
Trauma masa lalu menghiasi kepala Gisel kembali, ingatan akan kejadian dua tahun silam, saat banyak orang datang menyerbu rumahnya dan mencari Papanya, menarik paksa dirinya dari tempat tidur. Gisel yang bagai mainan dilempar sana dan sini, lalu dilucuti satu per satu. Digagahi oleh dua bahkan tiga orang sekaligus, lalu digilir oleh mereka. Tiba tiba rasa sakit itu muncul kembali. Bagai luka lama yang tergores kembali, kini terasa lebih perih.
Gisel tertunduk di shower kamar mandi, mengguyur tubuhnya, ingin rasanya ia menghilangkan semua perasaan sakit itu. Seakan rasa perih dan sakit saat itu kembali lagi. Gisel menangis. Ia teringat semua ucapan Mona untuknya. Ia juga teringat semua kelakuannya usai peristiwa itu.
Untuk menghilangkan perasaan sakit itu, dia melampiaskan dengan melakukan hubungan, dahulu saat di sekolah dia melakukan dengan Alan, yang kini tengah menempuh pendidikan menjadi dokter. Lalu dengan dua guru, yang satu untuk mengkatrol nilai, dan yang satu, karena guru itu masih muda dan tampan.
Gisel merasa sangat malu pada dirinya sendiri, dia dahulu menghina, bahkan sempat mengejek Andin, tapi nyatanya dia tak ubah sama dengan Andin. Bedanya Andin melakukan pekerjaan itu secara profesional, sedangkan dirinya hanya untuk kesenangan saja.
Ia meringkuk di bawah kucuran shower, memikirkan sesuatu. Lalu ia berdiri, mematikan kran, dan mengeringkan tubuhnya. Ia menatap lekat tubuhnya. Tubuhnya yang bisa dibilang bagus, dengan berat sekitar 60kg, dengan tinggi 165cm. Gisel menyukai olahraga yoga, sehingga membuat tubuhnya yang montok itu terlihat seksi.
Ia keluar dari kamarnya menuju dapur, mencari makanan karena lapar. Baik Surti yang sedang menggoreng bakwan tersenyum ke arahnya.
"Pagi sekali bangunnya Non?" Dapatnya ketika melihat Gisel.
"Iya, gerah bik." Gisel mencomot bakwan dan memakannya.
Baik Surti melanjutkan goreng gorengnya. Gisel menikmati bakwan sambil memainkan ponselnya.
Ia merindukan Arumi. Biasanya saat dia menceritakan semuanya pada Arumi. Meskipun hanya mendengarkan, seolah beban yang ada di pundak dan kepala Gisel menjadi lebih ringan.
Usai menikmati bakwan, Gisel mengambil matrasnya dan melakukan yoga di tepi kolam renang untuk menenangkan pikirannya, membuang setiap energi negatif dalam dirinya seperti yang selalu Arumi ingatkan padanya.
"Setiap kali aku merasa sedih, aku selalu menari, menari, dan menari. Tak peduli berapa pun sakitnya tubuhku, tapi seakan tubuhku melepas semua hal yang jahat. Aku ingin kamu juga seperti itu, Sel. Kamu suka melakukan yoga. Lakukanlah itu, supaya energi yang buruk keluar, dan energi baik tinggal dalam dirimu. Jangan pernah siksa dirimu dengan kisah masa lalumu!"
Gisel melakukan beberapa gerakan, tanpa menyadari Will memperhatikan dari kejauhan. Ia merasa simpati pada gadis itu.
****
Arumi berjalan dari sebuah ruangan, hendak menuju gedung lain di sekolah itu, ia melewati sebuah taman yang telah tertutup salju. Hawa dingin menyusup hingga tulangnya. Arumi merapatkan jaketnya dan menyilang tangannya di dada supaya hangat.
Ia bergegas berjalan cepat cepat masuk ke sebuah ruang aula pertunjukan. Kali ini dia masuk ke kelas teater. Ia mempelajari banyak hal seni tari di tempat itu, baik yang klasik hingga modern.
Monica yang juga mengambil kelas itu, terus mengawasinya. Ia ingin tahu, siapa sebenarnya perempuan itu.
Saat mempraktekkan gerakan, Arumi bersedia maju dan menjadi contoh bagi yang lain dalam kelas itu. Dia mempraktekkan gerakan menari, kombinasi cerita seperti drama musikal. Gerakan Cinderella yang pergi tepat lonceng berbunyi dan meninggalkan salah satu sepatunya, dia tampilkan dengan sangat epik. Suara tepuk tangan mengiringi usai Arumi selesai menari.
"Wow.. kamu sangat hebat sekali!" Puji teman satu kelasnya.
"Iya. Kamu luar biasa!" Ucap yang lain sambil menepuk pundak Arumi.
"Ya, terima kasih, untuk pertunjukan yang telah dibawakan oleh Nona Arumi. Jadi, setiap gerakan, bukan hanya sekedar bergerak meliukkan tubuh, namun juga bercerita. Membagi kisah yang akan kita bawa dalam satu pertunjukan. Penjiwaan setiap gerakan yang dilakukan. Membuat suatu tarian itu memiliki nyawa tersendiri." Terang sang pengajar itu membahana. Para mahasiswa itu manggut-manggut dan beberapa mencatat dalam buku mereka.
Setelah selesai, ia keluar dari ruangan itu menuju kelas lain. Ia sangat gembira, impiannya bersekolah di sana seperti mamanya terwujud. Arumi menatap foto foto yang dipajang di sebuah ruangan besar di ruang depan sekolah itu. Ia terpaku pada sebuah foto, seorang balerina. Arumi menatap dengan kekaguman. Itu adalah mamanya. Arumi merindukannya.
Tiba tiba ponselnya bergetar, sebuah panggilan dari Leon.
"Oke, aku akan ke sana. Tunggu lima menit lagi ya!" Ucap Arumi menjawab panggilan Leon barusan.
Senyum mengembang di bibir Arumi, lalu ia bergegas menuju tempat yang disebutkan oleh Leon.
Langkah kaki Arumi semakin bergegas saat ia melihat Nina dikejauhan.
"Rumi....!" Teriak Nina sambil berlari menghampiri Arumi.
Mereka saling berpelukan. Mereka saling rindu satu sama lain.
"Aku merindukanmu, Rumi!" Ucap Nina sambil melepas pelukannya.
Arumi seolah tak percaya melihat Nina sudah di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Arumi.
"Aku akan melakukan tour album baruku di sini. Kali ini tanpa embel embel nama papaku. Semua adalah hasil kerja kerasku. Dan kamu tahu, aku telah berbaikan dengan Mamaku." Sahut Nina.
Viona menghampiri mereka. Ia menepuk bahu Arumi dan tersenyum.
"Aku sangat gembira mendengar, dan melihat kalian tampak rukun seperti ini." Ucap Arumi dengan tulus.
Arumi memeluk dan mencium pipi Viona. Leon dan Dito yang menyaksikan adegan hari itu hanya bisa tersenyum dan ikut larut dalam kebahagiaan juga.
Mereka lalu menuju ke sebuah restoran dan menikmati makan siang di sana sambil berbagi cerita dan kabar masing masing. Bersenda gurau melepas rindu. Viona terlihat sangat gembira bisa melihat Nina dapat tersenyum lepas kembali, ceria dan bercerita panjang lebar saat dekat dengan Arumi.
Di luar restoran, terlihat sepasang mata memperhatikan keakraban dan keceriaan yang terjadi saat itu. Monica mengawasi dan mengikuti setiap gerak gerik Arumi. Terlebih ketika tadi ia tak sengaja Arumi menatap gambar Martha.
Martha adalah kakak dari Mamanya, yang selama ini selalu membantunya, namun, beberapa tahun terakhir ini, tak ada kabar sama sekali dari bibinya. Ketika ia melihat reaksi Mamanya saat melihat penari di video itu, ia menyebut nama Martha.
Satu satunya petunjuk adalah mengikuti Arumi yang terlihat antusias menatap foto Martha saat di gedung sekolah.
Monica merasa ada sesuatu yang terhubung antara Arumi dan Martha. Selain dari tarian, juga wajahnya. Yang sekilas mirip dengan bibinya yang baik hati itu. Monica ingin mencari tau keluarga Mamanya yang masih tersisa saat ini, ia ingin membuat Mamanya bahagia. Karena sejak tak ada kabar dari saudaranya itu, Mamanya tampak sering sedih, meskipun tak pernah secara langsung ditunjukkan di hadapan Monica.
Monica terkadang memergoki Mamanya menatap gambar Kakaknya dan sekarang menonton video yang pernah dikirim Leon padanya. Itu adalah gerakan tarian yang diciptakan oleh Bibi Martha.