Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Rahasia mulai terkuak


Arumi dan Monica tertawa bersama sama saat melihat sebuah album foto yang berisikan gambar gambar mereka saat Arumi dan keluarganya berlibur ke Amerika belasan tahun silam. Foto foto Arumi bersama Monica, bersama mama dan papanya, dan gambar gambar mereka bersama sama. Ia merasa sangat rindu akan mama dan papanya.


"Mengapa Bibi Elen tidak kembali lagi ke rumah kakek?" Tiba tiba pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Arumi.


Hening... Untuk beberapa saat Bibi Elen termangu. Lalu ia menatap lembut ke arah Arumi.


"Mereka tak akan mau menerima kami lagi." Ucap Elen membuka suaranya dengan lirih.


Ia teringat peristiwa malam itu, papa dengan murka mengusirnya, dan Mama hanya menatapnya dengan penuh kemarahan.


Mama dan Papa marah bukan tanpa alasan. Mereka telah memperingatkan Elen untuk menjauhi Haris kala itu, karena mereka mengetahui Haris akan menikah dengan Emma, yang merupakan sahabat dari Martha, kakak Elen.


Martha telah memperingatkan Elen, lalu meminta Mama dan Papanya juga menasihati adiknya itu berulang kali.


Namun pesona Haris membius Elen yang masih muda dan lugu kala itu. Saat itu ia juga terlibat dalam resital tari yang besar, satu panggung bersama penari senior lain, termasuk Emma, Viona, dan Martha. Karena mereka bertiga merupakan penari sentral dalam pertunjukan itu.


Saat itu, Elen yang masih siswa junior, hanya sebagai penari latar saja, namun menjadi salah satu incaran Haris, saat tidak bersama Emma.


Mereka sering bertemu diam diam, dan melakukan hubungan intim yang seharusnya tidak mereka lakukan.


"Tubuhmu harum dan lembut sekali, Elen.." Bisik Haris tepat di telinga gadis itu.


Elen melenguh dengan suara manja, seakan meminta lebih.


Haris menyusuri wajah gadis lugu itu dengan tangan kokohnya, lalu meraih dagu Elen dan sedikit mengangkatnya, lalu menautkan bibirnya ke bibir gadis itu, dan mereka saling beradu saliva.


Haris menurunkan ciumannya ke leher gadis itu, yang membuat Elen memeluk dengan erat tubuh Haris dengan mengeluarkan suara suara rintihan manjanya.


Elen yang baru kali itu merasakan ciuman dan melakukan hubungan fisik, antara ingin menolak atau menerima setiap sentuhan dari Haris. Sentuhan fisik tangan dan bibir Haris di tubuhnya bagai sengatan listrik ribuan volt yang membuat tubuhnya tersentak dan bergetar, hingga sekujur tubuh. Saraf saraf dalam tubuhnya, seakan memberi respon yang berbeda dengan pikirannya kala itu.


Haris telah membuka satu persatu kancing kemeja Elen dan menanggalkannya di lantai, lalu ia mendaratkan kecupan demi kecupan pada dada Elen yang masih perawan itu, dan memberi tanda ciuman di setiap jengkal tubuh gadis itu.


Haris memainkan tangannya di dada gadis itu, lalu tangannya menuju punggung Elen, dan dengan satu hentakan, pelindung dadanya terbuka dan dilempar sembarang entah kemana, karena Haris sibuk menyusu puncak gunung kembar milik Elen yang pink merona itu. Elen memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya yang terlihat seksi itu.


"Nikmatilah, Sayaaang!" Ucap Haris sambil menyeringai. Ia terlihat puas saat melihat para gadis ketika mengerang, merintih, bahkan menjerit sambil memanggil namanya saat merasakan kenikmatan dari setiap sentuhannya.


Haris melepas kaosnya, lalu ia membalikkan tubuh Elen, tangannya masih bergerilya di dada gadis itu, dan mencium tengkuk Elen dengan buas, membuat Elen meraung.


Elen merasakan bagian miliknya terasa sangat bawah sekali, ada sensasi gatal dan dia sendiri tak dapat menjelaskan rasa itu.


Lalu Haris membuka pelindung bawah milik Elen. Dengan refleks Elen menutupi miliknya yang terbuka karena malu.


Haris menyingkirkan tangan Elen, dan menaruh di samping, lalu ia mendekati bagian itu dan membuka paha Elen dengan lebar.


"Astaga! Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Elen sambil melongokkan kepalanya menatap Haris yang ada di antara kaki Elen.


"Tenang, santai saja, Sayang." Bujuk Haris dengan suara lembut sambil tersenyum.


Ia membenamkan kepalanya di sana, dan mengaduk aduk dengan jarinya, membuat Elen menjerit "Haaaaaaaa....riiiss.... Ohhh..... Aaahhhh....!!"


"Haris, apa yang kamu lakukan? Kamu..Aahhh!" Hanya suara suara ah ih uh, yang terdengar dari mulut Elen.


Saat Haris mengaduk dan menjilat bagian itu, tubuh Elen mengejan, dan dadanya membusung, kepalanya melongok ke atas dengan mata terpejam, tangannya meremas rambut Haris menahan semua gejolak dari dalam dirinya yang seakan akan meledak.


"Lepaskan semua saja.. jangan kamu tahan, Sayang!" Ucap Haris seakan mengerti bahasa tubuh gadis yang dinikmatinya kali ini.


"Hhhhaaaaariiiiisssss...!!" Lolongan Elen bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari miliknya. Haris menyeringai dengan senang mendengar gadis lugu itu melepaskan semuanya sambil meneriakkan namanya.


Belum selesai Elen mengambil napas. Haris telah menancapkan pusaka miliknya yang sangat besar itu ke dalam milik Elen yang masih sempit.


Mata Elen terbelalak, karena baru pertama kali melihat milik lelaki. Ia tak menyangka akan menjadi besar dan keras seperti itu.


"Rupanya benar kamu masih perawan." Gumam Haris sambil terus memompa tubuhnya di atas gadis itu.


Keduanya saling melolong bersahutan.


"Aku akan masuk perlahan, tahanlah, akan terasa sakit, namun, hanya sebentar." Ucap Haris di telinga Elen. Ia mencium bibir gadis itu, saat memasukkan pusaka besar miliknya.


Dengan susah payah, Haris berhasil menerobos pertahanan Elen.


Elen merasakan miliknya terasa penuh dan nyeri sekali. Ia berteriak, namun bibirnya telah masuk ke mulut Haris.


Ia memejamkan matanya, dan tak terasa air mata menetes karenanya. Namun, tiba tiba seolah tubuhnya merespon secara biologis semua yang telah dilakukan oleh Haris. Secara naluri ia pun menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti gerakan Haris, dan benar saja, rasa sakit hilang, kini tubuhnya seakan melayang.


Ia dan Haris sampai mencoba beberapa posisi setelahnya. Hingga Haris mengeluarkan berjuta benih miliknya dalam rahim Elen.


Haris tersenyum sambil memeluk tubuh Elen.


"Kamu akan menikah dengan Emma, lalu aku bagaimana?" Tanya Elen setelah itu.


"Kami masih saling mengenal, kamu adalah yang terbaik." Ucapnya sambil m mudaratkan kecupan pada bibir gadis lugu itu.


Sengatan dari ciuman tadi, membuat reaksi pada tubuh Elen, puncak gunung kembarnya mulai mengeras kembali, dan Haris mulai menikmati kembali tubuh gadis itu, entah untuk berapa ronde.


Selama pergelaran besar itu, Elen dan Haris sering menghabiskan waktu bersama, karena Emma, Martha, dan Viona sibuk berlatih untuk pementasan. Pergelaran berlangsung selama tiga hari, dan selama itu Haris memenuhi hasratnya bersama Elen.


Elen pun dengan senang hati menjalani hubungannya dengan Haris, meskipun Martha telah memperingatkan berulang kali.


Setelah pergelaran selesai, hubungan Elen dan Haris pun selesai.


Ternyata yang lebih menyakitkan lagi, Haris telah menikah dengan Emma selama ini, dan itu adalah pagelaran terakhir dari Emma yang akan mengikuti Haris pulang ke negaranya.


Dan Elen merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.


Ia pergi meninggalkan rumahnya dengan hati yang sakit. Bukan karena diusir, namun karena kebohongan yang telah dilakukan oleh Haris. Ia sangat kecewa pada Haris, dan merutuki segala kebodohannya.