
Di sudut kota yang sedang mengalami musim dingin. Salju mulai menampakkan butir butirnya perlahan. Salju yang turun bagai kapas memenuhi jalanan, atap rumah, pepohonan, hingga membekukan setiap genangan air.
Leon berjalan di atas tumpukan salju menuju ke sekolah menari ternama itu. Ia mengenakan jaket tebalnya hingga berlapis, lalu memakai kupluk, tangannya memakai sarung tangan berbahan wol supaya tidak dingin.
Ia memasuki halaman tempat itu yang telah putih tertutup salju, kakinya menyeka permukaan butir es yang mulai menumpuk itu. Ia menghela napas, yang akhirnya membentuk uap es pada tiap hembusan napasnya. Leon bergegas masuk menuju sebuah gedung untuk menghindari dingin.
Leon membuka pintu gedung, dan terasa lebih hangat rasanya. Ia membuka kupluknya yang terkena butiran es dan mengibasnya. Leon berjalan masuk sambil merapatkan jasnya.
Leon menyusuri sepanjang koridor sekolah itu. Menuju ke sebuah ruangan besar seperti aula. Ia melirik arlojinya, kelasnya masih satu jam lagi. Ia berjalan masuk ke ruangan itu dan meletakkan tasnya ke lantai. Ia membuka jasnya, dan digantung ke tempat yang telah disediakan dalam ruangan itu.
Leon kini memakai celana training dan kaos polosnya. Ia mulai melakukan pemanasan, sebelum dia bergerak mengikuti musik yang ia setel melalui ponselnya.
Leon menumpahkan semua ingatan gerakan tarian yang pernah ia lihat dari Arumi. Setiap gerakan yang ia ingat dilakukan. Leon merindukan perempuan itu. Terakhir ia melihat Arumi penuh luka dan bersimbah darah menangis di kamar mandinya. Leon hanya bisa membantu meredakan lukanya.
Leon melampiaskan kerinduan dengan hanya menari dan menggerakkan seluruh tubuhnya untuk meluapkan semuanya.
Sepasang mata mengintip kegiatan Leon dari balik ambang pintu. Ia hanya menatap tanpa ekspresi. Lalu berlalu meninggalkan ruangan itu menuju tempat lain.
Leon menyeka keringat yang membasahi tubuhnya, mengeringkan dan mengganti pakaiannya. Lalu ia memasukkan semua barang barang itu ke dalam tas, sebelum ia pergi menuju kelas untuk belajar. Kelasnya akan dimulai sekitar sepuluh menit lagi.
Leon berlari kecil menuju ruang kelasnya, ia membuka pintu ruangan besar itu, lalu masuk ke dalamnya.
Seorang pengajar mulai masuk ke dalam ruangan itu, lalu mereka menunggu sekitar beberapa menit lagi sebelum kelas dimulai.
***
"Hai, tunggu!" Sapa seseorang sambil berlari mengejar Leon dari belakang. Leon terkejut, dan berhenti.
Ia membalikkan tubuhnya dan menunggu gadis yang memanggilnya tadi.
"Ya, kamu." Dia terengah-engah sambil mengatur napasnya saat di dekat Leon.
Leon hanya menatapnya tanpa ekspresi apapun.
"Kamu Leon?" Tanya gadis itu.
Leon menjawab dengan anggukan kepala cepat. Lalu membalikkan tubuhnya karena ia merasa tak mengenal gadis itu.
"Hai, kita satu kelas untuk kelas berikutnya. Kamu pasangan menariku! Tugas menari kreasi yang akan dinilai Minggu depan! Aku mencarimu kemana mana! Jangan sombong ya! Aku butuh kamu hanya untuk nilai ujian saja!" Ucapnya sambil berteriak.
Leon termangu sejenak. Ia baru ingat ada sebuah tugas menari berpasangan untuk penilaian mereka.
Ia menatap gadis itu dan berjalan ke arahnya.
"Ayo latihan!" Ucapnya dingin.
"Hah..?" Gadis itu hanya melongo.
"Kita ada waktu sekitar satu setengah jam lagi sebelum kelas selanjutnya. Ayo kita ke ruang latihan!" Ajak Leon sambil menatap gadis itu.
Gadis itu hanya geleng-geleng kepala mengikuti langkah Leon.
"Kamu sering ke sini?" Tanya gadis itu, saat Leon membuka pintu ruangan kosong itu.
Gadis itu harus memendam rasa jengkelnya pada Leon. Dia benar benar merasa sangat dipermainkan oleh ulah Leon.
"Aku Monica." Ucapnya mengenalkan diri, sambil memperhatikan Leon yang masih mengutak-atik ponselnya.
"Bagaimana jika konsep menari berpasangan kita seperti ini?" Ucapnya sambil memperlihatkan sebuah video.
Dalam video itu, Arumi menari menggunakan topeng, gerakan yang sangat indah selaras dengan lagu yang diputar. Leon sengaja mengambil video saat itu untuk ia pelajari nantinya.
Monica memperhatikan dengan seksama. Ada kekaguman saat memperhatikan video itu. Beberapa kali gadis itu menggerakkan tangan atau kakinya menirukan gerakan dalam tarian itu. Lalu saat selesai menonton ia mengehela napas.
"Siapa dia?" Tanya Monica.
"Kita akan pelajari tarian ini menjadi berpasangan." Ucap Leon.
"Hah?!" Monica menatap Leon sambil membulatkan bola matanya.
"Ini tarian kontemporer klasik, gila! Dalam satu Minggu apakah mungkin kita bisa berlatih menari seperti itu?" Tanya Monica tak yakin.
"Bagiku, tak ada yang tak mungkin!" Leon menjawab dingin.
Berkali kali gadis itu harus menghela napas dan menahan rasa marahnya yang siap untuk diledakkan tepat di wajah Leon. Namun, ia ingat, nilainya bergantung dengan pemuda itu, jika ia masih ingin mendapatkan beasiswa di sekolah itu.
Permintaan Leon yang ambisius itu membuat Monica pusing. Berulang kali ia menonton video itu dan mencobanya sendiri sebelum menari dengan Leon.
Kaki Monica terasa pegal dan sakit saat berlatih kali itu. Ia menyeka keringat yang mengalir deras di tubuhnya. Lalu meninggalkan ruangan itu dan Leon. Ia berganti pakaian di toilet kampus itu, lalu bergegas menuju ruang kelas selanjutnya.
Kelas dimulai lima menit lagi. Saat masuk, ia telah melihat Leon duduk di sudut ruangan sambil mencoret coret bukunya.
Monica, gadis berbakat yang beruntung masuk ke sekolah menari ternama dengan beasiswa. Ia bukan anak orang kaya seperti kebanyakan teman lainnya. Ia hanya seorang gadis yang memenangkan berbagai lomba menari mulai dari kompetisi kecil hingga nasional.
Hingga pencari bakat menemukannya, dan menawarkan program beasiswa padanya. Saat audisi Viona juga meliriknya sebagai anak yang berbakat.
Monica tinggal bersama mamanya di sebuah flat yang kecil di sudut kota. Mamanya bekerja sebagai seorang cleaning servis di sebuah perkantoran. Dan Monica membantu perekonomian keluarganya dengan menjadi pelayan paruh waktu di sebuah kedai kopi di dekat kampus. Sepulang kuliah, dia selalu menuju ke kedai untuk bekerja, selama sekitar lima hingga enam jam perhari.
Ia mengumpulkan uang untuk membeli perlengkapan menarinya. Bahkan ia pun harus mengumpulkan sejumlah uang untuk membeli sepatu untuk menari.
Ia tak mengetahui siapa ayahnya. Karena Mama mengatakan bahwa ayahnya meninggalkan mamanya saat mengetahui ia mengandung. Dan mamanya yang saat itu masih sangat muda, harus menanggungnta sendiri.
Mamanya diusir dari keluarganya, karena malu. Lalu ia harus luntang-lantung untuk hidup. Akhirnya, mamanya tinggal dia sebuah biara untuk tinggal. Mamanya membantu membersihkan biara dan gereja, terkadang membantu di dapur.
Hingga Monica lahir. Setelah Monica berusia dua bulan, mamanya mendapat pekerjaan menjadi cleaning servis di semua gedung perkantoran, yang ia peroleh dari seorang pemilik perusahaan yang sering berdoa di Gereja saat itu.
Mama dan Monica yang masih bayi saat itu, masih tinggal di biara hingga Monica berusia tiga tahun. Mamanya akhirnya bisa menyewa tempat tinggal di flat kecil pusat kota dekat tempatnya bekerja.
Mamanya bisa membiayai hidup mereka. Monica kecil yang telah menunjukkan bakat menari, selalu diikuti kan kompetisi oleh mamanya, terkadang sejumlah uang hasil lomba dapat dipergunakan untuk tabungan mereka.
Hidupnya susah sedari kecil, itulah ia merasa sangat jengkel dan dongkol harus berpasangan dengan Leon. Apalagi Leon telah memilih sebuah tarian untuk penilaian mereka menggunakan depan.
Leon telah mengirimkan video itu pada Monica untuk dipelajari, dan telah berjanji untuk berlatih usai kelas besok sore. Padahal itu adalah waktunya bekerja di kedai.
"Dasar orang kaya tak berperasaan! Dia maunya ini, itu. Tapi tidak memikirkan kesulitan orang lain!" Dengus Monica saat Leon telah menentukan waktu untuk berlatih, tanpa berdiskusi lebih dahulu dengannya. Lalu seenaknya pergi berlalu meninggalkan Monica.