Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Negosiasi


Pagi itu di meja makan, Tuan Haris telah duduk sambil membaca surat kabar seperti biasanya. Arumi yang hendak sarapan hanya tersenyum sambil menghempaskan pantatnya ke kursi.


Leon dan Gisel telah berangkat ke sekolah lagi itu.


Arumi mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai coklat kacang favoritnya.


"Thomas sudah menghubungimu?" Tanya Tuan Haris, masih dengan membaca surat kabar.


"Sudah. Minggu depan dia wisuda. Dan setelah itu ia akan kembali ke Indonesia. Nanti aku akan menanyakan lagi rencana kepulangannya untuk mengurus tiketnya." Jawab Arumi sambil mengunyah roti selainya.


"Kuliahmu bagaimana?"


"Lancar, baik baik saja. Aku hanya mengurangi jam mengajar di sekolah menari itu." Jawab Arumi.


"Oya, aku kemarin dimintai tolong oleh Nina untuk membuat koreografi untuk video klip singlenya. Nina juga beberapa bulan yang lalu belajar secara privat bersamaku. Hmmm... Aku heran, kenapa dia tidak meminta tolong mamanya saja ya?"


Arumi melirik Tuan Haris, memancing suaminya untuk bereaksi, namun ternyata Tuan Haris masih terlihat tenang meminum kopinya sambil memeriksa ponselnya.


"Setelah kelulusan, apakah aku bisa merekrut Gisel untuk membantuku? Lalu Thomas akan bekerja di mana?" Tanya Arumi.


"Thomas akan membantuku di anak perusahaanku. Supaya Will fokus pada perusahaan anggur milikku. Rumi, aku minta kamu membantu Leon selama audisi hingga mengurus masuk ke sekolah menari itu. Aku percayakan dia padamu. Nanti tolong bantu Carikan tempat tinggal untuknya di sana."


"Baik. Apakah Viona ada andil dalam suksesnya Leon dan teamnya kemarin? Karena ada Dito dalam team Leon."


Tuan Haris menatap Arumi.


"Aku tidak tahu. Dan aku tak ada urusan dengan acara menari dan keinginan Leon masuk ke sekolah menari."


Arumi menganguk.


"Lalu hubungan anda dan Viona? Hmm... Maksudku sedekat apa hubungan Anda dan Viona, mengingat dia teman istri anda. Apakah ada jaminan Leon pasti lulus audisi masuk di sana?" Arumi sengaja bertanya untuk memancing Tuan Haris menceritakan kedekatannya dengan Viona.


"Tidak. Aku tidak dekat dengannya, tidak terlalu memgenalnya. Ya, dia memang sahabat istriku. Hanya itu saja yang aku tahu. Dia orang tua dari Dito, sahabat Leon. Orang tuanya adalah petani dan peternak yang sukses. Kami tergabung dalam paguyuban pengusaha pemilik area pertanian." Sahut Tuan Haris lalu menyesap kopinya.


"Bukankah dia teman sekolah anda?"


Tuan Haris menatap Arumi dan mengerutkan keningnya.


"Ya, dia teman sekolahku dulu. Sama halnya Gisel dan Leon. Jika berteman wajar."


"Tadi anda bilang tidak dekat, tidak terlalu mengenalnya. Padahal dia teman anda sejak kecil hingga sekolah menengah atas." Sela Arumi.


"Apa maksudmu?"


"Aku melihatmu dengannya di rumah kebun anggur." Jawab Arumi.


Tuan Haris terkejut dan menatap tajam ke arah Arumi.


Di saat yang sama Bill, pamannya Leon dan Will datang.


"Halo selamat pagi cantik! Apakah kamu merindukanku." Sapa Bill sambil bercipika cipiki dengan Arumi.


"Ayo, bergabunglah sarapan bersama kami." Ajak Arumi.


Bill dan Will menuruti ajakan Arumi untuk bergabung sarapan pagi itu.


"Kopi atau teh, Tuan tuan?"


"Kopi dengan gula batu." Pinta Bill.


"Kopi dengan krimer." Ucap Will sambil terkekeh.


Arumi membuatkan minuman untuk kedua orang itu, lalu menyodorkan di hadapan mereka.


Tuan Haris berdiri hendak meninggalkan meja makan saat Will dan Bill menikmati sarapannya. Dia mendekati Arumi dan mencengkram lengan istrinya itu. Arumi mengerti isyarat Tuan Haris untuk ikut dengannya.


Tuan Haris menarik Arumi masuk ke dalam kamarnya. Terdengar suara tawa Bill dari ruang makan, bergurau meledek Tuan Haris dan Arumi.


"Dasar pasangan baru, apa tidak puas tadi malam?" Gurau Bill terbahak.


Tuan Haris menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


"Apa yang kamu lihat di sana?" Tanyanya.


"Semuanya."


"Kamu cemburu?"


"Tidak."


"Lalu mengapa kamu marah?"


"Itulah adalah tugasmu. Aku dan Viona. Akan aku ceritakan nanti. Yang jelas bantu aku untuk tidak menceritakan hal tersebut."


Arumi hanya mengehela napas dalam-dalam mendengar permintaan Tuan Haris.


"Rumi, dia memiliki keluarga. Dan keluarganya semua akrab dengan infotainment. Aku tak mau hal ini tercium wartawan itu." Pinta Tuan Haris dengan tatapan serius.


"Karir anda?" Tebak Arumi.


"Keluarga juga. Aku tak mau skandal ini terkuak, Rumi. Aku percaya padamu." Tatap Tuan Haris seolah memohon.


"Lalu aku bagaimana? Setelah kamu dapat mau anda, lalu aku?"


"Perusahaan papamu dapat kamu miliki kembali. Dan perusahaan Dipo, dapat kamu ambil juga."


"Hubungan kita?" Arumi mencoba bernegosiasi.


"Sampai jabatanku berakhir."


"Baiklah. Tapi, jika anda mencalonkan lagi?"


"Aku belum tahu. Tekanan pemerintah sangat berat. Sepertinya cukup kali ini." Jawab Tuan Haris.


"Ingat, Anda punya hutang cerita padaku." Sergah Arumi sebelum membalikkan tubuhnya hendak keluar kamar itu.


"Ya." Jawabnya.


"Rumi." Panggil Tuan Haris, yang membuat Arumi menoleh menatapnya.


"Terima kasih."


Arumi membalas dengan senyuman. Lalu ia membuka pintu gagang pintu, lalu keluar dari kamar itu. Diikuti oleh Tuan Haris


"Ckckck... Kalian ini benar benar pasangan yang tengah dimabuk kepayang. Pagi pagi malah sibuk dalam kamar." Celetuk Bill sambil bercanda.


"Ah... Sudahlah. Jika kamu ingin, kamu bisa kembali pulang." Balas Tuan Haris.


Bill hanya terbahak-bahak menanggapinya


"Ayo kita bicarakan di dalam ruangan kerja saja." Ajak Tuan Haris pada Bill. Ia merangkul saudara mendiang istrinya itu dengan akrab masuk ke ruang kerjanya diikuti oleh Will.


Arumi mengambil sebotol air mineral di meja makan lalu meneguk setengahnya. Ia membawa botol yang masih setengah itu menuju ruang menarinya.


Ruangan itu sudah seperti ruang kerjanya. Bahkan ia lebih sering di ruangan itu daripada kamarnya.


****


Gisel menatap Leon saat mereka di kantin. Ia menyukai anak tiri sepupunya itu.


"Tapi, sepertinya ia tak menghiraukan aku." Gerutu Gisel dalam hatinya.


Leon mengobrol dan tertawa dengan teman temannya. Leon memang terkadang membantunya saat diganggu oleh lelaki yang mencoba menggoda Gisel, tapi seolah ia memberi jarak untuk dirinya sendiri. Lama lama Gisel curiga, Leon tidak menyukai perempuan, karena sama sekali tak tertarik dengan satupun gadis gadis di sekolahnya itu.


"Hei, lagi ngapain? Nglajor ya?!" Tebak Andin saat menyapa Gisel.


"Nglajor?" Gisel mengerutkan keningnya.


"Ngelamun jorok, Nek..!" Kikik Andin.


Langsung Gisel memukul lengan Andin.


"Aduh.... Sakit tau!" Pekik Andin sambil meringis.


"Rasain Lo!" Sahut Gisel.


"Bela mana nih?" Tanya Andin.


"Bela tadi dipanggil oleh Pak Mur dan kepala sekolah. Karya tulisnya sepertinya juara. Tadi, aku juga melihat Bin dan Rere juga masuk ke kantor." Jawab Gisel.


Andin mengambil bakwan yang tersedia di meja kantin dan memakannya.


"Ndin, menurutmu, Leon itu suka perempuan tidak?" Tanya Gisel berbisik.


Sontak membuat mata Andin melotot dan menatap Gisel, lalu mengarahkan tatapannya ke arah Leon. Gisel menganguk sambil menaikkan alisnya.


"Menurutmu dia lelaki tulen. Hei, bukannya kalian satu rumah, mengapa tidak mencari tahu sendiri, girl?!" Sahut Andin sambil menyeringai.


Gisel menatap Leon, lalu muncul ide di kepalanya.