
"Aku tahu perbuatanmu pada Andra!" Ucap Leon pada Rea dengan nada datar dan dingin seolah sebagai peringatan.
"Perbuatan apa?" Tanya Rea ketus.
"Pikirkan saja sendiri!" Jawab Leon cuek sambil terus berjalan melewati koridor sekolah menuju kelas selanjutnya.
"Kenapa kamu jahat sekali padanya, Sel?" Tanya Andin pada Gisel.
"Denger Ndin, bukan aku. Kamu bisa tanyakan sendiri pada Will dan pelayan di rumah Andra yang membukakan pintu untuk kami. Setelah mengantarnya, kami ke rumahmu. Sungguh!" Tegas Gisel.
Andin terdiam.
"Aku memang jengkel pada Andra, Will apalagi. Tapi kami ga ada alasan untuk melakukan itu. Dia sedang mabuk! Rasanya melakukan perbuatan konyol untuk mempermalukan Andra bukanlah pembalasan yang elegan bagi Will ataupun aku." Sambung Gisel menatap ke arah Andin, meyakinkan temannya itu.
"Terima kasih sudah datang ke rumah." Ucap Andin selanjutnya.
"Loh, kamu main ke rumah Andin, gak ngajak aku!" Bela merajuk.
"Lain kali Bela. Semalam aku mampir bersama Will setelah mengantar Andra yang mabuk."
"Will? Asisten Tuan Haris yang keren itu?!" Mata Bela membelalak.
"Iya, ada apa?" Gisel heran.
"Ga apa apa sih. Tapi dia keren saja." Bisik Bela malu malu. Gisel terkikik mendengarnya.
***
"Dengar cewe murahan, aku peringatkan kamu untuk menjauhi Andra!" Ancam Rea pada Andin di kamar mandi saat itu.
Siang itu Andin permisi ke toilet, Rea dan dua anak buahnya mengikuti juga.
Selesai Andin membuka pintu dan mencuci tangan, Rea menghampiri dan memberi ancaman untuk meninggalkan Andra.
Andin masih bergeming, ia membalas tatapan Rea.
"Aku tahu pekerjaan kotorku itu, kamu mau aku sebarkan rahasiamu itu, dan kontak panggilanmu?" Seringai Rea mengancam Andin.
"Apa semua itu ulahmmu? Ha...!"
"Ya! Dan jika kamu berani mendekati Andra, aku benar benar akan menyebarkan semuanya!" Tegas Rea.
Andin hanya menggeleng kepalanya dan menepis tangan Rea.
"Aku tak pernah sekalipun mendekati Andra. Dia yang selalu mencariku, dan merengek padaku. Katakan sendiri itu padanya! Atau kamu tak bisa memberikan pelayanan yang memuaskan padanya?" Balas Andin sambil menyeringai.
Rea diam dan hanya menatap tajam pada Andin, yang kini meninggalkannya.
"Aaarrrggg...!" Geram Rea.
****
Arumi duduk di kursi yang dulu ditempati oleh Papanya. Ia menatap foto keluarga yang ada di meja. Arumi mengambil foto itu dan menatapnya dari dekat. Foto yang diambil saat dia dan keluarga berlibur di sebuah desa yang tenang. Saat itu Arumi masih bersekolah di sekolah menengah pertama.
Mereka tinggal di sana selama satu minggu, berbaur dengan warga setempat, melakukan kegiatan bercocok tanam, memberi makan ikan, ayam, bebek, dan kambing. Lalu memerah susu. Mengambil hasil dari kebun untuk diolah sebagai masakan. Telur segar yang diambil dari kandang, dan ikan yang baru ditangkap.
Selama itu mereka tidak menggunakan ponsel sama sekali. Mereka benar benar berkomunikasi secara langsung dengan orang sekitar. Arumi dan keluarga sangat menikmati liburan saat itu. Lalu mereka mengambil foto ini pada saat hari terakhir di sana.
Mama juga melakukan tarian diiringi musik langsung yang di buat oleh warga sekitar. Arumi sangat senang di sana. Ia merasa merindukan keluarganya. Ia memeluk foto itu sesaat. Lalu meletakkan kembali di tempatnya.
Ia mengalihkan perhatiannya pada laptop yang ada di hadapannya, membuka kolom kerjanya dan mulai mengerjakan beberapa map yang ada di depannya.
Usai kompetisi kemarin, Arumi sengaja mengambil cuti untuk fokus belajar dan bekerja di perusahaan milih Papanya ini.
Ia telah memutuskan untuk mengambil sekolah kembali supaya dapat mengurus usahanya kelak.
Arumi ingin banyak belajar supaya dia bisa mengembalikan kerja keras Papanya seperti dulu lagi.
****
Pintu kamar Arumi di ketuk. Arumi yang tengah belajar membukakan pintu. Ternyata Leon sudah berdiri di sana.
"Masuk." Ajak Arumi.
Leon masuk, dan duduk di ranjang Ibu tirinya itu.
"Sepertinya sekarang ada yang sedang sibuk. Bahkan melupakan janjinya untuk menemani menari di hari Sabtu." Ucap Leon merajuk.
Arumi terkejut lalu membulatkan matanya yang bulat.
"Ya ampun! Maafkan aku. Aku lupa jika ini hari Sabtu." Sesal Arumi sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Kamu kenapa sih? Kelihatannya sangat sibuk sekali?"
"Aku bersekolah lagi. Susah sepekan ini aku belajar. Aku mengambil kelas malam, jadi usai mengajar aku langsung ke sekolah. Pagi ini ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan, jadi aku lupa janjiku." Ucap Arumi merasa bersalah.
"Kamu sudah terpengaruh oleh Papa." Sahut Leon.
"Terpengaruh?" Balas Arumi heran.
"Ya, dulu kamu mengimpikan menjadi seorang penari yang hebat, bisa menari di gedung pusat seni, dan menggelar acara sendiri. Lalu kini kamu memutuskan untuk sekolah lagi, sekolah bisnis. Dan kamu melupakannya?"
"Leon, jika aku sekolah lagi, belum tentu aku melupakan menari. Aku melakukan ini semua karena kamu!" Ucap Arumi.
Leon terkejut dan langsung menatap tajam ke Arumi.
"Kamu menolak pendidikan yang telah dipilih oleh Papamu. Lalu Tuan Haris berbaik hati menuruti permintaannya, supaya dia lebih dekat denganmu. Sedang bisnis Papamu butuh orang yang dipercaya untuk membantunya. Aku hanya membantu sebagian. Sebentar lagi Thomas, kembali ke sini untuk membantu Tuan Haris."
"Untuk apa Papa membuat bisnis sebanyak ini?"
"Kamu pikir sekolahmu di sana tidak memakai biaya. Hah?!"
Leon terdiam setelah mendengar ucapan Arumi barusan.
Ia sadar cita citanya memerlukan biaya juga, tapi sebagian lain hatinya ingin ada orang yang mendukungnya seperti Mamanya dulu.
Leon menatap Arumi sekali lagi, sebelum ia berlalu keluar dari kamar itu.
"Leon.. Leon.. Maaf.." Belum selesai Arumi melanjutkan ucapannya, pintu kamarnya telah tertutup.
Arumi memejamkan matanya dan mengambil napas dalam-dalam.
Ia merasa bersalah terlalu memakan Leon. Ia yakin, jika berbicara baik baik, Leon pasti akan mengerti. Tapi, entah mungkin terlalu lelah menjalani seminggu kemarin, Arumi merasa emosinya juga sedang labil.
****
Arumi menatap tiang pole dalam ruangan itu, lalu mencoba menaklukkan tarian dengan tiang itu setelah melakukan pemanasan. Ia menyentuh perlahan besi itu, lalu menggenggam erat sambil berjalan mengelilingi, makin lama makin terasa ringan meliukkan tubuhnya pada besi itu.
Arumi melakukan beberapa gerak akrobat menggunakan tiang pole itu. Sambil memasukan beberapa gerakan dasar menarinya.
Usai bermain dengan tiang itu, Arumi memutar sebuah lagu dan melakukan gerakan sesuai dengan irama lagu tersebut. Ia melompat dan menggerakkan kaki dan tangan dengan lincah, menatap tubuhnya sendiri pada cermin. Lalu terakhir ia memasukkan unsur balet dalam tarian itu.
Plok... Plok... Plok...
Suara tepuk tangan terdengar usai Arumi menyelesaikan tariannya
"Leon?!" Arumi tak percaya, setelah Sabtu kemarin Leon meninggalkannya dengan marah. Kali ini dia datang dan memberikan tepuk tangan padanya.
"Ya. Kamu masih terlihat sangat hebat meski sudah tidak aktif lagi menjadi tenaga pengajar di sekolah menari." Puji Leon.
"Terima kasih." Jawab Arumi sambil tersenyum lebar.
"Aku telah memikirkan semuanya kembali." Leon terdiam sejenak.
"Aku tetap akan bersekolah menari, mangambil beasiswa itu. Lalu kembali lagi ke sini, dan mengembangkan sekolah milik Mamaku. Ya, jika aku mampu, aku akan membantu Papa mengurus bisnisnya juga. Sekolah tari itu juga termasuk aset bisnis milik keluargaku, bukan?"