
Arumi tetap berkonsentrasi untuk anak anak didiknya saat itu. Mereka berlatih sebelum tampil. Arumi terlihat puas dengan hasil latihan kali ini. Ia memperhatikan satu persatu kemampuan mereka. Arumi sangat yakin mereka akan lolos semua menuju ke minimal semifinal dan lolos audisi untuk masuk sekolah menari bergengsi itu.
Ia duduk bersandar sambil meminum air mineral dalam botol sambil memperhatikan para kontestan yang menari di atas panggung dari belakang panggung.
Ia membayangkan dahulu dia sangat gugup saat penampilan pertamanya. Mama menghampirinya dan memeluknya sangat erat.
"Apa yang kamu takutkan. Jangan pernah berpikir untuk menang saat menari! Pikirkanlah tariannya itu mempunyai jiwa, menari lah dari hatimu, beri nyawa di setiap gerakan yang kamu lakukan!" Pesan Mama. Arumi hanya bisa menghela napas panjang saat mengingat semua kenangan akan Mamanya.
Hampir tiba giliran Leon dan teman temannya, menunggu satu team lagi. Mereka telah berada di belakang panggung untuk bersiap-siap.
"Mari kita berdoa dulu sebelum tampil!" Ajak Arumi.
Mereka hening sejenak untuk berdoa.
"Ingat, kalian jangan memikirkan tentang menang atau kalah. Beri jiwa di setiap gerakan yang kalian buat. Jaga kekompakan! Aku yakin dengan kemampuan kalian, pasti bisa." Ucap Arumi memberi semangat bagi anak anak didiknya.
"Ya... Go go go go..!" Teriak mereka memberi semangat untuk diri mereka sendiri.
Tepat saat itu panggilan untuk team mereka. Arumi menatap mereka dari balik panggung dengan sikap tenang.
Musik mulai terdengar, Leon dan teman temannya mulai melakukan gerakan koreografinya, mereka menari dengan enerjik dan bersungguh-sungguh. Berkali Arumi tersenyum dan bertepuk tangan saat melihat gerakan akrobatik dari anak didiknya itu.
Riuh tepuk tangan terdengar usai penampilan mereka. Dan para juri memberikan tepuk tangan sambil tersenyum. Arumi sangat yakin mereka semua akan lolos kali ini.
Leon dan teman temannya berhamburan memeluk Arumi setelah mereka tampil. Arumi akhirnya bisa bernapas dengan lega usai penampilan Leon dan teman temannya.
"Aku tak percaya, kami bisa melakukannya!" Ucap Bin sambil melepas pelukannya pada Arumi.
"Ya, kami sangat berterima kasih sekali padamu Rumi. Aku yakin kita akan lolos." Sahut teman yang lain.
Arumi tersenyum lebar, puas melihat penampilan mereka.
Ia bersama para penari itu berlalu ke ruang tunggu di belakang panggung sambil beristirahat.
Mereka sesekali tertawa menceritakan pengalaman masing masing berada di atas panggung.
Tak terasa penampilan demi penampilan susah berlalu. Malam pun tiba, dan acara pesta pun dimulai.
Arumi sebenarnya malas untuk menghadiri acara pesta seperti ini, namun karena bujukan Leon dan teman temannya, ia mau datang.
Terdengar DJ mulai memutar musik dan beberapa orang mulai menari di lantai dansa.
Arumi dengan iseng mengganggu aksi beberapa penari itu, dengan ikut bergabung dan menari dengan koreografinya sendiri. Seolah battle, dan setiap penampilannya, Arumi mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Lalu pada akhirnya Arumilah yang mendapat tepuk tangan paling ramai dan kencang pada penampilan itu.
Teman battle baru itu mengulurkan tangan padanya mengajak berkenalan, ternyata mereka adalah siswa sekolah menari dari kota lain. Mereka sangat kagum dengan Arumi.
Malam itu Leon dan Arumi menari bersama, dan bergembira bersama yang lain. Sesekali Leon melakukan flitring pada Arumi, namun ia hanya menganggap gerakan tarian saja.
Leon menarik tangan Arumi untuk menjauhi tempat keramaian pesta itu. Ia mengajak Arumi ke atas panggung tempatnya tadi siang manari.
"Mengapa kamu membawaku kemari?" Tanya Arumi.
"Menarilah bersamaku!" Ajak Leon sambil memutar lagi dari ponselnya.
Tanpa diminta lagi, Arumi telah menggerakkan tubuhnya dengan lincah, berputar dan melompat. Kakinya jinjit seolah menari balet, dikombinasikan gerakan tarian modern. Ia menari mengimbangi gerakan Leon. Mereka melakukan gerakan yang sama sambil berlompatan. Dan akhirnya Leon menangkap tubuh Arumi dan mengangkatnya, tepat lagu yang ia putar selesai.
Lagu telah berhenti, Leon menurunkan perlahan tubuh Arumi. Mereka saling berpandangan, menatap satu sama lain. Napas mereka saling memburu, peluh menetes usai menari. Adrenalin masih terpompa.
Leon menautkan bibirnya ke arah bibir Arumi, mereka hanyut larut dalam suasana kala itu. Hingga tak menyadari sepasang mata sedang menyaksikan mereka.
Viona melihat adegan mesra yang dilakukan oleh Arumi dan Leon. Dia tak tahu harus berbuat apa. Malam itu ia langsung mendatangi rumah Tuan Haris.
Penjaga di sana mempersilakan masuk. Rumah terlihat sepi, hanya pelayan rumah itu saja yang terlihat. Viona yakin anak anak muda di rumah itu sedang berada di acara pesta malam itu.
"Apa yang membuatmu ke mari?" Tanya Tuan Haris terkejut saat mengetahui yang datang adalah Viona.
"A-aku hanya ingin melihat keadaanmu." Viona gugup.
"Arumi?"
"Arumi melatih Leon dan teman temannya, pastinya dia masih di sana bersenang-senang."
"Lalu kamu sendiri di rumah."
"Tidak. Kini ada kamu menemaniku." Bisik Tuan Haris pada Viona.
Tubuh mereka saling merapat saat itu. Jantung Viona seakan mau lepas dan cerita tentang Arumi dan Leon seolah menguap begitu saja. Kalah dengan perasaannya saat itu.
Viona mendorong tubuh Tuan Haris supaya menjauh.
"Viona, mengapa kamu meninggalkan aku?" Tanya Tuan Haris.
"Aku tak meninggalkanmu." Jawab Viona.
Tuan Haris menarik lengan Viona masuk ke ruang kerjanya, lalu ia menguncinya.
Kini ia dan Viona telah berdua di ruangan itu tanpa dilihat oleh pelayan rumahnya.
Tuan Haris menatap lembut wajah Viona.
"Haris, ini tidak benar. Kita telah menikah."
"Mengapa kamu datang kemari?"
"A-aku.." Viona merutuki dirinya sendiri. Harusnya dia tahan saja melihat perbuatan Arumi dan Leon.
Datang ke rumah Haris sama saja dengan menyerahkan dirinya sendiri pada lelaki itu.
Lelaki yang puluhan tahun lalu menjadi kekasihnya, cinta pertamanya. Sulit melupakannya. Hingga dia harus merelakan berpisah dengan anak anaknya demi melupakan lelaki di depannya itu.
Jika saja, dia tak melakukan hal bodoh dengan vokalis band itu, ia sangat yakin dapat menjadi pendamping Haris, hingga saat ini.
"Maaf aku tadi hanya sedang mencari udara segar saja. Terima kasih telah mengajakku ke kebun anggurmu kemarin. Aku sangat senang." Viona akhirnya mendapat alasan datang ke rumah Tuan Haris.
"Mau minum apa?"
"Kopi saja."
Tuan Haris menuang kopi pada cangkir yang tersedia di ruang kerjanya. Lalu meletakkan di meja depan Viona.
"Terima kasih."
"Bagaimana kota ini?"
"Aku cukup terkesan dan terkejut dengan beberapa perubahan dan perkembangan di sini. Selamat atas jabatan ketua dewan kota. Aku yakin semua ini hasil kinerjamu bersama orang orang pilihanmu." Jawab Viona.
"Kamu selalu mengerti aku. Berapa lama kamu di sini?"
"Hingga akhir kompetisi dan menunggu suamiku tour di sini juga. Lalu kami berkumpul sejenak, kemudian berpisah kembali."
"Benar benar keluarga bahagia." Ucap Tuan Haris dengan nada menyindir.
Viona tersenyum kecut mendengar sindiran Tuan Haris.
"Ya cukup bagus daripada menikahi gadis muda itu." Balas Viona menyindir Tuan Haris.
"Maksudmu, Arumi?" Tuan Haris tergelak mendengar Viona menyindirnya.
"Kamu cemburu?" Tanyanya pada Viona sambil menatap wanita di hadapannya itu.
Viona menggeleng cepat dan menyesap kopinya.
Entahlah bersama lelaki di depannya itu selalu membuat Viona bertekuk lutut. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu, namun di sisi lain ia sangat merindukannya.