Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Penangkapan dan pengungkapan


Leon memacu mobil secepatnya, mengikuti mobil sport yang dikemudikan oleh Will saat mengejar orang yang membawa Gisel.


Mobil yang membawa Gisel terlihat berhenti di depan sebuah kawasan pergudangan peti kemas. Will berhenti tepat di samping mobil itu, lalu bergegas keluar memeriksa mobil itu. Gisel sudah tak ada di sana.


Arumi dan Leon bergegas mengejar Will dan Thomas yang menyusuri setiap peti kemas yang ada di sana.


Arumi memanjat sebuah peti kemas yang sedikit pendek, lalu naik ke atas yang lain.


Leon melihat ke arah Arumi yang memberi isyarat bahwa dia akan memeriksa keadaan dari atas. Leon menganguk, sambil terus waspada.


Dor.. Dor..!


Tiba tiba terdengar suara tembakan dari arah berlawanan dan derap langkah kaki berlari.


Arumi melihat dari atas, bahwa ada sekelompok petugas polisi sedang berlari mengejar sekelompok orang yang keluar dari salah satu peti kemas itu.


Mereka berhamburan saling menyerang dan menembaki petugas keamanan yang menyerbu. Mereka melawan dengan mengerahkan senja mereka masing masing.


Tuan Marco terlihat di antara kelompok orang di kepung oleh petugas keamanan itu. Dan orang orang itu melindungi Tuan Marco.


Will melihat Gisel di sudut lain. Dia segera menuju ke arah Gisel.


Arumi dan Leon terus waspada dan bersembunyi.


Beberapa petugas keamanan itu mengetahui ada Leon dan Arumi di sana. Mereka mengangguk, memberi isyarat bahwa mereka bukan musuh.


"Tuan Marco, tolong serahkan diri Anda dengan sukarela, supaya tidak banyak korban lagi!" Bujuk pemimpin pasukan itu.


Tak ada jawaban sedikit pun.


Arumi waspada saat dia melihat beberapa orang keluar dari bagian lain untuk menyerang petugas itu dari belakang.


Arumi memberi isyarat pada petugas yang berada di dekatnya untuk waspada pada serbuan lawan. Petugas itu mengangguk dan memberi isyarat pada temannya yang lain.


Anak buah Tuan Marco memberondong dengan tembakan membabi buta, yang menyebabkan petugas keamanan langsung siaga dan menyerbu tanpa ampun lagi.


Setelah melalui perlawanan yang sengit, akhirnya Tuan Marco berhasil dilumpuhkan.


Bau anyir darah dan mesiu tercium dengan tajam. Arumi berjalan melewati tubuh tubuh manusia yang tergeletak bersimbah darah dan tak bernyawa lagi.


Tak lama terdengar sirine polisi dan ambulan datang mendekat.


Petugas yang terluka, langsung diberi pertolongan.


Ternyata Thomas sempat terkena peluru saat penyerangan tadi. Peluru menembus perutnya. Darah keluar dari perutnya. Will berusaha menahan dengan menutup dan menekan dengan jaketnya. Petugas medis dengan segera membawa dan memberi pertolongan pada Thomas.


Tuan Marco berhasil ditangkap dan kini para pengawalnya telah ditangkap oleh polisi.


Gisel berlari dari sebuah peti kemas. Petugas keamanan menemukan Gisel terikat di dalam peti kemas itu. Dan ternyata dalam peti kemas lainnya ada sekelompok gadis gadis yang akan diselundupkan atau dijual ke beberapa negara lain. Tuan Marco juga terlibat perdagangan manusia.


Gisel berlari ke arah Arumi dan memeluknya erat.


"Gisel, kamu tidak apa apa?" Arumi memeluknya dengan erat.


"Iya, aku tidak apa apa?" Sahut sambil menatap ke arah Will dan Leon.


"Thomas terluka, kini dia sedang diberi pertolongan oleh medis. Kamu tenang saja. Kita sudah aman." Jawab Arumi, seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Gisel.


Gisel menghela napas lega. Dia menatap ke arah Will, dan memeluk lelaki itu.


"Aku pikir tak bisa melihatmu lagi." Ucap Gisel sambil menatap ke arah Will.


"Aku khawatir padamu. Aku akan mencarimu bahkan hingga ke ujung dunia sekali pun." Sahut Will, lalu meraih gadis itu, dan memeluknya.


Leon merangkul pundak Arumi.


"Aku tak mengira kamu memiliki kemampuan seperti ini selain menari." Ucap Leon.


"Kamu menyindir atau memujiku?" Sahut Arumi sambil tersenyum.


"Aku memujimu."


"Ini semua berkat gemblengan Dom." Ucap Arumi sambil menerawang.


Mereka akhirnya berjalan menemui pimpinan keamanan penyergapan itu.


"Terima kasih atas bantuan kalian semua." Ucapnya sambil menyalami Leon, Arumi, Will, dan Gisel.


Tuan Marco mengambil senjata yang terselip di pinggang petugas keamanan tadi, dan secepatnya menarik pelatuknya mengarah ke Will.


Gisel yang tidak sengaja melihat ulah Tuan Marco, langsung mendorong tubuh Will, namun timah panas tersebut, mengenai tubuh Gisel. Yang membuatnya langsung melotot dan limbung sambil memegang dadanya.


"GISEL!!" Teriak Arumi dan Will. Will langsung menangkap tubuh Gisel yang telah limbung dan kini berada dalam pelukan Will.


"Tidak, tidak, tidak! Kamu tidak boleh meninggalkan aku, Sel! Tolong dengarkan aku!" Teriak Will.


"Gisel!" Teriak Arumi.


Petugas medis dengan segera berlari mendekati dan mengangkat tubuh Gisel.


Tuan Marco langsung diborgol dan dibawa pergi.


Will, Leon, dan Arumi mengikuti ambulan dari belakang.


*


*


Dua Minggu kemudian....


Tuan Haris akhirnya ikut ditangkap karena kasus kebakaran. Lalu beberapa anggota dewan kota yang terlibat juga ditangkap. Sindikat obat terlarang dan senjata, serta perdagangan manusia, akhirnya terbongkar.


Tuan Marco adalah pencetus lingkaran bisnis hitam tersebut. Para anggota dewan yang menginginkan penghasilan yang lebih, tertarik untuk ikut serta terlibat dalam bisnis hitam itu, termasuk Tuan Haris.


Viona ternyata juga terlibat. Lalu dia pun juga ditangkap.


Dito, yang selama ini tidak tahu tentang hal tersebut, merasa malu dan akhirnya pergi ke luar negeri. Sementara Nina, syok, dan akhirnya menghilang sementara waktu untuk menenangkan dirinya usai kasus yang menimpa keluarganya.


Dipo akhirnya tertangkap juga, setelah satu Minggu kemudian.


*


Arumi menemani Gisel yang masih dalam perawatan. Tubuhnya masih lemah saat ini. Thomas memasrahkan Gisel pada Arumi. Saat ini dia sedang sangat sibuk membantu Leon meneruskan bisnis Tuan Haris.


Leon benar benar belajar kembali dari awal semuanya. Arumi sempat membantu, namun saat ini dia sedang menunggu Gisel yang masih belum sadarkan diri.


Will masuk ke kamar perawatan. Duduk di samping ranjang berseberangan dengan Arumi.


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Will.


"Kondisinya stabil, namun entah mengapa dia lama sekali sadarnya!" Gumam Arumi sambil menatap Gisel.


"Lalu bagaimana kamu dan Gisel?" Tanya Arumi kemudian. Kali ini dia menatap ke arah Will.


"Dahulu, aku hanya bersimpati padanya. Menganggap Gisel hanya sebagai teman yang menyenangkan. Dia adalah gadis yang baik. Sejak pertama bertemu aku tahu dia baik. Meskipun dia putri dari Dipo, namun aku sama sekali tak pernah membencinya." Ucap Will.


"Kamu tahu Mark yang memperkosanya waktu itu?" Tanya Arumi.


Will menghela napas berat. Dia menatap ke arah Gisel dan menggenggam tangannya.


"Seandainya aku tahu Mark yang melakukan, sudah aku hajar dia habis habisan. Dan langsung menjebloskan dia ke dalam penjara seumur hidupnya! Aku tak menyangka, Mark ternyata seorang psikopat. Namun, saat ini aku sudah sedikit lega. Mark akhirnya tertangkap dengan banyak bukti yang ada. Dan dia pasti akan mendapat hukuman yang setimpal." Ucap Will.


"Aku berjanji akan menjaga dan melindungi Gisel setelah ini, Rumi." Ucap Will.


"Apa maksudmu?" Tanya Arumi mengerutkan keningnya.


"Gisel sedang hamil. Dan aku ingin menjalani masa dengan bersama Gisel setelah dia sadar. Aku ingin menjalani hidup sebagai keluarga dengan normal." Ucap Will.


"Itu bukan anakmu, Will?"


"Aku yakin itu anakku. Selama ini Gisel selalu berhati-hati saat bekerja, dan rajin mengkonsumsi pil anti hamil. Namun, suatu malam aku mendapat surat ini, dan hanya Gisel yang ada di kepalaku. Malam itu aku melakukan dengannya, tanpa pengaman. Itu pertama kalinya aku merasa seakan menjadi seorang lelaki sejati. Aku mencintainya, Rumi." Ungkap Will.


"Will, kamu memiliki kakak dan bibi yang sangat baik menjagamu selama ini?" Arumi menatap Will.


Sontak Will hanya tersenyum simpul saja.


"Madam Fey adalah bibimu. Dan Dom adalah kakakmu. Berkat dia lah aku bisa menjadi wanita yang kuat seperti sekarang ini." Arumi akhirnya mengungkap semua pada Will.


*


*