Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Kaki Terkilir


"Gerakan penuh emosi?" Ucap seseorang, membuat Arumi terkejut dan tubuhnya oleng, tak seimbang.


Bruk...


"Aduh...!" Jerit Arumi kesakitan. Sambil meringis, Arumi memijat kakinya yang terasa nyeri.


Leon segera mendekat, dan memegang pergelangan kaki Arumi.


"Tolong tahan sedikit rasa sakitnya." Instruksi Leon, sambil memijat dan memutar daerah kaki yang terkilir.


"Aaakkkk... Aduh..!" Arumi menggigit handuk kecil miliknya, sepersekian detik ia masih merasa nyeri.


"Masih sakit?" Tanya Leon dengan khawatir. Arumi hanya mengangguk.


Leon meraba kaki Arumi, lalu memijat kembali, bak tukang urut panggilan. Ia memijat salah satu bagian kaki Arumi yang terkilir tadi perlahan, seolah ia tahu pusatnya. Dengan satu hentakan, ia menarik kaki Arumi.


Krek..!!


Arumi dengan wajah kesakitan, masih menggigit handuk kecil untuk lap keringatnya, dengan mata melotot ke arah Leon, ia memukul lengan Leon.


"Aduh.. gila kamu! Sakit tau!" Pekik Arumi sambil meringis menahan sakit.


"Coba gerakan perlahan." Pinta Leon yang masih khawatir dengan kondisi Arumi.


Arumi mencoba menggerakkan kakinya perlahan-lahan sambil menahan rasa sakitnya.


Terasa lebih mudah digerakkan, ia menatap Leon tak percaya.


"Bagaimana kamu melakukannya?" Tanya Arumi.


"Mama yang mengajariku." Ucapnya sambil tersenyum.


Arumi menatap Leon dan tersenyum. "Terima kasih!" Ucapnya.


Sentuhan tangan Leon saat menangkap tubuh Arumi, membuat sensasi aneh pada tubuhnya. Reaksi biologis tubuh Arumi bekerja saat berdekatan dengan Leon.


"Biar aku gendong ke kamarmu, supaya tidak jatuh lagi." Leon langsung membopong tubuh Arumi.


"Huh... Ternyata berat juga!" Keluhnya saat Arumi dalam gendongannya.


"Heh, kalo ga mau, ya turunkan saja. Aku bisa jalan sendiri!" Balas Arumi.


"Dengan kaki bebekmu itu? Gak mungkin!" Ejek Leon cuek, yang tetap berjalan sambil membopong tubuh Arumi.


Arumi hanya mendelik mendengar ucapan Leon itu. Ia menatap tajam pada pemuda yang itu.


Arumi merangkul leher Leon supaya tidak jatuh. Wajah Leon terlihat dengan jelas. Seandainya detak jantungnya ada pengeras suara, pastilah Leon akan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Jantung Arumi seakan melompat lompat, saat berada dalam dekapan Leon. Hangat tubuh Leon membuatnya ingin memeluk pemuda itu.


"Huh, Ibu tiri macam apalah aku ini? Mengapa anak sendiri selalu dalam ingatan ini?" Batin Arumi.


Leon membuka pintu kamar Arumi, lalu dengan sebelah kakinya menutup pintu tersebut. Meletakkan tubuh Arumi di tempat tidur. Membuat tubuh mereka saling berdekatan hingga tak berjarak.


Saat Arumi berada di atas ranjang, Ia menautkan bibirnya pada bibir Leon. Untuk sesaat Leon terdiam. Beberapa detik kemudian, Leon membalasnya dengan lembut dan hangat.


Bibir dengan bibir, mereka saling bertukar saliva dan menuangkan hasrat jiwa mudanya.


Tangan Leon bermain di daerah dada, bermain dengan gunung kembar milik Arumi, lalu Arumi melepas kaos Leon, begitu pula, pakaian Arumi pun mulai terlepas.


Leon melahap gunung kembar Arumi satu persatu, menyusu seperti bayi pada ibunya. Membuat Arumi tak tahan lagi, entah sensasi itu membuat dirinya seakan ingin meledak. Jemari Leon berkelana hingga area bawah, ia membuka pelindungnya, lalu menyusuri setiap jengkal tubuh Arumi.


Rintihan nikmat keluar dari bibir Arumi, tampak sesekali Arumi menggigit bibir bawahnya saat Leon membuat gerakan yang membuatnya gubuk sensasi nikmat itu.


Tiba tiba Leon menghentikan aktivitas intim mereka.


"Maafkan aku! Besok aku harus sekolah. Selamat Malam." Ucap Leon seraya berbisik tepat di telinga, membuat bulu kuduk Arumi berdiri.