibuk mengatur napasnya.
"Brengsek!" Umpat Monica saat tubuh Leon menghilang dari balik pintu. Ia tak peduli Leon mendengar atau tidak makiannya barusan. Ia meluapkan kekesalannya.
Ia menghabiskan sisa air minum di botol, lalu menaruh botol dalam tasnya kembali.
Ia segera mengenakan jaketnya kembali dan keluar dari ruangan itu.
Sayup sayup ia mendengar suara musik terdengar dari sebuah ruangan. Ia mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia melihat sekelompok siswa menari dengan kompak, termasuk Leon.
Monica menjadi penasaran dengan Leon. Siapa sebenarnya pemuda itu. Sehebat itukah dia? Ia akan mencari tahu.
Di rumah Monica terus berlatih tariannya itu. Beberapa kali ia sedikit oleng dan ia merasa kakinya terkilir dan sakit. Tapi, demi beasiswa, ia akan terus berusaha. Monica sama sekali tidak pernah mendapat pelajaran menari guru atau sekolah menari. Ia mempelajari secara otodidak bersama Mamanya.
Mamanya dulu seorang balerina, namun karena diusir oleh keluarganya, akhirnya memutuskan untuk keluar dari sekolah menari itu. Mamanya mempunyai seorang saudara perempuan yang sangat menyayanginya. Kakaknya lebih dahulu menikah dengan seorang pengusaha, dan mengikuti suaminya. Saat papa mengusirnya, Kakaknya mencari dan menemukan dirinya di sebuah penampung tuna wisma. Akhirnya kakaknya lah yang membawa ke sebuah biara dan memberinya sejumlah uang, sebelum meninggalkannya untuk kembali ke negara tempat suaminya berada.
Elen, nama mama Monica. Akhirnya kehidupan berbalik, dari anak keluarga kaya, akibat terbuai janji manis lelaki, hamil, lalu dicampakkan, dan diusir oleh keluarganya. Tapi ia berusaha memberikan yang terbaik untuk putrinya itu. Pendidikan, bahkan kegiatan menari selau ia support.
Elen, sudah melupakan orang tuanya, dan tak berniat untuk kembali lagi ke sana. Ia bertekad untuk membesarkan anaknya sendiri, apapun keadaannya. Ia sangat kecewa pada papa dan mama yang sampai saat ini tak pernah mencarinya.
Kakak perempuannya lah yang beberapa kali mengunjungi, dan memberi sejumlah uang, bahkan perlengkapan menari untuk Monica. Bahkan uang sewa apartemen, kakaknya lah yang membayarnya. Tapi beberapa tahun ini, ia bahkan tak mendengar kabar apapun dari kakaknya. Seolah ikut menghilang di telan bumi.
Elen juga pernah mendengar bahwa putri kakaknya itu seorang penari, dan terakhir kakaknya memberi kabar, bahwa ponakannya sedang mengikuti turnamen menari internasional di Inggris.
Elen merindukan kakaknya. Ia ingin berbagi banyak hal padanya seperti dulu lagi, terlebih ingin bertemu dengan keponakannya sang penari berbakat, seperti putrinya.
"Aauuhhh....!" Pekik Monica dari ruang tengah.
Elen, bergegas mematikan kompor dan menuju ke putrinya.
"Astaga Monica! Kamu baik baik saja?" Elen memapah tubuh putrinya, membantu untuk duduk di sofa.
Kaki kirinya terlihat bengkak karena terkilir. Elen mengambil es, untuk mengompres kaki putrinya untuk meredakan nyerinya.
"Auu... Sakit, Ma!" Monica merintih kesakitan sambil menegangkan kakinya.
"Sudahlah, kamu istirahat dulu. Jangan dipaksakan!" Ucap Elen.
"Tugasku Senin depan, Ma! Tidak ada waktu lagi!" Ucap Monica sambil terisak.
Elen menatap ponsel putrinya, yang masih memutar video tarian yang akan mereka tampilkan.
Elen membulatkan bola matanya, mengambil ponsel putrinya itu, lalu memperhatikan video itu tanpa kedip.
"Marta...?!"