
"Rumi....!" Panggil Nina saat tiba di kediaman Tuan Haris.
Arumi segera berlari menuruni anak tangga mendengar panggilan dengan suara kencang Nina. Semua yang ada di rumah menatap, termasuk Tuan Haris yang langsung keluar dari ruang kerjanya.
"Ada apa Nina?" Tanya Arumi dengan cemas. Nina dengan wajah tegang menggenggam ponselnya, dan asistennya terlihat panik juga di belakangnya.
"Lihat!" Ia menunjukkan ponselnya pada Arumi, si asisten melongokkan kepalanya ingin tahu apa yang ditunjukkan oleh Nina pada Arumi.
"Waaahhhh... Tranding nomor satu..!" Arumi terpekik tak percaya melihat video yang diperlihatkan oleh Nina. Ternyata video klip terbarunya dengan koreografi dari Arumi menduduki peringkat nomor satu youtube.
"Selamat Nina!" Arumi memeluk Nina dengan bahagia. Tuan Haris menepuk bahu Nina.
"Selamat, Nina." Ucap Tuan Haris.
Si asisten melonjak gembira dan memeluk Nina, Leon, Dito, Gisel, Thomas, dan Will bergantian mengucapkan selamat pada Nina.
Saat Thomas menjabat tangan Nina, sejenak Nina menatapnya dan tersipu malu. Will terlihat tak suka melihat hal itu. Gisel yang memperhatikannya hanya tersenyum geli.
Saat ini Tuan Haris ada tamu di ruang kerjanya, Will menemaninya di sana. Arumi masih membicarakan urusan bisnis dengan Nina di ruang tarinya. Leon dan Dito juga sibuk berlatih sebelum mereka berangkat menuju benua Amerika.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus?" Tanya Thomas pada Gisel.
"Aku masih bekerja di kafe, paruh waktu. Aku ingin melanjutkan kuliah juga." Jawab Gisel.
"Aku setuju. Nanti aku akan bantu untuk biaya kuliahmu. Semalam Tuan Haris sudah berbicara padaku tentang pekerjaan untukku. Mungkin setelah menerima tamunya hari ini, aku akan diberitahukan apa pekerjaan untukku."
"Aku senang kamu kembali. Aku merasa memiliki keluarga saat ini." Gisel menatap Thomas.
Thomas memeluknya. "Maaf aku tak bisa menjagamu saat peristiwa itu. Terlebih, aku tak bisa menolong Mama." Ucap Thomas lirih.
Di kejauhan, Nina memperhatikan Thomas yang memeluk Gisel dengan erat.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Arumi tepat di belakang Nina, saat ia menatap Thomas dan Gisel tak berkedip saat Arumi menjelaskan tentang koreografi yang akan dilakukan untuk lagu barunya yang lain.
"Thomas terlihat sangat menyayangi adiknya."
"Ya, dia adalah sosok pria penyayang. Aku dan dia tumbuh bersama saat kecil. Dia bagai kakak bagiku. Saat aku kehilangan orang tua, Thomas menemaniku." Terang Arumi.
"Kalian terlihat sangat akrab, meski bukan saudara kandung." Puji Nina.
"Tidak juga, dulu hubunganku dengan Gisel kurang baik. Tapi, sejak kejadian buruk menimpanya saat itu. Hubungan kami membaik." Sambung Arumi.
"Aku hanya memiliki Dito, selain Oma dan Opaku. Orang tuaku hanya embel embel status saja, namun kenyataannya mereka tidak benar benar bersama kami." Nina mengungkapkan isi hatinya.
Si asisten mendekat, dan memegang pundaknya bersimpati.
Tok... Tok...
"Apa kami mengganggu?" Leon melongokkan kepalanya dari ambang pintu.
"Masuklah!" Ajak Arumi.
Leon dan Dito masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa kami bisa bergabung untuk koreografimu yang baru ini?" Pinta Dito.
Nina mengerutkan keningnya.
"Kami berpikir, bahwa masuk ke video klipnya membuat reputasi kami naik." Sela Leon.
"Nah, ide bagus itu. Kalian bisa bantu Nina untuk pembuatan koreonya. Aku bisa mengerjakan hal yang lain untuk event yang akan berlangsung." Ucap Arumi.
"Ya. Free kakak. Kami akan membantumu." Janji Dito. Leon menganguk.
Siang itu mereka menikmati makan siang bersama di rumah Tuan Haris sambil merayakan tranding nomor satu dan single favorit dunia, menggeser single dari band Papanya Nina dan Dito.
Tuan Haris sangat senang rumahnya sangat ramai, berkali kali ia mengembangkan senyum menatap masing masing dari mereka. Arumi juga terlihat senang dengan kebersamaan mereka.
Si asisten mengecek berita kembali. Ia menyodorkan pada Nina. Lalu ia terdiam.
Arumi yang duduk di samping Nina melirik ponsel yang disodorkan asisten itu.
'Drama Perceraian Viona dan Matt'
Itu headline yang ia baca.
"Aku sudah menduganya, akhirnya mereka memulai semuanya. Tolong cancel semua jadwalku hari ini. Aku ingin sendiri saat ini." Ucap Nina, lalu berlari menuju ruang belakang milik Arumi.
"Nyonya menggugat cerai." Ucap Si asisten.
Dito meraih ponsel Nina dan membaca berita yang ada di sana. Lalu tak lama ponselnya berdering, panggilan dari Omanya.
Arumi mengikuti ke tempat Nina berlari tadi. Ia masuk ke ruangan itu, terlihat Nina meringkuk di sudut ruangan.
"Aku tak peduli lagi dengan mereka. Aku hanya benci, mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang menjadi anak mereka. Aku muak menjadi anak mereka Rumi! Sejak kecil aku dan adikku ditinggalkan bersama Oma dan Opa. Mama selalu sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Papa, tak jauh beda. Seolah kami tidak punya orang tua mereka. Mereka hanya sekedar nama di akte lahir kami saja." Tutur Nina penuh emosi.
"Aku sadar cepat atau lambat mereka akan berpisah, aku tahu itu. Setiap kami berkumpul meski hanya setahun sekali, aku merasa, tak ada rasa cinta lagi di antara mereka." Nina berhenti sejenak mengambil jeda.
"Aku malas meladeni wartawan mengenai urusan mereka itu. Papa menuduh Mama berselingkuh dengan teman penarinya. Padahal kamu tahu, dia sendiri selalu bergonta ganti tidur dengan gadis gadis yang lebih muda di setiap tournya. Aku sering melihatnya. Aku jijik melihat tingkahnya, Rumi. Gadis gadis itu seolah mengejekku saat berpapasan." Sambung Nina. Arumi duduk mendekat pada Nina, ia merangkul pundak penyanyi yang kini menjadi temannya itu. Nina menyandarkan kepala di bahu Arumi.
Hari itu Nina tidak keluar sama sekali dari kediaman Tuan Haris. Ia tak mau menerima panggilan atau apapun saat itu. Sosial medianya pun seolah berhenti, tak ada pembaruan status atau kegiatan sang penyanyi. Kesabaran Nina sudah habis untuk mendengar berita tentang perseteruan antara Mama dan Papanya.
Tuan Haris yang menghubungi Oma dan Opa, Nina dan Dito, bahwa cucu mereka tinggal sementara di kediamannya, untuk menghindar dari kejaran wartawan.
"Rumi, terima kasih." Ucap Tuan Haris.
"Untuk apa?"
"Kamu telah menjadi teman yang baik untuk Nina. Gadis itu sejak kecil telah kehilangan kasih sayang seorang Ibu. Istriku dulu yang sering mengajaknya kemari. Itulah sebabnya, dia dan Dito dekat denganku." Terang Tuan Haris.
"Apa karena ibunya mantan kekasih anda?"
Tuan Haris terdiam.
"Tuan, Anda benar-benar seorang pembohong. Di sisi lain istri anda mengurus anak mantan kekasih anda dengan penuh kasih sayang. Di sisi lain, setelah istri anda meninggal, berselingkuh kembali dengannya. Kalian benar-benar keterlaluan." Sahut Arumi dengan sinis.
"Kamu istriku, Rumi."
"Dan Anda telah berselingkuh dengan perempuan lain."
Tuan Haris menatap tajam ke arah Arumi. Lalu kemudian dia mencengkeram lengan gadis itu dan menarik masuk ke dalam kamarnya.
Satu persatu pakaian Arumi dilepaskan paksa oleh Tuan Haris. Teriakan penolakan dari Arumi dibungkam oleh ciuman Tuan Haris, hingga gadis itu sulit bernapas.
Arumi meronta-ronta melawan, namun sia sia.
"Aku suamimu, dan kamu tak berhak menuduhku seperti itu. Tetap berlaku sebagai gadis yang baik padaku." Bisik Tuan Haris tepat di telinga Arumi saat menindihnya dari belakang sambil mendorong tubuh Arumi ke tembok kamarnya.
Tubuh Arumi di dorong ke atas ranjang, lalu Tuan Haris benar benar menguasai gadis itu. Arumi hanya pasrah pada nasibnya kali ini.