Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Masihkah ada kesempatan untukku?


Sepulang sekolah Gisel mengikuti Leon berjalan pulang. Leon hanya terdiam sambil terus berjalan.


Dijalan yang sedikit ramai dan persimpangan, Leon mempercepat langkahnya dan menghilang di antara pejalan kaki di sana.


Gisel buru buru mempercepat langkahnya mengejar Leon. Hingga ia merasa telah kehilangan jejaknya.


Gisel berhenti sambil terengah-engah, menyeka peluhnya.


"Mengapa kami mengikutiku?" Tanya Leon sambil menyenderkan tubuhnya pada dinding sebuah kios.


Gisel terlonjak terkejut.


"Astaga!" Pekiknya Gisel sambil memegang dadanya.


"Leon, kamu mengejutkanku!"


"Kenapa mengikutiku?" Tanya Leon tanpa ekspresi.


"Aku ingin pulang bareng." Jawab Gisel.


Leon menganguk, lalu meneruskan jalannya menuju rumah. Gisel mengikuti langkah Leon sambil setengah berlari.


"Leon, jangan cepat cepat!" Teriak Gisel sambil memukul punggung Leon.


Leon hanya tersenyum dan terus berjalan. Gisel berteriak sambil mengejar Leon. Mempermainkan gadis itu.


***


Andin masuk ke mobil Andra.


"Maaf Ndra, sepertinya siang ini aku tidak bisa. Adikku sakit dan harus segera pulang." Ucap Andin, lalu bergegas keluar dari mobil Andra.


Andra mengerutkan keningnya, dan menatap kepergian Andin.


***


Andin berlari kecil menuju rumahnya. Ia masuk ke rumah dan menuju kamar.


"Kak...!" Panggil adik nomor satu Andin.


"Gimana Brian?" Tanya Andin .


Andin memiliki dua adik, yang pertama bernama Lola dan yang kedua Brian. Lola berusia lima belas tahun, dan Brian masih berusia tujuh tahun.


Mama Andin meninggal over dosis saat Brian berusia dua tahun. Dia stres dan mengalami baby blues. Sedang Papanya seorang bandar yang tertembak mati karena melawan.


Will salah satu polisi yang ikut penyergapan besar besaran pesta narkoba saat itu, termasuk papa Andin ada di sana.


"Tadi demam tinggi kak. Aku takut dia kejang lagi seperti kemarin." Ucap Lola.


Andin mencoba menghubungi Gisel, namun tak diangkat. Andin mencoba berulang kali, tetap tidak ada respon.


Andin, mencoba menghubungi Bela, juga tidak diangkat.


Akhirnya ia memesan taksi online untuk mengantar ke rumah sakit terdekat.


Andin membopong adiknya masuk ke dalam mobil, Lola menunggu di rumah.


Sepanjang jalan ia berdoa supaya adiknya dapat tertolong. Sepuluh menit perjalanan seakan semalam. Terasa lambat dan lama.


Mobil tiba di rumah sakit, Andin membawa adiknya ke ruang IGD rumah sakit itu. Saat itu ia pun tak sempat mengganti seragam sekolahnya.


Dikejauhan Arumi mengerenyitkan dahinya menatap Andin yang membopong adiknya masuk ruang IGD.


Arumi berjalan menuju arah Andin. Ia melihat Andin berdiri mondar mandir, menatap ruang perawatan. Adiknya sedang ditangani oleh dokter saat itu.


"Kamu, temannya Gisel, bukan?" Tanya Arumi.


Andin menganguk.


"Siapa yang sakit?"


"Adikku. Dia demam dari kemarin. Turun, panas lagi, turun lagi, ini panas lagi. Semalam dia sempat demam tinggi dan kejang. Aku sangat takut." Ucap Andin.


Arumi memeluk Andin, bersimpati. Lalu duduk menemani di rumah sakit sampai dokter keluar dari ruang perawatan.


"Bagaimana Adik saya, Dokter?" Tanya Andin sambil mendekati Dokter tersebut.


"Kondisinya sudah stabil. Biar dia istirahat dulu. Jika ada apa apa, bisa panggil bantuan melalui bel."


"Terima kasih, Dokter."


Dokter meninggalkan Andin. Ia masuk ke kamar perawatan bersama dengan Arumi.


Selang oksigen ada di hidung Brian, belum lagi tangannya ditusuk jarum infus. Brian masih memejamkan matanya. Namun, ia sudah tidak demam lagi saat Andin menyentuh dahi adiknya itu.


"Kondisinya mulai stabil. Apakah kamu bisa aku tinggal?" Tanya Arumi.


"Tentu saja. Terima kasih banyak, Rumi."


"Kamu jangan cemas soal biaya. Aku sudah memasukkan deposit untuk biaya perawatan adikmu. Kamu hanya cukup menjaganya saja. Nanti aku minta Gisel untuk menghubungimu." Tutur Arumi, Andin menganguk.


Ia menuju kamar Gisel. Terlihat Gisel sedang berbaring di atas kasur sambil menonton televisi.


"Gisel!" Panggil Arumi sambil mengetuk pintu kamar.


Gisel terbangun dan membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa?"


"Adiknya Andin tadi masuk rumah sakit." Arumi memberi tahu keadaan Adiknya Andin pada Gisel.


Sontak Gisel memeriksa ponselnya yang sedang terhubung dengan stop kontak.


"Astaga, ada panggilan tak terjawab dari Andin!" Pekiknya sambil menepuk jidatnya.


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Saat aku meninggalkannya, keadaan sudah stabil."


"Baiklah, nanti aku akan jenguk ke sana. Terima kasih, Rumi." Ucap Gisel.


"Baik. Oya, sekitar dua Minggu lagi Thomas akan pulang. Apa kamu bisa menjemputnya? Karena sepertinya, bentrok dengan jadwal interview pendaftaran sekolah Leon." Terang Arumi.


"Ya. Siap, Mam!" Jawab Gisel.


Arumi mengangguk, lalu berlalu meninggalkan kamar Gisel.


****


Tuan Haris menarik lembut tangan Viona, lalu menatap perempuan itu.


"Vi, aku tak ingin kehilanganmu lagi! Sungguh, aku ingin kita dapat menjalani hidup bersama tanpa kucing kucingan seperti ini lagi."


Ucap Tuan Haris. Seolah tegas dan galaknya lenyap di hadapan perempuan itu.


"Bagaimana istri kecilmu itu? Apa kamu akan mendepaknya langsung?"


"Rumi dan aku telah sepakat, setelah masa jabatannya selesai, kami akan mengakhiri semuanya. Dia masih muda dan masa depannya masih panjang. Aku tak ingin mengekangnya." Sahut Tuan Haris.


"Aku telah memasukkan gugatan cerai ku ke pengadilan. Dan aku telah meminta pengacara untuk mengurus semuanya. Glen sulit dihubungi. Aku telah menghubungi manajernya, mengenai hal itu. Yah, aku hanya tinggal menunggu saja." Viona menghela napas panjang setelah menceritakan nasibnya itu.


"Itu alasanmu sering datang ke sini?"


"Ya, selain itu, aku juga ingin mendekati anak anakku lagi, yang terlanjur tak dekat denganku lagi." Keluhnya.


"Aku yakin kamu bisa melewatinya. Kamu adalah perempuan kuat yang pernah aku kenal."


Tuan Haris menyentuh wajah Viona, menaikkan dagunya, lalu mencium lembut bibir perempuan itu.


Viona membalas ciuman itu dan selanjutnya mereka menghabiskan siang itu bersama di rumah pribadi Tuan Haris.


***


Arumi datang ke kantor Tuan Haris untuk mengirimkan laporan tentang event yang akan diselenggarakan. Ia langsung menuju ke ruangan Tuan Haris yang terletak di lantai atas.


"Will, Tuan Haris ada?" Tanya Arumi.


"Tuan Haris sedang makan siang di luar, dan belum pulang." Jawab Will.


Arumi menghela napas.


"Pasti dengan perempuan itu!" Keluhnya dalam hati.


"Ya sudah, aku mau memberikan laporan rincian event yang akan diselenggarakan Minggu depan. Ada beberapa pengusaha yang mau menjadi sponsor acara seni tersebut." Arumi menerangkan.


"Baiklah, berikan padaku saja, nanti aku sampaikan pada Tuan Haris."


Arumi memberikan map itu pada Will, lalu ia beranjak pergi. Will menimbang map di tangannya, lalu membuka halaman demi halaman. Ia membaca nama Nina menjadi salah satu artis pengisi acaranya. Will tersenyum. Ia akan memberikan hadiah itu untuk sang artis.


Arumi mengemudi ke sekolah menari, saat ini dia ada kelas mengajar. Ia melihat Leon sedang berlatih di ruangan lain bersama Bin dan Dito. Mereka bertiga mendaftar sekolah menari, dan sedang berlatih untuk audisi masuk mereka. Audisi untuk menentukan tingkatan mereka. Semakin bagus maka akan masuk ke kelas expert, dan kesempatan untuk tampil di panggung besar juga terbuka lebar.


Arumi bergegas masuk ke kelasnya dan melakukan pekerjaannya.


Dua jam berlalu, Arumi membereskannya ruangan, setelah kelas berakhir.


"Bagaimana harimu?" Leon telah berdiri di ambang pintu kelas.


"Baik. Tunggu sebentar, aku akan membereskan ini dulu."


Arumi menaruh perlengkapan pada tempatnya, lalu mengambil tasnya.


"Sudah selesai. Ayo kita pulang." Ajak Arumi. Sambil berjalan keluar menuju mobilnya, Leon mengikutinya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Papa?" Tanya Leon.


Arumi tak segera menjawab. Ia masih fokus menyetir.


"Kami baik." Jawab Arumi menoleh ke arah Leon.


"Masihkah ada kesempatan bagiku untuk memilikimu?" Leon menatap Arumi.