
Brett menarik lengan Arumi dengan kasar untuk keluar dari mobil setelah mereka sampai di rumah kembali.
"Lepaskan! Sakit tau! Dengar, penjahat bodoh, semua tidak akan merubah apapun setelah kesalahan yang kamu perbuat ini." Ucap Arumi setelah menepis tangan Brett dengan kasar juga.
Ia menyeringai setelah menyindir Brett, lalu mengambil kantong belanjaan, dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Arumi mengisi panci dengan air, lalu memasaknya. Ia hendak membuat mi instan untuk mengisi perutnya yang sangat lapar. Udara dingin berhembus dari sela jendela yang tidak rapat.
"Paman, mau mi juga?" Tanya Arumi menawari Dipo yang masih mengutak-atik ponselnya.
"Mampus!" Teriak Dipo tiba tiba sambil menoleh ke arah jendela.
Sebuah mobil Jeep hitam melaju ke rumah itu, dan langsung berhenti tepat di halaman. Seorang lelaki keluar dari pintu mobil, lalu melangkah menuju pintu masuk.
Arumi yang tak memahami apa yang terjadi masih dengan santai menuang air panas ke dalam mi instan, lalu mengaduk-aduk dengan cuek sambil memperhatikan Dipo yang terlihat gentar. Lalu Dua anak buahnya hanya menelan ludah dengan raut wajah khawatir dan gusar.
BRAKK
"Di mana gadis itu?" Tanya sosok lelaki yang baru datang tadi. Di belakangnya ada dua orang pengawal yang mengikutinya.
"Tu-tuan aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sebenarnya terjadi." Jawab Dipo tergagap.
Lelaki itu mendekati Arumi yang masih dengan santai makan di kursi. Lelaki itu menatap tajam ke arahnya.
"Kamu mau makan juga?" Tanya Arumi masih meneruskan makannya.
"Siapa dia?" Tanya lelaki itu sambil menunjuk ke Arumi dan menatap tajam ke arah Dipo.
"Brett dan Ron, salah menculik. Seharusnya dia menculik Nina, namun, dia menangkap gadis itu. Tapi, gadis itu aku mengetahuinya. Dan mempunyai nilai juga." Terang Dipo bergegas mendekati ke arah Arumi.
Lelaki itu menatap Arumi dari atas ke bawah seakan menilainya.
"Apa keunggulan gadis ini? Dan apa untungnya untukku?!"
"Dia istri Haris." Jawab Dipo.
Lelaki itu menatap Arumi kembali dengan tajam. Seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dipo.
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dipo.
Ia memberi isyarat pada pengawalnya untuk mengambil ponselnya. Lalu ia menyodorkan ponselnya pada Dipo dan Arumi.
Sebuah berita tentang penyerangan yang dilakukan oleh orang pada putra dan istri Haris. Lalu kemudian berita dalam bahasa Indonesia yang mengatakan istri Haris meninggalkan saat menyelamatkan Leon putranya. Dan hari ini adalah pemakaman jenazah istrinya.
Arumi mengambil ponsel yang dipegang lelaki itu dan mendengarkan dengan seksama dan berulang kali. Ia tak percaya telah ditinggalkan begitu saja oleh Haris.
"Paman, apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku?" Tanya Arumi pada Dipo.
"Dia tak berguna kini. Haris tak menganggapmu lagi!" Seringai lelaki itu dengan wajah mengejek Arumi.
"Lepaskan aku, dan biarkan aku pergi!" Ucap Arumi.
"Tidak semudah itu!" Ucapnya.
Lalu lelaki itu menghampiri Dipo dan membisikkan sesuatu, lalu menoleh ke arah Arumi.
Kemudian ia bergegas keluar dari rumah itu dan menuju mobilnya. Terdengar suara mobil menderu menjauh dari rumah itu.
Tak lama Dipo mendekati Arumi. "Maafkan aku, Rumi." Ucapnya. Dan Brett menempelkan sapu tangan ke hidung Arumi dari belakang, lalu ia langsung lemas dan pingsan.
***
Arumi membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing dan berat. Ia menggelengkan kepalanya mencoba untuk fokus dan sadar kembali. Ia menegakkan tubuhnya dengan posisi duduk, dan mengamati sekeliling.
Ia kini berada dalam sebuah ruangan, kamar tepatnya. Ia berada di ranjang yang besar. Arumi berusaha bangkit dan berjalan menuju arah jendela yang tak bisa dibuka. Ia melihat ke luar. Dan betapa terkejutnya ia, dia kini berada di sebuah rumah besar. Lalu pemandangan di luar hanya pasir dan laut lepas.
Arumi menuju pintu kamar itu dan mencoba membukanya, ternyata terkunci.
DOR....DOR..DOR...DOR...
Arumi menggedor gedor pintu kamar.
"Tolong... Tolong.... Seseorang tolong aku!!!" Pekik Arumi sekencang kencangnya.
Tak ada jawaban dari luar.
Ia tak kehilangan akal, ia pun memeriksa setiap sudut kamar itu, dan akhirnya ia menemukan sebuah jendela yang dapat dibuka. Arumi menaikkan pengaitnya dan mendorong jendela itu. Lalu ia melongokkan tubuhnya ke luar.
"Astaga, tinggi sekali." Gumamnya.
Dalam hati ia sebenarnya takut, namun kini ia tak tahu ada di mana, dan gak tahu bersama dengan siapa. Ia memberanikan diri untuk keluar dari jendela sempit itu bagaimana pun caranya.
Arumi mendorong tubuhnya untuk naik ke atas atap rumah besar itu. Rumah besar seperti kastil rumah kuno. Ia berhasil naik, dan terduduk di atas. Lalu ia berdiri, berjalan perlahan. Dengan mulut berkomat kamit membaca doa supaya selamat dan tidak jatuh.
STREET...
"Aduh!"
Arumi terpeleset, beruntung ia secepatnya meraih kisi sebuah jendela yang terbuka.
Kini dia bergelantungan di dinding bangunan dengan tangan menumpu pada kisi jendela.
Ia menaikan kakinya masuk ke jendela itu dan tubuhnya juga berhasil masuk ke dalam rumah itu, namun di ruangan lain.
"Huft...! Hampir saja!"
Arumi terduduk di lantai ruangan itu. Sebuah ruang besar dengan bangku yang besar dan banyak.
"Sepertinya ini sebuah rumah. Tapi rumah apa?"
Arumi terus perlahan sambil berjingkat melangkah menuju pintu keluar. Ia mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya, dengan secepatnya ia berlari tanpa suara bersembunyi di balik meja besar yang ada di ruangan itu. Arumi duduk berjongkok di sudut ruangan tertutup meja pajangan itu.
"Apakah gadis itu sudah sadar?" Tanya seseorang, Arumi mengenali suara itu milik lelaki yang memakai mobil Jeep hitam itu.
"Sepertinya sudah Tuan. Tadi kami mendengar suara teriakannya dari dalam." Sahut salah satu pengawal.
Lelaki itu pergi diikuti pengawalnya menuju ke kamar tempat Arumi di sekap tadi.
Buru buru Arumi bergegas menuju pintu tempat lelaki tadi keluar. Ia membuka pintu itu dan langsung berlari sekencang kencangnya.
"Hai... Siapa kamu? Tangkaaappp!!" Teriak seseorang memergoki Arumi saat kabur melarikan diri.
Lalu terlihat beberapa orang berlari mengejar Arumi di belakangnya.
Arumi dengan panik terus berlari menuju ke pantai. Ia tak tahu hendak menuju ke arah mana. Ia bingung dan tak tahu kini ada di mana.
"Ya Tuhan, tolonglah aku. Jika aku harus mati hari ini, ampunilah dosaku. Mama Papa, kita akan segera bertemu nanti." Ucap Arumi dalam hatinya.
Seketika dia menghentikan langkahnya, dan berbalik menuju orang orang yang mengejarnya tadi.
Ia menatap orang orang itu dengan tatapan pasrah. Arumi berdiri, menyerahkan dirinya pada orang orang yang tak dia kenal sebelumnya.
Setelah membaca berita tentang kematian dirinya, ia merasa sangat hancur. Tuan Haris yang ia percaya, telah mengkhianati dirinya. Bukan dengan selingkuh dengan wanita lain. Tapi, dengan membunuh dirinya, menghilangkan jejaknya dan mungkin akan menguasai semua harta peninggalan orang tuanya. Yang lebih kejamnya lagi meninggalkan Arumi sendiri di negara asing yang keras.
Orang orang yang mengejarnya perlahan mendekati Arumi yang hanya berdiri dan menunduk. Lalu seseorang menuju ke arahnya dan membimbingnya untuk kembali lagi ke rumah itu.
Kini Arumi hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Ia berjalan kembali lagi ke rumah itu. Di kejauhan, seseorang telah menunggunya di depan rumah itu.
BERSAMBUNG...