Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Perkelahian


Leon telah berangkat ke sekolah, entah kapan ia meninggalkan kamar Arumi.


Arumi segera mandi untuk membersihkan dirinya. Masih terbayang olehnya kejadian semalam bersama Leon. Setiap tetes shower bagai sentuhan jari Leon. Ia menikmati setiap kebersamaan dengan Leon. Ia berangan-angan dapat menari kembali bersama pemuda itu.


Arumi turun ke ruang bawah, lalu menuju meja makan. Mbok Darmi telah membereskan piring bekas sarapan Tuan Haris, yang telah meninggalkan rumah menuju kantornya.


"Silahkan sarapan dulu Mbak." Ucap Mbok Darmi menyambut Arumi.


"Iya Mbok. Tuan pukul berapa berangkat kerjanya?" Tanya Arumi.


"Bapak jam sembilan tadi berangkat. Karena tadi pagi, ada tamu." Jawab Mbok Darmi.


Arumi hanya ber-oh panjang, sambil mengoles roti tawar dengan selai kacang kesukaannya.


Ia menuang kopi ke cangkirnya, lalu menyesapnya perlahan. Ia mulai menikmati kehidupan di rumah ini.


"Mbak, saya senang Tuan Leon kembali lagi ke rumah." Ucap Mbok Darmi sambil menyapu ruang tengah.


"Memang sejak kapan Leon sering pergi?"


"Sebenarnya, sejak Ibu meninggal, Tuan Leon masih di rumah. Namun, sejak Bapak menyuruh berhenti menari. Tuan Leon, marah dan jarang pulang. Saya khawatir, tinggal di mana selama pergi itu." Ucap Mbok Darmi dengan sedih.


"Sudahlah, Mbok. Sekarang dia sudah di rumah. Saya akan bantu untuk menjaganya." Janji Arumi.


"Terima kasih, Mbak." Ucap Mbok Darmi. Lalu ia berlalu sambil membersihkan tempat yang lain.


****


Di sudut kantin sekolah, Gisel tengah menikmati semangkuk baksonya sambil terus menatap Leon.


"Heh, awas keselek kalo ga fokus makannya!" Ucap Andin sambil menepuk bahu Gisel.


"Apa Lo... Suka suka gue lah makannya!" Teriak Gisel.


"Kenapa liatin Leon terus? Naksir?" Tanya Andin, sambil ikut menatap Leon yang sedang berjalan ke arah kantin.


Mereka terus menatap Leon, hingga tepat di depan mereka. Leon hanya menatap dua gadis yang sedang terpesona olehnya. Dia menatap tajam keduanya, lalu berlalu menuju kursi bagian pojok.


"Leon, gimana rencana Lo untuk serang mereka lagi?" Tanya Dito.


"Sudahlah To, kita ga usah serang serangan gitu. Males gue berurusan dengan polisi lagi. Mana kemaren gue ketusuk lagi. Untung nyawa gue banyak, masih idup. Kalo gak, mati gue!" Ucap Leon cuek.


"Le, mau ikutan ini?" Bin yang baru datang, menyodorkan selembar kertas berisi pengumuman kontes dance.


Leon membaca iklan tersebut lalu menatap ke arah Dito dan Bin.


"Kalian mau ikutan?" Tanyanya balik pada dua temannya.


"Lumayan Le hadiahnya!" Celetuk Bin.


Leon menganguk.


"Dito, ntar kabari personil kita yang lain, kita coba buat kreasi koreo yang keren." Pinta Leo pada Dito.


"Masalahnya kita akan latihan di mana?" Tanya Dito.


"Gampang itu, semua biar gue yang atur. Lo hanya perlu kumpulkan team kita dan waktu buat berlatih." Atur Leon.


Tampak segerombol orang berjalan menuju tempat Leon, Dito, dan Bin.


"Heh, Leon. Ayo kita serang anak 21 tar siang!" Ajaknya.


"Heh, maaf saja. Gue ga mau lagi ikut penyerangan. Kemarin saat gue ketusuk, kalian semua pada kemana? Kabur semua! Gue sendirian menyelamatkan diri! Dasar pengecut!" Hardik Leon.


"A**Jing Lo! Berani bilang gue gitu!" Tantangnya.


"Apa Lo!"


"Dasar bencong Lo! Kalo Lo beneran laki, ayo hadapi gue!" Tantangnya kembali.


Leon hanya menatap tajam pada Andra.


"Ayo, benci! Pasti pukulanmu seperti perempuan!" Ejek Andra.


Leon hanya diam, berusaha untuk tidak terpancing. Ia lalu berbalik hendak meninggalkan Andra. Andra menarik kemeja Leon dan hendak memukulnya, namun Leon tampak lebih gesit. Ia menghindar, lalu menyerang balik ke arah Andra.


Hanya dengan sekali balasan, kini Andra terjatuh dan meringis.


Leon terus berjalan meninggalkan tempat itu. Andra yang masih tak terima, bangkit berdiri dan mengejar Leon. Ia menyerang Leon, menendang dan memukulinya, namun lagi lagi dapat dibalas oleh Leon.


Teman teman mereka mengelilingi dan bersorak meneriakkan nama Leon dan Andra.


Dari ruang guru, terlihat keributan dari arah lapangan. Beberapa guru melerai keduanya, lalu membawanya ke ruang konseling.


****


Arumi tiba di sekolah Leon, sekolahnya juga dulu, ya dua tahun yang lalu. Ia berjalan menuju arah ruang kepala sekolah, dengan diawasi oleh puluhan pasang mata yang menatapnya.


"Selamat siang, Pak." Sapa Arumi pada Kepala Sekolah.


"Oh, Rumi. Kamu yang jadi walinya Leon sekarang?" Tanya kepala sekolah.


"Benar Pak." Jawab Arumi.


"Baiklah Rumi, jadi Leon berkelahi dengan Andra. Bapak, tidak akan memberi hukuman apapun padanya kali ini, namun jadi peringatan. Seandainya mengulang lagi, akan Bapak hukum." Ucap kepala sekolah.


"Baik Pak." Jawab Arumi dengan sopan.


"Sekarang kamu boleh pulang Leon, dan jangan berkelahi lagi, apalagi tawuran! Bapak akan sangat kecewa dengan kalian, jika melakukan hal itu!" Kepala sekolah memperingatkan Leon.


"Tolong, Bapak juga bilang itu ke Andra. Karena dialah biang dari setiap keributan." Ucap Leon tak terima.


Kepala sekolah hanya menatap Leon sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangannya.


Arumi dan Leon pun pergi dari ruangan itu.


Ayah Andra adalah salah satu donatur sekolah. Setiap keributan yang dibuat oleh Andra, lawannya lah yang mendapat hukuman, sedangkan Andra hanya dapat menertawakan lawannya.


Arumi dan Leon masuk ke mobil, lalu Bejo sopir mereka segera melajukan kendaraan.


"Bejo, antar saya ke sekolah ya. Nanti tolong antar Leon pulang." Pinta Arumi dengan sopan.


"Baik Mbak." Jawab Bejo.


Arumi dan Leon duduk di bangku belakang, mereka saling diam menatap jalan melalui jendela mobil.


Tiba tiba, tangan Leon menggenggam jemari Arumi.


"Astaga!" Pekik Arumi dalam hati. Sensasi rasa itu timbul kembali. Entah mengapa saat bersama Leon, ia selalu terpesona. Meskipun usianya beberapa tahun di bawahnya, namun pembawaan Leon yang tenang dan misterius, membuat Arumi selalu terbius.


Mobil berhenti di depan sekolah tari milik Tuan Haris.


"Pak Bejo, aku akan turun di sini saja, sambil menunggu Arumi selesai." Ucap Leon.


Arumi terkejut dan menoleh ke arah Leon.


Leon hanya tersenyum menatap Arumi.


Bejo hanya mengangguk, seperti biasa ia akan setia menunggu di ruang lobi atau pun pantri jika membutuhkan secangkir kopi untuk mengusir kantuk.


Arumi menyapa beberapa siswa yang lewat, anak anak membalas Arumi dengan ramah.


Sampai di kelas, Arumi mengajar seperti biasanya.


Leon menuju sebuah ruangan di lantai atas. Tempat biasanya Mamanya mengajar dulu. Kini ruangan ini, hanya di gunakan untuk kelas tambahan saja.


Daya magis aura Nyonya Haris benar benar menyatu dalam ruangan itu.


Leon menatap dirinya lewat cermin. Bibir sedikit robek. Arumi tadi sempat membersihkan lukanya, namun belum selesai, karena harus buru buru mengajar.


Leon tak menyalahkannya. Ia selalu senang berada di dekat Arumi. Meskipun ia sadar, perempuan itu adalah istri Papanya yang baru.