Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Kejadian Buruk


"Selamat pagi!" Sapa Leon saat Arumi membuka pintu kamarnya.


"Astaga kamu mengagetkan aku saja!" Pekik Arumi dengan terkejut.


Ia mendekat ke arah Arumi. "Hmm, kamu sangat cantik jika sedang bangun tidur." Goda Leon. Membuat Arumi sontak terkejut dan memukul lengan putra Tuan Haris itu.


"Ayo turun, kita sarapan bareng. Suamimu sudah menunggu di bawah." Ucap Leon dengan nada menyindir. Arumi hanya mendengus kesal mendengarnya.


Arumi menutup pintu kamarnya, dan turun ke bawah menuju meja makan.


Di sana Tuan Haris sedang menikmati secangkir kopi pahitnya, sambil membaca berita melalui gadgetnya.


Will masuk dengan tergesa-gesa, menemui Tuan Haris, dan membisikkan sesuatu padanya. Tuan Haris lalu masuk ke ruang kerjanya diikuti oleh Will.


Arumi dan Leon saling berpandangan melihat Tuan Haris dan Will yang terlihat tegang setelah itu.


"Aku berangkat dulu, jika ada apa apa, kamu hubungi aku." Pesan Leon setelah meminum segelas susu. Lalu ia menyambar roti selai yang dibuat oleh Arumi. Dan bergegas keluar rumah menuju ke sekolah.


Arumi masih menunggu Tuan Haris dan Will, ia menatap ke arah pintu ruang kerja Tuan Haris, penasaran ada hal apa yang sebenarnya terjadi.


Ia memakan roti selainya tanpa selera. Hampir setengah jam ia masih di sana, untuk menunggu Tuan Haris keluar.


Hingga akhirnya dia bosan sendiri, dan memutuskan untuk pergi dari ruang makan. Arumi membereskan perlengkapan makan di meja makan, lalu Surti tergopoh-gopoh datang untuk membantu membereskan meja makan.


"Sudah, Nyonya, biar saya saja. Silahkan duduk saja." Pinta Surti tak enak.


Tak lama pintu ruang kerja Tuan Haris terbuka, dan Ia keluar diikuti oleh Will. Arumi menatap keduanya, Will balas menatap ke arahnya, lalu ke arah Tuan Haris.


Tuan Haris berbisik pada Will, dan ia mengangguk tanda mengerti.


Tuan Haris berjalan ke arah Arumi. Ia memegang bahu Arumi dengan lembut dan menatapnya penuh simpati. Arumi yang belum mengerti apa yang terjadi hanya mengerutkan keningnya saja.


"Mandilah dulu, nanti ikut denganku." Ucap Tuan Haris dengan nada perintah.


Arumi yang masih belum mengerti, menurut saja apa yang diperintahkan oleh Tuan Haris.


Arumi tak buang buang waktu melakukannya. Tak sampai lima belas menit, ia sudah keluar dari kamarnya, dan menuju ke bawah. Tuan Haris menunggu di ruang tengah. Ia tampak menelpon seseorang, ia melihat Arumi telah siap, segera ia mengakhiri telponnya.


Ia mengajak Arumi untuk ikut dengannya saat itu juga. Arumi masuk ke dalam mobil Tuan Haris, dan mereka pergi ke suatu tempat.


Ternyata mereka menuju rumah sakit. Tapi siapa yang sakit, mengapa Tuan Haris tak banyak bicara padanya sedari tadi.


Sopir berhenti di lobi rumah sakit, Tuan Haris dan Arumi turun.


Tuan Haris berjalan di depan Arumi, terlihat beberapa anak buah Tuan Haris telah menyambut kedatangan mereka. Tuan Haris berbicara pada anak buahnya, Arumi hanya diam dan memperhatikan saja. Terlihat Will berjalan tergesa-gesa di koridor bagian lain rumah sakit.


Arumi memperhatikan dengan seksama tujuan Will saat itu.


"Rumi, ayo kemarilah!" Ajak Tuan Haris sambil mengulurkan tangannya.


Arumi menurutinya. Ia berjalan sambil bergandengan dengan Tuan Haris menuju sebuah ruangan yang dingin. Tampak polisi berjaga di sekitar ruangan itu.


Arumi membaca tulisan di depan ruangan itu, tertulis Ruang Jenazah. Jantung Arumi seolah berhenti berdetak seketika. Siapa yang meninggal? Pikirannya sudah kemana mana saat itu juga.


Ia berjalan mendekati ranjang besi itu, seorang petugas medis membuka penutup tubuh atas sosok itu. Arumi terkejut ketika melihat siapa yang terbaring di ranjang itu. Tante Anne terbujur kaku di sana, tampak lebam memar di wajahnya. Arumi seakan tak percaya. Ia mendekat dan rasanya ia ingin muntah saat itu juga.


Ia berlari keluar dari ruangan itu. Ia mencari udara segar untuk bernapas. Di dalam sana membuatnya sesak napas dan Tante Anne yang berada di kamar jenazah itu.


Arumi berhenti di bangku yang berada tak jauh dari sana, ia tertunduk dan menangis sejadi-jadinya. Tuan Haris ternyata mengikutinya. Ia duduk di samping Arumi, lalu menarik dalam pelukannya. Arumi menumpahkan semua kesedihan di dada pria setengah baya itu. Dengan sabar Tuan Haris membelai lembut rambut Arumi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Arumi, setelah ia berhasil menguasai emosinya.


"Keluarga Dipo diserang mafia. Ia berhasil lolos, dan istrinya dan anaknya menjadi korban." Jawab Tuan Haris.


Arumi mengurai pelukannya dan menyeka air matanya.


"Istri dan anaknya? Lalu di mana Gisel saat ini?" Tanya Arumi.


"Gisel selamat, kini ia masih dalam ruang perawatan. Will sedang mengurusnya. Kamu hubungi putranya Anne, untuk kembali. Setelah penyelidikan polisi selesai, Anne akan kita makamkan secara layak. Kamu tidak usah khawatir, aku akan membantu." Ucap Tuan Haris dengan lembut.


"Tapi mengapa mereka sampai diserang?"


"Dipo menipu mafia itu dalam penjualan senjata ilegal. Pamanmu sudah menjadi incaran polisi sejak lama untuk kasus senjata ilegal dan narkoba. Lalu beberapa bulan yang lalu ia bermasalah dengan salah satu mafia. Tak terima akan kecurangan Dipo, ia menyerangnya dan seluruh keluarganya. Tapi sayang istrinya tak selamat. Tampaknya tantemu melawan, sehingga ia tertembak dan tak selamat. Putrinya selamat, namun tampaknya ia menjadi korban pemerkosaan. Ia ditemukan dalam keadaan telanjang di halaman rumahnya. Rumah pamanmu sedang menjadi TKP oleh polisi." Terang Tuan Dipo.


Arumi hanya dapat menutup mulutnya dengan tangan dan menggelengkan kepalanya tak percaya, akan yang telah terjadi pada keluarga Tante Anne, adik Papanya itu.


"Aku ingin melihat Gisel." Pinta Arumi.


"Ia di ruangan perawatan, di ujung jalan itu. Anak buahku akan mengantarmu. Aku ada beberapa urusan. Jika ada apa apa, kamu bisa menghubungiku, Will sedang menunggunya di sana." Tuan Haris meminta seorang anak buahnya menemani Arumi untuk menuju ruangan Gisel dirawat.


Ia berjalan melalui koridor rumah sakit, melalui jalan yang dilewati oleh Will tadi. Ia berbelok ke ruang perawatan, dan terlihat beberapa polisi di sana.


"Anda siapa?" Tanya petugas polisi yang berjaga di depan ruang perawatan Gisel.


"Saya saudaranya!" Jawab Arumi dengan tegas.


Polisi itu menatap tajam ke arah Arumi, seolah menyelidikinya.


"Saya istri Tuan Haris. Dan yang di dalam adalah Gisel, putri dari Tante saja yang bernama Anne, yang telah terbaring kaku di kamar mayat di ujung sana!" Ucap Arumi dengan nada keras sambil melotot ke arah polisi itu, ia sangat kesal sekali.


Polisi itu menoleh ke arah anak buah Tuan Haris yang mengikuti Arumi. Ia mengangguk ke arah polisi itu. Lalu polisi itu memberi ijin untuk memasuki ruang perawatan itu.


Arumi masuk ke ruangan itu, terlihat Will berada di sana.


"Apa yang terjadi Will?" Tanya Arumi.


"Polisi sedang memeriksa putri Dipo." Jawabnya lirih sambil terus menatap Gisel melalui kaca membatas ruangan itu.


Arumi masih menatap Will, ia tak puas dengan jawaban asisten Tuan Haris itu. Will seolah mengetahui itu.


"Tadi pagi pagi buta, teman baikku mengabarkan bahwa ada penyerangan di rumah Dipo. Polisi selama ini memang mengincar Dipo dan bisnis kotornya itu. Rumahnya menjadi TKP kasus, beberapa anak buahnya tewas dan beberapa yang luka sedang di periksa juga. Istrinya tewas tertembak, sebelumnya, ia disiksa dan dirudapaksa oleh penyerang." Will mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.


"Lalu putrinya, sepertinya sama seperti ibunya. Ia ditemukan tanpa busana di halaman rumah, penuh luka sekujur tubuhnya. Tapi pamanmu berhasil lolos sepertinya." Ucap Will dengan nada sinis.


Arumi terdiam mendengar setiap cerita dari mulut Will, sambil terus mengamati apa yang dilakukan oleh polisi pada Gisel.