Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Pemakaman


Thomas menatap Gisel tak percaya. Perlahan ia masuk ke ruangan, Gisel membalas tatapan Kakaknya itu.


"Kak.." Panggil Gisel.


Thomas memeluk adik semata wayangnya itu. Ia tak tega melihat keadaannya kini. Sementara Gisel menangis dalam pelukan kakaknya menumpahkan semuanya.


"Maafkan Kakak! Kamu jadi seperti ini." Bisik Thomas di telinga adiknya.


"Mereka Kak... .Mereka semua...!" Tangis Gisel pecah kembali.


"Apa yang telah terjadi Gisel?" Desak Thomas.


"Mereka merampasnya, Kak. Sakit?" Pekik Gisel.


Thomas tertegun sejenak, mencerna semuanya, ia menoleh ke arah Arumi.


Arumi hanya mengangguk lemah, sambil menyeka air matanya dengan tisu.


"Siapa mereka Gisel?" Geram Thomas dengan penuh amarah.


"Aku tak tau kak. Malam itu kami sudah tidur semua, tiba tiba pintu didobrak serombongan orang bersenjata. Aku mendengar suara tembakan, aku takut dan bersembunyi dalam lemari pakaian.


Lalu pintu kamarku didobrak juga, aku melihat Mama di seret orang itu. Aku ingin menolongnya, tapi aku takut. Mereka seperti mencari sesuatu, lalu aku ditemukan. Dan aku juga ditarik ke ruang tengah. Papa telah diikat, dan Mama tergeletak di ruang tengah. Lalu mama..." Gisel menghentikan ceritanya dan menangis terisak.


Arumi menepuk nepuk lembut pundak Gisel, mencoba menenangkannya. Lalu memberi isyarat untuk tak mendesak Gisel bercerita lagi pada Thomas.


"Kamu istirahat dulu saja ya. Besok pemakaman Tante Anne. Aku harap kamu bisa mengantar ke peristirahatan terakhirnya. Aku telah mengurus semuanya." Bujuk Arumi pada Gisel.


Gisel menurut apa yang dikatakan oleh Arumi. Ia membaringkan tubuhnya, saat mencoba untuk menutup matanya berisitirahat.


Setelah Gisel terlihat tenang, Arumi menarik lengan Thomas keluar dari ruang perawatan itu, menuju ke luar rumah sakit. Polisi masih berjaga di pintu ruang perawatan itu.


Arumi berjalan melalui koridor rumah sakit, diikuti oleh Thomas.


Ia menuju halaman rumah sakit, dan duduk di sebuah bangku permanen yang ada di taman itu.


"Sebelum tewas ditembak, Tante Anne dirudapaksa oleh orang orang jahat itu. Lalu Gisel, juga. Gisel ditemukan tanpa busana tergeletak di teras. Polisi yang pertama kali menemukan." Cerita Arumi.


Thomas hanya menggelengkan kepalanya dan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal.


"Lalu Papaku?"


"Om Dipo belum ditemukan. Polisi juga sedang menyelidiki kasus ini. Papamu terlibat bisnis narkoba dan senjata ilegal. Beberapa bulan. Lalu, ia menipu salah satu gembong mafia saat bertransaksi senjata. Namun sepertinya ketahuan, jadi keluargamu jadi sasarannya." Sambung Lisa.


"Astaga! Sudah kuduga, namun, aku masih tidak percaya, jika akan kehilangan Mama." Ucap Thomas.


"Sudahlah, fokus keluarga yang ada dulu. Pemakaman Tante, kesembuhan Gisel, dan kuliahmu." Pesan Arumi.


"Aku lebih baik berhenti kuliah saja, supaya dapat fokus." Cetus Thomas.


"Jangan! Sayang jika kamu harus berhenti. Aku sudah berbicara dengan Tuan Haris. Besok malam, ia ingin bertemu denganmu." Ucap Arumi pada Thomas.


Thomas menoleh pada Arumi.


"Terima kasih, Rumi. Selain Gisel, kamulah keluargaku." Ucapnya.


Arumi memeluk Thomas, yang selalu dianggapnya seperti kakak sendiri, begitu pula dengan Thomas.


Arumi mengajak Thomas menuju ruang tempat tubuh Anne disemayamkan.


Thomas menatap kosong tubuh Mamanya yang terbujur kaku.


Ingin rasanya ia berteriak dan menangis, memprotes semua ini pada Tuhan. Mengatakan semua ini tak adil. Thomas ingin marah, tapi, pada siapa.


Ia menatap wajah Mamanya yang masih terlihat cantik. Ia teringat saat dulu pertama belajar naik sepeda, Mama yang membantunya. Saat ia jatuh, mamanya juga yang mengobati luka dan menghiburnya.


Mama selalu sabar, Mama tak pernah marah.


Setiap ada yang berulang tahun, pasti selalu sibuk membuat kue ulang tahun sendiri, dan masakan lain untuk dinikmati saat perayaan.


Mama yang selalu mengingatkan untuk makan yang teratur, jangan punya pacar dulu, fokus untuk sekolah. Mama yang mengajarkan sayang pada orang lain sebagai ciptaan Tuhan.


Thomas berusaha untuk mengiklaskan semuanya ini.


***


Pukul sepuluh tepat, tampak sudah banyak pelayat datang untuk mendoakan Anne. Papan ucapan bela sungkawa telah terpasang di area pemakaman, beberapa ucapan bela sungkawa juga ada di rumah sakit.


Sebuah lubang berukuran satu kali dua meter telah disiapkan untuk tempat peristirahatan terakhir Anne.


Pemuka agama memimpin doa untuk mengantarkan Anne ke peristirahatan terakhirnya, diiringi lantunan lagu yang syahdu.


Arumi menatap sedih saat tanah mulai diletakkan untuk mengubur tubuh Tantenya itu.


Gisel menghadiri pemakaman Mamanya. Ia duduk di kursi roda, di belakangnya tampak Thomas terlihat untuk tegar menatap tubuh Mamanya yang telah terkubur.


Gisel menangis dalam pelukan kakaknya. Arumi mengelus lembut pundak Gisel untuk menenangkan.


Tuan Haris ada di sana juga dengan mengenakan kacamata hitam. Leon, Dito, Bin, Bela, Andin, teman sekolah, dan guru Gisel juga datang untuk melayat.


Setelah selesai penguburan dan nisan telah terpasang, satu persatu pelayat meninggalkan tempat itu sambil mengucapkan duka cita pada Thomas dan Gisel.


"Yang kuat, Sel. Kami selalu ada untukmu." Hibur Bela sambil memeluk tubuh Gisel. Andin mendekat juga memeluk Gisel di sisi yang satunya. Arumi membiarkan Gisel bersama teman temannya sejenak.


Tuan Haris mendekati Thomas dan memeluknya, mengucapkan belasungkawa secara langsung padanya.


"Aku ingin kamu menemuiku nanti sore di ruanganku." Ucap Tuan Haris seolah perintah untuk Thomas. Ia pun mengangguk.


Lalu Tuan Haris berbalik meninggalkan tempat itu, sebelumnya ia menoleh ke arah Arumi yang masih berbincang dengan pelayat lain. Arumi membalas tatapan Tuan Haris dengan anggukan, seolah mengerti.


Leon dan teman yang lain memberi ucapan duka cita pada Thomas dan Gisel.


Tampak sebuah mobil besar tiba di sana, dan Nina keluar dari mobil itu dengan mengenakan pakaian hitam diikuti oleh asistennya yang berjalan di belakangnya. Ia menuju, mendekati acara pemakaman Anne. Ia memeluk Arumi setelah tiba di tempat itu. Mengucapkan bela sungkawa atas kehilangan Tantenya. Dan ucapan maaf karena tiba terlambat.


Arumi membalasnya dengan tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Nina karena masih menyempatkan datang di sela kesibukannya.


Lalu tatapan Nina beralih pada Thomas, lelaki yang ia tabrak di bandara kemarin. Ia mendekati Thomas dengan canggung. Mereka saling pandang satu sama lain untuk sesaat. Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan kejadian itu dengan tatapan cemburu. Will, menatap Nina yang mendekati Thomas.


"Aku turut berduka cita atas kehilanganmu. Mamaku mengucapkan berduka juga, dan menitipkan salam untukmu dan adikmu. Mamaku teman Tante Anne." Ucap Nina dengan lembut sambil memeluk Thomas.


Dada Thomas bergetar saat kulitnya bersentuhan dengan Nina, ia memejamkan matanya menikmati pelukan bela sungkawa dari Nina. Ada getar aneh dalam dirinya pada perempuan itu.


"Terima kasih telah datang." Jawab Thomas sambil melepas pelukan Nina.


"Ma-maaf atas kejadian kemarin. Aku tak sengaja menabrak saat si bandara. Aku tergesa beda karena harus mengejar jadwal manggung untuk acara." Ucap Nina sambil tersenyum.


"Ya, tidak apa apa. Aku pun baru tau, jika kamu seorang penyanyi terkenal setelah beberapa kali ponselmu berbunyi. Dan maaf terpaksa aku mematikan ponselmu supaya tidak menggangu." Balas Thomas sambil menyerahkan ponsel berwarna gold milik Nina.


"Tidak apa apa. Terima kasih." Nina menerima ponselnya, dan menghidupkan kembali, lalu menyerahkan pada asistennya.


Ia berlalu mendekati Gisel dan memeluknya sesaat untuk memberi dukungan. Gisel tersenyum menanggapinya. Ia tau, Nina adalah kakak Dito, temannya dan juga penyanyi terkenal itu.


Tak lama kemudian, Nina meninggalkan area pemakaman untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.


Arumi mengajak Thomas dan Gisel untuk pulang setelah para pelayat telah habis. Mereka masuk ke mobil untuk menuju kediaman Tuan Haris, tak lama meninggalkan area pemakaman, hujan turun membasahi bumi, seolah larut dengan kesedihan mereka.