Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Perkebunan Anggur


"Aku punya bukti yang menusuk Will itu adalah suruhanmu, kan? Sudahlah, kamu ingin membunuh Leon? Mengapa? Dia tidak pernah sekalipun mengusikmu?" Gisel berteriak pada Andra saat di berpapasan kembali dengan Andra di lorong sekolah.


Andra dan gengnya menatap Gisel.


"Menyingkirlah! Aku tak mengganggu perempuan." Ejek Andra.


"Bangsa*t!" Pekik Gisel.


Andra menganggukkan kepala pada gengnya, lalu dua orang memegangi tangan Gisel. Lalu mendorong dan menguncinya, lalu menariknya paksa menuju kamar mandi di belakang sekolah. Gisel meronta-ronta dan berteriak.


Teman teman melihat dari kejauhan, diantara mereka ada yang mengikuti Andra dan gengnya dan merekam kejadian itu.


Tubuh Gisel didorong pada tembok. Andra meraba raba tubuh Gisel dengan beringas, Ia menciumi wajah Gisel.


"Heh, kamu mau memperkosa aku?" Ledek Gisel sambil tersenyum sinis.


"Bangsa*t, dasar perempuan murahan!" Bentak Andra, sambil menindih tubuh Gisel.


Plakk...


Andra menampar wajah Gisel hingga membiru dan bibirnya berdarah karena robek.


Gisel menyeringai menatap Andra dan teman temannya seolah mengejeknya.


"Hentikan!" Teriak kepala sekolah yang telah berada di tempat itu. Terlihat guru guru juga telah berada di sana.


"Andra, hentikan semuanya! Kamu dan semua temanmu ayo ke ruangan guru, segera!" Perintah kepala sekolah dengan tegas.


Andra mendengus kesal dan menghempaskan tubuh Gisel dengan kasar ke lantai kamar mandi bau itu.


Bin, yang merekam semua kejadian di sekolah, segera mengirimkan pada Tuan Haris dan Papanya, yang menjabat sebagai walikota.


"Kali ini akan kubiarkan dia jera!" Gumam Bin.


Leon tersenyum menatap Bin dari kejauhan.


"Kamu berani sekali!" Puji Dito pada Bin, saat mereka berkumpul di kantin.


Bela dan Andin memapah Gisel duduk di kantin sambil memesankan semangkuk bakso untuk Gisel.


"Hei.. Aku tidak apa apa." Tolak Gisel, saat Bela hendak membersihkan lukanya.


"Dasar sok jagoan!" Ledek Leon, yang duduk tak jauh dari tempat duduk Gisel, Bela, dan Andin.


Gisel hanya melirik ke arahnya, dan tak mempedulikan mereka.


****


"Lihatlah!" Ucap Tuan Haris pada Arumi saat menemaninya dalam mobil.


Arumi memperhatikan ponsel yang disodorkan oleh Tuan Haris padanya, video kiriman Bin tentang perbuatannya pada Gisel saya di sekolah.


"Apakah dia akan jera kali ini?" Tanya Arumi.


"Jika video ini sampai pada Ayahnya, makan anak nakal ini akan mendapat hukuman." Jawab Tuan Haris dengan tenang.


Selama Will berisitirahat masa pemulihan, Arumi membantu mengurus setiap pekerjaan Tuan Haris.


Arumi mulai banyak hal untuk mengurus perusahaan. Ia bertemu dengan banyak orang dan belajar cara membaca laporan keuangan, cara menjalankan perusahaan, dan cara menghadapi para pegawai dan klien.


Tuan Haris banyak membantunya dalam hal itu. Dalam sepekan, banyak hal yang berubah dari Arumi, dia cepat belajar dan telah sedikit dapat dilepas untuk memimpin meeting di perusahaan milik Papanya.


Jadwal mengajar Arumi pun menjadi kacau, ia meminta asistennya untuk menggantikan dirinya mengajar, namun anak anak muridnya selalu mencarinya.


Seminggu yang berat buat Arumi hari itu.


Ia menghela napas di samping Tuan Haris dalam mobil. Ia menatap layar tab nya membaca satu per satu email yang masuk.


Lalu ponselnya berbunyi, beberapa pesan dari siswa menarinya yang menanyakan kehadirannya dalam acara pesta seni kota akhir pekan ini. Arumi benar benar mengerahkan segenap kemampuannya untuk bisa mengikuti dengan baik.


"Arumi, aku bukan hanya akan mengajarimu cara mengurus perusahaan, tapi jika dalam enam bulan ini hasil kerjamu memuaskan, perusahaan milik Papaku sepenuhnya akan menjadi milikmu." Ucap Tuan Haris, saat memanggil Arumi untuk masuk ke ruang kerjanya.


Arumi hanya diam dan menatap tak percaya pada Tuan Haris.


"Aku ingin kamu memberikan contoh dan pengertian pada Leon, untuk membantuku mengurus perusahaan milikku ini. Aku yakin dia lebih mendengarkan kamu dari pada perintahku." Lanjut Tuan Haris, menyiratkan permintaan pada Arumi.


Arumi mengangguk menyanggupi permintaan suaminya itu. Maka ia benar benar belajar banyak hal baru untuk menjalankan perusahaan.


Hari ini Arumi menemani Tuan Haris untuk meeting bersama klien dari luar negeri. Untuk membahas rencana pembelian mereka. Hasil anggur dari perusahaan Tuan Haris memang sangat terkenal, sehingga penjualannya sampai ke seluruh dunia.


Selesai meeting, Tuan Haris mengajak Arumi pergi ke perkebunan anggur miliknya yang terletak di pinggir kota. Baru kali ini Arumi pergi ke tempat itu. Suasana pedesaan yang tenang, dan dikelilingi oleh bukit-bukit. Arumi menatap takjub pemandangan disekelilingnya.


"Ini semua milik Anda?" Tanya Arumi dengan kekaguman.


"Ya. Ini milikku semua. Warisan dari keluargaku. Sedangkan perkebunan yang ada di kota sebelah, itu milik istriku. Aku yang mengelolanya juga, namun itu telah diwariskan untuk Leon." Ucap Tuan Haris menerangkan.


"Apakah keluarga istri Anda tidak keberatan jika dikelola oleh Anda?" Tanya Arumi.


"Istriku anak tunggal. Orang tuanya masih ada, namun mereka sudah tua. Jadi, mereka meminta tolong padaku, hasil perkebunan dikirim langsung ke pabrik anggur milikku. Hasilnya tetap aku kirimkan padanya selama ini. Kami tetap saling berhubungan baik. Leon pun demikian, namun sejak Mamanya meninggal, ia belum pernah menjenguk Oma dan Opa ya di kota sebelah." Cerita Tuan Haris.


"Apa perkebunan anggur di sana juga sebesar ini?" Tanya Arumi.


"Milik istriku lebih besar lagi, di sana wilayahnya sebagian besar masih alami, dan di pedesaan. Sebagian besar penduduk desa adalah pekerja kebun anggur milik keluarga istriku. Jadi, setelah menikah denganku. Perkebunan anggur milik Mamanya Leon aku juga yang mengelolanya. Ada pembagian hasil dari sana, jadi semua murni bisnis. Aku pun selalu melaporkan setiap hal mengenai perkebunan itu pada mereka." Lanjut Tuan Haris.


"Lalu, Bill? Bukankah katanya dia kakak dari mamanya Leon?" Arumi mengingatkan seseorang yang pernah dikenalkan padanya dulu.


"Bill adalah anak angkat. Dia memiliki sebagian bidang tanah dan perkebunan juga, pemberian dari orang tua istriku. Dia memiliki bisnis juga di sini. Jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan harta milik orang tua angkatnya itu. Bahkan dialah yang menjaga mereka saat ini."


Arumi hanya bisa mengangguk kepala mengerti.


Mereka sampai di sebuah rumah kecil di tengah perkebunan anggur itu. Aromanya di sana sangat segar. Arumi turun dari mobil dan berlari kecil mendekati pohon pohon anggur yang berbuah rimbun.


Ia memetik buah itu dan memakannya. Tuan Haris hanya tersenyum melihat tingkah istri kecilnya itu.


Mereka menghabiskan hari itu di perkebunan, Arumi berkeliling sambil menyapa pekerja pekerja di sana. Dia berkeliling dengan gembira.


Ia teringat akan Papanya yang selalu mengajak dirinya ke perkebunan jeruk miliknya di desa dulu. Arumi akan memetik dengan gembira, memasukkan ke keranjang, lalu memamerkan pada Mamanya.


Ia pun kini telah memegang sekeranjang buah anggur di tangannya, lalu membawanya masuk ke dalam rumah kecil itu. Di Tuan Haris sedang duduk menatapnya.


Ia mendekati Arumi, lalu menutup pintu rumah mungil itu. Dan mereka menghabiskan sore dengan beraktifitas fisik dalam rumah kecil itu.