
Suara hiruk pikuk mulai terdengar, banyak orang lalu lalang melewati koridor ruangan itu. Para penari tengah memakai kostum mereka masing masing termasuk Arumi juga tengah mempersiapkan diri. Ia sengaja diminta secara khusus untuk menjadi penari di salah satu lagu Nina dalam konsernya kali ini.
Arumi mengenakan pakaiannya dan merias wajahnya, sama seperti yang lain di ruang ganti. Nina berada di ruang artis tersendiri.
Arumi memoles wajahnya dengan bedak berwarna senada dengan kulitnya, matanya telah dilukis dengan kuas membuatnya terlihat semakin tegas dan kuat.
"Coba kamu pakai lipstik merah itu, pasti terlihat sangat cantik!" Seorang penari memberi saran pada Arumi saat ia menatap deretan lipstik.
"Ya, aku akan mencobanya, aku akan menyelesaikan wajahku dulu." Ucapnya sambil menyapukan bedak pada pipinya.
Setelah itu ia mengambil lipstik merah cabe yang disarankan oleh seorang penari tadi. Arumi memoles bibirnya hingga penuh, lalu meratakan dengan mengatupkan dua sisi bibirnya. Arumi tersenyum geli, sangat mencolok warnanya, namun ia suka. Wajahnya terlihat berbeda, lebih tegas dan lebih terlihat.
Ini adalah penampilan pertamanya di panggung besar setelah sekian lama tidak menari, dan hanya menari di belakang layar sebagai pengajar. Ini adalah pembuktian bahwa dia masih sebagai penari yang handal.
Suara sorak sorai hingga teriakan mulai terdengar dari arah panggung. Nina, para penari, dan semua kru berdoa sebelum pertunjukan dimulai. Lalu terdengar suara dentuman seperti kembang api menandakan acara dimulai.
Beberapa penari keluar dari belakang panggung, bersamaan dengan musik pengiring. Lalu Nina muncul dari atas panggung menggunakan tali, yang di sambut dengan riuh sorak dan tepuk tangan penonton. Arumi mengintip dari samping panggung, jantungnya berdegup kencang entah mengapa. Berkali kali ia menghela napas menenangkan diri supaya tidak gugup.
Penampilan demi penampilan telah berlalu, tiba giliran Arumi sebagai penari solo yang menemani Nina di atas panggung.
Nina melirik ke samping panggung dan mengedipkan sebelah matanya memberi isyarat pada Arumi untuk masuk.
Arumi menguatkan dirinya dan melangkahkan kakinya menuju panggung, lalu suara sorak terdengar memanggil namanya. Ternyata dia dikenal sebagai youtuber yang menampilkan koreografi tarian.
Suara musik mulai terdengar, Arumi mulai menggerakkan tubuhnya dengan indah, mengikuti hentakan musik dan suara Nina pun mulai terdengar.
Dengan ajaib Arumi seperti mendapat limpahan energi saat itu, dia menari dengan enerjik, melupakan rasa tak percaya dirinya yang tadi sempat timbul. Kini selain Nina, dialah bintang di sana.
Tak hanya satu lagu, akhirnya setelah penampilannya, ia juga menari untuk beberapa lagu setelah itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Nina memintanya untuk berduet bernyanyi di atas panggung. Lagu yang sering ia nyanyikan saat di kamar mandi, yang kebetulan Nina pernah, bahkan sering mendengar Arumi menyanyikan lagu itu ketika Nina tinggal sementara di kediaman Tuan Haris.
Dengan gugup, naik lagi ke panggung. Kali ini adalah lagu acapella, dan hanya diiringi dengan suara gitar. Arumi duduk di samping Nina yang menyambutnya dengan senyuman.
"Aku tau, suaramu bagus, kamu pasti bisa!" Bisik Nina, saat Arumi duduk di sampingnya.
Arumi hanya tersenyum, namun dirinya sangat gugup.
Nina menepuk punggung tangan Arumi, memberi semangat. Lalu suara petikan gitar mulai mengalun.
Jika kau selalu mencari kesalahan,
itulah yang akan kau temukan
dan kau tidak akan pernah memiliki ketenangan pikiran.
Jika kau selalu mencari yang buruk,
Kau tidak akan pernah melihat yang baik,
Jika kau selalu mencari yang buruk,
Pasti harus dipahami dengan jelas
Jangan mencari bayangan dan matahari kau akan lihat,
Jangan mencari bayangan dan matahari kau akan melihat.
kau pasti akan menjadi manusia yang lebih baik!
Arumi mulai menyanyi, lalu disusul oleh Nina, dan mereka berduet menyanyikan lagu itu.
Lagu yang berkisah tentang kehidupan, untuk hidup yang lebih baik, meskipun bukan orang baik, jika memiliki hati nurani dan pikiran yang baik, maka kebaikan akan menghampiri.
Arumi menundukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada Nina dan penonton, lalu mundur ke belakang panggung.
Lagi lagu dengan iringan musik acapella mulai terdengar lagi, Arumi berteriak saat melihat Thomas datang menghampirinya di samping panggung.
"Kapan kamu tiba?" Tanyanya sambil memeluk sepupunya itu.
"Setengah jam yang lalu, pesawatnya delay, jadi aku tak dapat masuk ke depan panggung. Aku menghubungi managernya dan Sasa, lalu ia memintakubuntuk langsung kemari. Kamu hebat juga!" Terang Thomas sambil memuji penampilan Arumi.
Thomas membawa buket bunga untuk Nina. Lalu Thomas menikmati sisa pertunjukan yang ada tersebut bersama Arumi di samping panggung.
"Terima kasih untuk semua yang hadir saat ini! Saya sangat gembira bisa bertemu dengan kalian semua. Terima kasih juga untuk para kru dan semua yang membantu pelaksanaan konser ini. Saya tak ada artinya jika kalian semua tidak hadir di sini untuk menikmati penampilan saya. Selamat malam dan terima kasih Amerika...!" Ucap Nina saat mengakhiri konsernya.
Ia berlari ke samping panggung, dan matanya langsung tertuju pada Thomas yang telah menunggu di sebelah Arumi.
Nina langsung menuju ke arah Thomas dan memeluk pria itu. Ia tak peduli lagi dengan yang lain. Thomas memberikan buket bunganya tadi.
Untuk sesaat mereka saling berpandangan. Nina tak percaya dengan kejutan kali itu.
Usai berdoa dan mengucapkan terima kasih pada para kru dan penari, Nina menarik Thomas untuk masuk ke ruang gantinya yang memiliki ruangan tersendiri. Lalu Nina mengunci ruangan itu. Arumi hanya tersenyum geli melihat Nina dan sepupunya.
Tak lama Viona, Dito, Jeff, Leon, dan yang lain muncul ke belakang layar, mereka hendak mengucapkan selamat untuk Nina.
"Nina sedang tak ingin diganggu!" Bisik Arumi pada Viona.
Olivia langsung menarik Jeff untuk menemaninya malam itu, dan Monica yang datang menonton juga permisi langsung pulang ke rumah.
Leon menarik lengan Arumi untuk menuju suatu tempat.
"Penampilanmu sangat hebat tadi!" Puji Leon, sambil memeluk pinggang gadis itu.
Arumi hanya tersenyum mendengar pujian Leon. Ia membalas pelukan itu dengan mengalungkan tangannya di kepala Leon dan menatap pemuda itu.
Untuk sesaat mereka saling tatap, lalu bibir mereka saling bertaut.
"Aku ingin mencari kopi untuk menghangatkan tubuh." Ucap Arumi sambil melepaskan pelukan Leon.
Mereka berjalan mencari kedai kopi di sekitar tempat itu. Mereka saling bercanda dan tertawa sambil menikmati kopi mereka di taman kota.
Tiba tiba terdengar deru mobil mendekati mereka. Dua orang dengan wajah ditutupi berjalan mendekati Arumi dan Leon, lalu menarik tubuh Arumi.
"Woi, lepaskan!" Teriak Leon. Ia melawan dengan mendorong tubuh orang orang itu. Arumi memberontak juga melawan, ia memutar lengannya segingga membuat orang yang memeganginya terpelintir, dan terhuyung. Leon menendang seorang lagi. Arumi terlepas lalu menarik Leon untuk berlari menghindar.
"Lari Leon!"
Arumi dan Leon berlari menyusuri taman kota yang tampak sepi itu, tempat itu memang tak jauh dari tempat pertunjukan, namun tetap saja sepi. Dua orang tadi masih mengejar mereka dan sebuah mobil Van mengikuti mereka.
BUKKK...
Tubuh Leon terjerembab, terantuk batu. "Aduh!" Pekiknya.
Arumi berhenti berlari dan menuju ke arah Leon dan memapah pemuda itu.
"Ayo Leon, kita harus mencari tempat yang lebih ramai, sebentar lagi!" Ucap Arumi sambil memapah Leon.
"Rumi, sebaiknya kamu pergi. Biar aku yang menghadapi mereka."
"Tidak." Ucap Arumi menggelengkan kepalanya.
Dua orang tadi terus mendekati mereka, kini terdengar suara seriangaian mereka, menatap ketidakberdayaan sepasang anak muda itu.