
Tepat pukul empat sore, dua orang telah tiba di rumah Tuan Haris untuk mendandani Arumi. Seorang make up artist dan asistennya.
Tok... Tok...
Suara pintu kamar Arumi diketuk, tepat saat Arumi selesai mandi.
Arumi, masih mengenakan kimono handuknya, ia membuka pintu kamarnya, lalu mempersilahkan mereka masuk.
"Surti, buatkan minum untuk mereka." Perintah Arumi.
"Baik." Jawab Surti dengan sopan, lalu segera berlalu untuk mengambil minuman sesuai perintah Arumi.
"Silahkan duduk Nyonya, saya akan mulai merias wajah Anda." Ucap perias itu dengan sopan. Si asisten membuka tas yang berisi aneka cream, bedak, lipstik, dan aneka macam benda yang digunakan untuk memoles wajah perempuan itu
Arumi menuruti ucapan si perias wajah itu. Duduk manis dan memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh si perias.
Tangan lincah perias itu mengoles cream, lalu menepuk-nepuk dengan saput. Perias itu bermain warna di bagian mata Arumi. Alisnya dicukur sedikit, lebih tepatnya dirapikan, lalu dilukis kembali.
Bagian pipi Arumi diberikan warna yang soft namun elegan.
"Tolong jangan terlalu tebal ya, aku tidak ingin menor!" Ucap Arumi.
"Baik Nyonya. Lalu apakah reambutnya akan sesuai model yang ada atau saya boleh memberi style baru supaya lebih segar? Tanya Perias itu.
"Terserah, tapi yang jelas saya tidak ingin terlihat tua ya, riasan disesuaikan dengan usia saya."
"Baik, Nyonya."
Perias tadi segera memoles dan melukis di wajah Arumi supaya terlihat pantas untuk dibawa ke acara pesta
Setelah selesai merias wajah Arumi, ia dibantu asisten perias tadi, mengenakan dress yang telah dibelinya kemarin. Arumi melihat sepasang high heels, lalu ia mengenakannya.
Ada sebuah kalung mutiara tergeletak di dekat tas. Arumi segera memakainya.
Arumi mematut wajahnya di cermin, sangat cantik dan jauh berbeda.
"Wah, cantik sekali Nyonya!" Puji perias tadi.
"Terima kasih." Jawab Arumi sambil tersenyum lebar.
"Silahkan dipakai kalung ini!" Perias itu membuka kotak perhiasan berisi satu set kalung, giwang, dan gelang dengan motif senada. Kalung bertahta berlian, pasti bukan barang yang murah, batin Arumi.
Ia mengambil gelangnya, lalu mengenakannya, Arumi memandangi pergelangan tangannya yang berhias gelas mahal itu. Lalu perias itu memakaikan giwang pada telinga Arumi.
Lalu perias itu mengambil kalung dari kotak perhiasan, dan memasang pada leher Arumi yang jenjang. Perias itu berdecak kagum saat melihatnya, asisten yang membantunya pun melongo menatap Arumi dengan kagum.
"Tuan Haris tak salah memilih pasangan." Gumam perias itu.
"Benarkah?" Ucap Arumi.
"Dia pasti sangat cantik!" Puji Arumi.
"Ya, tapi anda juga cantik Nyonya. Aku harap hati Anda juga secantik rupa Anda." Perias itu menatap tajam Arumi.
Sejenak Arumi tercekat terkejut dengan ucapan perias itu.
"Baik Nyonya tugas saya telah selesai. Kami permisi." Pamit perias itu dan asistennya.
Setelah perias itu pergi dari kamarnya, Arumi masih teringat ucapan perias tadi. Hati yang cantik, seperti rupaku. Apa maksudnya?
Lamunan Arumi buyar saat suara pintu diketuk. Ia membukakan pintu, dan Will telah berada di sana.
Will memakai setelan jas dengan rapi, terlihat tampan, batin Arumi. Kadang Arumi melihat Will seperti seorang kakak baginya, ingin rasanya ia menjahili lelaki seperti kutub es itu.
Ia menatap Arumi sesaat, Arumi tahu, Will terpesona olehnya. Arumi mendekati Will dengan tatapan menggoda, Will hanya diam saja dengan wajah datarnya. Lalu Arumi melenggang berjalan meninggalkan Will, yang masih bengong.
Arumi berjalan menuruni anak tangga dengan pelan, antara ia takut karena pertama kali memakai high heels, dan mencoba untuk anggun. Will mengikuti dari belakang.
Tuan Haris menatapnya sambil tersenyum menyambutnya. Diukur tangannya, menyambut Arumi, memegang tangan istri kecilnya itu. Lalu mereka melangkah masuk menuju mobil yang akan membawa merek ke pesta perjamuan di balai kota.
Will duduk di depan bersama sopir, sedang Arumi dan Tuan Haris duduk di bangku belakang.
Mereka hanya saling diam selama dalam perjalanan, lalu Tuan Haris mengambil sesuatu dari saku kemejanya.
"Ini untukmu." Ucapnya sambil memberikan sebuah kotak kecil. Arumi menerima kotak itu dan membukanya.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Bukalah!" Jawab Tuan Haris.
Arumi membuka kotak kecil pemberian Tuan Haris, betapa terkejutnya dia saat melihat isi dalam kotak kecil itu.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Arumi.
"Kamu adalah istri sahku, sangat tidak pantas, jika tidak memakai cincin di jemari." Ucap Tuan Haris, ia mengambil cincin dengan mata berlian itu, lalu mengenakan pada jari manis Arumi.
Arumi hanya menatapnya saat Tuan Haris melakukan semua itu. Jantung Arumi berdetak kencang, antara senang, sedih, kecewa, semua jadi satu. Ia senang menjadi istri Tuan Haris yang sangat kaya raya dan selama beberapa hari ini selalu memperlakukannya dengan baik.
Namun, ada rasa takut juga. Ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Ya, dia sebenarnya mulai jatuh cinta dengan pemuda yang menari bersamanya itu. Entahlah tiba tiba, ia mulai merindukan pemuda itu. Berharap pemuda itu datang untuk menyelamatkan dirinya dari Tuan Haris.
Kecewa dan sedih akan nasibnya yang kini sebatang kara, tak ada Mama yang selalu mendengar keluh kesahnya, ataupun Papa yang selalu melindungi dan teman untuk bercanda.
Kini Arumi harus menjalani hidup sebagai istri orang terkaya di kota itu, dengan protokoler yang berbelit, membuatnya tak bebas. Satu satunya kebebasan yang dimiliki adalah dalam rumah itu, terutama dalam kamarnya.
Arumi menatap cincin yang kini terpasang di jari manisnya, Tuan Haris tersenyum menatapnya, Arumi pun membalas senyumnya. Tanpa banyak kata mereka terus menuju balai kota.