
Arumi memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh siswa kelas menarinya sambil membantu membenarkan posisi tubuh jika ada yang salah atau kurang pas.
"Ya.. lompat! Berputar! Bagus...!"
"Satu.. dua... Tiga.. empat.. lima... Enam... Tujuh.... Delapan... Ulang lagi!"
Begitulah Arumi berteriak sambil berhitung gerakan untuk para siswanya.
"Bagus..!!" Puji Arumi saat lagu selesai diputar. Mereka bertepuk tangan bersama sama.
"Baik. Kelas selesai untuk hari ini. Ingat, kita besok berlatih lagi untuk pertunjukan di acara balai kota dua Minggu lagi. Jika ada yang kesulitan atau ada masalah, tolong segera menghubungi saya." Arumi mengingatkan siswanya untuk mempersiapkan diri untuk pagelaran seni yang dilakukan di balai kota dua Minggu lagi.
Selain siswanya di kelas itu, ada juga pertunjukan dari siswa kelas menari yang lain, dan juga Leon dan teman temannya. Nina, juga ikut ambil bagian dalam acara itu.
Acara pagelaran seni juga merupakan acara amal untuk dana pendidikan sekolah kota itu. Sebagian besar pengisi acara dari anak anak sekolah.
Leon menghampiri Arumi masuk ke dalam kelasnya.
"Aku memerlukan bantuanmu." Ucap Leon.
"Ada apa?" Tanya Arumi heran.
Saat itu Leon tak banyak bicara, ia menarik lengan Arumi untuk mengikutinya.
Leon membawa Arumi ke jalan tempat anak anak biasa tawuran. Terlihat seseorang memegang perutnya dan bersimbah darah.
"Will!!" Pekik Arumi.
"Panggil ambulans, cepat!" Teriak Arumi, Leon memencet nomor telepon darurat untuk meminta tolong.
"Bertahanlah Will! Kami akan membantumu." Ucap Arumi sambil memapah tubuh Will dan menekan tempat tusukan pisau, supaya darah berhenti mengalir.
Tak lama kemudian, mobil ambulans datang dan mereka segera membawa Will menuju rumah sakit. Arumi dan Leon ikut masuk untuk mengantar Will.
Sesampainya di rumah sakit, Will masuk ruang operasi, dokter akan mencabut pisau yang menancap di perut Will. Tuan Haris dengan langkah cepatnya mendekati Arumi dan Leon yang tengah menunggu dengan tegang di depan ruang operasi.
"Bagaimana bisa?" Tanya Tuan Haris sambil menatap Leon dari Arumi bergantian.
"Dia menolongku." Ucap Leon lirih. Membuat Arumi langsung menoleh dan menatap tajam pada Leon meminta penjelasan.
"Sepulang sekolah, aku menuju ke sekolah menari untuk berlatih. Lalu segerombolan orang menghadangku, dan menyerang. Aku hanya membela diri, dan berlari hingga masuk gang itu, lalu Will datang membantuku. Ada seorang yang membawa pisau hendak menusukku, namun, Will menghadangnya, dan pisau tertancap di perutnya." Suara Leon terdengar parau menahan tangis saat menceritakan kejadian tadi.
"Nanti ceritakan semua pada polisi. Papa ingin menangkap orang orang itu!" Geram Tuan Haris sambil menepuk bahu putranya.
Mereka bertiga menunggu operasi Will di depan ruangan dengan harap harap cemas.
Tuan Haris terlihat tenang, namun, Arumi yakin ia pasti sangat menghawatirkan keselamatan Will, yang telah dianggap seperti anaknya sendiri.
Lampu ruang operasi mati, menandakan operasi telah selesai. Seorang dokter keluar dari ruangan itu, dan langsung menemui Tuan Haris.
Tuan Haris, Arumi, dan Leon langsung berdiri mendekati dokter tersebut.
"Operasi berjalan dengan baik. Kondisinya stabil. Nanti akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Tinggal menunggu sadar saja." Ucap dokter itu.
"Terima kasih, dokter." Ucap Tuan Haris sambil menyalami dokter itu.
Beberapa polisi datang menghampiri Tuan Haris mereka berbincang agak menjauh dari tempat Arumi dan Leon.
Pintu ruang operasi dibuka, dan Will yang terbaring di ranjang di dorong menuju ruang perawatan oleh beberapa perawatan. Arumi dan Leon mengikuti rombongan yang membawa tubuh Will, sedangkan Tuan Haris masih bercakap-cakap dengan polisi itu dengan serius.
Arumi menatap tubuh Will yang terbaring terhubung selang infus pada tangannya. Leon duduk di kursi sambil menatap Will.
"Aku sungguh tak mengenal orang orang itu, Rumi." Ucapnya sungguh sungguh.
Arumi menganguk sambil menatap pada Leon.
Tak berselang lama Tuan Haris dan polisi masuk ke ruangan perawatan Will.
"Dia akan bertanya padamu dan Arumi." Ucap Tuan Haris.
Seorang polisi mendekati Leon dan mengajaknya ke luar ruangan.
"Ya, aku sungguh tidak bisa menerima ini semua. Putraku ada yang mengincar." Ucap Tuan Haris dengan geram.
Leon masuk ke dalam ruangan diikuti polisi itu kembali.
"Bagaimana dengan saya, Pak?" Tanya Arumi.
"Tidak perlu. Cukup keterangan dari Leon saja. Terima kasih atas kerjasamanya." Ucap polisi itu.
"Jika memerlukan kembali, jangan sungkan untuk menghubungi kami. Tolong tangkap pelaku yang telah menyakiti, Will!" Pesan Tuan Haris.
"Baik, Tuan Haris. Untuk saat ini, terima kasih. Kami permisi dulu. Selamat sore." Ucap polisi itu sambil berlalu keluar dari kamar Will.
Pintu kamar perawatan diketuk, Gisel masuk mendekati Will. Ia menatap tubuh Will yang lemah.
"Apa yang terjadi pada Will?" Tanya Gisel pada Arumi.
"Dia menolong Leon." Jawab Arumi.
"Aku pergi dulu." Pamit Tuan Haris diikuti pengawal pribadinya.
Beberapa orang berjaga di luar ruang perawatan itu, selain polisi, juga ada pengawal pribadi Tuan Haris.
"Kalian pulanglah duluan, biar aku menjaga Will di sini." Arumi menyuruh Leon dan Gisel untuk pulang lebih dahulu.
"Aku ingin menemanimu." Jawab Leon.
"Pulanglah! Kalian besok harus sekolah. Biar aku yang menjaga Will malam ini." Tegas Arumi kembali.
Leon dan Gisel menuruti perintah Arumi. Mereka pulang diantar oleh sopir.
****
Dua hari berlalu, Will telah sadar dan kondisinya semakin membaik. Polisi juga telah menemukan pelakunya.
Betapa terkejutnya, setelah mengetahui pelakunya adalah suruhan Andra. Tuan Haris teramat marah mendengar kabar itu, ia menemui Ayah Andra dan melaporkan perbuatan anaknya terhadap Will.
Andra yang anak kesayangan, sama sekali tidak tersentuh oleh polisi. Ayahnya yang juga pengusaha dan pejabat, menyuap polisi untuk menutup kasus tersebut.
Tuan Haris teramat kesal, namun Will dan Arumi selalu memenangkannya.
***
Andra menutup mobilnya, dan masuk ke sebuah toko jam tangan, mencari hadiah untuk Rea yang akan berulang tahun.
Gisel berjalan mendekati Andra, ia sengaja menabraknya.
BRUKK...
"Heh, di mata matamu!" Bentak Andra.
Gisel menatap Andra dengan tatapan menantang. Saat itu Andra sedang sendiri saja.
"Maaf, aku tak sengaja." Jawab Gisel.
Andra menatap Gisel yang kala itu sepulang bekerja. Masih menggunakan rok sekolah. Tapi, kemeja seragamnya telah berganti dengan kaos biasa.
Mereka saling tatap, lalu Gisel berlalu hendak meninggalkan Andra, namun, Andra menahan lengan Gisel.
Gisel menepisnya, dan menampar wajah Andra dengan kasar.
Andra membalasnya. Kejadian tersebut terlihat beberapa orang, dan mereka langsung melerai Gisel dan Andra.
Arumi datang ke kantor polisi untuk mengurus Gisel.
"Aku kesal dengannya!" Ucap Gisel.
"Sudahlah, kita harus atur strategi untuk membalas ini semua pada Andra." Bisik Arumi sambil menarik sepupunya itu keluar dari kantor polisi itu.