Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Rencana Pembalasan


BUG... BUG..BUG..


Suara samsak terdengar bersorak menyambut setiap pukulan dari kepalan tangan Arumi. Peluh menetes dari dahinya, seluruh tubuhnya pun telah banjir keringat saat ini. Rambutnya yang terikat pun tampak basah karena keringat.


Sepuluh bulan yang lalu ia memantapkan diri untuk menambah keahliannya. Selain menari, ia mencoba berlatih bela diri, dan tinju. Ia benar benar melatih dirinya untuk mempersiapkan semua kemungkinan yang terjadi.


Selain olah tubuh, Dom juga melatih Arumi untuk memegang senjata. Bukan hanya memegang, tapi membidik langsung tepat sasaran.


Arumi adalah jenis gadis yang pandai dan cepat belajar. Dalam kurun waktu satu tahun, dia telah menguasai banyak hal.


"Hai, Rumi! Lekaslah kemari!" Teriak Dom sambil melambaikan tangannya dari ambang pintu tempat berlatih.


Arumi menghela napas sejenak, mengatur napasnya, lalu mengambil handuk yang tersampir di kursi yang ada di sana.


Sambil menyeka keringat dan memegang botol minum, Arumi berjalan menghampiri Dom.


"Lihatlah, Bibi Fey membawa rombongan baru lagi!" Tunjuk Dom.


Arumi mengerutkan keningnya, lalu bergegas menghampiri Madam Fey dan rombongan gadis gadis belia itu.


"Halo halo anak anakku!" Sapa Madam Fey sambil memeluk Dom dan Arumi.


"Ada apa, Bibi membawa gadis gadis itu kemari?" Tanya Dong sambil memperhatikan gadis gadis itu satu per satu.


"Aku ingin berbisnis dengan Arumi." Sahut Madam Fey.


"Lalu aku?"


"Kalau kamu tertarik, bisa bergabung."


"Ada apa, Madam? Sebaiknya kita mengobrol di dalam saja." Ajak Arumi.


Arumi menoleh ke arah rombongan itu, ia terpaku menatap salah satu dari gadis itu. Begitu pula dengan gadis itu. Andin, ada di antara gadis gadis madam Fey.


Pengawal Madam Fey memberi isyarat pada rombongan gadis itu untuk masuk dan beristirahat di dalam.


Lalu Madam Fey, Arumi, dan Dom mengikuti gadis gadis itu.


"Aku ingin membuka klub lagi di Indonesia. Setelah sembilan bulan yang lalu tutup gara gara Viona. Kini, tak akan aku biarkan dia yang menguasai panggung hiburan malam di sana. Lihat saja, aku akan buat sesuatu yang lebih baru lagi. Untuk itu, aku datang kemari untuk menawarkan kerjasama denganmu, Rumi."


Arumi hanya terdiam, memikirkan apa yang harus dilakukannya.


"Bukankah di Singapura, klub Madam juga maju?"


"Pastinya! Beberapa pelanggan lama akhirnya berkunjung ke Singapura untuk party dan mendapatkan hiburan dari gadis gadisku. Beberapa dari mereka menginginkanku kembali membuka klub di sana lagi, dengan alasan jarak dan waktu." Madam Fey menceritakan alasannya.


"Semoga bukan jebakan yang dibuat oleh Viona, yang dihembuskan dari para pelanggan Madam yang beralih ke sana?" Selidik Arumi.


"Aku sudah menyelidiki semuanya." Madam Fey menoleh ke salah seorang pengawal, lalu pengawal itu mengangguk seakan memahami instruksi bosnya itu.


Tak lama pengawal itu masuk bersama Andin.


"Rumi..!?" Ucap Andin sambil setengah berlari menghampiri Arumi saat ia melihat sosok Arumi.


"Kamu masih hidup?" Ucapnya seolah tak percaya. Ia menyentuh pipi Arumi, lalu memegang lengan Arumi dan terus menatap ke arah Arumi.


Tiba tiba Andin menangis dalam pelukan Arumi. Sontak para pengawal di sana langsung siaga. Arumi memberi isyarat tenang dan baik baik saja.


Arumi memapah Andin untuk duduk di sofa, dan memberikannya sebotol air mineral. Andin meminum setengahnya, lalu ia mulai terlihat tenang dan menyeka air matanya.


"Gisel menjadi salah satu gadis di klub itu. Ia terkadang sering dimanfaatkan oleh Viona untuk melayani tamu tamu yang agak kelainan. Sehingga tak jarang, tubuhnya sering tersiksa karena perbuatan pria pria gila itu! Sejak kematianmu, Gisel dan Thomas seakan diperbudak oleh Tuan Haris dan Viona." Cerita Andin.


"Lalu Leon?"


Andin tersenyum sinis mendengar nama Leon disebut.


"Leon? Dia seakan menghilang ditelan bumi! Aku pernah melihatnya sekali di dekat sekolah. Sejak dia mendapatkan hak sekolah menari itu, Leon tinggal dan bekerja di sekolah itu. Dia seolah tak peduli lagi dengan Thomas maupun Gisel. Dito pun sama. Dia bersama Leon, pergi dari kediaman Tuan Marco, karena menentang pernikahan Tuan Haris dan Viona yang tidak pantas, karena kamu baru meninggal." Andin masih menatap Arumi, memastikan gadis di depannya itu benar benar nyata atau sekedar ilusi.


"Sejak klub Tuan Haris dibuka, mereka benar-benar keterlaluan mempekerjakan gadis gadis. Bahkan terkadang permintaan klien tentang gadis yang perawan pun mereka sanggupi, dengan harga yang fantastis. Tuan Haris memanfaatkan jabatan dan relasinya untuk melancarkan bisnisnya. Mereka tak jarang merekrut pekerja dari desa, yang tak jarang masih di bawah umur. Bahkan pemeriksaan kesehatan pun lalai dilakukan. Gisel yang masih rutin melakukan pemeriksaan dan rutin meminum pil anti hamil dari dokter rekomendasi darimu. Nina, kini menjadi artis yang berbeda dengan yang dulu. Thomas dihempaskan, dan kini dia dekat dengan penyanyi dari luar. Buah memang tak jauh dari pohonnya. Aku juga telah mendengar kisah cinta Viona dan Tuan Haris." Cerita Andin pada Arumi.


"Lalu bagaimana Leon dan sekolah menari itu?" Arumi masih memikirkan Leon. Ia teringat saat terakhir ia menatap Leon yang tersungkur jatuh dengan perut berlumur darah karena tertembak. Namun, ia sedikit lega, karena Leon masih selamat.


"Sekolah masih tetap berjalan seperti dulu, meski tidak semakin saat ada kamu sebagai guru di sana." Sahut Andin memuji Arumi.


"Jadi, bagaimana Rumi?" Sela Madam Fey.


"Andin adalah salah satu gadis yang berbakat dalam menari, dan juga salah satu gadis kepercayaanku. Dia memang sengaja aku biarkan tinggal di Indonesia untuk terus mengawasi bisnis Haris dan Viona itu." Sambung Madam Fey.


"Selain mempekerjakan gadis di bawah umur, mereka juga terlibat jual beli narkoba di klub. Bahkan tak jarang transaksi dilakukan di restoran berbintang milik Tuan Haris itu. Thomas pernah bercerita padaku." Ucap Andin.


"Dan sang walikota, tak bisa berbuat apa apa lagi kini, karena perbuatan ketua dewan kota mereka yang serakah itu. Tuan Haris benar benar telah menguasai kota itu, Rumi. Kota itu sungguh tak aman lagi sekarang!" Sambung Andin.


"Bagaimana rencanamu Madam?"


Madam Fey tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari Arumi.


"Jadi, kamu mau bergabung denganku?"


"Ya!"


Arumi mengulurkan tangannya lalu di sambut hangat oleh Madam Fey sambil menyunggingkan senyum lebarnya.


***


Madam Fey mengajak Arumi berbicara di teras belakang rumah besar itu, hanya berdua. Mereka membahas semua rencana ke depannya sambil menikmati kopi dan kudapan ringan.


"Aku sangat mempercayaimu, sejak pertama aku bertemu denganmu saat di klubku. Aku harap kamu bisa memimpin dan melatih gadis gadis itu untuk pertunjukan di klub baruku nanti. Rumi, kamu sudah aku anggap anak sendiri, sama seperti Will dan Dom. Maaf aku tak bisa menyelamatkan Gisel kemarin, karena kamu tahu, aku tak bisa masuk dalam rumah pribadi Haris. Dia akan curiga." Madam Fey menyesap kopinya perlahan.


Arumi hanya bisa menghela napas dalam-dalam, lalu menerawang.


"Bagaimana dengan Dipo? Apakah dia dapat dipercaya?" Tanya Arumi hati hati.


"Kamu ingin melibatkannya? Setelah dia meninggalkan anak dan istrinya dulu? Lagian jika, Will melihatnya, dia tak kan selamat. Lebih baik jangan libatkan pamanmu itu." Madam Fey memberi saran.


Arumi manggut-manggut mempertimbangkan saran Madam Fey.


"Baiklah, aku akan mulai melatih gadis gadis itu besok pagi di ruang latihanku. Aku akan buat pertunjukan yang lain dari yang lain pada pembukaan klub milikmu besok, Madam."


Madam Fey tersenyum mendengar ucapan Arumi. Ia yakin Arumi dapat menjadi senjata untuk melawan kekuasan Haris dan Viona.