
Arumi segera masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Masih terngiang pertanyaan Leon tentang kesempatan untuk memilikinya.
Arumi berdiri di bawah kucuran shower, mengguyur kepalanya supaya pori pori kulitnya tidak tegang dan dapat berpikir dengan jernih. Selesai mandi ia mengeringkan tubuhnya, sambil membuka ponselnya.
Nina mengabari, jika video klip akan diunggah malam ini tepat pukul 00.00.
Arumi membalas dengan ucapan selamat dan berjanji akan menonton, dan berharap semoga menjadi trending.
Wajah Nina sekilas mirip dengan Papanya, namun, matanya sangat mirip Mamanya. Nina menceritakan pada Arumi, bagaimana Mamanya dengan tega meninggalkannya dan adiknya dibawah asuhan Kakek dan Neneknya. Ia lebih memilih berkarir di sekolah menari bergengsi itu. Ya memang untuk penghasilan, jangan ditanya. Bahkan pembuatan album perdananya dulu, Mamanya yang membiayai. Semuanya mulai dari produksi hingga promosi. Gaji Viona besar, bahkan jika ia melakukan pagelaran, ia pasti akan mendapat keuntungan tambahan. Belum lagi saat ia menjadi juri atau diundang ke sebuah acara. Semuanya mendapat upah yang setimpal.
Namun, hubungan Viona dan suaminya sangat tidak harmonis. Suaminya, yang juga Papanya Nina, sangat sibuk dengan tour dunianya. Yang terkadang membuat muak Nina saat bertemu di satu lokasi di tempat yang sama untuk manggung. Nina hampir tak berkomunikasi dengan Papanya. Rasa marah dan kecewa pada orang tuanya, membuat Nina tak percaya hubungan percintaan yang sesungguhnya. Itulah sebabnya dia sama sekali belum serius berhubungan dengan seseorang.
Arumi keluar dari kamarnya menuju dapur, perutnya terasa lapar saat itu. Ia mengambil sebuah apel dan memakannya.saat itu Tuan Haris baru kembali. Ia melihat Arumi sedang duduk menggigit apelnya.
Tuan Haris mendatanginya.
"Besok kamu temani aku. Ada undangan dari seorang pengusaha." Ajak Tuan Haris.
"Jamuan makan malam?"
"Party. Aku ingin kamu menemaniku supaya dapat mencegahku melakukan tindakan yang bodoh." Tuan Haris masih berdiri menunggu jawaban dari Arumi.
"Baiklah. Kenapa tidak kau ajak saja Viona. Bukankah acara party seperti itu orang bebas bersama siapa." Sahut Arumi sedikit ketus.
Tuan Haris tersenyum menatap Arumi yang sewot.
"Dengar, kamu memang masih kecil, tapi aku yakin, pemikirannu jauh lebih dewasa dari usiamu."
Dari anak tangga Leon menatap keakraban Papanya dan Arumi. Betapa cemburu dirinya saat itu. Ia kembali lagi menuju ke atas menuju ruangan menarinya.
"Terakhir aku ke pesta yang diadakan pengusaha itu sebelum pemilihan, dan sebelum aku menikah denganmu." Tutur Tuan Haris.
"Pesta macam apa itu, sampai membuat Tuan Haris harus mengajaknya, dan takut melakukan perbuatan bodoh." Gumam Arumi sambil menggelengkan kepalanya.
"Seperti biasa, nanti Will akan mempersiapkan semuanya. Kamu cukup berdandan biasa, tak perlu terlalu formal." Sambungnya kembali sambil berpesan. Lalu meninggalkan Arumi yang masih duduk di ruang makan sambil menikmati buah apelnya.
Sore hari Will datang ke kamarnya memberikan sekotak pakaian dan perlengkapan untuk dikenakan pada pesta nanti malam.
"Sebenarnya pesta apa ini?" Tanya Arumi sambil membentangkan pakaian yang diberikan oleh Will. Baju kostum seperti sailor moon, lengkap dengan aksesorisnya.
Will hanya tersenyum geli saat Arumi membongkar kotak kostumnya sambil mengoceh.
"Sudah, dipakai saja." Kata Will masih tersenyum.
"Memangnya kita ke acara ulang tahun atau acara kostum atau Halloween?" Arumi mengerutkan keningnya.
"Bersiaplah! Satu jam lagi aku akan datang menjemputmu." Instruksi Will. Arumi hanya bisa geleng-geleng kepala.
Satu jam kemudian, Will telah mengetuk pintu kamarnya. Arumi membuka pintunya, dan Will terbelalak kaget lebih ke kagum menatap Arumi dengan kostum pelaut ala ala Sailor moon. Kostum seragam pelaut biru putih, dengan boot putih, lalu aksesoris rambut berbentuk kuncir digelung kanan dan kiri seperti tanduk itu. Tubuh Arumi yang bagus, memperindah tampilannya kali ini, ia bagai model yang hendak melakukan fashion show.
Will masih terpaku terpesona menatap Arumi dari depan pintu.
"Will... Will...!" Panggil Arumi menyadarkan lamunannya.
Will hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tuan Haris telah menunggu di bawah." Ucapnya datar, lalu berbalik menuju anak tangga dan turun. Arumi mengikuti.
Arumi berjalan meniti anak tangga, diiringi tatapan kekaguman dari Tuan Haris.
"Harusnya kemarin aku ajak kamu ikut ke pesta yang diselenggarakan dia." Seloroh Tuan Haris sambil tertawa.
"Kami terlihat memukau!" Pujinya.
"Terima kasih. Tapi, tolong jelaskan ini pesta apaan? Pesta kostum? Lalu, Anda memakai tuxedo berdandan formal seperti itu! Ini sudah ga benar, huh?!" Dengus Arumi kesal.
"Sudahlah, ayo kita berangkat sekarang." Ajak Tuan Haris bergegas masuk mobil. Arumi duduk di sampingnya, dan Will duduk di depan, samping sopir.
Mobil melaju menuju pinggir kota, melewati rumah Arumi dulu, yang hangus terbakar, kini tinggal puing. Ia menatap area rumahnya itu. Gelap gulita di sana, tinggal pondasi yang masih berdiri, itupun hanya sebagian saja. Hanya puing rumahnya saja yang tampak remang disinari lampu jalan. Arumi menghela napas dan memejamkan matanya.
Tuan Haris meliriknya, saat Arumi menatap area bekas rumahnya yang telah menjadi puing. Ia tahu gadis di sampingnya pasti sangat sedih, dia hanya membiarkan saja. Ia tahu, Arumi anak yang kuat.
Mobil melambatkan lajunya ketika memasuki gerbang sebuah kawasan. Arumi belum pernah sampai kemari sebelumnya. Seorang petugas keamanan mendekati mobil Tuan Haris.
"Undangan Pak Broto." Ucap Will.
Petugas itu memeriksa kendaraan Tuan Haris
"Silahkan tas dan ponsel di letakkan di sini!" Instruksinya.
"Kami tidak membawanya, seperti biasa." Jawab Will.
Petugas itu menatap ke arah dalam, memandang Arumi.
"Dia bersamaku, istriku." Tegas Tuan Haris pada petugas itu.
"Selamat malam, Tuan Haris." Katanya, Tuan Haris menganguk. Petugas itu memberi jalan untuk mobil Tuan Haris agar dapat masuk ke dalam kawasan itu.
Ternyata itu hanya awalnya, mereka harus melaju sekitar setengah kilo meter lagi untuk menuju ke sebuah rumah yang besar seperti sebuah kastil. Lampu lampu yang terpasang memperjelas pemandangan sekitar rumah megah itu. Bahkan lebih megah dari rumah milik Tuan Haris.
"Siapa pemiliknya?" Tanya Arumi berbisik.
"Broto. Dia bukan hanya penguasa kota, bahkan negara pun nyaris ia kuasai." Jawab Tuan Haris dengan tenang.
Arumi terdiam, menatap kediaman Broto yang megah itu. Ia sedikit gentar saat memasuki kawasan parkiran halaman kastil itu.
Mobil berhenti di pintu masuk, seorang penjaga membantu membukakan pintu untuk Tuan Haris disusul Arumi keluar dari pintu mobil. Will mengikuti mereka dari belakang sambil mengawasi Tuannya itu.
Mereka berjalan melalui karpet merah yang digelar di halaman menuju ke ruang depan rumah besar itu. Arumi menatap sekelilingnya. Ia terus berjalan di samping Tuan Haris. Para tamu mengenakan pakaian bermacam-macam model. Ada yang berdandan ala wonder woman, cat woman, Supergirl, black widow, dan berbagai super Hero untuk yang perempuan. Dan para pria memakai pakaian resmi.
Pada sudut ruangan para pria di suguhi tarian dari para wanita penghibur, yang berlenggak lenggok di hadapan mereka dan beberapa duduk pada pangkuan sang pria. Arumi mengerutkan kening menatap pojokan itu. Tuan Haris terus menggandeng istrinya.
"Ini acara hiburan privat untuk para pengusaha dan pejabat. Lihat banyak pejabat yang datang kemari. Dan tak ada ponsel yang boleh dibawa di sini." Bisik Tuan Haris.
Arumi terus berjalan sambil melihat kanan dan kiri. Di sebuah sudut ia menangkap sosok Andin, yang menggunakan pakaian seksi, dengan aksen bulu bulu. Selain Andin ada beberapa gadis lain di sana.