Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Bibi Elen


"Hai, tunggu!" Panggil seseorang.


Arumi menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat seseorang berlari kecil menghampiri, Arumi berhenti dan menunggu.


Monica mengatur napasnya sejenak saat berhenti berlari.


"Kamu, Arumi?" Tanyanya.


Arumi menjawab dengan anggukan sambil menatap Monica dengan heran.


"Aku Monica." Jawabnya sambil mengulurkan tangannya.


"Aku pernah mengikuti koreografimu yang ada di Youtube, dan saat ada tugas pasangan dengan Leon, dia memperlihatkan tariannya yang menggunakan topeng." Sambung Monica, menjawab keheranan akan gadis di depannya itu.


"Oya. Bagaimana kamu tahu itu tarianku?" Tanya Arumi kembali.


"Tarian topeng? Gerakannya sangat khas. Kamu pernah memperlihatkan juga dalam kelas beberapa hari yang lalu di kelas Mr Sam." Tukas Monica sambil tersenyum.


Kini, Arumi tak bisa mengelak lagi.


"Apa mau mu?" Tanya Arumi sambil memperhatikan gerak-gerik gadis di depannya itu.


Ia menebak usianya lebih muda, seumuran Leon dan Gisel.


Monica sejenak terdiam. Semua kata kata yang dia susun sedari tadi, ia telah mempersiapkan kata kata, dan banyak pertanyaan untuk Arumi. Namun, saat berhadapan langsung ia mulai gugup. Entah aura Arumi yang terlalu kuat atau wajah judes miliknya.


Arumi mengendurkan otot-otot wajahnya, dan merubah wajah tegangnya dengan senyuman.


"Hai, kamu sungguh menarikan tarian ku yang itu?" Tanya Arumi mendekati Monica.


"Ya." Jawab Monica singkat.


"Leon yang memintamu menari itu?"


Monica menjawab dengan anggukan sambil menatap Arumi.


Arumi terbahak mendengar jawaban Monica.


"Dasar jahil sekali. Kamu tahu? Leon butuh waktu sekitar enam bulan untuk mempelajari tarian itu bersamaku. Lalu dia memintamu menguasai tarian itu hanya dalam waktu satu Minggu kurang. Benar benar kurang ajar anak itu!" Ucap Arumi sambil menggelengkan kepalanya.


"Semoga kamu tidak cidera saat berlatih." Sambung Arumi.


Monica tersenyum simpul sambil melirik ke kakinya.


"Astaga! Kakimu terkilir dan cidera?" Arumi menyadari isyarat yang diberi oleh Monica tadi, lalu ia memegang bahu gadis itu.


Monica menganguk dan tersenyum geli melihat reaksi Arumi.


"Dasar anak jahil. Dia pasti mengerjaimu. Aku sudah menduganya. Kamu tahu, dulu saat awal awal, Leon juga sampai cidera pergelangan kakinya, sempat istirahat selama satu bulan tak menari karena kakinya cidera. Dia pasti mencari korban terbaru dengan tarian yang sama." Tutur Arumi sambil geleng-geleng kepala.


"Bagaimana kamu bisa menari tarian itu dengan baik dan memiliki kostum itu?" Tanya Monica penuh selidik.


"Sedari kecil aku telah berlatih hampir seluruh tarian mamaku. Dan tarian itu adalah milik mama. Kostum itu aku bawa saat tampil di kejuaraan dunia beberapa tahun silam." Terang Arumi.


Sontak jawaban itu, membuat Monica terlonjak dan menutup mulutnya.


"Ka-kamu putri Tante Martha?" Tanya Monica sambil tergagap.


Kini, gantian Arumi yang terkejut mendengar nama mamanya disebut dengan jelas oleh orang asing.


"Siapa kamu?" Arumi menatap lekat lekat Monica.


"Ikut denganku!" Monica mengajak Arumi berjalan mengikutinya.


Namun, rasa penasaran lebih kuat dalam pikirannya. Ia percaya, bahwa Monica adalah gadis baik baik, karena mamanya tidak pernah melakukan hal yang jahat selama ini.


Arumi berjalan di belakang Monica, melewati beberapa blok apartemen, dan menuju ke sebuah pemukiman yang kumuh, dan tempat orang orang yang tak memiliki rumah tidur di lahan tersebut. Mereka melewati area itu. Monica sesekali menoleh ke belakang memastikan Arumi masih mengikutinya.


Arumi, masih terbengong-bengong melihat sisa lain negeri Adi kuasa itu, dengan pemandangan gelandangan di sana sini, lalu beberapa orang tampak keluar dari tenda tempat tinggalnya.


Lalu ia tetap fokus untuk mengikuti Monica saja setelahnya.


Mereka tiba di apartemen yang terlihat kumuh. Monica menaiki tangga, diikuti oleh Arumi. Berbeda sekali dengan apartemen tempat tinggal Arumi selama di negeri asing itu.


Arumi tinggal di apartemen yang memiliki lift, sehingga ia tidak capek. Lalu memiliki fasilitas yang baik, bahkan lokasinya di pusat kota.


Kini, sampailah mereka di depan pintu sebuah unit apartemen.


Monica mengetuk pintu kamar itu.


Seorang wanita paruh baya dengan tubuh kurusnya, hingga tulang belikatnya terlihat membukakan pintu kamar itu.


Arumi sempat ragu dan memundurkan tubuhnya. Monica menatapnya.


"Mari, silahkan masuk." Ajak Monica sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.


Arumi ragu sagu, ia merasa takut dan ingin pergi berlalu dari rumah itu dengan segera, namun wajah wanita paruh baya yang membukakan pintu tadi terlihat tak asing baginya.


Arumi memutuskan untuk masuk dan mengikuti Monica. Ia menggenggam ponselnya untuk berjaga, jika dalam keadaan darurat ia akan menghubungi Leon.


"Kamu bersama temanmu? Kenapa tidak bilang? Mama hanya membuatkan sedikit spaghetti untuk kita saja." Ucap wanita itu sambil mengambil piring dan garpu dan menaruh di meja makan.


"Ma, kemarilah! Apa Mama mengenalnya?" Tanya Monica pada mamanya.


Wanita paruh baya yang kurus tadi, menghampiri Monica, lalu menatap Arumi dengan tatapan lembut.


Ia mendekati Arumi, lalu memegang wajah Arumi dengan tangannya. Terasa kasar, yang menandakan sepanjang hidupnya bekerja dengan keras. Arumi hanya terdiam. Ia berusaha mengingat di mana ia pernah bertemu dengan wanita itu.


"Arumi?" Wanita itu menyebut nama Arumi, membuat Arumi tersentak.


"Bibi Elen?" Ucapnya, namun tak yakin.


Mereka saling berpandangan, meyakinkan dengan yang ada di hadapan mereka masing masing, lalu mereka saling berpelukan. Terdengar suara tangis dari keduanya. Monica menghampiri mereka lalu ikut berpelukan.


Arumi benar benar tak menyangka, pada akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan bibinya, adik mamanya, yang setelah belasan tahun lamanya ia tak bertemu. Terakhir dia bertemu dengan bibi Elen pada saat usianya enam tahun, dan saat itu Monica masih kecil.


Elen melepas pelukannya, dan membimbing Arumi untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Mengapa mamamu tidak memberi kabar padaku, jika kamu mau kemari? Dan juga aku telah lama tak mendengar kabar dari mamamu? Semoga mereka baik baik saja." Elen masih menatap Arumi lekat lekat menahan rasa haru dan rindunya.


Monica ikut duduk di samping mamanya.


"Mama dan Papa sudah tidak ada." Sahut Arumi dengan suara lirih, namun masih cukup jelas terdengar oleh telinga Bibi Elen dan Monica.


"Itu tidak benar, kan?" Tatap Elen tak percaya.


Arumi menatap Elen dan Manica bergantian. Lalu menceritakan semua tentang kejadian yang menimpa keluarganya. Mama dan Papa meninggal saat rumah mereka terbakar. Saat itu, Arumi sedang mengikuti kejuaraan dunia di Inggris dan membawa piala, mendapat runner up, namun ia harus menerima kenyataan, papa dan mamanya telah berada dalam liang kubur.


Elen memegang bahu Arumi, dan matanya berkaca-kaca saat mendengar cerita apa yang dialami oleh Arumi.


Elen sungguh tak menyangka betapa tragis kematian Kakaknya dan kakak iparnya.


"Kamu masih memiliki kami, Rumi. Aku masih ada untukmu. Monica juga ada. Kami keluargamu juga." Ucap Elen, lalu memeluk tubuh Arumi dengan erat sambil menangis.


Hari itu, Arumi menghabiskan waktu di apartemen Bibi Elen dan mengobrol dengan Bibinya dan Monica.


Monica mengeluarkan album foto mereka saat berlibur ke Amerika dulu, saat itu Arumi dan Monica masih kecil.