
"Tuan, kalian mau ke mana?" Tanya resepsionis gedung walikota.
"Kamu mau bertemu dengan Haris." Jawab salah satu orang dari rombongan itu.
Serombongan orang memakai setelan jas hitam dan petugas keamanan bersenjata lengkap mengikuti mereka terus berjalan menuju ruang rapat.
"Tunggu!" Cegah resepsionis tadi.
"Tuan Haris dan para anggota dewan kota sedang rapat dengan walikota juga." Ucapnya.
"Ini urusan negara, kami sudah mendapat ijin walikota!" Hardik orang itu tadi, sambil terus berjalan menuju ruang rapat.
Ketegangan meliputi setiap ruangan dalam gedung tersebut. Beberapa karyawan yang bekerja di sana berlarian. Terutama yang atasannya berasa dalam ruang rapat pimpinan tersebut.
Orang orang yang datang tadi dan yang memegang senjata terus berjalan dengan tegap, hingga sepatu mereka terdengar berderap membuat ciut para pekerja yang melihat dan mendengarnya.
Seorang pegawai masuk melalui pintu, dan membisikkan sesuatu pada walikota. Walikota hanya mengangguk angguk sambil memperhatikan sekitarnya.
Tuan Haris yang berada di ruangan itu hanya memperhatikan setiap gerak gerik walikota. Saat Walikota sedang berbicara dengan sekretarisnya dengan serius, Tuan Haris langsung menyelinap melalui pintu samping diikuti oleh Will.
Tuan Haris bergegas menuju ruang kerjanya, Will mengikuti tanpa banyak tanya. Tuan Haris mengambil beberapa map dari lacinya, lalu membuka sebuah lemari kerjanya, dan menekan sebuah tombol di samping lemari. Secara tiba tiba, lemari tersebut sisi dalamnya bergeser, dan tampak sebuah pintu menuju ke sebuah lorong entah ke mana.
"Ayo Will!" Ucap Tuan Haris menyadarkan Will yang masih terbengong-bengong menyaksikan hal tersebut.
Will mengikuti Tuan Haris. Lalu Tuan Haris menekan sebuah tombol di dekat pintu, dan semua kembali ke bentuk awalnya.
Tuan Haris berjalan sambil menyodorkan sebuah kunci mobil pada Will. Will yang masih syok, hanya menerima sambil terus mengikuti atasannya. Ia ingin menanyakan banyak hal, tapi sepertinya saat ini tidak tepat.
Tuan Haris berjalan dengan tenang sepanjang lorong yang gelap tersebut. Will mengikuti langkah Tuan Haris, sambil menajamkan pandangan matanya supaya dapat melihat ke mana lorong ini akan membawa mereka keluar nantinya.
Tuan Haris berjalan lebih cepat saat mereka melihat sebuah cahaya di depan sana. Will mempercepat langkahnya, mengikuti Tuan Haris, dia pun penasaran, lorong ini menembus ke mana.
Tuan Haris menyibak rerimbunan rumput dan tanaman yang menutupi ujung lorong itu.
Dan mereka sampai di taman kota. Lorong tersebut tertutup oleh rimbunnya tanaman dan rumput liar, dan di depan adalah berupa tembok lapisan pagar, jadi orang orang tidak terlalu memperhatikan tempat itu.
Tuan Haris menuju ke sebuah kafe, yang juga menjadi miliknya.
"Itu mobilnya, Will." Instruksi Tuan Haris sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di depan sebuah kafe, miliknya yang berada di dekat taman kota.
Kafe tersebut terlihat sepi, karena jam kerja. Tuan Haris dan Will masuk ke mobil, lalu Will melajukan mobil itu ke jalan raya.
Ketika melewati balai kota terlihat banyak polisi dan petugas keamanan lain di halaman gedung berjaga, dan beberapa orang terlihat digiring masuk dalam mobil dan meninggalkan tempat itu dengan keamanan penuh.
"Kita ke kebun anggur saja, karena saat ini sedang tidak aman."
Will mengangguk mendengar perintah Tuan Haris, sambil terus fokus mengemudi mobil tersebut.
Tiba tiba ponsel Tuan Haris berbunyi. Saat melihat nama yang ada di layar, Tuan Haris segera menekan tombol jawab.
"Haris, kamu di mana? Ini banyak orang datang ke rumah. Papa sedang ada meeting di luar, sampai saat ini belum kembali. Mereka mengacak acak rumah. Entah apa yang mereka cari. Mama sudah histeris ini. Apa yang harus aku lakukan saat ini?" Viona memberondong dengan pertanyaan karena panik.
"Kamu tetap tenang, di rumah saja, temani mama. Sekarang aku tidak bisa ke sana sementara waktu, hingga keadaan aman. Aku akan cari keberadaan papa."
"Ya....."
Tuan Haris menutup panggilannya, sebelum Viona melanjutkan ucapannya.
Lalu Tuan Haris menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Tuan Marco, Anda ada di mana?"
"Haris, aku menunggumu di kebun anggur milikmu."
Tuan Haris menutup panggilannya, dan meminta Will untuk mempercepat laju kendaraan menuju ke perkebunan miliknya.
Mobil yang ditumpangi oleh Tuan Haris sudah memasuki kawasan perkebunan anggur. Will menurunkan kecepatan dan menuju ke sebuah pondok di tengah perkebunan anggur milik Tuan Haris. Bukan rumah yang biasanya. Namun, Will rupanya telah paham harus membawa majikannya ke mana di saat genting seperti ini.
Tuan Haris langsung turun dan menghampiri Tuan Marco, mertuanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tuan Haris saat berada di teras pondok.
"Ada yang membongkar semua rencana kita, Ris!" Ucap Tuan Marco sambil menggelengkan kepalanya.
Will turun dari mobil, dia menuju ke pondok, mengangguk hormat pada Tuan Marco, dan membuka pintu untuk atasannya dan mertuanya.
"Rencana tentang dana segar yang telah cair untuk pembangunan kota?"
"Ya. Walikota sudah mengetahui arah pengembangan dan larinya dana tersebut. Apakah kamu telah menyimpan semua dokumennya?"
"Saya telah membawa semuanya. Namun, salinannya ada pada Bill..." Tiba tiba seolah mengingat sesuatu, Tuan Haris memejamkan matanya.
"Tidak.. tidak mungkin. Tidak mungkin Bill yang melakukannya! Kami sudah lama bekerja sama. Apalagi dengan proyek proyek besar. Yang sebelumnya aman aman saja, mengapa dia melakukan semua ini?" Tuan Haris menggeleng kepalanya, lalu menuju ke sudut ruangan, ke arah mini bar. Dia menuang minuman dari botolnya ke dalam dua gelas.
Tuan Haris memberikan pada Tuan Marco, lalu keduanya meneguk minuman itu.
"Aku telah lama tak suka dengan Bill. Namun, kamu terus bekerja sama dengannya." Tuan Marco menghela napas dalam-dalam.
Tuan Haris duduk di sofa sambil menerawang menatap hamparan kebun anggur melalui jendela. Ia sungguh tak percaya Bill, sahabatnya, kakak iparnya dari Emma, selama ini mereka tidak pernah bermasalah. Bahkan Bill selalu menjadi tameng dari kesalahan yang pernah dilakukan oleh Tuan Haris selama ini.
"Beberapa bulan belakangan ini, aku mendengar Bill, bekerja sama dengan Broto. Aku tidak tahu untuk apa. Tapi yang jelas bisnismu telah menumbangkan bisnis Broto." Ucap Tuan Marco mengingatkan.
"Namun, ini hanya masalah bisnis Pa. Lagian aku juga belajar dengan Madam Fey sebelumnya. Lalu saat mereka menutup klub, mereka memindahkan pegawainya ke Singapura." Sahut Tuan Haris.
"Atau ada hal lain dari bisnis kita yang tak pernah aku tahu, Pa? Karena aku menyerahkan urusan klub pada Viona selama ini." Sambung Tuan Haris berusaha mengingat ingat.
"Kebakaran." Gumam Tuan Marco.
"Apa, Pa? Kebakaran?" Tanya Tuan Haris.
"Peristiwa kebakaran besar di pemukiman pusat kota. Yang lahannya akhirnya menjadi mega proyekmu, yang menghasilkan pundi-pundi uang padamu. Itu aku yang membuatnya." Tuan Marco akhirnya mengaku.
"Astaga!" Tuan Haris menatap ayah mertuanya tak percaya, dan menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana bisa?"
"Haris, kamu terlalu lemah untuk menjadi pimpinan! Aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi untuk mengurus hal sepele seperti itu." Ucap Tuan Marco sambil tersenyum sinis.
"Tapi ini menyangkut hidup banyak orang, Pa. Ada puluhan rumah di sana, nyawa orang dipertaruhkan di sana!" Tuan Haris seolah tak percaya mengetahui hal tersebut.
"Bisnis adalah bisnis, Ris. Aku tak suka kamu jadi cengeng dan lemah dalam melakukan hal itu. Walikota sudah tak bisa lagi aku kendalikan, dia mulai melaporkan pada pusat, dan bisnisku mulai dikorek korek oleh keamanan negara. Aku tak suka!" Tuan Marco geram dan menatap tajam pada Tuan Haris.
"Bagaimana, Anda tega?"
"Setiap orang yang mengusik bisnis, dan keluargaku, aku tak bisa tinggal diam. Kamu telah menguasai Viona, aku bisa melihat itu. Dan aku yakin, kamu bisa meneruskan bisnisku. Namun, terkadang orang orang di sekitarmu yang membuat kamu lemah, Ris." Tegas Tuan Marco.
Will yang berdiri di teras, mendengar dengan jelas semua pembicaraan Tuan Haris dan Tuan Marco. Di kepalanya teringat akan foto yang dikirim padanya tempo hari, dan tulisan yang ada di belakang.
Siapa pengirimnya?
"Jadi semua peristiwa besar yang selama ini terjadi adalah Anda?" Tanya Tuan Haris.
Tuan Marco tertawa.
"Itu adalah peringatan bagi yang mengusik hal mengenaiku. Aku tahu, kamu juga bukan orang yang seratus persen baik. Kita sama, itulah mengapa aku memilihmu untuk meneruskan mega proyek milikku."
"Senjata dan obat obatan itu. Ya, aku tahu, namun, aku tak mengira Anda benar benar terlibat sangat jauh."
"Temanmu, yang polisi itu, dia terlalu jauh menyelidikiku. Aku tak bisa biarkan hal itu terjadi. Aku berikan peringatan pertama padanya, namun dia tak peduli. Lebih parahnya, dia malah menggagalkan transaksi bisnisku saat itu. Itu sungguh tak dapat aku maafkan lagi. Aku menyuruh Dipo untuk menghabisi dia dan keluarganya, sebagai peringatan pada polisi lainnya, jika berurusan denganku!" Ucap Tuan Marco sambil menyeringai.
Will tersentak mendengar hal itu.
BERSAMBUNG