
Gisel masih terduduk meringkuk menekuk dua kakinya dan berada di sudut ruangan. Matanya menerawang menatap ke luar dari jendela apartemen Will. Ingatannya berputar lagi ke kenangan dua tahun silam, saat tubuhnya diseret, lalu dipukul, saat melawan. Wajahnya ditampar, pakaiannya satu persatu dilepas dengan paksa, bukan seorang melainkan beberapa orang.
Mama yang membelanya, langsung dipukuli dan saat melawan langsung ditembak seketika. Gisel menutup matanya kuat kuat, rasanya ia ingin semua itu hanya mimpi, dan ketika bangun, ia dapat melihat mama, menatap dan memeluknya dengan erat. Namun, tentu saja, tidak terjadi. Semua yang ia alami adalah kenyataan pahit.
Bahkan, organ intim sempat rusak, dan ia telah melalui proses treatment untuk mengembalikan miliknya itu, serta meminum pil anti hamil, karena ia benar benar tak mau rahimnya diisi oleh janin dari salah satu penjahat itu.
Maka setelah melakukan konseling, ia menuruti saran Arumi, untuk melakukan semua treatment untuk memulihkan kondisi bagian intimnya.
Gisel juga melakukan yoga untuk melampiaskan kemarahannya, dan untuk menenangkan pikirannya.
Tapi kali ini, entahlah. Saat ia kemarin diseret dan diciumi oleh laki laki itu, seakan menoreh kembali luka di atas luka yang masih belum kering itu. Gisel mengirimkan pesan pada Arumi dan menceritakan semua yang dialaminya. Lalu Arumi membalas dengan memberi saran tinggal sementara di tempat yang menurutnya paling aman dan nyaman.
Arumi juga meminta perlindungan dari Tuan Haris untuk Gisel, supaya tidak ada lagi kejadian seperti itu.
Will membukakan pintu kamarnya, dan Thomas masuk.
"Bagaimana adikku?" Tanyanya.
"Dia, masih di sana. Hanya diam. Sepertinya ingin sendiri dulu." Sahut Will terdengar sayup.
"Hai, Gisel! Makanlah sesuatu!" Sapa Thomas sambil mendekatinya.
Gisel menoleh, lalu berdiri dengan susah payah. Will dengan sigap membantunya dan langsung memapahnya, membantu untuk duduk di kursi makannya.
"Makanlah! Sejak kemarin kamu belum makan. Ini aku bawakan sate, kesukaan kamu. Masih ingat gak? Dulu, waktu kamu ulang tahun, mama sampai memesan satu gerobak sate untuk merayakan pesta ulang tahunmu, karena saat ditanya, kamu mau apa, lalu dengan lantang menjawab, Aku mau sate!" Cerita Thomas sambil tersenyum. Gisel tersenyum juga mengenang masa itu.
Gisel pun mengambil sate dan memasukkan dalam mulutnya dan menikmatinya.
Ponsel Thomas berbunyi, ternyata panggilan dari Nina yang mengabarkan ia telah sampai di Amerika dengan selamat, dan tengah mempersiapkan penampilannya di sana, sambil membuat video untuk single terbarunya.
Thomas berbicara dengan Nina di ponsel cukup lama, dan ia berbicara di balkon apartemen Will. Raut wajah Will berubah, saat Thomas menyebut nama Nina, ada rasa cemburu di raut wajahnya, Gisel dapat melihat itu dengan jelas. Ia mendekati Will, dan menepuk bahu pria yang kini menjadi sahabatnya itu.
Will akhirnya duduk berdampingan sambil menikmati sate yang dibawa oleh Thomas.
****
Di benua lain, Arumi syok mendengar berita tentang Gisel. Ia langsung menghubungi Tuan Haris dan ingin mendengarkan cerita lengkapnya kejadian yang menimpa Gisel, sepupunya.
Anak pejabat polisi yang gila itu, Mona, akhirnya di tangkap dan mendapatkan perawatan kejiwaan. Lalu laki laki yang menjadi anteknya, sedang diselidiki untuk pengembangan kasus yang menimpa keluarga Gisel, bahkan terlibat juga dalam pembakaran kediaman rumah Arumi.
Arumi mengantongi kembali ponselnya dan bergegas menuju gedung tua yang sangat kokoh tempatnya menimba ilmu saat ini.
Tak terasa, satu bulan sudah ia di sana menimba ilmu. Arumi melangkah terus menuju masuk ke sebuah ruangan. Ia mengambil tempat di sebelah Olivia dan Sarah yang juga mengikuti kelas yang sama dengannya.
Ia mendapat ilmu baru tentang seni tari, bahwa bukan hanya sekedar bergerak, namun dapat menyampaikan cerita pada orang lain gerakan yang dibuat itu.
Arumi maju ke mimbar untuk mencoba beberapa gerakan yang menjadi contoh pengajar saat itu. Beberapa contoh, merupakan gerakan tarian yang dilakukan oleh mamanya dulu. Arumi pernah mencobanya. Ia mempunyai banyak video koleksi milik mamanya, dan sedari kecil, mamanya lah yang melatih dia hingga menjadi seperti ini.
Arumi mengambil napas dalam dalam sebelum menari. Lalu ia menggerakkan tubuhnya sesuai dengan irama musik mengikuti gerakan dari video yang ditampilkan.
Pengajar di sana tersenyum dan terkagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh Arumi. Ia seolah melihat kembali Martha, sosok yang selalu menjadi contoh dalam pelajaran yang ia berikan. Pengajar itu dahulu adalah teman menari dari Martha, dan mereka sempat melakukan beberapa tur penampilan tarian, sebelum akhirnya Martha memutuskan untuk berhenti karena akan menikah dan ikut suaminya ke negara lain. Ia belum mengetahui bahwa Arumi adalah putri dari Martha.
Selesai mengikuti pelajaran, Arumi menuju ke sebuah tempat, menemui Nina yang sedang melakukan syuting pembuatan video klip terbaru untuk single terbarunya.
"Hai, Rumi!" Sapa Nina sambil memeluk gadis itu. Lalu mereka berdiskusi bersama beberapa penari Nina untuk melakukan koreografi tarian untuk lagu terbaru Nina.
Arumi mengajari beberapa gerakan, setelah itu penari itu menirukan. Arumi juga mengajarkan beberapa versi gerakan untuk improvisasi saat tampil. Para penari itu mendengar dan memperhatikan setiap penjelasan dari Arumi dengan seksama.
Nina terlihat sangat puas dengan kinerja Arumi selama ini. Selain menjadi koreografer, Arumi juga menjadi sahabat baginya.
Saat jam istirahat, Nina menceritakan semua kisahnya. Cerita mengenai mama dan papanya, dan akhirnya ia dan mamanya berbaikan. Namun, sepertinya, Nina belum mengetahui, jika Dito adalah putra dari Tuan Haris.
Lalu terlihat Viona datang menghampiri mereka dan bergabung bersama Nina dan Arumi, diikuti oleh Dito dan Leon yang selesai mengikuti kelas mereka.
"Aku belum menceritakan bagian Dito pada mereka, aku takut akan reaksi yang akan ditimbulkan." Bisik Viona saat duduk di dekat Arumi.
"Tapi, aku senang melihat kalian rukun kembali seperti saat ini." Sahut Arumi sambil tersenyum.
"Kamu mendapat pujian dari Sam, ia dulu adalah pasangan menari mamamu." Ucap Viona kemudian. Arumi terbelalak menatap Viona tak percaya.
"Sungguh kah?"
Viona menjawab dengan anggukan kepala dengan tegas.
"Dan kamu sepertinya menjadi kandidat untuk masuk dalam acara event tahunan yang diselenggarakan sekolah itu." Lanjut Viona.
Sontak Arumi melotot tak percaya, namun dalam hatinya bersorak gembira. Akhirnya impiannya menari di sekolah seni ternama ini dapat tercapai. Menjadi salah satu penampil dan dicatat dalam sejarah mereka.
Arumi menuju sebuah kedai kopi untuk menghangatkan tubuhnya, saat hendak pulang menuju ke apartemennya.
Ia masuk dan memesan kopi favoritnya. Monica menatapnya sambil tersenyum, saat melayaninya.
"Hai!" Sapa Monica.
Arumi tersenyum membalas sapaan Monica.
"Kita pernah satu kelas."
Arumi menatap Monica mencoba mengingat ingat.
"Oh, ini, silahkan kopinya. Selamat menikmati hari ini!" Ucap Monica dengan ramah.
"Terima kasih." Sahut Arumi sambil tersenyum.
Monica menghela napas sambil menatap punggung Arumi yang keluar dari kedai tempatnya bekerja. Ia sangat terkejut, saat di luar Leon menghampiri Arumi dan mereka mengobrol dengan sangat akrab.
Dalam hatinya ada sedikit rasa cemburu, namun, ia juga penasaran akan Arumi.