Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Berkumpul


"Arumiiii... Kenapa kamu gak menghubungi aku, jika Jeff tadi kemari? Lalu kalian ngapain? Terus reaksi dia bagaimana? Bilang apa dia? Apakah dia telah punya pasangan?" Cecar Olivia saat mengetahui, Jeff datang ke apartemen. Mereka bertemu di lift, Jeff keluar, dan mereka masuk akan naik ke lantai unit mereka.


Arumi menarik lengan Olivia dan menunjuk ke arah seberang. Pada apartemen seberang, terlihat Jeff sedang memasuki unit, lalu menuju ke arah jendela. Ia menyadari bahwa Arumi telah mengetahui, unitnya tepat di seberang.


Olivia hanya bisa membulatkan bola matanya dan membuka mulutnya dengan lebar mengekspresikan keterkejutannya.


"Ja-jadi, dia tinggal di seberang!" Ucapnya tak percaya sambil melambaikan tangannya.


Jeff membalas dengan lambaian tangan juga.


***


Di sudut kota, Leon berjalan menyusuri trotoar menuju sebuah apartemen yang lebih kumuh dari tempat tinggalnya. Apartemen dengan unit yang kecil dan padat. Banyak dihuni oleh warga kulit hitam juga di sana.


Buk... Buk...


Terlihat sebuah bola basket terlempar ke arahnya. Dengan refleks, Leon menangkap bola itu, lalu melemparnya ke arah ring, dan masuk. Pemuda pemuda yang tengah bermain itu hanya terpana lalu menunjuk ke arah Leon. Leon hanya tersenyum sambil membalas dengan mengacungkan jempolnya.


Leon lalu masuk ke dalam apartemen itu menuju lantai empat. Ia mengetuk pintu sebuah unit.


Tok... Tok...


"Oh, hai, masuklah!" Ajak Monica pada Leon.


Leon masuk ke rumah tersebut, terlihat seorang wanita paruh baya, namun masih terlihat cantik sedang mengangkat mangkuk dan menaruhnya ke meja makan.


"Ayo silahkan masuk, Nak. Aku membuat spaghetti kesukaan Monica." Ucapnya seraya mengajak Leon untuk masuk.


Leon masuk, dan duduk di kursi. Monica menaruh piring di depan Leon.


"Spaghetti buatan Mamaku terenak di dunia." Puji Monica sambil tersenyum pada Mamanya.


Leon hanya tersenyum simpul menatap keakraban antara ibu dan anak itu. Terselip rasa rindu pada mamanya. Bagaimana pun, meski Arumi adalah ibu tirinya, namun perasaannya pada perempuan itu berbeda. Ia menyukai Arumi sebagai lawan jenis, bukan sebagai pengganti ibunya.


"Jadi, bagaimana tugas menari kalian?" Tanya Mama Monica.


"Setelah menceritakan cidera kakiku kemarin. Akhirnya kami dapat memperpanjang waktu test dua hari yang lalu. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Mrs Lea, memberi nilai sembilan puluh untuk kami. Gerakan yang kami lakukan merupakan gerakan yang unik menurutnya. Lalu pemilihan lagu klasik, namun dapat dipadu dengan tarian kontemporer, dan dapat dikembangkan lagi menjadi sebuah tarian modern." Cerita Monica dengan gembira.


"Iya, maaf, aku telah memberi tantangan menarikan tarian itu padamu. Tapi aku benar-benar salut padamu." Puji Leon pada Monica.


"Kamu benar putra Emma?" Tanya Mama Monica.


"Ya. Tapi Mama sudah meninggal beberapa tahun yang silam." Sahut Leon dengan ekspresi dan nada datar.


"Aku turut berdukacita atas yang menimpa Mamamu." Ucapnya.


"Terima kasih."


"Lalu darimana kamu mendapatkan video tarian untuk penampilan penilaian kalian kemarin?" Mama Monica tak dapat menahan lebih lama lagi rasa penasaran siapa yang menarikan tarian dalam video. Gadis ya memakai topeng, mirip seperti yang pernah dilakukan oleh Marta, kakaknya.


Leon hanya terdiam sesaat. Ia menatap wajah Mama Monica yang terlihat tak sabar mengetahui sesuatu


"Seorang teman." Jawab Leon singkat, sambil memasukkan spaghetti dalam mulutnya.


Leon sengaja tak ingin membahas Arumi. Karena semakin ia membahas, hatinya semakin dilanda rasa rindu.


"Aku ingin menjadi seperti Mama." Ucap Leon.


"Ya, Mamamu adalah penari yang hebat. Kamu beruntung sekali memiliki bakat darinya." Puji mama Monica.


"Terima kasih atas jamuannya." Ucap Leon.


"Sama sama, Nak. Aku senang kamu tidak sungkan untuk mampir kemari." Sahut Mama Monica.


Leon keluar dari apartemen itu menuju kampusnya. Ia berjalan menuju ruang kelasnya.


Ia mengisi daftar hadir sebelum masuk ke ruangan, ia tertegun sesaat, membaca sebuah nama yang ada dalam daftar hadir itu. Sampai mahasiswa di belakangnya menegur untuk mempercepat tanda tangan supaya yang lain dapat bergantian mengisi daftar hadir itu.


Leon memasuki ruangan yang berbentuk aula itu, ia melayangkan pandangan ke seluruh ruangan itu, berharap bisa berjumpa sosok itu.


Ia duduk di sudut ruangan, supaya dapat menatap sekeliling ruangan itu.


Hingga akhirnya, ia menangkap dengan jelas sosok yang sangat ia rindukan. Arumi.


Arumi dan Lia berjalan memasuki ruangan itu dan mengambil tempat agak depan saat itu.


Sepanjang jam pelajaran mereka terlihat memperhatikan setiap penjelasan pengajar saat itu.


Saat jam pelajaran selesai, Arumi dan Lia membereskan tas mereka dan bersiap untuk keluar dari ruangan. Tepat saat itu, Leon telah berdiri di depan mereka.


"Astaga Tuan Leon!" Teriak Lia karena terkejut.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Leon tak kalah terkejut dan penasaran.


"Kejutan!" Ucap Arumi sambil tertawa, lalu bergegas pergi seraya menarik lengan Lia untuk segera berlalu dari tempat itu. Leon masih mengikuti mereka.


"Seperti kita harus berpisah di sini, Rumi. Lihatlah jadwalku! Masih ada satu kelas lagi di ruangan atas. Kalau kamu mau pulang dahulu tidak masalah." Ucap Lia.


"Bye. Hati hati. Jika ada apa apa, kasih kabar ya." Pesan Arumi. Lia melambaikan tangan sambil mengangguk.


Kini, tinggal Leon masih berdiri mengikuti Arumi yang masih tak mau menceritakan bagaimana dia bisa sampai ke sana.


Leon menarik Arumi ke sebuah sudut ruangan yang sepi, lalu menutup pintu ruangan itu.


Ia menatap wajah Arumi dalam kegelapan ruangan itu, lalu menautkan bibirnya pada Arumi. Sejenak Arumi terdiam menikmati setiap sentuhan yang Leon berikan padanya.


"Aku merindukanmu!" Bisik Leon tepat di telinga Arumi.


"Aku pun sama. Aku ingin memberikan kejutan padamu." Jawab Arumi.


"Kamu telah berhasil mengejutkanku." Ucap Leon.


Untuk beberapa saat mereka saling merapatkan tubuh mereka, saling memberi kehangatan satu sama lain, dan melepaskan rasa rindu yang terpendam dalam diri mereka.


***


Arumi mengajak Leon dan Dito untuk datang ke apartemen untuk menikmati makan malam bersama sama. Tentu saja langsung disambut gembira oleh keduanya.


"Bagaimana bisa, Nina juga tak tahu kalian kemari!" Ucap Dito sambil menahan emosi.


Arumi hanya terkekeh mendengar keluhan Dito. Karena saat ia pergi, Nina sedang sibuk membuat lagi barunya dan sedang proses rekaman.


"Semua orang sedang sibuk, jadi kami langsung pergi saja, tanpa banyak yang tahu." Sahut Arumi.


Ia membuat menu ayam geprek untuk makan malam mereka kali ini. Arumi memasak nasi dengan rice cooker, lalu membuat ayam goreng dan sambal, tidak lupa lalapan untuk melengkapi makan malam mereka.


Leon dan Dito banyak menceritakan pengalaman mereka selama bersekolah di sana.


Dito menceritakan tarian yang ia tampilkan saat penilaian kemarin, ia menggunakan tarian Nina yang koreografi dibuat oleh Arumi. Ia mendapat nilai delapan puluh delapan.


Lalu Leon menceritakan tariannya yang menggunakan tarian Arumi juga, dan mendapat nilai sembilan puluh.


Rekan rekan Arumi hanya bisa menghela napas saat tarian yang dipakai adalah kreasi Arumi semua. Mereka mengakui, Arumi memang sangat berbakat. Bahkan kelas yang ia ambil kali ini adalah untuk tenaga profesional bagian yang sulit.


Sebelum menentukan kelas, mereka juga melakukan tahap seleksi terlebih dahulu, untuk menentukan tingkat kelas dan jenis tarian yang akan mereka ambil saat mengikuti program pelatihan.