Kekasihku Anak Tiriku

Kekasihku Anak Tiriku
Gisel diculik


Klub Madam Fey dibuka dengan atraksi tarian dari Arumi, dengan nama panggung Audi. Atraksinya sengaja diletakkan lebih awal untuk memancing pengunjung untuk masuk ke klub Madam Fey.


Suara musik mulai menghentak, pengunjung mulai berbondong-bondong masuk untuk menikmati hiburan dan sajian di dalam sana. Kerlap kerlip lampu mulai berputar-putar. Teriakan dan sorak terdengar dari pengunjung saat Arumi memulai pertunjukannya.


Di antara pengunjung itu, terlihat Tuan Haris duduk di sudut ruangan, memperhatikan Arumi yang dengan lincah bermain main di tiang dan panggung klub itu bersama penari lainnya.


Tuan Haris meneguk gelasnya, sambil menghisap cerutunya. Beberapa gadis datang menghampiri untuk menggodanya, namun, Tuan Haris tak peduli. Matanya terus tertuju pada gadis yang meliuk-liuk tubuhnya di panggung.


Arumi menyadari bahwa di sudut ruangan, dia menjadi perhatian seseorang yang pernah menjadi suaminya, yang membuat makam dirinya, lalu mengumumkan kematiannya.


Tak ada usaha untuk mencari atau menunggu kabar sedikit pun. Bahkan, perusahaan papanya, kini diambil alih oleh Tuan Haris, untuk distribusi obat terlarang. Perusahaan itu hanyalah sebagai kedok. Lalu beberapa usaha digunakan untuk pencucian uang. Dan yang lebih parah lagi, Tuan Haris terlibat korupsi bersama dewan yang lain.


Arumi menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, lalu terdengar riuh pengunjung untuk meminta atraksi Arumi lagi.


Tiba tiba seseorang turun dari atas atap panggung dengan menggunakan tali. Dia mendekati Arumi, lalu merangkul pinggang Arumi, sambil menggerakkan kakinya dengan lincah.


Itu adalah Leon, dia dan Arumi sengaja membuat pertunjukan mereka di tengah klub Madam Fey.


Tuan Haris sangat terkejut menyaksikan pertunjukan itu. Dia tak menyangka Leon seberani itu, melakukan pertunjukan di tempat Madam Fey. Dia berpikir bahwa putranya selama ini takut terhadapnya, dan mengurung diri dan fokus dengan sekolah tari warisan dari mamanya.


Pak Broto mendekati Tuan Haris, mereka terlihat berbincang sejenak, sebelum akhirnya Tuan Haris pergi mengikuti Pak Broto.


"Leon, aku melihat dia pergi." Bisik Arumi di sela menarinya.


"Ya. Entah apa yang mereka bicarakan. Nanti kita cari tahu." Sahut Leon, sambil melempar dan menangkap tubuh Arumi. Lalu terdengar tepuk tangan dan siulan dari para pengunjung yang menyaksikan atraksi tarian mereka.


Leon dan Arumi memberi hormat, lalu meninggalkan panggung itu, menuju ruang ganti.


Arumi menyeka keringatnya dengan handuk. Kini dia mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana jeans. Leon juga mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai.


"Mengapa Pak Broto menemui Papa?" Gumam Leon sambil menutup botol air mineralnya.


"Itulah, aku juga tidak tahu." Ucap Arumi, sambil menghapus make up di wajahnya.


"Kamu tahu? Papa yang membunuh mamaku."


Sontak Arumi terkejut, dan melotot ke arah Leon.


"Bagaimana mungkin?" Arumi menatap tajam ke arah Leon seakan meminta penjelasan yang lebih.


"Aku mengetahui saat memeriksa barang barang mamaku di lemari. Lalu kemudian, walikota juga memberi data rumah sakit mengenai pengobatan mamaku. Ternyata, papa yang meminta untuk dirawat di rumah. Lalu dia mengurangi dosis obat, bahkan ada salah satu obat penting yang tidak pernah diberikan pada mama, padahal itu adalah obat yang sangat penting bagi penyembuhannya. Papa tidak pernah memberikan obat tersebut pada mama selama di rawat di rumah, bahkan papa sering menambah obat penenang pada mamaku,dan itu tidak ada dalam resep." Leon tertunduk setelah bercerita.


Arumi, menepuk bahu Leon dan mengelus dengan lembut.


"Aku turut prihatin. Tapi untuk alasan apa dia melakukan itu semua? Mamamu telah mendampingi Tuan Haris belasan tahun. Mengapa dia berbuat setega itu?"


"Entahlah. Aku juga masih belum percaya saat mengetahui kebenaran ini." Leon mengambil jeda dengan menghela napas.


"Dia adalah papaku, setega itu, dia pada mamaku, yang telah mendampinginya selama ini. Lalu dia berbuat seperti itu padamu. Dan pernikahannya dengan Viona, membuatku membuka mata lebar-lebar dan merangkai semua bukti dan fakta yang aku pernah dapatkan." Ucap Leon.


"Lalu apa rencananya selanjutnya?"


"Aku tidak tahu, yang dapat aku lakukan adalah memintanya mempertanggungjawabkan perbuatannya."


"Lalu kasus pembakaran pemukiman pusat kota itu bagaimana? Apa kamu mengetahuinya?" Arumi teringat cerita dari orang yang tinggal menempati lahannya.


"Ya. Aku mengetahuinya. Tuan Marco yang bekerja sama dengan papa. Lalu pembangunannya dengan menggunakan kontraktor dari perusahaan papa. Dan semua keuntungan masuk ke kantong papa dan Tuan Marco." Leon berujar lirih sambil menutup wajahnya dengan tangannya.


Dari lorong sayup sayup terdengar suara gadis penari berdatangan usai pentas. Leon dan Arumi bersiap siap untuk meninggalkan tempat itu.


"Rumi, kamu tahu di mana Gisel?" Tanya Andin yang baru masuk ke ruang ganti.


"Sewaktu kita bersiap untuk pentas, dia masih di rumah." Sahut Arumi.


"Benarkah? Karena kamarnya kosong. Aku baru menyadarinya saat Will bertanya."


"Loh, Gisel nggak bersama Will?" Arumi balik bertanya dengan cemas.


"Aku akan cari Gisel. Kamu kerjakan saja tugasmu di sini,biar aku dan Leon yang membantu mencari." Ujar Arumi sambil tersenyum menenangkan Andin.


Andin menganguk, sambil menyeka make up tebalnya.


*


*


Leon dan Arumi menyusuri jalanan mencari Gisel. Will baru saja menghubungi, mengabarkan bahwa dia dan Thomas sedang menuju klub Tuan Haris, seorang gadis di sana mengatakan melihat Gisel sedang menerima tamu di klub. Padahal, Gisel sudah berjanji untuk tidak lagi bekerja di klub itu.


Leon bergegas membelokkan mobilnya ke klub milik Papanya di pusat kota.


Leon memarkir mobilnya di samping mobil Will.


Leon dan Arumi bergegas menuju pintu masuk klub. Di depan terlihat penjaga klub menghalangi jalan mereka.


"Kamu tahu siapa aku?!" Hardik Leon sambil menatap tajam pada penjaga pintu klub.


"Ka- kami tahu, Tuan. Tapi, kami hanya menjalankan kerja kami." Sahut penjaga itu dengan takut.


Leon menepis tangan penjaga itu, lalu masuk dalam ruangan.


Buk, buk!


Terdengar suara orang dipukul dari arah dalam sebuah ruangan. Arumi mempercepat langkahnya. Leon mengikuti di belakangnya.


"Astaga apa yang telah terjadi?" Tanya Arumi terkejut.


Will berkelahi dengan oanjaga di sana. Thomas dengan geram meraih kerah pakaian penjaga yang mereka lumpuhkan.


"Di mana Gisel?" Tanya Thomas.


"Aku tidak tahu?" Sahut penjaga itu.


"Gisel ada di sini! Aku tahu, katakan di mana dia?!" Tanya Thomas dengan suara keras.


Penjaga tadi tetap menjawab tidak tahu dan meringis kesakitan.


Arumi memeriksa kamar, tempat yang biasa digunakan Gisel. Arumi melihat sesuatu dari bawah tempat tidur, lalu dia berjongkok mengambil benda itu.


Arumi menemukan sebuah dompet, dia membukanya.


"Will, kamu tahu di mana tempat tinggalnya?" Arumi berdiri dan menyerahkan dompet itu pada Will.


Will membuka dompet itu, dan melihat, bahwa dompet itu milik Mark.


"Hhhrrrggg!!" Will geram dan jengkel. Dia lalu berbalik dan meninggalkan kamar itu.


Tapi ternyata di ujung lorong para penjaga telah menunggu mereka. Ternyata itu adalah jebakan.


Baku hantam terjadi di tempat itu. Will, Thomas, Arumi, dan Leon berusaha melawan dan mengelak dari para penjaga yang hendak menangkap mereka.


Arumi yang selama satu tahun terakhir belajar bela diri, dapat menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya dengan baik. Leon terperanjat saat melihat aksi Arumi tersebut


Gerakan serangan dan tangkisan Arumi seolah telah profesional. Beberapa kali Arumi membantu Leon dan melumpuhkan penjaga itu.


Mereka berlari usai berhasil melewati para penjaga.


"Tolong, lepaskan aku!" Suara Gisel terdengar tak jauh dari arah luar.


Sebuah mobil, menyeret dan memaksa Gisel masuk dan mobil melaju keluar dari halaman klub tersebut.


Mereka semua lari menuju mobil, dan mengejar mobil yang membawa Gisel secara paksa tadi.