
Arumi terus menggerakkan kakinya yang jenjang di depan murid muridnya. Lalu mereka mengikuti kembali gerakan yang dibuat oleh Arumi.
"Bagus..!" Puji Arumi.
"Lanjut, satu.. dua.. tiga... empat! Lompat! Ulang lagi!" Serunya.
Sekitar satu jam kelasnya berlangsung. Murid muridnya mengikuti semua instruksi Arumi dengan baik.
"Bagus..! Kalian keren sekali hari ini." Arumi memberikan tepuk tangan untuk semua siswanya.
Mereka sangat senang dengan pengajaran dari Arumi. Semua siswa melakukan tips dengan Arumi sebelum meninggalkan ruangan itu.
Arumi menyeka keringat yang mengucur dari keningnya. Ia menunggu untuk kelas selanjutnya.
Arumi kembali mengajar setelah beristirahat selama tiga puluh menit, dan kembali mengajar selama satu jam ke depan.
Usai kelas berakhir, Arumi ke ruang ganti untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Lalu ia menuju bawah. Ia tertarik pada sebuah ruangan yang sedikit terbuka. Lalu ia mendekati ruangan itu.
Arumi mengintip dari pintu yang sedikit terbuka itu. Ia melihat Leon sedang berlatih dengan teman temannya di sana. Sekitar beberapa menit ia menyaksikan Leon berlatih, lalu pesan dari Tuan Haris masuk.
Ia mengatakan akan ada pertemuan sekitar dua jam lagi, acara makan malam untuk acara amal. Arumi menghela napas dalam-dalam, lalu ia berbalik untuk kembali menuju lantai bawah untuk pulang.
Bejo sudah menunggu di lobi. Saat melihat Arumi, ia segera bergegas menyambutnya, dan menuju ke mobilnya. Setelah membukakan pintu mobilnya, Arumi masuk. Lalu Bejo membawa Arumi untuk kembali pulang ke rumah Tuan Haris.
Setelah sampai di rumah terlihat sang perias telah tiba di sana untuk mendadani Arumi.
"Astaga, untung aku sudah mandi di sana." Gumam Arumi.
"Anda seorang penari yang hebat, Nyonya. Aku telah membaca artikel tentang kemenanganmu dua tahun silam." Ucapnya dengan kemayu.
"Terima kasih. Tolong beri riasan yang segar dan tidak menor ya." Pinta Arumi.
Sang perias itu menganguk mengerti. Ia melakukan permintaan Arumi. Ia memoles wajah Arumi, bagai pelukis yang sedang bermain-main dengan kuas dan cat air di kanvasnya.
Sekitar empat puluh lima menit Arumi berdandan. Lalu ia berganti pakaian pestanya. Sebuah gaun warna navy, dengan belahan paha yang seksi, tapi elegan, dengan sedikit motif Payet. Lalu ia mengenakan kalung dan gelangnya. Arumi mengenakan high heels berwarna senada.
Setelah selesai berdandan ia mengucapkan terima kasih pada sang perias itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, perias itu pergi dari kediaman Tuan Haris.
Arumi keluar dari kamarnya dan menuju ke bawah. Ia meniti anak tangga dengan hati hati. Tuan Haris telah menunggu di dekat tangga. Ia membantu Arumi di anak tangga terakhir, dengan mengulurkan tangannya.
Arumi menyambut tangan Tuan Haris lalu berjalan di sisinya. Will mengikuti mereka di belakang.
Mereka menuju mobil dan menuju ke arah lokasi acara makan malam itu.
Perjalanan membutuhkan waktu tiga puluh menit menuju lokasi itu.
Sesampainya di sana Tuan Haris menggandeng Arumi masuk menuju ruangan acara.
Arumi yang telah terbiasa dengan acara acara seperti itu, mulai tidak canggung lagi, dan ia dengan cuek menggandeng lengan suaminya dengan mesra.
Tuan Haris dan Arumi telah membicarakan tentang hubungan mereka. Yang akan berlangsung selama masa jabatan Tuan Haris, dan Arumi berhak untuk melakukan apapun yang ia suka. Tuan Haris juga meminta Arumi untuk meminum pil anti hamil, jika ia tidak ingin. Dan rutin melakukan tes kesehatan setiap bulannya.
Arumi mengikuti Tuan Haris, saat menyalami rekan pengusahanya.
"Aku dengar, Dipo sedang diincar oleh polisi. Kali ini kemungkinan ia tak akan selamat." Ucap teman Tuan Haris.
"Benarkah, dia bahkan bisa lolos dari mafia yang mengejarnya kemarin?" Ujar Tuan Haris tak yakin.
Tuan Haris melirik ke arah Arumi, yang mendengar semua percakapan mengenai keluarga Pamannya itu. Arumi buru buru buang muka, pura pura melihat ke arah lain, ya, melihat ke arah Nina yang sedang bernyanyi dengan suara merdunya.
Arumi berjalan ke arah meja kudapan dan memilih pie buah kesukaannya. Tuan Haris membiarkan berjalan sendiri, ia tau Will juga mengawasi istrinya saat itu.
Dari atas panggung Nina dapat melihat Arumi yang datang ke acara itu. Ia melambaikan tangannya, untuk menyapa Arumi, saat bernyanyi tadi.
Saat jeda menyanyi, Nina turun dari panggung dan mendekati Arumi di meja kudapan.
"Aku senang bisa bertemu denganmu." Sapa Nina.
"Begitu juga aku." Balas Arumi.
Mereka berbincang sambil menikmati kudapan yang tersaji.
Di sudut ruangan, Will mengamati keduanya. Sebenarnya, Will sangat ingin berkenalan dengan Nina, namun, itulah kelemahan Will, ia selalu gugup jika berhadapan dengan perempuan yang ia suka. Ia lebih memilih menghadapi mafia atau penjahat.
Nina melirik ke arah Will, dan melemparkan senyum ke arahnya. Detik itu juga Will diam membisu, tubuhnya terasa kaku dan seolah tubuhnya gemetar. Ia berusaha keras mengendalikan dirinya sendiri saat itu.
Ia meraih gelas koktail yang dibawa oleh pelayan dari nampannya. Lalu meneguk habis, dan menghembuskan napas lega setelahnya.
Arumi tersenyum senang bercampur geli melihat sikap Will saat itu. Ia berbisik pada Nina, lalu keduanya tertawa bersama.
Usai acara, mereka kembali ke kediaman Tuan Haris. Sesampainya di rumah, Will undur diri untuk kembali ke apartemennya.
Tuan Haris memegang tangan Arumi saat ia hendak berbalik menuju kamarnya. Lalu Tuan Haris menariknya dengan lembut masuk dalam kamarnya, lalu ia menutup pintu kamar. Kejadian itu tanpa sengaja dilihat oleh Leon, saat baru pulang juga ke rumah.
Ia mendengus kesal, lalu naik menuju kamarnya. Ia sangat cemburu saat melihat Arumi sedang bersama Ayahnya. Namun, ia tak dapat berbuat apa apa, yang ada ia hanya melampiaskan kekesalannya dengan mendengarkan musik melalui headsetnya.
Tuan Haris menatap wajah istri kecilnya. Efek minuman membuat gairahnya timbul. Dan Arumi pun mulai hapal akan kebiasaan suaminya.
Tuan Haris dengan sekali gerakan, langsung dapat membuka pakaian yang dikenakan oleh Arumi.
Arumi hanya terdiam. Ia masih merasa risih saat melakukan adegan suami istri bersama suaminya sendiri. Yang ada dalam benaknya itu adalah Papanya, dan tidak pantas.
Tuan Haris dengan lembut menyentuh kulit Arumi yang lembut, ia membuka penutup dada dan area bawah Arumi. Ia memberi kecupan lembut pada bibir dan lehernya, terdengar suara lembut dari bibir Arumi.
Pikirannya berkata tidak, namun reaksi alami tubuhnya selalu begitu, membuat suasana menjadi panas di tempat tidur itu.
Puas bermain dengan pada bagian atas, Tuan Haris depan lembut menyibak penutup bagian bawah Arumi, ia menjilati milik Arumi dengan lahap. Sehingga membuat Arumi berteriak keenakan, sambil menggerakkan tubuhnya.
Tuan Haris yang berpengalaman sangat pandai bermain hal seperti itu. Berkali kali Arumi dibuatnya berteriak dan membuat bagian sensitif tubuh Arumi basah. Dan dengan lembut ia memasukkan miliknya yang besar ke dalam milik Arumi. Mereka bergerak saling berlomba untuk menuju puncak masing masing. Hingga akhirnya tubuh keduanya menengang dan mencapai puncak.
Tuan Haris melepaskan miliknya dari Arumi.
Lalu Arumi segera memakai pakaiannya kembali dan keluar dari kamar Tuan Haris. Ia menuju kamarnya dan ingin segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat hendak menutup pintu, Leon menahannya, ia segera masuk ke dalam kamar Arumi, lalu menutup pintu kamar itu dan menguncinya.
Arumi menatap Leon sejenak, lalu ia memeluk pemuda itu dan menumpahkan semua kegalauannya. Ia sebenarnya tersiksa saat bercinta dengan Tuan Haris, ia merasa jijik menatap tubuhnya sendiri.
Leon mendekapnya, lalu Arumi mengurai pelukannya dan berjalan ke kamar mandi, Leon mengikutinya.
Arumi membuka pakaiannya satu persatu di hadapan Leon, entah mengapa saat bersama Leon perasaan malu itu tak ada. Leon yang menyaksikan itu hanya dapat menelan ludahnya sendiri tanpa berkedip.
Arumi membuka pakaian Leon satu per satu juga, lalu menuntun masuk dalam bathtub bersama.